
Nur...
Seandainya saja aku bisa jadi orang yang membuatmu percaya kembali.
Andai saja aku adalah salah satu orang yang penting dalam hatimu.
Andai saja.....
Aku hanya bisa berandai-andai dihadapanmu.
Aku tak bisa menjadi seseorang yang benar-benar nyata dihadapanmu.
Sejujurnya aku sakit, tapi aku tak berdaya dengan kehendak tuhan yang telah membuatmu sangat penting untuk ku dalam hati dan hidupku.
Aku bahkan tak pernah bermimpi akan merasakan semua perasaan ini. Bahkan dulu aku tak pernah menyangka jika aku akan jatuh cinta pada gadis kecil sepertimu. Kamu tetaplah gadis kecil itu, gadis kecil yang selalu aku rindukan setiap hari. Gadis kecil yang selalu bisa membuatku merasa berumur lebih muda darimu, karena aku bisa terlihat bodoh hanya karena kamu.
Zelly tersenyum pahit menatap Habibah yang berdiri di balkon kamarnya. Zelly yang saat itu sedang duduk di bangku taman bersama Fadhlan yang kebetulan taman itu berada tepat di bawah kamar yang ditempati oleh Habibah.
" Sekarang ini kamu sudah menjadi seorang manager di perusahaan mu, apa kamu gak terganggu dengan statusmu yang masih jomblo ini?" tanya Fadhlan pada Zelly. Tapi sayangnya yang diajak bicara tak memperhatikan orang yang sedang mengajaknya ngobrol itu. Karena merasa tak mendapat jawaban dari lawan bicaranya, Fadhlan pun menoleh kearah Zelly yang saat itu sedang menatap Habibah dan tenggelam dalam lamunannya sendiri.
" Hei...! Apa yang kamu fikirkan Hem..? Apa kamu tertarik pada seorang janda? " selidiknya saat menyadari jika sahabat istrinya itu sedang memperhatikan Habibah.
" Eh..! " Zelly menoleh ke arah Fadhlan yang sedang menatapnya dengan serius.
" Jadi bener kamu lebih tertarik pada seorang janda?" tanya Fadhlan tak percaya.
" Janda apa? Siapa?" Zelly yang belum mengerti kemana arah pembicaraan Fadhlan itu malah balik bertanya.
" Iya janda.. Bukankah dia itu seorang janda?"
__ADS_1
" Memang kenapa kalau dia itu janda?" Zelly makin tak mengerti.
" Jadi kamu gak dengarkan apa yang aku bicarakan tadi? Gila...! Berarti aku dari tadi hanya bicara sendiri..!?" Fadhlan akhirnya menyadari jika sejak tadi Zelly tak mendengarkan apa yang sudah dia katakan. Tapi diapun menjadi tau kalau Zelly menyukai Habibah dari caranya memperhatikan Habibah saat ini.
" Kamu yakin kamu menyukai dia? Bukankah dia hanya seorang janda yang bahkan menjadi seperti itu karena cintanya pada suaminya? Lalu bagaimana kalau saat dia pulih tapi dia tetap dengan perasaan yang sama dan tak perduli dengan perasaanmu? Bukankah perasaanmu saat ini hanya sia-siia? Jadi apa yang kamu lakukan saat ini hanya karena perasaanmu? Kenapa aku tak menebaknya dari awal ya? Kamu itu sahabat istriku, aku juga ingin melihatmu bahagia, tapi bagaimana kamu akan bahagia jika dia yang sedang kamu kejar? Kamu mengejar sesuatu yang bisa dikatakan mustahil bisa kamu miliki." Fadhlan seperti baru menemukan jika Zelly itu sedang berada dijalan yang salah, jalan yang hanya akan membawanya kearah penderitaan.
" Aku memang menyukainya bang, bahkan sangat menyukainya. Tapi aku bukan menyukainya dalam waktu sebentar. Aku menyukainya saat dia masih menjadi gadis kecil yang galak tapi menggemaskan. Dia adalah gadis yang unik, gadis yang memiliki karakter unik tak pernah aku temui sebelumnya. Awalnya aku hanya suka saja mengganggunya dan berdebat banyak hal dengannya. Tapi aku tak pernah menyadari kalau hal itu membuatku merasa hari-hari ku menyenangkan kalau aku bisa seperti itu dengannya. Tanpa sadar aku sudah jatuh hati sejak aku mengenalnya saat itu. Aku menyukainya sudah sejak lama. Dan saat ini aku hanya ingin membantunya saja, aku tak mengharapkan apapun darinya selain dia kembali seperti semula. Bisa tersenyum bahkan tertawa bahagia. Terlalu jauh kalau aku mengharapkan dia menjadi milikku, karena aku juga tau kalau dia tak pernah menyukaiku sama sekali. Tapi bukan alasan bagiku untuk tak membantunya sekarang kan bang?" Zelly akhirnya mengungkap perasaannya itu pada Fadhlan.
" Kamu gila ya? Kamu benar-benar sudah gila Zelly..! Mana bisa kamu menyakiti dirimu sendiri dengan cara seperti ini. Kalau kamu sudah tau dia tak pernah menyukaimu lalu untuk apa kamu lakukan semua itu?"
" Aku tak tau bang, yang aku tau aku ingin melihat dia kembali pulih. Mungkin karena aku merasa puas hanya dengan seperti ini. Aku puas bisa mencintainya dan aku tak berani bermimpi dia akan mencintaiku. Apalagi dengan melihat keadaan dia yang seperti ini yang aku tau dia sangat mencintai suaminya. Akan sangat sulit baginya untuk bisa membuka hati untuk yang lain, aku sangat tau itu. Tapi kebahagiaanku sederhana bang, dengan dia bisa tersenyum dan tertawa bahagia itu sudah membuat aku bahagia juga. Dan melihat dia yang seperti ini aku juga merasakan sakitnya. Mungkin benar aku sudah gila, tapi aku tak menyesali kegilaanku ini."
Fadhlan tak bisa berkata-kata lagi, dia hanya bisa terpaku mendengarkan semua yang dikatakan oleh Zelly.
Menasehati orang yang sedang jatuh cinta itu seperti sedang menasehati tembok yang tebal.
Entah kenapa Fadhlan merasa saat itu dia merasa kasihan, kesal, prihatin tapi juga bersimpatik pada Zelly. Karena dia tau tak banyak orang yang bisa melakukan apa yang dilakukan oleh Zelly saat ini. Seseorang pria dewasa dengan wajah yang tampan, mapan, tak pernah neko-neko, berpendidikan tinggi tapi takluk hanya oleh seorang wanita seperti Habibah.
Dia hanya wanita kampung biasa yang hanya sekolah sampai sekolah kejuruan saja. Apa yang membuat seorang Zelly sampai seperti ini? Seistimewa apakah dia itu sampai bisa dicintai sampai seperti ini?
Fadhlan yang tadinya biasa saja pada Habibah kini mulai penasaran, apa penyebab Zelly sampai segila itu. Keunikan apa yang dimiliki Habibah sampai membuat Zelly tergila-gila begini.
Ibu Sumarni membawa Habibah duduk ditaman, tak lama ibu Sumarni melakukan panggilan video call dengan anak-anak Habibah.
" Uma....!" seru Zain dan Nur Laily bersamaan begitu dia melihat ibunya. Namun Habibah hanya diam saja.
" Uma... Ini Zain.. Uma... Zain kangen..." ucap Zain sambil menangis begitu melihat kalau ibunya hanya diam saja. Zain merasa sangat rindu pada peluk hangat ibunya, suara ibunya menceritakan dongeng untuk nya sebelum tidur dan banyak lagi momen yang dia rindukan bersama ibunya. Tapi kini ibunya hanya diam saja.
" Adek... jangan menangis, Uma pasti sembuh dan pulang. Kita do'akan saja supaya Uma kita cepat sembuh dan pulang kerumah kita lagi." hibur Nur Laily pada Zain sambil mengusap air matanya dengan lembut. Sementara Nur Laily sendiri sedang menahan air matanya agar tak jatuh.
__ADS_1
" Nenek... Apa masih lama Uma bisa sembuhnya?" tanya Nur Laily pada ibu Sumarni.
" Insya Allah gak lama lagi sayang.. Jangan berhenti do'akan Uma kalian ya, minta pada Allah disetiap kalian selesai shalat jangan sampai lupa ya.. Mana eyang kalian?"
" Eyang ada, nenek mau bicara sama eyang? Tunggu sebentar ya nek.." Nur Laily segera menghampiri eyangnya yang sedang duduk di salah satu sofa uang tamu.
" Eyang, nenek mau bicara sama eyang." kata Nur Laily sambil menyerahkan handphone yang dibawanya. Ibu Sofia segera menerima handphone yang diberikan oleh cucunya itu.
" Apa kabarnya Bu? Bagaimana dengan Habibah? Apakah sudah ada kemajuan?" tanya ibu Sofia begitu melihat ibu Sumarni dilayar handphonenya.
" Kabar kami baik, dan Alhamdulillah sudah ada kemajuan. Kemarin kami membawanya jalan-jalan ke taman di tepian, dan disana dia melihat mobil ambulance lewat. Tiba-tiba dia lari dan ternyata dia mengejar mobil ambulance itu. Tadinya kami kira hal berkesan yang indah dan menyenangkanlah yang bisa menyentuh kesadarannya,. tapi ternyata kami salah. Justru hal yang menyedihkan lah yang bisa dia respon. Mudah-mudahan dalam watu dekat ini ada kemajuan lainnya dan mudah-mudahan secepatnya dia bisa pulih." ibu Sumarni menceritakan kejadian yang mereka alami saat ditaman kemarin.
" Syukurlah kalau sudah ada kemajuan, walaupun yang dia respon itu hal yang menyedihkan. Tapi aku senang mendengarnya. Aku sudah sangat rindu padanya, aku rindu suaranya, aku rindu masakannya, aku rindu melihat dia yang malu kalau kami goda, aku rindu semuanya Bu..." ucap ibu Sofia sambil berderai air mata, dia benar-benar merindukan menantu kesayangannya itu. Dia sudah kehilangan anaknya dan kini dia sedang kehilangan menantunya. Dia ingin menantunya itu cepat kembali pulih dan bisa berkumpul kembali bersama keluarga yang menyayanginya.
Mama...
Aku tau kalian menyayangiku, aku tau kalian rindu padaku.
Tapi aku...
Aku merindukan orang tak akan pernah bisa aku temui lagi selama sisa hidupku. Hidupku sepi tanpa dia, dia bilang dia akan kembali tapi dia malah pergi untuk selamanya. Dia bohong, dia tak menepati janjinya untuk pulang dan hidup bahagia bersamaku. Apa dia masih marah padaku karena kesalahanku dulu?
Habibah tiba-tiba berdiri dan meninggalkan ibu Sumarni yang masih berbicara dengan ibu Sofia. Zelly yang melihat Habibah pergi segera berlari dan mengikutinya, dia takut Habibah berjalan kearah yang membahayakan. Zelly hanya mengikutinya dibelakang dengan jarak yang tak terlalu jauh, mungkin sekitar 3 langkah dibelakang Habibah. Ibu Sumarni dan Fadhlan yang melihat hal itu hanya bisa saling pandang saja satu sama lain. Fadhlan sudah faham kenapa Zelly bersikap seperti itu, tapi ibu Sumarni sepertinya belum memahami jika apa yang dilakukan oleh Zelly karena laki-laki itu memiliki perasaan yang sangat dalam pada Habibah anaknya.
Habibah ternyata kembali kedalam kamarnya, Zelly hanya mengawasinya didepan pintu kamar saja. Habibah segera merebahkan dirinya di kasur dan menyelimuti dirinya seakan ingin bersembunyi dari sesuatu. Zelly menghampiri Habibah yang bersembunyi dibalik selimut dan bertekuk lutut disisi tempat tidurnya.. Hatinya benar merasa hancur melihat kerapuhan wanita yang sangat dicintainya itu.
" Nur.. Aku percaya kamu bisa melewati semua ini. Aku yakin kamu akan kembali seperti dulu berkumpul kembali dengan orang-orang yang menyayangimu dan kamu sayangi. Kamu harus cepat kembali, lepaskan semua kesedihanmu disana. Tinggalkan semua sakitmu ditempatmu sekarang.
Nur, aku tau bagaimana perasaanmu. Tapi percayalah, aku akan selalu ada untukmu. Walaupun mungkin kamu tak akan pernah melihat keberadaanku, tapi aku ingin melihat kamu bahagia walaupun tanpa adanya aku dalam hidupmu.
__ADS_1
Nur, kebahagiaanmu sedang menunggumu. Mungkin aku tak pernah berarti untukmu, tapi tahukah kamu kalau kamu sangat berarti untukku? Aku sangat ingin mengatakan semua ini padamu saat kamu berada dihadapanku sebagai dirimu yang hidup bukan hanya tubuhmu yang tanpa jiwa ini. Tapi sayangnya aku tak pernah bisa mengatakannya, tapi aku justru mengatakannya saat keadaanmu seperti ini. Ironis sekali kan?" Zelly menumpahkan segala harapannya pada Habibah dengan hati yang perih.