Perjalanan Cinta Habibah..

Perjalanan Cinta Habibah..
Ragu-ragu


__ADS_3

" Dokter, bolehkah saya keluar hari ini? Saya sudah baikan kok dok, saya hanya perlu istirahat aja dan itu bisa saya lakukan di rumah." Zelly meminta persetujuan dari dokter yang merawatnya agar mengizinkannya rawat jalan.


" Belum bisa pak, tunggu sampai kaki anda lebih baik lagi dari sekarang. Pen baru saja di pasang di salah satu kaki bapak, kalau bapak pulang sekarang dan kurang baik dalam perawatannya maka bisa membahayakan kaki bapak ini." dokter itu menjelaskan.


" Tapi saya lelah dok disini..."


" Sabar nak Zelly, ibu tau nak Zelly merasa bosan. Tapi ini semua demi kebaikan nak Zelly sendiri. Ibu akan temani nak Zelly di sini.. " ibu Sumarni mencoba membujuk Zelly.


" Bu... Tolong jangan terlalu baik sama saya, saya takut nanti saya gak bisa....." Zelly tak menyelesaikan kalimatnya, dia hanya bisa menatap penuh permohonan pada ibu Sumarni.


Ibu Sumarni bukan tak mengerti, tapi dia juga tak mungkin meninggalkan Zelly seorang diri dirumah sakit. Setelah sekian banyak yang telah dilakukan oleh Zelly untuk Habibah.


" Gak apa-apa.. Yang kami lakukan ini gak seberapa dibandingkan apa yang sudah kamu lakukan untuk kami. Cuma ini yang bisa kami lakukan untuk kamu." ucap ibu Sumarni.


Hari itu benar-benar membuat Zelly frustasi dengan situasi yang di hadapinya saat ini. Satu sisi dia ingin selalu bisa dekat dan melihat Habibah, tapi di sisi lain dia juga ingin melepaskan ikatan yang menjerat hati dan hidupnya dari Habibah. Tapi, dia tak mampu melakukan apapun saat ini.


Selama tiga hari ibu Sumarni dan Habibah berada di rumah sakit menjaga Zelly. Hari ke 4 Zelly bersikeras meminta pada dokter untuk rawat jalan, dengan menjalani beberapa pemeriksaan lagi, akhirnya Zelly diizinkan untuk rawat jalan. Dengan catatan harus kontrol setiap satu Minggu sekali, dan Zelly menyanggupinya.


Sesampainya di rumah Mia, Zelly merebahkan tubuhnya di tempat tidur. Saat Zelly sedang asyik dengan lamunannya sembari menatap langit-langit kamarnya, Mia masuk dengan membawakannya beberapa buah-buahan dan menaruhnya di atas nakas.


" Apa yang kamu fikirkan sekarang? Apakah kamu masih memikirkan Habibah? Sebaiknya kamu jangan memikirkan dia terus, kamu fikirkan dirimu sendiri dulu sekarang. Bahkan jika bisa, Jagan kamu fikirkan lagi dia Zell.." Mia benar-benar tak tahan melihat keadaan sahabatnya itu.


" Mia... Sebenarnya gak ada alasan buatku untuk terus mencintai dia, tapi aku juga gak bisa berhenti mencintai dia. Aku benar-benar ingin berhenti, tapi hatiku tak bisa mencintai siapapun selain dia. Aku bahkan gak tau, apakah aku salah dengan perasaan ini? Apakah maksud dari Tuhan menyematkan cinta ini dihatiku yang ternyata hanya pada dia. Jika semua ini salah, lalu kenapa aku gak pernah bisa berpaling hati dari dia, meski sudah berkali-kali aku terluka oleh perasaan ini? Mia... Aku gak pernah merasa lelah ataupun menyesal dengan segala perasaan yang aku punya ini untuknya, tapi aku lelah dan menyesal karena perasaanku ini telah banyak melukai hati orang-orang yang menyayangiku." Zelly meluapkan segala isi hatinya pada Mia.


" Lalu apa rencanamu kedepannya Zell..?" tanya Mia.

__ADS_1


" Aku mau pergi ke Malaysia, aku mau kerja disana. Semoga dengan aku meninggalkan negara ini, aku bisa melepaskan semua ikatan yang sudah menjerat hati dan hidupku selama ini." harap Zelly.


" Baiklah .. Jika itu memang bisa membuatmu merasa lebih baik, mudah-mudahan harapanmu bisa jadi kenyataan. Aamiin..." Mia mengaminkan harapan Zelly.


" Terima kasih banyak Mia, mungkin apapun yang sudah kamu lakukan untuk ku gak akan pernah bisa aku membalasnya. Maka aku hanya bisa mendoakan semoga segala impian mu bisa tercapai, dan kamu selalu bahagia.". Zelly masih dengan posisi awalnya, terlentang sambil menatap langit-langit kamarnya.


" Ya sudah kalau begitu, sebaiknya kamu Istirahat sekarang. Dan Jangan lupa buahnya dimakan ya.." Mia pun beranjak dari tempat duduknya dan meninggalkan Zelly seorang diri.


Apakah aku benar-benar bisa melakukannya?


Meninggalkan dia, meninggalkan negara ini dan melupakannya?


Sekarang usiaku sudah tak muda lagi, bisakah aku bersaing dengan anak-anak muda di luar sana?


Drrtt.. Drrtt.. Drrtt....


Tiba-tiba handphone nya bergetar, terlihat sebuah nama tertera dilayar handphonenya..


Mama..?


Dengan ragu-ragu di terimanya panggilan itu..


" Assalamu'alaykum Ma.." ucap Zelly pelan.


" Wa'alaykumussalam warrahmatullah wabarokaatuh.. Nak, bagaimana kabarmu? Kenapa sudah hampir satu Minggu gak telpon? Kamu gak lagi kenapa-kenapa kan nak? Kamu baik-baik ajakan?" Terdengar suara ibunya sangat khawatir di ujung telepon.

__ADS_1


" Aku baik-baik saja Ma... Maaf Ma, aku gak telepon sebab aku sibuk, aku lagi dinas sekarang. Tapi beberapa hari lagi juga sudah selesai.. Mama gak usah khawatir, aku baik kok Ma ..."


" Bagaimana gak khawatir Muhammad Zelly Nur Rahman....! Kamu disana sendirian, gak ada yang rawat kamu kalau kamu sakit atau mengurus keperluan hari-hari mu. Kalau kamu ada istri yang bisa temani kamu dan rawat kamu, Mama gak akan se khawatir ini nak. Sekarang hanya kami yang mama khawatirkan, umurmu sudah tak muda lagi tapi kamu masih sendiri. Sebenarnya apa yang kamu tunggu lagi nak? Kalau memang ada yang kamu suka, tak apa kamu pilih dia. Tapi kamu harus secepatnya menikah. Kalau memang gak ada, biarkan mama yang Carikan kamu calonnya. Nak... Mama ini sudah tua nak. Mama hanya berharap bisa melihat kamu menikah dan punya keturunan sebelum mama mati. Mama ingin hidup berdekatan dengan kamu nak. Sudah bertahun-tahun bahkan lebih dari sepuluh tahun kita selalu hidup berjauhan. Abangmu dan adikmu semua sudah hidup bahagia dengan keluarganya sendiri. Tapi kamu masih sendiri dan berada di luaran sana, yang mama gak pernah bisa tau kamu itu dalam keadaan baik-baik saja atau gak. Sampai kapan kamu mau buat mama terus merasa khawatir begini nak?" terdengar suara ibunya bergetar dan menahan tangis. Zelly hanya bisa terpaku mendengarkan semua keluh kesah ibunya tentang dirinya.


" Mama... Kasih sedikit waktu lagi buatku untuk mengambil keputusan ini ma, aku nanti akan kabari mama kalau aku sudah ada keputusannya." ucap Zelly.


" Keputusan? Keputusan apa nak?" tanya ibunya tak mengerti dengan maksud dari ucapan anaknya itu.


" Keputusan tentang hidupku kedepannya ma. Aku juga ingin bisa hidup seperti orang lain dan bahagia, sekarang aku sedang berusaha untuk bisa bahagia dengan tanpa menyakiti siapapun." jawab Zelly pelan.


" Kamu ini bicara apa sih nak? Mama gak ngerti apa yang kamu bicarakan itu. Apa sekarang kamu sedang ada masalah?" tanya ibunya.


" Gak kok ma, gak ada masalah apa-apa. Aku cuma merasa selama ini aku banyak menyakiti banyak orang, termasuk mama. Dan aku ingin keputusanku nanti gak akan menyakiti siapapun lagi. Ya sudahlah ma, kalau begitu aku tutup dulu ya. Aku masih harus bekerja." Zelly berusaha untuk mengakhiri pembicaraan dengan ibunya.


" Ya sudah kalau begitu, kamu baik-baik disana. Dan jangan lupa telepon mama, jangan buat mama khawatir lagi seperti sekarang. Assalamu'alaykum." ibunya mengakhiri panggilannya terlebih dulu.


" Wa'alaykumussalam warrahmatullah wabarokaatuh.." Zelly menjawab salam ibunya dengan memandangi handphone yang ada di tangannya.


Sekarang aku harus bagaimana? Kalau aku pergi keluar negeri, bagaimana dengan mama? Apa sebaiknya aku pulang saja dan membuka usaha disana? Aahhh... Mama yang harus aku pilih, keluar negeri atau pulang?


***


jangan lupa terus dukung author ya..


jangan lupa di kasih jempol dan votenya juga ya, terima kasih 🥰🥰

__ADS_1


__ADS_2