Perjalanan Cinta Habibah..

Perjalanan Cinta Habibah..
Kapan pulang?


__ADS_3

Keesokan harinya, pagi-pagi sekali Nur Laily menelpon Habibah. Dia mengatakan kalau dia sudah merindukan Habibah dan keluarga kecilnya di kota.


Namun di saat tengah asyik-asyiknya mengobrol ala anak yang sedang merindukan ibunya itu. Tiba-tiba datang ibu Habibah menyela pembicaraan mereka yang nampak asyik di dengar.


"Sayang, boleh nenek bicara dengan Uma mu sebentar?" tanya ibu Sumarni sembari mendekati Nur Laily.


" Oh, iya nek. Sebentar ya nek, aku kasih tau Uma dulu kalau nenek mau bicara." jawab Nur Laily seraya menyampaikan maksud dari neneknya itu pada Habibah.


" Ini nek, aku tinggal dulu ya nek. Mau makan dulu, lapar belum sarapan. Hehehe..." ucap Nur Laily sambil menyerahkan handphone yang ada ditangannya pada neneknya.


" Assalamu'alaykum nak, kamu apa kabar? Bagaimana dengan kandunganmu? Apa baik-baik saja? Atau masih ada keluhan?" sapa ibu Sumarni begitu ia menempelkan gawai kecil itu di sisi telinganya.


" Alhamdulillah baik Bu. Ibu sendiri bagaimana kabarnya? Bagaimana dengan ayah? Apakah semua baik-baik saja?" ucap Habibah penuh kerinduan.


" Alhamdulillah kami baik-baik saja. Oh, ya nak. Minggu lalu ada telfon dari Qodir, katanya ibunya sekarang sakit dan ingin bertemu kamu.


Dia juga minta nomor telepon mu tapi ibu gak berani kasih. Jadi, menurut kamu bagaimana? Apakah kamu mau menghubungi kembali ibu mertuamu?" tanya ibunya lagi.


" Nanti ya Bu, Bibah tanyakan dulu sama mas Zelly. Bibah gak bisa jawab sekarang. Soalnya sekarang kan Bibah kan sudah ada suami, jadi harus tanyakan dulu sama suami dan minta pendapat dulu dari suami. Kalau suami kasih izin, nanti Bibah kasih kabar sama ibu ya.


Mama Masurai sakit apa katanya Bu?" tanya Habibah.


" Qodir gak bilang sakit apa. Cuma bilang sakit aja dan ingin bertemu kamu. Katanya sakitnya sudah hampir satu tahun. Mungkin sakitnya lumayan parah nak, apalagi udah selama itu." jawab ibunya.


" Mudah-mudahan gak sampai parah ya Bu. Mama Masurai itu orang yang sangat baik, semoga sakitnya itu hanya sebagai penggugur dosanya dan penambah amalnya karena beliau adalah orang yang sabar." ucap Habibah penuh harap.


" Amiiinn.... Mudah-mudahan saja. Oh, iya. sampai lupa. Bagaimana kabar cucu ibu yang ganteng Zain? Katanya sudah sekolah ya? Sedang apa dia sekarang?"


" Alhamdulillah Bu. Zain baik, dan dia sudah sekolah sekarang. Sekarang masih sekolah, nanti jam sepuluh baru pulang."


Tak terasa obrolan keduanya sudah berlangsung hampir satu jam.


Rasa rindu mereka pun sedikit terobati. Habibah sangat ingin sekali bisa pulang ke kampung halamannya dan bertemu dengan keluarganya.


Tapi keadaan yang tak memungkinkannya untuk bisa bepergian jauh.


💮💮💮


Sore hari, saat Habibah dan juga Zelly serta Zain sedang duduk-duduk di taman belakang rumah mereka. Menikmati suasana senja yang teduh.


Zain sedang asik bermain bersama mbaknya. Dan Habibah hanya memperhatikan keceriaan sang putra bersama Zelly dari sebuah bangku yang ada di taman itu

__ADS_1


" Oh, ya mas. Tadi pagi ibu telpon. Dan kasih kabar kalau mama Masurai sekarang sedang sakit. Katanya sakitnya sudah hampir setahun.


Katanya beliau ingin bertemu dengan saya juga Zain. Walaupun saya berharap beliau baik-baik saja. Tapi perasaan saya kok gak enak ya mas?" ucap Habibah di tengah-tengah tawa ceria dari Zain yang sedang bermain.


" Nanti ya sayang, kalau keadaanmu sudah memungkinkan untuk bisa bepergian jauh. Kita akan silaturahmi dengan mertuamu.


Kalau sekarang ya sabar dulu, do'akan saja semoga beliau lekas sembuh seperti semula. Jangan terlalu di fikirkan. Jangan sampai nanti berdampak gak baik sama kamu." jawab Zelly mengingatkan agar istrinya tak terlalu terbawa fikiran soal sakit sang mertuanya.


Karena ia khawatir jika terjadi sesuatu pada istri dan anak dalam kandungannya jika istrinya terlalu beban fikiran.


" Iya, mas. Akan saya usahakan untuk gak terlalu memikirkannya. Tapi kalau telpon beliau bolehkah? Siapa tau dengan menelponnya keadaan beliau bisa membaik " ucap Habibah penuh harap.


" Boleh dong, sayang. Masa nelpon aja gak boleh? Kamu ada nomor telponnya?" tanya Zelly lagi.


" Belum ada. Nanti saya tanya sama ibu dulu." jawab Habibah sambil tersenyum.


" Kirain sudah ada nomornya." timpal Zelly sambil mencubit gemas hidung sang istri.


Habibah hanya tersenyum malu di balik cadar yang ia kenakan.


Habibah merasa bersyukur sekali memiliki seorang suami yang begitu pengertian seperti Zelly. Bahkan ia tak menyangka jika suaminya itu tak menanyakan banyak hal perihal mertuanya itu.


Habibah hanya bisa mengucapkan terima kasih atas pengertiannya itu. Bahkan Habibah semakin merasa hatinya di selimuti rasa hangat saat Zelly mengatakan kalimat.


" Sampai kapanpun, dalam keadaan apapun mereka tetaplah mertuamu sayang Karena ada ikatan darah antara mereka dengan Zain. Karena ada Zain maka gak ada istilah mantan mertua atau menantu walaupun ada mantan suami atau istri."


Saat Zelly mengatakan kalimat itu, Habibah merasakan kedamaian dalam hatinya yang terdalam.


Rasa khawatir yang sempat ada pun lenyap seketika. Apalagi selama pembicaraan mereka, Zelly tak memalingkan wajahnya sama sekali dari Habibah.


Hal itu yang semakin membuat Habibah merasa benar-benar perhatian padanya.


Pasalnya, kebanyakan saat suami istri sedang berbincang sering salah satu atau bahkan kadang keduanya tak saling menatap wajah satu sama lain.


Seolah pembicaraan mereka itu hanya sekedar formalitas di antara mereka saja


Tapi berbeda dengan Habibah dan Zelly. Saat mereka sedang berbincang, keduanya saling memperhatikan satu sama lain saat berbicara. Hal itu terlihat sepele, tapi sesungguhnya hal sepele itu sangat besar pengaruhnya dalam mempererat ikatan di antara mereka.


💮💮💮


Keesokan harinya, pagi-pagi sekali setelah selesai sarapan dan mengantar Zelly dan Zain hingga ke mobil untuk bekerja dan sekolah. Habibah segera menghubungi ibunya untuk meminta nomor telepon ibu mertuanya.

__ADS_1


Setelah mendapatkan nomor telponnya, Habibah segera menghubungi nomor telepon tersebut dengan perasaan yang bercampur aduk.


Antara rindu, khawatir dan senang jadi satu.


Lama menunggumu, akhirnya ada yang menjawab panggilan telponnya. Dan ternyata yang menjawab telponnya adalah Qodir.


Setelah sedikit berbasa-basi, akhirnya telpon itu beralih tangan ke ibu mertua yang di rindukan nya.


" Assalamu'alaykum mama .. Bagaimana kabar mama?" Dengan lembut Habibah menyapa ibu mertuanya yang menurut Qodir sudah susah di ajak komunikasi oleh siapapun.


Saat di rasa masih tak ada respon dari ibu mertuanya. Habibah pun melanjutkan ucapannya dengan harapan ibu mertuanya mau meresponnya.


" Mama, ini Habibah ma .. Mama, Habibah kangen sama mama. Habibah ingin sekali ketemu dengan mama. Mama dengarkan..?" lanjut Habibah yang tiba-tiba sendu karena menahan tangisnya.


" Kamu kapan pulang nak?" tiba-tiba terdengar suara lemah dari ujung telepon di seberang sana.


Habibah sempat terkesiap saat mendengar kalimat itu. Antara senang dan bingung Habibah mendengarnya. Sebuah pertanyaan yang menurutnya sedikit aneh.


" Mama selalu nunggu kamu dan cucu mama pulang. Mama rindu kalian. Jadi kalian cepat pulang ya nak? Jangan terlalu lama disana, nanti kalau kalian pulang mama akan masakan makanan kesukaanmu." lanjutnya dengan suara parau nya.


Pecah sudah pertahanan Habibah. Air matanya tak bisa lagi ia bendung mendengar pertanyaan yang di ucapkan mertuanya itu.


Ada rasa perih dalam hatinya saat dirinya mulai berfikir beberapa kemungkinan yang mungkin saat ini sedang terjadi pada ibu mertuanya itu.


Walaupun dia berusaha menghalau segala kemungkinan yang tiba-tiba muncul dalam gilirannya.


" Sabar ya ma, nanti kalau Zain sudah libur sekolah kami akan datang untuk bertemu dengan mama." hanya kalimat itu saja yang berhasil ia ucapkan.


" Cucu mama sudah sekolah? Kok cepat betul sudah sekolah? Emang sekolah apa?" tanya nya seakan tak percaya kalau cucunya sudah sekolah.


"Iya ma, Zain sudah sekolah TK Sekarang. Tahun ini insya Allah masuk SD." jawab Habibah dengan perasaan yang semakin kacau.


" Kenapa gak sekolah disini aja? Kok malah jauhan sama suami? Kasihan gak ada yang urus suamimu disini. Disini ada perempuan yang kayaknya suka sama suamimu, mama gak suka lihat dia dekat-dekat terus sama suamimu. Mangkanya kamu cepat pulang ya.. "


Pertanyaan dan permintaan yang membuat hati Habibah hancur. Kini dia yakin bahwa terjadi sesuatu pada ibu mertuanya itu. Dan hal itu bukan hal sepele.


" Iya, ma.... Insya Allah secepatnya kami kesana. Doakan kami ya ma, mudah-mudahan kami di kasih umur dan kemudahan untuk pergi kesana." jawab Habibah dengan air mata yang terus membasahi pipinya.


" Nanti biar mama suruh Qodir jemput kamu ya... Biar kamu gak repot dijalan."


"......…......"

__ADS_1


__ADS_2