
Bulan Ramadhan akan segera berakhir. Semakin mendekati hari raya, Habibah semakin sibuk dengan banyaknya pesanan yang datang. Dan dengan kesibukannya itu, Habibah terpaksa menolak banyak pesanan yang masuk . Pesanan yang datang bukan hanya sebatas kue-kue basah tradisional, tapi juga kue-kue kering jadul maupun yang kekinian. Meskipun banyak orang yang membantu pekerjaannya, tapi tetap saja itu tak cukup untuk memenuhi banyaknya permintaan. Sebenarnya Habibah ingin istirahat saat satu Minggu menjelang hari raya idul Fitri. Namun apa daya, Habibah yang banyak merasa gak enak atau kasihan jika harus ditolak. Apalagi jika yang memesannya adalah orang-orang yang datang dari jauh.
Selama lima belas hari terakhir di bulan Ramadhan, Habibah dan beberapa orang yang membantunya sangat bekerja keras untuk memenuhi semua pesanan yang telah diterima. Mereka sering melakukan lembur hingga jam dua belas malam, tapi tak jarang mereka hanya bekerja hingga jam enam sore. Semua dilakukan dengan senang hati, sebab Habibah dibantu oleh orang-orang yang hampir semuanya suka bercanda. Walaupun Habibah sendiri adalah type orang yang cukup pendiam dan tak pandai bagaimana caranya bercanda, namun Habibah merasa terhibur dengan canda tawa mereka. Kadang sesekali dia juga menimpali candaan mereka dengan senyum yang mengembang. Bahkan terkadang Habibah juga kena candaan dari mereka, walaupun masih sedikit segan sebab karakter Habibah yang tak banyak bicara. Namun mereka nyaman bekerja dengan Habibah, karena meskipun Habibah tak banyak bicara dan terkesan dingin. Tapi Habibah sangat pengertian dan selalu meminta pendapat mereka jika akan menerima pesanan dan saat mengerjakan pesanan itu. Mereka tak merasa bekerja pada orang lain, mereka jadi lebih merasa bahwa semua usaha itu milik mereka bersama. Karena itulah mereka semakin mengagumi dan semakin care pada Habibah.
Bahkan sehari sebelum hari raya idul Fitri, mereka juga mendapatkan THR dan bingkisan dari Habibah. Dan itu membuat mereka sangat senang.
" Mba Habibah itu baik banget ya Yu? Kamu beruntung bisa jadi saudara dia sebentar lagi. Padahal tadinya ku sangka dia itu orangnya sombong, tapi ternyata dia baik banget. Mungkin karena dia orangnya gak banyak ngomong ya, mangkanya jadi terkesan negatif gitu." ucap salah seorang karyawan sementara Habibah pada Ayu istri dai adik Purnomo.
" Aku juga tadinya gak senang sama dia,. sebab mertuaku sangat sayang sama dia dan itu buat aku merasa cemburu. Tapi sekarang setelah aku kenal baik dia dan bahkan kini aku sangat mengagumi dia Pantas saja walaupun dia punya karakter yang gak banyak bicara tapi bisa disukai dan dicintai oleh banyak orang, karena ternyata dia gak seperti yang terlihat. Malah kalau mau dibanding-bandingkan antara dia dan aku, aku ini gak ada apa-apanya sama sekali. Aku malu kalau aku ingat bagaimana sikap aku ke padanya dulu." ayu menimpali dengan serius ungkapan temannya itu tentang Habibah.
__ADS_1
Pada malam takbiran, Habibah dan ibunya juga Nia kakak perempuannya yang sengaja pulang untuk merayakan hari raya idul Fitri bersama keluarganya, mereka memasak beberapa hidangan yang khas dihidangkan di hari istimewa itu. Seperti opor ayam, ketupat, dan baso tahu kesukaan ayah mereka serta tak lupa sambel hati kesukaan Habibah. Mereka mengerjakan semua itu dengan gembira, walaupun tubuh terasa sudah lelah. Namun semangat mereka dalam menyambut hari raya idul Fitri bisa mengalahkan semua rasa lelah dan kantuk yang menyerang mata mereka yang memang sudah lelah minta diistirahatkan.
Dan ternyata, malam itu juga Purnomo dan putri tercintanya pun telah tiba dirumah orang tuanya. Mereka sengaja tak memberitahukannya pada Habibah, mereka ingin membuat kejutan esok harinya. Bahkan Purnomo telah mengirimkan satu set pakaian syar'i untuk Habibah dan satu set untuk zain yang ternyata adalah Muslim family clothes . Dan itupun tanpa sepengetahuan dari Habibah sendiri. Karena Habibah menyukai warna hitam, maka warna hitamlah yang dipilih Purnomo untuk pakaian mereka berempat. Bahkan Nur sangat ingin cepat-cepat bisa memakainya dan menemui Habibah. Tapi dia hanya mengikuti rencana dari ayahnya bahwa mereka akan membuat kejutan manis itu dihari istimewa dikeesokan harinya.
Saat Adzan subuh menggema dari masjid yang terdekat, semua bergegas untuk bangun dan membersihkan diri lalu bersiap-siap untuk shalat subuh berjamaah dimasjid. Habibah tak bisa ikut pergi shalat subuh dan juga shalat Ied yang dilaksanakan dipagi harinya. Setelah shalat subuh usai, mereka bersiap-siap untuk pergi ke lapangan terdekat untuk shalat Ied berjamaah bersama warga lainnya yang tergabung dari beberapa warga RT. Mereka berlomba-lomba untuk mendapatkan tempat di shaf terdepan, sehingga ada yang berangkat pukul 5.30 pagi itu. Suara takbir menggema di mana-mana. Suasana haru sangat terasa dalam menyambut pagi yang istimewa itu. Ada yang baru membayar zakat, namun kebanyakan dari masyarakat dikampung halaman Habibah itu mereka mengumpulkan zakat mulai dari seminggu terakhir hingga pagi hari sebelum shalat Ied itu berlangsung. Dan pagi itu shalat Ied berjalan dengan penuh khidmat. Selepas shalat Ied mereka tak langsung pulang, mereka masih bersalam-salaman kesesama jamaah yang hadir dilapangan itu. Suasana haru sangat terasa sekali, bahkan tak sedikit orang yang menangis karena mereka harus menunggu selama satu tahun lagi untuk bisa berjumpa dengan bulan yang penuh Rahmat dan berkah itu. Semua saling bermaaf-maafan dan suasana serta pemandangan itu sangat indah dirasakan.
Habibah menunggu keluarga yang lain pulang dari shalat Ied sambil menyiapkan hidangan yang akan mereka santap bersama setelah mereka semua berkumpul untuk melakukan acara tradisi yaitu sungkeman. Yang mana tradisi sungkeman itu sudah lama ada dikeluarga Habibah, sejak kapan tepatnya Habibah juga tak tau. Yang dia tau sejak dia masih kecil kegiatan sungkeman itu sudah ada dan dilakukan dikeluarganya. Sementara Zain sudah rapi mengenakan setelan yang sama dengan yang dikenakan Habibah yang mana setelan mereka akan sama dengan setelan yang dikenakan oleh Purnomo dan juga Nur putri tercintanya.
" Tapi ada yang istimewa ditahun ini, karna bulan Syawal ini kak Habibah akan menikah dengan tetanggaku idolaku. Pasti sudah gak sabar tuh...!" Maryam menyela pembicaraan semua orang yang sedang mengobrol kala itu. Dan perkataan Maryam itu bagikan sebuah komando yang menggerakkan mata mereka untuk menatap Habibah yang sedang menyuapi Zain. Dan disaat semua sedang menatap kearah Habibah, tiba-tiba terdengar suara orang yang mengucapkan salam.
__ADS_1
" Assalamu'alaykum.."
Refleks semua memandang kearah suara itu datang seraya menjawab salam.
" Wa'alaykumussalam warrahmatullah wabarokaatuh..!" Dan alangkah terkejutnya Habibah begitu mengetahui siapa tamu yang datang itu. Ya, dia adalah Purnomo bersama keluarganya. Dan yang tak kalah mengejutkan lagi adalah pakaian yang dikenakan oleh Purnomo dan Nur memiliki motif yang sama persis dengan apa yang dikenakan olehnya juga Zain. Dan ternyata yang lainpun menyadari akan hal itu. Yang tanpa dikomando memperhatikan mereka berempat walaupun akhirnya mereka tertawa juga. Mereka tak menyangka jika momen seperti itu bisa terjadi dihadapan mereka.
" Ehem.. ayo silahkan duduk dulu. Atau mau sarapan bareng kami, nyicipin masakan calon mantu pak, Bu.." Ujar kakak ipar Habibah pada orang tua Purnomo. Sementara Purnomo hanya duduk sambil mengulum senyuman yang justru membuatnya terlihat manis. Walaupun usianya sudah tak muda dan juga ada seorang anak, tapi wajah Purnomo bisa disebut awet muda. Sama seperti Habibah, wajahnya tak menggambarkan usia yang sebenarnya. Dan itu keuntungan memiliki tubuh yang mungil dan imut. Dan hari itu menjadi hari yang sangat istimewa dari semua hari raya yang pernah mereka lalui. Dengan adanya keluarga Purnomo ditengah-tengah keluarga Habibah menambah suasana hangat dan ceria hari raya idul Fitri kali ini.
***
__ADS_1
maaf.. author akhir tahun ini memiliki kesibukan yang sangat padat, itu sebabnya baru bisa update..
jangan lupa dukung terus dengan like, komen dan votenya ya, terima kasih 🥰🥰🙏