
Sementara Qodir masih belum mengetahui perihal istrinya yang melahirkan. Dia masih sibuk dengan pekerjaannya, bahkan dia lupa bahwa handphonenya masih dalam keadaan mati. Entah bagaimana bisa dia bahkan tak mengingat Habibah sama sekali walau hanya untuk memberi kabar jika dia sudah sampai di tempat tujuannya atau hanya sekedar menanyakan keadaan istrinya itu yang mana sedang menunggu waktu melahirkan anak mereka. Qodir benar-benar melupakan semua itu, yang dia ingat dan fikirkan hanya pekerjaannya saja. Setelah pertemuan dengan klien, Qodirpun segera kembali menuju hotel tempat dia menginap. Namun saat baru saja sampai di lobby hotel, dia bertemu dengan seseorang yang sangat dia kenal.
" Lina... kamu sedang apa disini?" tanyanya terkejut melihat Lina ada dihotel yang sama dengan hotel dia menginap.
" Kamu disini juga mas.. Aku senang sekali bisa bertemu dengan kamu." seru Lina seraya menghambur kedalam pelukan Qodir.
" Jangan begini Lina, ini ditempat umum. Apa kata orang yang melihat kita seperti ini, jangan jadi tontonan yang memalukan disini." ucap Qodir sambil melepaskan pelukan Lina dari tubuhnya.
" Sorry.. Aku cuma merasa terlalu senang bertemu dengan kamu. Kamu tau kan, aku sangat rindu sama kamu. " jawab Lina manja, pelukannya telah dia lepaskan namun lengannya masih bergelayut dilengan Qodir.
" Ayo kita ngobrolnya sambil makan malam di restauran hotel ini. Kebetulan aku belum makan malam. Ayo.." ajak Lina sambil menarik lengan Qodir, Qodirpun tak bisa berbuat apa-apa selain mengikuti Lina ke restauran yang dimaksud oleh Lina. Merekapun makan bersama disana sembari mengobrol kan banyak hal. Hingga tak terasa waktu sudah tengah malam, dan merekapun berpisah disana. Namun mereka berjanji untuk bertemu dikeesokan harinya untuk sarapan bersama direstauran itu.
Sedangkan Habibah baru saja siuman, Muti'ah masih setia mendampinginya. Tangannya masih menggenggam tangan Habibah sebagai tanda kekhawatiran dirinya pada Habibah walaupun dia tertidur disamping tempat tidur pasien namun tangannya tak melepaskan tangan Habibah. Habibah menyentuh tangan Muti'ah dengan lembut.
__ADS_1
" Kak, kak muti'.." panggil Habibah pelan.
" Habibah... kamu sudah sadar.. kamu mau minum?" tanya Muti'ah spontan berdiri dari tempatnya tertidur tadi karena mendengar suara Habibah yang memanggil namanya.
" Iya kak, saya haus.." jawab Habibah seraya berusaha untuk duduk, Muti'ah membantunya untuk duduk dan menyangga punggungnya dengan bantal agar Habibah bisa duduk dengan nyaman.
" Terimakasih banyak kak.." ucap Habibah setelah menerima gelas berisi air putih dari Muti'ah.
" Gak apa-apa kak, mungkin dia sedang sibuk. Tak perlu mengganggunya, ada kakak disini bersama dengan saya itu sudah cukup buat saya. Bisakah saya lihat anak saya kak?" kata Habibah. Dia ingin melihat wajah bayi yang baru saja dia lahirkan, dia belum sempat melihat wajahnya saat bayi itu lahir.
Beberapa saat kemudian seorang suster datang menggendong bayi menghampiri Habibah lalu menyerahkannya kepangkuan Habibah untuk menyusui bayinya dengan ASI pertamanya. Habibah tak kuasa untuk tidak meneteskan air matanya saat bayi mungil itu berada di pangkuannya dan bahkan dia merasa menjadi orang yang berbeda saat dia menyusui bayi itu. Dia sangat bersyukur dengan kehadiran bayi itu disaat keadaannya yang terpuruk seperti ini. Dia tak akan menyesali jika dia harus meninggalkan suaminya, asalkan bayi itu bersama dengan nya.
Disisi lain, Qodir baru selesai menikmati makan malamnya bersama Lina. Mereka menuju ke hotel bersama-sama tempat mereka menginap. Karena ternyata mereka menginap di satu hotel yang sama. Lina tampak berat untuk berpisah dengan Qodir. Walaupun akhirnya mereka akhirnya berpisah juga. Toh mereka sudah menghabiskan waktu bersama selama sehari penuh.
__ADS_1
Sesampainya Qodir didalam kamarnya, dia baru teringat dengan ponselnya dan dia baru menyadari jika ponselnya masih dalam mode pesawat. Saat ponselnya dikembalikan kedalam mode normal, betapa terkejutnya dia mendapati begitu banyak notifikasi yang masuk. Berpuluh-puluh panggilan dari beberapa nomor yang tentu sudah dia kenal. Dengan segera Qodir menghubungi kembali salah satu nomor tersebut. Begitu panggilannya tersambung, betapa terkejutnya dia menerima nada kemarahan dari suara diseberang sana.
" Kamu kemana saja selama sehari semalam...!!? Bahkan ponselmu tak bisa dihubungi..!!? Kamu benar-benar keterlaluan...!!" teriak kemarahan terdengar sangat jelas ditelinganya bahkan serasa akan memecahkan gendang telinganya.
" Iya maaf, ponselku lupa dikembalikan kemode normal setelah turun dari pesawat kemarin. Ada apa, kenapa kamu sangat marah begini? " tanya Qodir berusaha menanggapi kemarahan temannya itu dengan santai.
" Apakah kamu benar-benar lupa jika istrimu dalam keadaan hamil dan tinggal menunggu hari melahirkan? Bagaimana bisa kamu meninggalkannya disaat dia sangat membutuhkan kamu untuk berada disisinya? Istrimu hampir saja kehilangan nyawanya, apakah kamu tau itu? Kamu benar-benar seorang suami yang payah dan tak pantas disebut sebagai seorang suami oleh seorang istri yang sebaik istrimu. Aku benar-benar kecewa padamu. Selain kamu tak segan pergi meninggalkannya pergi keluar kota, kamu juga bahkan tak menghubunginya sekalipun selama kamu pergi. Dimana hati nuranimu sebagai seorang suami? Aku tak bisa mengatakan apapun lagi untukmu, kamu yang lebih tau mana yang terbaik untuk dirimu. Tapi sebagai temanmu, aku benar-benar kecewa dengan sikap kamu pada istrimu. Semoga kamu tak akan pernah menyesali apa yang sudah kamu perbuat sekarang ini padanya. Aku hanya bisa mengingatkan padamu, jika kamu sia-siakan dia sekarang kamu gak akan pernah bisa menemukan orang yang sama seperti dia lagi didunia ini. Semoga kamu tak menyesali jika sampai kamu kehilangan dia nanti." panggilan itu diputuskan begitu saja dari seberang sana tanpa sempat Qodir mengatakan apapun lagi untuk bertanya atau menjelaskan untuk membela diri. Qodir pun mencoba menghubungi nomor handphone istrinya, namun nomor itu tak aktif. Berkali-kali dia mencoba menghubungi istrinya tapi tetap tak bisa. Selain dia tak tau jika istrinya sudah melahirkan dia juga masih bingung dengan perkataan temannya tadi yang mengatakan jika istrinya hampir saja kehilangan nyawa. Apa yang sebenarnya terjadi disana? Aku benar-benar melupakan dia selama aku berada disini. Apalagi seharian ini aku justru bersenang-senang dengan Lina. Aku lupa jika aku telah memiliki seorang istri yang tak lama lagi akan melahirkan seorang bayi dari darah dagingku. Aku bahkan tak menanyakan kabarnya sama sekali dan tak memberi kabar padanya. Apa yang sudah aku lakukan ini? Apakah aku akan benar-benar merasakan penyesalan seperti yang dikatakan Syafi'i tadi? Apa yang sudah aku lewatkan selama ini dari perjalanan rumah tanggaku dengan dia? Apakah dia benar-benar tak berarti untukku? Apakah benar jika Lina tak sebaik Habibah? Jika benar yang dikatakan Habibah waktu itu, apakah dia akan benar-benar akan meninggalkanku agar aku bisa bersama dengan Lina? Apakah ini yang aku inginkan? Aku benar-benar bingung.
***
aku juga bingung pemirsah🤭🤭
jangan lupa untuk terus dukung aku yah dengan cara like dan komennya juga jangan lupa vote aku yah, terimakasih 🥰 semoga
__ADS_1