
Selepas kepergian Zelly, Kirana terlihat sangat lesu. Dia masih tak percaya jika lelaki yang dulu sangat mencintainya bisa bersikap sedingin itu padanya. Bahkan bisa di bilang menjadi orang asing untuknya.
Bang Ze...
Aku sungguh tak bisa mengenalimu lagi sekarang.
Setelah sekian lama kita tak berjumpa aku tak bisa melihat Abang yang dulu, Abang yang selalu tersenyum, dan bersikap hangat pada siapapun.
Tapi sekarang?
Abang bagaikan orang lain, tak ada senyum apalagi kehangatan dalam sikapmu.
Apakah ini semua karena aku?
Bang Ze ..
Maafkan aku, aku gak pernah bisa jelaskan sama Abang kenapa aku dulu bisa meninggalkan Abang..
Karena apapun alasannya, aku tetaplah bersalah pada Abang, dan belum tentu Abang bisa maafkan kesalahan aku itu.
Jika saja bisa aku putar kembali waktu yang sudah lalu, aku ingin kembali kemasa kita masih bersama dulu dan aku gak akan buat kesalahan itu bang.
Seandainya saja kejadian itu tak pernah ada, mungkin kita sudah bisa bahagia sekarang.
Bang Ze..
Jika masih ada waktu untuk kita bertemu lagi, tolong jangan abaikan aku. Tolong bantu aku untuk bisa melepaskan rasa bersalah ini dari dalam hati dan hidupku.
Aku tau mungkin ini adalah hukuman yang Tuhan berikan padaku atas kesalahanku pada Abang, dan aku tak mengeluh akan hal itu. Tapi aku ingin Abang tak membenciku dan mengabaikanku seperti ini.
Apakah aku terlalu tamak dengan harapanku yang seperti ini?
Kirana tak pernah menyangka jika dia akan bertemu lagi dengan Zelly. Bahkan yang lebih tak dia sangka lagi adalah sikap Zelly yang seperti orang asing sampai dia tak bisa mengenali lagi sosok Zelly yang dulu dia kenal.
Kirana dan Zelly dipertemukan lagi oleh tuhan disaat Kirana baru saja menerima surat akta cerai dari pengadilan agama. Sementara Zelly sendiri baru akan memulai hidup barunya dengan Habibah. Yang satu baru kehilangan kebahagiaan dan yang lainnya baru menyambut hari bahagianya. Itulah takdir yang sudah tuhan atur untuk para hambanya.
🍀🍀🍀
"Uma...! Uma...! Nenek...! Uma...! Nenek...!"
__ADS_1
Terdengar teriakan Nur Laily dari halaman sambil berlari masuk kedalam rumah dengan nafas yang ngos-ngosan.
" Ada apa sayang...?! Kenapa panik begitu, ada apa?" tanya ibu Sumarni seraya menghampiri sang cucu yang masih mengatur nafasnya.
" Itu.. Itu... Uma... itu.. ada Om.." jawabnya masih dengan terbata-bata.
" Om siapa sih sayang...? Pelan-pelan dong ngomongnya, atur dulu nafasmu baru ngomong pelan-pelan. Biar jelas...."
" Assalamu'alaykum..." tiba-tiba terdengar suara orang mengucapkan salam dari arah pintu. Habiba dan ibunya bergegas mendatangi arah suara itu berasal sambil menjawab salamnya. Dan betapa terkejutnya mereka ketika tau siapa yang sedang berada didepan pintu rumah mereka.
" Mas Zelly? Pak Rudy? Kok gak kasih kabar dulu kalau mau kerumah?" tanya Habibah sambil mempersilahkan mereka masuk.
" Kan aku dah kasih tau tadi pagi kalau aku sudah disini cuma istirahat dulu di penginapan, soalnya masih capek dan juga masih ngantuk." jawab Zelly sambil menjatuhkan bokongnya di sofa.
" Iya sih, cuma kok tadi sebelum kesini gak kasih kabar dulu. Kalau tadi kasih kabar kan pada siap-siap dan ayah juga gak akan kemana-mana. Sekarang ayah lagi kerumah temannya, tapi sebentar saya telpon ayah supaya cepat pulang." ucap Habibah.
Ibu Sumarni datang dengan membawa nampan berisikan air teh dan beberapa camilan buatan Habibah siang tadi. Lalu menyuguhkannya di atas meja dihadapan para tamunya.
" Om kok tau rumah kami?" tanya Nur Laily sambil duduk disamping Habibah yang sedang menelpon ayahnya dan memintanya agar cepat pulang.
" Tentu saja om tau, sebab om sudah datang kerumah ini beberapa kali." jawab Zelly sambil tersenyum, senyum yang menambah ketampanan diwajahnya.
Dona dan Nanda sempat heran melihat ada beberapa orang tamu yang memang tak dikenal oleh mereka. Karena memang mereka tak mengetahui rencana kedatangan Zelly hari ini. Zacky sempat terpana oleh wajah cantik dari Dona yang memiliki kecantikan wajah tak berbeda jauh dengan Habibah. Bentuk wajah yang bulat dengan pipi chubby nya menambah nilai tambah tersendiri jika melihatnya. Hanya saja Dona memiliki body yang lebih tinggi dan montok dibandingkan Habibah yang berpostur tubuh mungil. Jadi kesannya lebih imut jika dipandang.
Selang waktu 20 menit, Nia ibunya Nanda datang bersama suaminya yang kebetulan datang berkunjung karena pas akhir pekan. Mereka biasa datang di akhir pekan untuk mengunjungi ibu Sumarni dan pak Rukmana sekaligus Nanda yang memang tinggal sementara bersama nenek dan kakeknya. Karena jarak sekolah Nanda lebih dekat dari rumah nenek dan kakeknya ketimbang dari rumah orang tuanya sendiri yang kebetulan beda kecamatan.
Dan mereka pun duduk bersama ibu Sumarni dan Habibah untuk menemani tamu mereka ngobrol sambil menunggu pak Rukmana pulang.
Pukul 21.15 pak Rukmana baru sampai dirumah, karena ternyata pak Rukmana baru kerumah binaan kelompok taninya yang ada di kecamatan lain. Selain itu tempatnya berada di perbatasan dengan kabupaten lain, jadi cukup jauh dari kediaman pak Rukmana.
" Maaf, bapak baru sampai jam segini. Saya gak tau kalau mau ada tamu malam ini, jadi tadi sore saya pergi untuk mengontrol binaan saya yang ada di perbatasan kabupaten..." sesal pak Rukmana setelah duduk di hadapan para tamunya.
" Gak apa-apa pak,. kami yang minta maaf karena gak konfirmasi lagi untuk kedatangan kami kemari." Rudy yang menjawab rasa sesal pak Rukmana.
Setelah cukup berbasa-basi, Rudy membuka percakapan yang formal untuk tujuan kedatangan mereka kerumah pak Rukmana malam itu. Pada acara lamaran yang sederhana itu, Rudy berlaku sebagai penyambung kata dari pihak Zelly.
Meskipun lamaran berlangsung sederhana dan terkesan mendadak, tapi semua merasa bahagia dengan kedatangan Zelly. Karena itu sebagai pertanda jika Zelly bersungguh-sungguh untuk mengikat hubungan dengan Habibah.
" Berarti nanti Om ganteng jadi Abahku dan Adek Zain dong... Yeaayy... Aku mau punya Abah lagi, jadi nanti kalau mau pergi sudah punya Abah gak cuma Uma aja..🥰🥰." celoteh Nur Laily begitu lamaran Zelly di terima dan pembicaraan tentang pernikahan mereka telah mendapat kesepakatan untuk tanggal dan harinya.
__ADS_1
Pernikahan mereka akan dilangsungkan dalam satu bulan kedepan, karena Zelly harus menjemput ibunya dulu yang ada di kota Sumatra. Sesuai janji, jika ibunya akan hadir di hari pernikahan mereka nanti.
Betapa bahagianya Nur Laily begitu tau jika Om yang di sukai ya itu akan menjadi ayah barunya. Bahkan dia selalu mengatakan hal itu pada siapa saja yang dia jumpai disaat dia pergi ke sekolah atau ketempat mengajinya. Hingga semua orang tau jika Habibah akan segera menikah lagi.
Sementara Habibah hanya bisa menahan rasa malunya di setiap kali anak gadisnya itu mengabar-ngabarkan tentang rencana pernikahannya itu pada semua orang yang di jumpainya. Banyak yang ikut senang serta mendukung dengan kabar tersebut, namun ada juga yang mencibirnya. Dan Habibah hanya bisa diam saja dengan berbagai macam komentar yang dia terimanya.
Hari-hari berlalu terasa begitu cepat, sampai tak terasa hari pernikahan mereka semakin dekat. Hingga tak terasa hari pernikahan tinggal dua Minggu lagi.
Semua berkas pernikahan mereka pun telah diserahkan ke kantor KUA setempat. Tinggal menunggu hari H pernikahan mereka saja.
~ ~ ~
Drtt.. Drtt...Drtt...
Handphone Habibah bergetar-getar di atas meja. Dona yang melihat handphone kakaknya yang tak berhenti bergetar itu segera diraihnya. Begitu dilihat tertera nama Zelly dilayar, segera keisengan Dona muncul.
" Halo kakak ipar ku yang ganteng.. " ucap Dona begitu dia menggeser tombol warna hijau dan meletakkannya di sisi telinganya.
" Assalamu'alaykum..." jawab Zelly dengan nada baritonnya yang terdengar mempesona ditelinga Dona
" Eh, iya.. Lupa.. Wa'alaykumussalam warrahmatullah wabarokaatuh.." sahut Dina dengan suara centilnya.
" Kakak ipar ku yang ganteng telpon kakak ku ada apa? Kata orang tua dulu, kalau mau nikah seminggu lagi itu harus di pingit dulu lho kak..." celoteh Dona dengan santainya.
" Dipingit...?" tanya Zelly tak mengerti.
" Iya, kakak ipar ku... Dipingit.. Tau kan dipingit?" tanya Dona masih dengan suara centilnya.
" Apa itu di pingit?" Zelly masih tak mengerti.
" Aduuhh...! Kakak iparku yang ganteng ini gimana sih, masa di pingit aja gak ngerti.. Di pingit itu gak boleh ketemu dan komunikasi sama sekali sampai hari H nanti di depan penghulu. Itu namanya di pingit..." terang Dona dengan sedikit kesal karena ternyata calon kakak iparnya itu tak mengerti apa itu di pingit.
Di pingit...!
Apa-apaan pakai pingit-pingitan segala sih..!
Emang kenapa kalau gak pakai acara pingit-pingitan gitu?
Kan aku juga gak mau ngapa-ngapain cuma pengen dengar suaranya aja .
__ADS_1
Kalau gak boleh ketemu okelah.. Tapi masa nelpon aja gak boleh sih..?!