Perjalanan Cinta Habibah..

Perjalanan Cinta Habibah..
Pertemuan pertama dan terakhir


__ADS_3

Setelah menempuh perjalanan yang cukup panjang dan menegangkan, akhirnya mereka sampai di rumah sakit terdekat. Sesampainya di rumah sakit, Habibah segera dibawa ke ruang UGD untuk pemeriksaan. Tak lama kemudian, Habibah dipindahkan ke ruang operasi. Karena Habibah harus segera menjalani operasi. Sebelum operasi dimulai, ada seorang dokter yang datang menemui keluarga Habibah dengan membawa sebuah map.


" Sebelumnya maaf pak, Bu, kami disini meminta persetujuan kepada keluarga pasien untuk melakukan operasi ini. Dan kondisi pasien saat ini sangat memprihatikan. Selain banyak kehilangan darah, anak yang dalam kandungan pasien pun dengan kondisi yang sangat lemah. Kemungkinan hidupnya sangat kecil. Jadi salah satu harus kami korbankan. Untuk itu kami meminta persetujuan dari pihak keluarga pasien terlebih dahulu." terang dokter itu sambil menyerahkan map yang berisikan surat pernyataan bahwa keluarga Habibah menyetujui tindakan operasi yang dilakukan dan tidak akan menuntut jika terjadi sesuatu pada Habibah dan aak dalam kandungannya.


Pak Rukmana menadatangani surat pernyataan itu dengan tangan yang bergetar. Lalu menyerahkan kembali pada dokter tadi.


" Semoga kami bisa menyelamatkan keduanya, doakan kami agar berhasil." pinta dokter itu walaupun wajahnya menunjukkan ketidak yakinkan.


" Kami pasti mendo'akannya dok. " jawab pak Rukmana lagi.


Sementara ibu Sumarni dan yang lainnya hanya bisa mendengarkan pembicaraan antara dokter dan pak Rukmana dengan fikiran yang kalut.


Disisi lain, Habibah yang sudah terbaring tak sadarkan diri dengan banyak alat medis yang menempel ditubuhnya, terkulai di ranjang operasi dengan wajah yang pucat dan tubuh yang dingin.


Tak putus doa dipanjatkan oleh seluruh keluarga baik itu keluarga Habibah ataupun keluarga dari Almarhum suaminya Purnomo. Semua orang membisu menantikan operasi itu usai. Setiap detik jadi terasa lama, apalagi operasi itu memakan waktu yang cukup lama. Sekitar dua jam lamanya operasi itu berlangsung.


Ayu yang sedang terluka pun tak bisa berdiam di ruangannya lagi. Dia memaksa untuk bisa menunggu operasi itu sampai selesai. Dia merasa sangat bersalah 'atas kejadian itu, walaupun semua orang tahu itu bukanlah kesalahannya.


Air mata ayu tak henti-hentinya mengalir melewati pipinya dan jatuh di ujung dagunya.


" Sudahlah Yu, ini semua bukan kesalahan kamu. Ini semua memang sudah ketentuan yang Allah tetapkan untuk Habibah dan anaknya. Kita hanya bisa menerima keadaan ini dengan tabah dan ikhlas. Jadi jangan ditangisi terus ya..?" kata ibu Sofia menenangkan Ayu agar mau berhenti menangis. Padahal ibu Sofia sendiri sangat sedih dengan kejadian itu.


Setelah ditunggu dua jam lebih, akhirnya lampu tanda operasi telah dimatikan. Dan tak lama kemudian seorang dokter keluar ruangan menemui keluarga pasien.


" Bagaimana dok, bagaimana keadaan anak saya?";tanya ibu Sumarni sambil menghampiri dokter itu.


" Keadaan anak ibu masih sama seperti sebelumnya, Hanya saja, kami tak bisa menyelamatkan anak yang ada dalam kandungannya. Walaupun kami sudah berusaha semaksimal mungkin untuk bisa menyelamatkan keduanya, tapi kami tak bisa melakukannya. Terpaksa kami lebih mengutamakan ibunya daripada anaknya. Jadi maafkan kami kalau hanya ibunya saja yang kami selamatkan." jawab dokter itu. Gak lama kemudian ada seorang dokter lain yang keluar dengan membawa jenazah seorang bayi laki-laki yang tampan dalam pangkuannya. Wajah bayi itu sangat mirip dengan Purnomo.


Seketika itu juga tangis ayu pecah, Dia sangat menyesali kejadian itu terjadi saat bersamanya. Apalagi saat di lihat wajah bayi Habibah sangat mirip dengan wajah almarhum iparnya. Semakin besar rasa bersalah yang menghantuinya.


" Maafkan aku mas, aku gak bisa jaga anakmu. Aku sudah mencelakai mereka, maafkan aku." rintih ayu disela fangisnya.

__ADS_1


" Sudah lah Yu, jangan seperti ini. Jangan sampai Habibah mendengarnya. Jangan sakiti perasaannya dengan ucapanmu yang seperti ini. Dia sudah kehilangan dua orang yang sangat berarti dalam hidupnya, jadi jangan tambah lagi penderitaannya karena ucapanmu yang seperti ini." tegur ibu Sofia saat mendengar rintihan Ayu.


" Tapi ma..... Ini memang salahku. Andai aku lebih hati-hati saat membawa Habibah, pasti kejadian ini gak akan pernah terjadi." Ayu masih menyalahkan dirinya sendiri.


" Itu bukan salahmu, ini semua sudah kehendak Allah. Bagaimanapun caranya kita menghindarinya itu gak akan berhasil kalau sudah Allah yang menghendaki ini terjadi. Allah lebih sayang pada anak itu. Semoga jadi syafaat untuk orang tuanya nanti di akhirat. Jadi, do'akan supaya Habibah bisa melewati ujian ini dengan tabah." nasehat ibu Sofia lagi.


Jenazah bayi Habibah masih disimpan di kamar mayat. Mereka masih menunggu Habibah siuman dan melihat anaknya untuk pertama dan terakhir kalinya. Sementara Habibah sudah dipindahkan keruang rawat inap terbaik yang ada dirumah sakit itu. Hanya ada satu ranjang pasien dalam kamar yang lumayan besar itu. Habibah masih terbaring dengan peralatan medis yang sama seperti sebelum berjalannya operasi.


Beberapa jam kemudian, Habibah nampak membuka matanya dengan perlahan. Saat pertama kali membuka matanya, yah pertama dia lihat adalah ruangan yang semuanya berwarna putih bersih. Dia mencoba mengingat apa yang telah terjadi padanya. Setelah dia mengingatnya diangkatnya sebelah tangannya yang lemah untuk menyentuh perutnya yang kini nampak rata. Perlahan air matanya mengalir dari kedua sudut matanya.


Dilihatnya ibunya yang tertidur dengan posisi duduk disamping ranjangnya. Di sentuhnya tangan tua milik ibunya itu perlahan. Perasaannya saat ini sangat sulit untuk digambarkan.


" Kamu sudah sadar nak, apa kamu haus? Atau lapar?" tanya ibunya begitu menyadari jika anaknya sudah siuman saat merasa ada sentuhan di tangannya.


" Bibah haus ma, bisa tolong minta minumnya?" ucap Habibah dengan suara parau sebagai tanda kalau kerongkongannya kering.


" Iya, tunggu sebentar." ibunya segera menuangkan air kedalam gelas yang sudah disediakan di atas nakas yang disediakan rumah sakit. Ibunya lalu membantunya untuk minum, yang sebelumnya menaikkan posisi tempat tidurnya dibagian kepala Habibah.


" Ikhlaskan lah nak, insyaallah kelak anak itulah yang jadi penolongmu dan suamimu di akhirat. Semua sudah kehendak Allah, yakinlah kalau ketentuan dari Allah itu lah yang terbaik untukmu. Jadi jangan bersedih terlalu dalam ya?"


" Iya, ma. Insyaallah Biibah ikhlas. Mungkin kalau anak itu tetap hidup, dia akan menderita karena tak pernah tau seperti apa sosok ayahnya. Walaupun awalnya Bibah berharap kalau anak itu bisa menggantikan keberadaan dari mas Pur disisi Bibah. Tapi ternyata Allah punya rencana lain untuk kami." jawab Habibah dengan nada yang masih sendu.


"Ma, apakah anak Bibah sudah di makamkan?" tanya Habibah tiba-tiba.


" Oh,. belum. Dokter bilang tunggu kamu sadar dulu, supaya kamu bisa melihat anakmu untuk pertama dan terakhir kalinya km. Tunggu sebentar, mama kasih tau dulu dokternya." Ibunya lalu berdiri dan hendak keluar kamar dengan niat memanggil dokternya.


" Mama mau kemana?" tanya Habibah.


" Panggil dokternya " jawab ibunya singkat.


" Gak usah kemana-mana ma kalau mau panggil dokter. Cukup tekan itu aja." kata Habibah sambil menunjuk sebuah tombol yang ada di atas nakas.

__ADS_1


" Iyakah? Mama gak tau. hehehe..." jawab ibunya sambil tertawa. Dan Habibah hanya tersenyum melihat ibunya yang terlihat malu karena ketidak tahuannya barusan.


Tak lama dokterpun datang untuk memeriksa kondisi Habibah saat ini. Setelah itu, oksigen yang terpasang di hidung Habibahpun di lepaskan. Karena memang Habibah sudah jauh lebih baik dari sebelumnya. Dan habibahpun dipertemukan dengan bayi nya yang kini telah dingin. Meski begitu wajah tampannya masih terlihat dengan jelas di balik tubuhnya yang pucat.


Habibah menggendong anaknya itu dengan hati-hati seolah takut jika anaknya itu akan terganggu. dengan sentuhannya. Di usap pelan kedua belah pipi lembutnya, lalu mencium lembut kening dari sang bayi.


Maafkan Uma nak, Uma tak mampu menjagamu dengan baik.


Allah lebih suka kalau kamu kembali padaNya dari pada berada disisi Uma.


Tunggulah Uma disana, bersama dengan Abahmu dengan damai.


Jemputlah Uma saat Uma tak mampu menemukanmu kelak.


Terima kasih, karena sudah hadir dalam hidup Uma walau sesaat.


Terima kasih, sudah menemani hari-hari Uma dengan segala gerakanmu dalam perut Uma.


Uma bahagia dengan adanya kamu dalam hidup Uma, walaupun akhirnya harus berpisah secepat ini.


Uma sayang padamu...😢😢


Air mata Habibah kembali membasahi cadar yang dikenakannya. Dipandanginya dengan lekat wajah anaknya seolah ingin melukis setiap detil dari wajahnya dalam ingatannya. Kemudian dia menyerahkan kembali jenazah anaknya itu pada perawat yang membawanya tadi.


" Makamkanlah segera, kasihan kalau pemakamannya terus ditunda. Bibah juga sudah melihatnya dan memeluknya." kata Habibah pada keluarganya yang hadir disana saat itu.


Sore itu juga jenazah dari anaknya dikebumikan di pemakaman umum yang gak jauh dari rumah Habibah. Sementara Habibah hanya ber dua dengan ibunya dirumah sakit. Anggota keluarga yang lain pulang untuk mengikuti prosesi pemakaman anaknya.


***


Kehilangan sesuatu yang penting dalam hidup kita berkali-kali, memanglah menyakitkan. Tapi kalau kita bisa mengikhlaskannya, maka itu bisa membuat kita menjadi lebih tegar lagi dalam menghadapi ujian hidup.

__ADS_1


__ADS_2