
" Mas.. Gak mandi dulu? Kan belum mandi, apa gak lengket badannya kok udah mau tidur? " tegur Habibah pada suaminya yang sudah membaringkan tubuhnya di tempat tidur. Purnomo pun bangun dan duduk sesaat. Diperhatikannya Habibah yang sedang mengambil pakaian ganti dari dalam lemari.
" Mau mandi?" tanya Purnomo.
" iya, udah gak tahan gerah.." sahut Habibah tanpa menolehkan wajahnya.
Purnomo mendekati Habibah dan memeluknya dari belakang serta menyandarkan dagu pada pundak istrinya.
" Mandi bareng ya?" bisiknya.
" Enggak ah.. Mandi sendiri-sendiri aja." tolak Habibah dengan wajah yang seketika merona menerima godaan dari suaminya.
" Kenapa? Sekali-kali lah kita mandi bareng, kan Sunnah sayang. Kan kita sudah jadi suami istri juga. Nanti aku bantu kamu gosokin badan kamu., mau ya?"
Wajah Habibah semakin memerah mendengar godaan dari suaminya.
" Nggak ah.. sendiri aja.." Habibah dengan secepat mungkin melepaskan diri dari pelukan suaminya dan bergegas lari kekamar mandi. Purnomo hanya tertawa melihat betapa malunya Habibah menambah ke imutan wajahnya.. Sementara Habibah bersembunyi dibalik pintu kamar mandi dan menyandarkan tubuhnya pada pintu untuk menenangkan debaran yang melanda didadanya..
Dasar mas Pur..
Suka sekali begitu, ya ampun malunya aku..
Habibah menyentuh dadanya yang sedang bergemuruh dengan kuatnya. Ditarik nafasnya dalam-dalam untuk meredakan segala debaran didadanya. Setelah dirasa sudah agak tenang, barulah dia melakukan ritual mandinya.
Purnomo sudah melepaskan pakaian yang dia kenakan seharian tadi dengan menyisakan celana pendek selutut dan telah siap dengan sebuah handuk dipundaknya saat Habibah keluar dari kamar mandi. Habibah nampak canggung saat Purnomo terus memperhatikannya sejak dia keluar dari kamar mandi hingga saat dia menyisir rambutnya yang panjang dan hitam bergelombang. Dia benar-benar tak biasa ditatap dengan sedemikian rupa oleh seseorang. Tatapan Purnomo terasa penuh arti saat manik mata mereka bertemu. Namun Habibah segera memalingkan pandangannya, karena setiap pandangan mata mereka bertemu seperti ada setrum yang menyengat tubuhnya dengan lembut tapi menghangatkan sekujur tubuhnya.
" Sudahlah mas.. Cepat mandi, ini sudah malam loh. Dan jangan terus melihat saya dengan tatapan yang seperti itu. Benar-benar mengganggu, seperti orang yang sedang ditagih hutang aja." seloroh Habibah pada suaminya seraya bangun dari tempat duduknya dan duduk ditepi lain dari tempat tidur.
Purnomo tak menjawab, hanya tersenyum sambil bangun dan menuju kamar mandi. Sekitar lima belas menit kemudian Purnomo pun sudah keluar dari kamar mandi dengan hanya mengenakan handuk yang melilit di pinggangnya. Dilihatnya Habibah telah terlelap dengan posisi miring ke arah sisi tempat tidur.
__ADS_1
Perlahan-lahan Purnomo naik keatas tempat tidur tanpa mengenakan pakaiannya terlebih dulu. Diintipnya wajah istrinya dari arah belakangnya, nampak Habibah tidur penuh dengan ketenangan diwajahnya yang ayu. Diciumnya pipi istrinya dengan perlahan, namun Purnomo tak menduga jika tindakannya itu telah mengejutkan Habibah. Hingga Habibah dengan refleks bangun dan membuka matanya. Dia benar-benar terkejut dengan sentuhan dingin dari bibir suaminya yang baru saja usai mandi.
" Astaghfirullah hal'adziim mas...! Bikin kaget aja sih.." ucap Habibah seraya membuang nafasnya dalam-dalam seraya menyentuh dadanya Karena terkejut.
" Maaf sayang.. Aku gak bermaksud mengejutkanmu. Aku hanya ingin menyampaikan salam mimpi indah untukmu. Aku gak tau kalau itu bisa mengejutkanmu." balas Purnomo dengan penuh penyesalan.
" Ya sudah, sekarang tidurlah. Ini sudah tengah malam loh mas. Tapi, kenapa gak pakai baju sih mas? Nanti masuk angin loh.." ucap Habibah saat menyadari jika suaminya itu belum berpakaian dan hanya mengenakan handuk.
Purnomo bukannya segera mengenakan pakaian seperti yang disarankan oleh istrinya., justru menunjukkan senyum yang meremangkan bulu kuduk istrinya.
" Karena kamu sudah bangun, jadi sekalian aja......" Purnomo menggantungkan kalimatnya seraya salah satu tangannya meraih dagu Habibah agar sejajar dengan wajahnya.
Habibah tentu faham apa yang dimaksud oleh suaminya itu. Namun perasaan malunya masih sangat besar pada Purnomo. Dia berusaha memalingkan wajahnya namun tangan Purnomo menahan kedua belah pipi Habibah agar tetap sejajar dengan wajahnya.
Debaran jantung keduanya seakan menjebol dada, seluruh tubuh seakan terkena aliran listrik yang menjalar keseluruhan tubuh. Semakin Purnomo mendekatkan tubuhnya, semakin terasa hangat suhu tubuh mereka.
Pagi itu Habibah bangun kesiangan, tubuhnya terasa sakit semua seakan tubuhnya tak memiliki otot. Namun dia paksakan untuk bangun dan mandi karena dia belum melaksanakan shalat subuh. Tak lupa dia bangunkan Purnomo yang masih terlelap dalam tidurnya. Dengan mata yang masih mengantuk, Purnomo pun segera mandi dan shalat subuh.
" Kamu semalam hebat lho sayang, bisa tahan sampai aku lelah." bisik Purnomo menggoda istrinya yang sedang merapikan tempat tidurnya.
" Hebat apanya..!? Lain kali jangan begitu lagi, saya gak akan sanggup mas. Badan saya sakit semua...." jawab Habibah sambil menyembunyikan wajahnya yang memerah karena malu.
" Mana yang sakit..? Sini aku pijiti.. Aku lho orangnya tanggung jawab.." bisiknya sambil memeluk tubuh mungil Habibah dari belakang.
" Gak usah, kalau mas yang mijit nanti lain lagi urusannya." jawab Habibah sambil melepaskan diri dari pelukan suaminya yang terus menggodanya.
" Maklumlah.. Aku kan sudah lama puasanya. Jadi begitu buka aku jadi lupa diri. Nanti lagi cukup dua ronde aja deh.." Purnomo menyeringai penuh arti menambah merah wajah Habibah.
" Hahaha... Kamu tau gak sayang.. Aku semakin cinta sama kamu, setiap hari aku selalu jatuh cinta lagi dan lagi pada ratu hatiku ini. " ucap Purnomo sambil memutar tubuh istrinya agar berhadapan dengannya. Di kecup mesra pucuk kepalanya dan mendekapnya dengan penuh perasaan. Hati siapa yang tak akan meleleh mendapat perlakuan selembut dan semesra itu. Apalagi bagi Habibah ini adalah pengalaman pertamanya..
__ADS_1
Terima kasih ya Allah..
Kau jadikan dia sebagai suamiku.
Cinta yang selama ini tersimpan dalam hatiku kini telah halal aku curahkan kepada nya.
Sekarang baru aku tau arti bahagia dalam mencintai dan dicintai.
Terima kasih, sayang..
Aku akan. berusaha semampu dan sebaik mungkin untuk membalas semua rasa cintamu.
Habibah membalas pelukan suaminya dengan hati yang berbunga-bunga.
Klek..
Pintu terbuka dengan tiba-tiba dan mengejutkan keduanya yang sedang hanyut dalam indahnya cinta.
" Uma... ! papa...! " seru Nur Laily merasa cemburu menyaksikan dua orang yang sedang dimabuk cinta. Gadis kecil itu nampak cemberut pada keduanya yang dengan refleks saling melepaskan pelukan masing-masing.
" Ah.. Sayang...! Ada apa sayang.." Habibah segera menghampiri gadis kecilnya yang kini sedang merajuk.
" Uma aku tunggu dari tadi kenapa gak keluar juga malah peluk-pelukan sama papa disini. Uma udah gak sayang sama Nur lagi." gerutu Nur Laily. Sementara Habibah dan Purnomo saling menukar pandang.
" Sayang.. Papa cuma sedang menghibur Uma tersayangmu ini karena sekarang dia sedang gak enak badan karena kelelahan sebab semalam papa minta dipijitin sama Uma kamu ini. Jadi jangan marah dong sayang, kasihan Uma kamu tuh.." seloroh Purnomo seraya mengedipkan sebelah matanya pada Habibah yang membuat mata Habibah mendelik mendengar penuturan suaminya.
Ucapan macam apa itu..?
Menyebalkan...!
__ADS_1