Perjalanan Cinta Habibah..

Perjalanan Cinta Habibah..
Pulih


__ADS_3

Setelah kembalinya Zelly dari rumah sakit, Zelly nampak murung. Mia bisa mengerti penyebab murungnya Zelly. Hanya saja Mia belum tahu perihal telepon dari ibunya Zelly, karena Zelly belum menceritakan tentang telepon dari ibunya itu pada Mia. Zelly masih menggunakan penyangga saat berjalan karena kakinya belum pulih, lainya masih tak boleh banyak di gerakkan.


Namun sikap Habibah mulai ada perubahan, dia mulai menunjukkan reaksi pada lingkungannya sekitarnya. Seperti sore itu, Zelly berniat kembali ke kamarnya yang kebetulan berada di lantai 2 rumah Mia. Zelly terlihat kesulitan saat menapaki anak tangga, dan kebetulan Habibah juga mau naik. Tanpa bertanya dia meraih lengan Zelly dan memapahnya hingga ke atas. Setelah sampai di lantai 2, Habibah meninggalkannya begitu saja, seolah dia tak melakukan apapun pada Zelly. Sementara Zelly hanya bisa terbengong melihat Habibah yang bisa bersikap seperti itu padanya.


Aku bantu dia karena dia sudah banyak bantu aku. Toh aku gak sentuh dia, dia pakai baju lengan panjang jadi tak apakan kalau aku bantu dia sampai atas?


Habibah mencoba meyakinkan dirinya bahwa dia tak melakukan sesuatu yang salah dengan membantu Zelly. Habibah duduk di tepi ranjang, dia pandangi kedua telapak tangannya. Ditautkan nya kedua telapak tangannya dan dirasakannya kedua telapak tangannya yang saling bertaut itu dengan tatapan kosongnya. Entah apa yang difikirkannya.


Habibah merasa sangat ingin mengatakan banyak hal pada semua orang yang ada dirumah itu, tapi entah kenapa dia tak bisa membuka mulutnya untuk membuka suara. Seakan ada sesuatu yang menahannya untuk berbicara dari bawah alam sadarnya. Dia sebenar ingin mengatakan terima kasih pada semua orang yang selama ini menjaganya dan tak meninggalkannya disaat dia terpuruk seperti ini. Tadinya dia mengira dia akan sendirian setelah meninggalnya Purnomo. Tapi ternyata masih ada orang lain yang perduli 0adanya selain dari ibunya. Zelly...


Dia adalah pria yang dulu pernah di tolak oleh Habibah. Pria yang sama sekali tak pernah ada dalam hati Habibah, kini menjadi orang yang paling berjasa dalam perawatannya ini. Habibah tak mengerti, mengapa Zelly bisa melakukan banyak hal untuknya disaat keadaannya yang menyedihkan ini dan bahkan pernah ditolak olehnya.


Disaat yang bersamaan, Zelly mencoba menyadarkan diri sendiri dari apa yang baru saja terjadi. Sikap Habibah tadi bagai sebuah mimpi yang sulit dipercaya. Seseorang yang melakukan sesuatu tanpa ada ekspresi apapun diwajahnya. Seolah tak ada yang terjadi sama sekali. Hal-hal yang selama ini dirindukannya walaupun itu hanya ada dalam angan-angan, tapi kini nyata telah terjadi.


Dia tadi memapahku sampai di atas dan itu sungguhan..??


Aku benar-benar gak sedang bermimpi kan??


Apakah ini pertanda kalau dia akan pulih secepatnya?


Dan aku harus secepatnya pergi dari sini.

__ADS_1


Apakah dia nanti akan marah kalau tau selama ini aku ada di sini untuknya?


Banyak pertanyaan muncul dalam benak Zelly tentang sikap Habibah nanti Jika wanita itu benar-benar pulih. Dia sangat khawatir jika Habibah tak bisa menerima semua yang telah dia lakukan untuknya. Karena dia tau benar jika Habibah sangat tak menyukai hal-hal berbau "kasihan" walaupun apa yang dilakukan olehnya bukan karena kasihan melainkan karena perasaan cinta dan sayangnya yang besar untuk Habibah.


Hari-hari berlalu dengan cepat, kondisi kaki Zelly semakin membaik. Habibah juga semakin terlihat banyak interaksi dengan sekitar, walau tetap tak bicara dan berekspresi. Seperti pagi ini, Habibah membuat sarapan untuk semua orang, dan membuat beberapa camilan dengan tangannya sendiri. Mia sangat terkejut saat melihat Habibah berada di dapurnya tanpa asisten rumah tangga. Mia mengamati semua yang dilakukan oleh Habibah tanpa mengeluarkan suara sama sekali. Tapi saat semuanya telah selesai, tiba-tiba Habibah berdiri dengan menatap kedua belah telapak tangannya dengan gemetar. Mia yang melihatnya tentu terkejut dan segera menghampirinya.


" Kamu kenapa? Apa yang kamu lakukan disini? Disini ada asisten rumah tangga, jadi kamu tak perlu melakukan semua pekerjaan ini. Untuk apa kamu repot-repot melakukan semua ini?" Mia mencoba membawa Habibah keluar dari dapur, tapi tak disangka dia malah berlari meninggalkan Mia yang bengong sendiri tanpa tau apa yang terjadi sebenarnya.


Asisten rumah tangga Mia menghidangkan semua yang telah di buat oleh Habibah di meja makan, mulai dari sarapan sampai camilannya pun di letakkan di meja. Fadhlan sedikit heran dengan perubahan yang ada di meja makan pagi itu. Karena pagi itu mereka sarapan dengan hidangan nasi uduk dan sayur lodeh dan sambal goreng. Serta ada camilan tradisional yang dibuat oleh Habibah pagi ini.


" Tumben banget sarapan kita hari ini kok berbeda, kayak ada yang istimewa hari ini? " ucap Fadhlan Sambil menarik kursi dan duduk untuk bersiap menyantap sarapan.


" Kamu tau gak siapa yang masak semua ini?" tanya Mia pada suaminya


" Kamu?" tanya Zelly.


" Salah. Yang buat semua makanan di meja ini cuma satu orang, dan kalau aku kasih tau orangnya mungkin kalian gak akan percaya. Yang masak ini semua....."


" Habibah.." sela ibu Sumarni tiba-tiba. Dan semua yang ada di ruang makan serempak menoleh padanya.


" Dari mana ibu tau kalau ini masakan dia?" tanya Fadhlan.

__ADS_1


" Ini semua adalah makanan kesukaan almarhum suaminya, tentu saja saya tau kalau ini adalah masakan dia tanpa harus melihat saat dia memasaknya. Dulu waktu suaminya masih ada, dia sangat sering masak ini untuk suaminya." ibu Sumarni sedikit mengenang.


Mia akhirnya mengerti mengapa Habibah tiba-tiba bergetar dan berlari saat di dapur tadi,. pasti karena teringat pada suaminya dan tersadar jika sekarang suaminya sudah tak ada lagi di sisinya. Sungguh dalam rasa yang di miliki Habibah pada Purnomo, sampai dalam keadaan yang masih seperti inipun dia bisa melakukan sesuatu yang sangat di sukai oleh Purnomo. Seakan dunia ini hanya milik dia seorang saja, hingga dia nyaman berada di dunianya yang hanya sendirian itu.


Mia tanpa sadar memijat pelipisnya dengan pelan, dia tak mengerti apa yang harus dia katakan. Kalau sudah membahas soal Habibah, dia bingung mau berkomentar apa. Sebab apa yang terjadi pada Habibah itu jarang terjadi, seorang yang memiliki rasa cinta dan sayang yang begitu besar pada pasangan hidupnya sampai membuatnya kehilangan dirinya sendiri.


Tak terasa sudah dua bulan lamanya Habibah berada di kota, dan Zelly yang tadinya hanya pergi dinas sambil menemani Habibah perawatan. Justru harus ikut perawatan karena kecelakaan mobil yang di alaminya, untungnya Zelly memiliki masa cuti selama beberapa tahun yang belum dia gunakan jadi perusahaan memberikannya cuti selama tiga bulan. Dan saat ini kaki Zelly sudah lebih baik, hanya tinggal sedikit ngilu pada kakinya yang baru saja gips nya di lepas. Tapi itu sudah jauh lebih baik dari sebelumnya. Walaupun Zelly belum bisa berjalan dengan normal seperti biasanya, ain sekarang Zelly sudah tak menggunakan lagi penyangga saat berjalan. Hanya saja Zelly masih belum bisa sering berjalan naik turun tangga, karena kakinya masih belum mampu menopang bobot tubuhnya saat menaiki anak tangga.


Pagi hari saat akhir pekan sebenarnya tak ada yang aneh, masih sama seperti akhir pekan yang sebelum-sebelumnya. Hanya Habibah yang berubah di pagi ini, disaat yang lain masih berada di kamarnya Habibah justru sedang sibuk di dapur bersama asisten rumah tangga Mia. Tak ada yang tau jika ternyata hari itu Habibah telah benar-benar pulih, hari itu Habibah ingin membuat kejutan pada orang-orang yang selama ini ada untuknya. Bahkan ibunya pun belum tau perihal Habibah yang sudah kembali pulih itu. Habibah sekarang sudah bisa bicara lagi, dan yang mengetahui pertama kali adalah asisten rumah tangga Mia. Karena Habibah tak sengaja menanyakan sesuatu padanya. Asisten rumah tangga itu sangat terkejut saat mengetahui jika Habibah sekarang sudah bicara lagi. Dan Habibahpun terkejut saat mendengar suaranya sendiri, tenggorokannya terasa kering dan suaranya terdengar parau saat pertama kali dia bicara. Mungkin karena terlalu lama Habibah tak bicara, jadi pita suaranya masih terasa kaku dan mulutnya masih terasa berat untuk bicara. Jadi masih sangat sedikit yang diucapkan oleh Habibah.


Pukul 7.30, satu persatu penghuni rumah keluar dari kamarnya masing-masing. Hidangan sudah tersedia di meja makan dengan rapi dan siap di santap. Mia yang pertama kali turun dan melihat sajian di atas meja makan sudah tau jika itu pasti masakan yang di masak oleh Habibah. Karena asisten rumah tangganya tak pernah memasak menu-menu yang ada di atas meja saat itu. Yang yang paling mungkin itu adalah Habibah, sebab Habibah juga yang Minggu lalu memasak sesuatu yang berbeda dirumah itu. Tapi saat itu Habibah sudah kembali kekamarnya, dan hanya ada asisten rumah tangganya saja yang sedang mencuci pakaian dibelakang. Miapun mendatangi asisten rumah tangganya dan bertanya padanya untuk lebih meyakinkannya jika apa yang difikirkannya itu benar.


" Bi, apa pagi ini Habibah yang memasak untuk sarapan lagi?" tanya Mia tanpa basa-basi.


" Ehm... Benar Bu, apa ibu keberatan? Saya sudah melarangnya Bu, cuma mba nya maksa Bu." dengan wajah yang menunjukan rasa khawatir jika majikannya tak menyukai jika Habibah memasak untuk mereka hari ini membuat Mia merasa bersalah karena membuat asisten rumah tangganya merasa ketakutan.


" Gak apa-apa kok bi, saya suka kok. Cuma mastikan aja kalau memang dia yang masak. Berarti itu bagus kan?" Mia menjawabnya dengan senyum yang lebar sambil ngeloyor pergi meninggalkan asisten rumah tangganya yang terbengong karena bingung melihat sikap majikannya saat itu. Tapi dia bersyukur karena majikannya itu tak marah karenanya 😁😁.


***


Nanti reaksinya bagaimana ya, waktu tau kalau Habibah sudah pulihπŸ€”πŸ€”

__ADS_1


jangan lupa klik jempol dan votenya juga ya😊😊


Terima kasih πŸ₯°πŸ₯°πŸ™


__ADS_2