Perjalanan Cinta Habibah..

Perjalanan Cinta Habibah..
ibu mertua yang manis


__ADS_3

"Wa'alaykumussalam warrahmatullah wabarokaatuh..." Habibah mencoba memperhatikan siapa yang datang menemuinya di kamar seperti ini.


" Boleh masuk?"


" Oh, iya.. silahkan.. " Habibah berdiri untuk menyambut "tamu " nya sambil mengulurkan tangan untuk menyalaminya dan mencium punggung tangannya.


" Ah, kamu ternyata wanita yang baik.." ucapnya sambil mengusap lembut kepala Habibah saat punggung tangannya di cium oleh Habibah.


" Bukan baik, tapi saya menghormati ibu karena ibu jauh lebih tua dari saya Bakan dari ibu saya." jawab Habibah sambil mempersilahkan tamunya itu duduk di sebuah kursi yang ada di dalam kamarnya itu.


" Maaf ya, kalau saya lancang sudah menemuimu di dalam kamar seperti ini. Saya gak lihat kamu ada di luar, dan kata mama kamu kalau kamu ada di dalam kamar mangkanya saya ke mari."


" Iya, gak apa-apa.. Memangnya ada hal penting apa sampai ibu menemui saya di sini?" tanya Habibah penuh rasa penasaran.


" Ah, iya. Sampai lupa.. Nama saya Limey, saya ibunya Zelly.."


"Oh, ibunya mas Zelly.. Datang sama siapa?" sebenarnya Habibah terkejut tapi dia berusaha untuk bersikap setenang mungkin.


Dia tak pernah menyangka jika ibunya Zelly adalah keturunan Chinese. Meskipun usianya sudah paruh baya, tapi masih menyisakan kecantikan di wajahnya.


Pantesan aja anaknya bisa ganteng dan putih gitu, ternyata ibunya aja cantik dan turunan Chinese pula. Kok dia gak pernah cerita ya? Ah, mana ada potongannya dia mau cerita tentang dirinya sendiri. Aku lupa kalau dulu dia orangnya gimana, sekarang aja dia mau banyak bicara, ah masih belum banyak juga sih. Tapi udah lumayan ketimbang dulu 🤭🤭.


"Nur.. Nur.."


" Ah, iya Bu.. Ada apa?" Habibah terkejut karena ternyata dia larut dalam lamunannya sendiri.


" Ada apa? Ada masalah kah? Kok di ajak ngobrol malah melamun gitu? Apa lagi mikirin Zelly? Sabar ya, gak lama juga ketemu 😁😁."


" Ah, bukan gitu.. Saya cuma..."


" Iya juga gak apa-apa kok Nur.. Yang penting kamu kangennya sama Zelly, bukan sama yang lain kan?" goda Limey pada calon menantunya yang kini pipinya sudah memerah karena malu.


" Oh, iya. Ibu mau minum apa? Sampai lupa gak nawarin minum, maaf ya Bu.."

__ADS_1


" Gak usah repot-repot Nur, tapi kalau boleh air putih aja. Dan satu lagi, kalau bisa jangan panggil ibu ya, panggilnya mama aja kayak Zelly panggilnya juga mama." pinta Limey pada Habibah.


" Mm, baik.. Kalau gitu saya tinggal dulu sebentar.." ucap Habibah sambil sedikit membungkukkan tubuhnya saat melewati calon ibu mertuanya sebagai tanda hormatnya.


*Ternyata dia memang wanita yang berbeda. Walaupun berasal dari kampung, tapi dia punya sopan santun yang sangat bagus. Dia juga wanita yang lembut, dan tak terlihat kalau dia itu wanita yang manja.


Ternyata anak ku tak sia-sia jatuh cinta pada wanita yang seperti ini. Aku pun tak akan banyak pertimbangan kalau wanita yang di pilih anak ku adalah dia.


Aku baru beberapa menit bertemu dengan dia, tapi dia sudah memberi kesan yang melebihi dari ekspektasi ku tentang dia.


Aku kira dia seperti wanita-wanita kampung lain yang udik dan gak tau sopan santun. Tapi ternyata dia memang seperti yang di katakan oleh Zelly. Pantas saja anak ku sangat menyukainya, karena ternyata akupun menyukainya*.


Tak lama Habibahpun kembali dengan membawa sebuah nampan dengan sebuah gelas air putih dan beberapa kudapan di dalam piring.


" Maaf ya, kalau cuma ini yang bisa saya hidangkan.."


" Kenapa kamu sungkan begitu sih Nur? Mama kesini bukan untuk minta hidangan dari kamu. Mama kesini mau minta kamu untuk jadi menantu mama bukan minta di layani. Jadi jangan sungkan begitu..." ucap Limey sambil menerima nampan yang di bawa calon menantunya.


Habibah yang mendengar ucapan dari calon ibu mertuanya itu hanya bisa tertunduk malu. Dia tak menyangka jika calon ibu mertuanya itu bisa berkata-kata manis padanya. Dia bahkan tak pernah membayangkan untuk pertemuannya dengan calon ibu mertuanya itu.


Mungkin terdengar berlebihan jika Habibah mudah tersipu malu, karena ini adalah pernikahan nya untuk yang ke tiga kalinya. Hanya saja dia tak pernah menghadapi calon mertua yang seperti Limey.


Bahkan Habibah sendiri masih belum tau bagaimana nanti jika dia harus berhadapan dengan Zelly jika mereka sudah menikah nanti.


Tapi Habibah tak pernah berani untuk ber ekspektasi. Dia hanya menjalani saja dengan apa adanya. soal bagaimana nanti itu tak di ambil pusing Karena memang tak dapat di pungkiri jika dia merasa sangat gugup setiap kali teringat akan hal itu.


Dia belum pernah berhubungan dekat dengan Zelly dalam urusan pribadi. Saat Zelly menjadi atasannya saat kerja pun sangat jarang berhubungan dekat. Jadi sudah sewajarnya jika dia selalu gugup sekarang.


Hari pernikahan pun tiba, Habibah sudah siap dengan pakaian pengantin syar'inya. Meskipun wajahnya tertutup oleh cadarnya, tapi tak mengurangi kecantikan dan ke anggunannya sebagai wanita dewasa.


Habibah kini duduk di kamarnya dengan jantung yang tak henti-hentinya bertalu-talu. Bahkan telapak tangannya kini sudah sedingin es dan basah oleh keringat dingin.


Dia sendiri merasa heran kenapa dia bisa sampai se tegang dan se gugup ini. Padahal ini bukan pernikahan pertama untuk nya. Bahkan saat dia menikah dengan almarhum suaminya Purnomo pun tak mengalami hal ini.

__ADS_1


Rasa tegang dan gugupnya membuatnya terlihat pucat saat Zelly mulai melafalkan kalimat sakral dalam pernikahan yaitu ijab qobul di depan penghulu yang menikahkan mereka hari ini.


Bahkan telinganya tiba-tiba menjadi tuli, dia tak bisa mendengar orang-orang di sekitarnya berbicara hanya suara Zelly yang sedang melafalkan ijab qobul saja yang bisa dia dengar.


Saat suara saksi menggema mengucapkan kata SAH, hatinya ikut merasa lega. Walaupun tak bisa mengurangi ke tegangan dan kegugupan yang dirasakannya.


Selama prosesi ijab qobul berlangsung, Zain dan Nur Laily tak pernah menjauh dari Habibah. seolah merekapun menantikan momen bahagia ini. Bahkan Nur Laily mengucapkan Alhamdulillah begitu mendengar kata SAH yang di ucapkan para saksi. Nur Laily bahkan memeluk Habibah dengan wajah bahagianya.


" Terima kasih Uma, Uma sudah mau kasih aku papa baru. Uma hari ini cantik banget, Om ganteng juga hari ini ganteng banget. Eh salah, bukan om tapi Abah ganteng.." celoteh Nur Laily dalam pelukan Habibah.


" Emm.. Anak gadis Uma sudah pandai berkata manis ya sekarang? Siapa yang mengajari anak Uma bicara semanis ini? emm..?" Habibah mencium gemas kedua belah pipi gadis kecil yang berada di sampingnya itu.


" Uma jangan cium-cium kakak telus, ciumnya untuk Zain aja jangan kakak." tiba-tiba terdengar suara imut yang sedang cemburu dari Zain yang duduk dalam pangkuan Habibah.


" Aahh... iya, maaf ya sayang .. Uma lupa kalau Adek belum di cium sama Uma. Muach.. muach..muach.." Habibah mendaratkan tiga kecukupan pada wajah Zain.


Kedua pipi dan keningnya sudah mendapatkan kecupan gemas dari Habibah, membuat Zain tersenyum bahagia.


Untuk seketika Habibah melupakan situasi yang sedang berlangsung saat ini, sampai dia melupakan segala rasa tegang dan gugup yang menyerangnya tadi. Tapi itu tak berlangsung lama, rasa tegang dan gugupnya kembali menyerangnya ketika ada sesosok tubuh kini sudah duduk menghadap padanya dengan wajah tersenyum manis.


Yah, dia adalah Zelly yang kini sudah resmi menjadi suaminya telah duduk dengan melipat kedua kakinya. Didampingi oleh ibunya untuk menyematkan cincin pernikahan pada Habibah juga meyerahkan mas kawin yang di berikan padanya.


Meski wajahnya di hiasi senyum yang manis, tapi tetap tak bisa menutupi rasa gugup yang melanda hatinya. Ini memang pernikahan ke dua untuk Zelly, tapi tetap saja pernikahan kali ini adalah dengan orang yang sangat dia cinta dan sayangi.


Bahkan kini wajah yang selama bertahun-tahun di rindukannya itu ada di hadapannya dan sudah resmi menyandang status sebagai istrinya.


" Ehem...!


Terdengar deheman dari Limey yang duduk tepat di samping Zelly menyadarkan kembali dua insan yang kini tengah sibuk dengan fikiran masing-masing.


" Mau sampai kapan kamu ngelihatin istrimu nak? Mama tau kalau istrimu itu cantik, tapi jangan kamu pandangi terus begitu. Sebab cincinnya masih belum kamu pakaikan di jari manisnya. Kalau kamu mau menatap wajah istrimu sepuasnya nanti saja setelah acara ini selesai, ok..?" goda Limey pada Zelly yang wajahnya kini sudah memerah karena malu.


Ya Allah...!

__ADS_1


Ibu mertuaku manis sekali.


Walaupun di depan banyak orang begini ga ragu-ragu untuk menggoda kami.😊😊.


__ADS_2