
Malam ini, Zelly tiba-tiba seperti remaja yang sedang kasmaran saja. Sejak dia menerima pesan singkat dari Habibah jika dia bersedia untuk memberinya kesempatan. Mendadak ada taman bunga yang bermekaran dalam hatinya. Bahkan kini dia bisa senyum-senyum sendiri setiap kali teringat kalimat yang diucapkan Habibah dalam pesan singkatnya.
Terimakasih ya Allah..
Aku tak pernah bermimpi mendapatkan kesempatan ini. Tapi aku juga tak akan menolaknya datang dalam hidupku.
Tadinya aku fikir semua itu mustahil bagiku, tapi aku lupa kalau tak ada yang mustahil bagiMu.
Engkau bisa dengan mudah membolak-balikkan hati hamba-hamba Mu, dan saat ini Kau telah membalikkan hatinya agar bersedia menerima pinangan ku hanya dalam waktu beberapa hari setelah kami bertemu kembali.
Jika Kau meridhoi kami, maka aku mohon buatlah dia bahagia selama hidup bersamaku. Jangan biarkan dia menangis dan terluka lagi, apalagi hanya karena aku.
Matanya sulit untuk terlelap, kini matanya justru sedang asyik menatap foto-foto dalam sebuah file di handphone nya. Bayangan saat pertama kali bertemu dengan Habibah hingga terakhir kali mereka bertemu terus berkelebatan di depan matanya. Seperti ada sebuah proyektor yang sedang memutar ulang semua kenangan itu di hadapannya.
🍀🍀🍀
Seperti hari biasanya, pagi ini pun Habibah melakukan aktivitas yang tak jauh berbeda dari hari biasanya. Di mulai dari shalat Subuh, memasak untuk sarapan dan mengurus anak-anak nya. Setelah semuanya selesai, karena hari ini adalah weekend, jadi mereka hanya bersantai dirumah. Habibah belum memulai menerima pesanan kuenya, dia juga belum mengunjungi tokonya sejak pulang dari kota dua hari yang lalu.
Pagi ini haibah sedang duduk-duduk di tengah rumah sambil menemani Zain bermain, sementara Nur Laily dengan buku bacaannya, sedangkan kedua orang tuanya sedang duduk santai diteras rumah sambil menyantap singkong goreng yang di temani secangkir kopi kesukaan ayahnya.
" Uma... kapan kita punya Abah baru?" tiba-tiba Nur Laily bertanya di sela-sela membaca bukunya.
" Eh.. Kok nanyanya gitu sih sayang.." Habibah sungguh terkejut dengan pertanyaan dari anak gadisnya itu yang tiba-tiba. Dan pertanyaan Nur Laily itu di dengar oleh nenek dan kakeknya yang memang jarak antara ruang tengah dan teras hanya beberapa meter saja.
" Tuh dengar kan anakmu Bibah.. Bagaimanapun mereka ingin punya ayah seperti yang lainnya, iyakan Nur..?" sahut neneknya menimpali pertanyaan yang di lontarkan oleh Nur Laily.
" Iya nek, aku suka iri aja kalau lihat teman-teman di antar dan di jemput kalau sekolah. Terus kalau pergi jalan-jalan juga ada ayahnya. Sedangkan aku... Kemana-mana cuma sama Uma, mentok-mentok sama kakek atau nenek. Kadang-kadang sama eyang..." jawab Nur Laily serius.
__ADS_1
" Uma... Kenapa gak Om yang hari itu aja yang jadi Abahnya kita?" tanya Nur Laily lagi.
" Om yang mana Nur... Emang ada ya?" sambar neneknya sebelum Habibah sempat menjawab.
" Ada nek.. Orangnya ganteng, ramah, dan kayaknya banyak uangnya juga. Hehehe..." jawab Nur Laily sambil meletakkan jari telunjuknya di dagu layaknya orang yang sedang serius berfikir.
" Ih...! Kamu tuh ya, kecil-kecil udah tau ganteng dan banyak duit.." Sahut Habibah sambil tetap menemani Zain bermain. Tapi tanpa terasa wajahnya menghangat saat mendengar Nur Laily mengatakan sosok Zelly tadi.
" Uma... Boleh ya Uma, Om itu jadi Abah kita? Aku suka deh sama Om itu."
" Siapa sih Bibah..?" tata ibunya penasaran.
" Emmm.... Itu lho ma. Pak Zelly mantan atasan Bibah dulu waktu kerja di kebun sawit. Waktu di Samarinda gak sengaja ketemu sama beliau." terang Habibah. Tapi dia belum berani mengatakan kalau Zelly juga memintanya agar di beri kesempatan untuk menikahinya.
" Oh... Yang dulu pernah ke sini waktu kamu nikah sama Purnomo kan? Eh, kalau gak salah waktu kamu nikah sama Qodir dia juga datang kan ya? Memang ganteng kok orangnya, ramah juga.. Betul yang di bilang anakmu itu, sepertinya dia juga sudah mapan hidupnya..." ibunya menimpali dengan serius.
" Ih.. Mama... Tapi beliau umurnya 10 tahun lebih tua dari Bibah lho ma.."
" Beliau duda ma..." jawab Habibah pelan.
" Ada anaknya gak?" tanya ibunya lagi.
" Gak ada.."
" Ya sudah gak apa-apa.. Kalaupun ada anaknya, ya kamu harus bersikap baik sebagaimana kamu sekarang pada anak perempuanmu itu." nasehat ibunya lagi.
" Tapi... "
__ADS_1
" Gak usah tapi-tapi... Kalau dia memang sungguh-sungguh kamu jangan menutup hati dan dirimu. Ingat ada hak anakmu yang harus kamu penuhi, dan itu hanya bisa mereka dapat dari seorang ayah bukan dari seorang ibu. Mama tau, kamu itu bisa merawat mereka dan membesarkan mereka dengan baik, tapi kasih sayang seorang ayah gak bisa kamu berikan pada mereka. Karena sesempurna apapun kamu, kamu gak akan bisa menggantikan sosok ayah dari mereka. Dan mereka tetap merindukan sosok ayah dari seorang laki-laki yang bersedia jadi ayah mereka, bukan dari kamu."
" Iya ma... Bibah cuma takut gak bisa adil sama dia kalau dia nikahin Bibah, takutnya Bibah gak bisa bahagiakan dia aja..."
" Ya , itu berarti kamu harus benar-benar berjuang untuk bahagiakan dia dengan sesuatu yang dia sukai. Kita sebagai perempuan harus bisa memberikan sesuatu yang mereka sukai walaupun hal itu kita gak sukai. Entah dari sikap kita, makanan kesukaannya dan sebagainya. Jangan sekali-kali kita hanya melakukan apa yang kita sukai saja agar kita merasa nyaman, karena pasti kitapun akan menemukan hal-hal yang gak kita sukai dari pasangan kita. Entah itu dari sikapnya, kesukaannya dan lain sebagainya. Kalau kita mau rumah tangga kita adem ayem ya kita harus bersabar dengan hal-hal itu dan mengorbankan kesenangan kita agar rumah tangga bisa langgeng... " nasehat ibunya lebih lanjut lagi.
" Iya ma, insyaallah..." jawab Habibah singkat.
🍀🍀🍀
Tring...
Terdengar nada sebuah Notifikasi dari handphone Habibah yang tergeletak di atas kasurnya. Habibah segera membukanya dan melihat ada sebuah chat dari Zelly.
" Assalamu'alaykum...
Nur, besok lusa kami kesana ya..
Tapi maaf, mamaku gak bisa datang sebab masih di kampung. Mungkin nanti kalau kita nikah, beliau baru bisa datang. Aku sama teman kesananya, gak apa-apa kan?"
Isi dari chat Zelly sangat mengejutkan Habibah. Karena Habibah tak menyangka jika Zelly akan datang meminangnya secepat itu. Bahkan Habibah belum berani mengatakan hal itu pada kedua orang tuanya.
Aduuhh...
Bagaimana ini...? Aku belum bilang apa-apa soal pak Zelly ini ke mama juga anak-anak. Kalau aku bilang sekarang nanti kesannya sangat mendadak. Tapi kalau aku gak bilang sekarang malah lebih parah lagi nanti.
Aduh...
__ADS_1
Gimana cara ngomongnya ya..?
Masa aku langsung bilang" mama, pak Zelly mau datang ngelamar" gitu?