Perjalanan Cinta Habibah..

Perjalanan Cinta Habibah..
Asisten Galak


__ADS_3

Hari pertama masuk kerja, Habibah bangun jam empat pagi, setelah memasak untuk bekalnya bekerja juga untuk sarapan orang rumahnya. Diapun segera mandi dan shalat subuh. Begitu selesai shalat dia bergegas menyiapkan bekalnya dan perlengkapan kerja lainnya. Tak lupa dia mengenakan sepatu boot karena dia harus bekerja dilapangan maka sepatu yang di gunakan adalah sepatu boot. Dia bergabung dengan karyawan harian lain yang menunggu mobil jemputan karyawan lapangan. Dia mengira mobil yang digunakan itu seperti mobil-mobil angkutan biasanya, ternyata mobil angkutan itu adalah sebuah mobil Dum Truk..!!


Wow...!! serius naik mobil begini ketempat kerja? Berdiri berdesak-desakan di belakang dengan jumlah karyawan hampir tiga puluh orang..!! Serunya dalam hati. Sang sopir yang melihat Habibah tertegun sambil memperhatikan orang-orang berebut untuk naik keatas Dum Truk itu akhirnya sang sopir pun memanggilnya.


" Kamu karyawan baru ya?" tanyanya.


" Iya pak" jawab Habibah singkat.


"Divisi berapa afdeling berapa?" tanyanya lagi.


" Divisi satu afdeling tiga bagian pembibitan pak" jawab Habibah menjelaskan.


" Ayo naik di depan saja, itu divisi dan afdeling terakhir yang saya antar karyawannya." ajaknya.


" Gak apa-apa kah pak kalau saya duduk di depan?" tanya gadis itu ragu.


" Gak apa-apa, sudah biasa juga kok kalau ada yang duduk di depan. Itu juga ada ibu-ibu yang duduk didepan masih cukup untuk satu orang lagi. Lagi pula badan kamu imut gitu nyelip juga bisa..hahaha.." balas sopir itu lagi dengan di akhiri dengan sebuah candaan yang menghilangkan keraguan Habibah.


Sampai dilokasi kerja pada jam enam sepuluh menit, lima menit kemudian di adakan apel pagi yang dipimpin oleh Asisten lapangan dan di ikuti oleh Kerani Lapangan, Mandor dan karyawan lapangan. Udara masih sejuk berembun dan dingin. Perkenalan karyawan baru dimulai. Pertama- Tama sang Asisten lapangan yang memperkenalkan diri, dilanjutkan oleh Habibah dan juga para mandor lapangan. Setelah perkenalan selesai baru Absensi yang dilakukan oleh mandor masing-masing pada karyawan lapangan harian tetap yang terbagi dalam beberapa bagian. Ada yang di bagian penyemaian, penanaman, pemupukan, dan penyemprotan.

__ADS_1


Absensi selesai, merekapun mulai bekerja ke bagian masing-masing. Dan Habibah sendiri masih harus berurusan dengan Asisten lapangannya di kantor.


" Assalamu'alaykum, selamat pagi pak.." Sapa Habibah sopan saat berada di ruangan asisten itu.


" Wa'alaykumussalam .." jawabnya sambil sibuk mengecek beberapa berkas tanpa melihat sedikitpun pada Habibah.


" Kamu Kerani baru saya ya? Nama kamu siapa tadi?" tanyanya lagi


" Nama saya Nur Habibah pak." jawab gadis itu singkat.


" Kenapa nama kamu ada NUR nya? Ada yang panggil kamu Nur gak?" tanyanya dengan nada yang dingin.


" Ya memang nama saya ada NUR nya, memangnya kenapa kalau ada Nurnya? Apa gak boleh? Lagipula gak banyak orang yang panggil saya dengan nama itu, orang lebih banyak yang panggil saya Habibah" sahut Habibah merasa tak suka dengan pertanyaan atasannya itu.


" Kenapa saya harus takut sama bapak? Bukan bapak yang gaji saya kerja, dan bapak juga gak bisa pecat saya sembarangan kan? Lagian kenapa juga bapak tanya seperti tadi sama saya? Seingat saya, waktu tadi bapak perkenalkan diri waktu apel pagi nama bapak juga Nur nya dan saya gak keberatan dengan nama bapak itu. Muhammad Zelly Nur Rahman kan? Lalu kenapa bapak seperti keberatan kalau nama saya ada nur nya.?" atasannya itupun menghentikan aktivitasnya dan duduk bersandar pada sandaran kursinya seraya memandangi Habibah dari atas hingga ke bawah.


Tiba-tiba dia tertawa sambil berdiri mendekati gadis itu yang terheran heran melihat tingkah atasannya yang menurutnya tak biasa.


" Kamu anak kecil aja sudah berani berdebat dengan saya. Kalau kamu sudah dewasa kamu mau jadi apa heh..!" ucapnya sambil menjentikkan jari telunjuknya ke kening Habibah.

__ADS_1


" Yang duluan kan bapak sendiri, kalau bapak baik-baik sama saya, saya juga gak akan mau berdebat sama bapak. Kalau bapak mau saya hormati bapak, maka bapak juga harus hormati saya. Kalau bapak mau saya hargai maka bapak juga harus hargai saya. Kalau bapak gak bisa maka jangan harap sayapun bisa .. Kalau saya semua tergantung dari bapak aja. " jawaban gadis itu begitu telak mengenai harga diri dari atasannya itu. Atasannya itu benar-benar tak menyangka bahwa gadis bertubuh mungil itu berani berdebat dengannya dan bahkan bisa membungkam nya dengan mudah.


" Ya sudah lah pak, saya mau turun lapangan dulu. Kalau bapak merasa kurang puas, kita bisa lanjutkan lain waktu. Atau kalau bapak masih merasa gak puas juga, bapak bisa buat pengaduan pada atasan bapak atau ke yang lebih tinggi lagi agar saya bisa di pecat secepatnya." ucap gadis itu sambil berlalu meninggalkan atasannya yang tertegun melihat keberanian gadis mungil yang imut itu pergi.


Gak nyangka anak itu bisa lebih keras dari penampilannya. Umurnya menginjak dua puluh tahun tapi keberaniannya sudah begitu besar. Sangat jarang ada yang berani berdebat denganku apalagi dia seorang gadis. Biasanya seorang gadis di gertak sedikit aja sudah menangis, dia jangankan menangis merasa takutpun tidak. Sungguh menarik sekali gadis yang satu ini.. gumamnya sambil terus memperhatikan Habibah dari balik jendela kantornya.


Habibah banyak menyapa karyawan lapangan harian dengan senyum ramah, dia menanyakan apa saja yang tak difahaminya. Diapun berbincang dengan mandor- mandor yang satu divisi dengannya. Bertanya banyak hal dari mereka untuk menambah pengetahuannya dalam pekerjaannya. Dan merekapun tak segan dalam membantu gadis itu, bahkan mengajarinya banyak hal terutama dalam membuat sebuah laporan yang sesuai dengan keinginan atasannya yang terkenal galak dan jutek itu.


Tak terasa waktu istirahat dan makan siang pun tiba. Habibah bergegas lmencari air yang bisa digunakan untuk berwudhu, untung saja ditempatnya bekerja tak jauh dari sungai,. sebab sungai sangat membantu dalam menyiram benih yang baru di semai dan bibit yang siap untuk ditanam. Setelah berwudhu, diapun kembali ke kantornya dan mengeluarkan mukena dan sajadah dari dalam tasnya.


" Pak Zelly? Mau tanya, kalau mau shalat dimana ya pak? Saya mau shalat tapi saya bingung cari tempat shalatnya dimana? Bapak biasanya shalat dimana?" tanya Habibah pada atasannya yang sedang duduk didepan meja kerjanya sambil memainkan handphone nya.


" Jam berapa ini kok kamu sudah mau shalat?" yang ditanya bukan menjawab pertanyaan yang di ajukan malah kembali bertanya.


" Pak ini sudah jam 12.15 pak Zelly yang terhormat. Sudah waktunya shalat pak? Memang bapak gak tau jam shalat Dzuhur jam berapa? Kalau bapak mau kita bisa shalat berjamaah pak, siapa tau kalau kita shalat berjamaah itu penyakit bapak bisa sembuh" ujar Habibah sambil menunjuk kepalanya sendiri.


" Maksud kamu apa?" tanya Zelly tak suka.


" Maksudnya supaya setan pemarah bapak itu hilang pak. Lagi pula saya kasih tau ya pak, bapak gak usah galak-galak sama saya sebab galaknya bapak itu gak sebanding dengan galaknya bapak saya. Jadi jangan harap kalau saya takut sama bapak" Ucap Habibah sambil melangkahkan kaki ke arah sudut ruangan kantor itu dan menyapu sedikit agar lebih bersih lalu dia melakukan shalat disana. Sementara atasannya itu hanya melongo menyaksikan keberanian gadis itu dalam berbicara dan bersikap. Benar-benar menarik. Diapun tanpa sadar terus memperhatikan gadis itu sampai selesai dengan shalatnya.

__ADS_1


***


ada yang pernah mengalami punya bos galak dan jutek gak🤔🤔🙏


__ADS_2