
Selama satu minggu Ricky berada di kamp tempat Habibah bekerja. Dia tinggal bersama seorang Mandor yang kebetulan masih lajang. Selama satu Minggu itu pula Zelly selalu uring-uringan tak jelas penyebabnya. Semua orang dia marahi, tak terkecuali Habibah pun dapat bagian dari kemarahannya. Selama satu Minggu itu Zelly hampir tak pernah tersenyum apalagi tertawa. Wajahnya benar-benar tak bersahabat pada siapapun. Zelly sendiripun merasa heran kenapa dia tak bisa mengendalikan emosi nya. Setiap kali dia teringat pada Habibah, entah kenapa dia selalu ingin marah. Walaupun gadis itu tak membuat kesalahan, tapi dimatanya gadis itu sedang melakukan kesalahan.
Weekend kedua Habibah pulang ke rumahnya demi mengantar Ricky yang harus pulang ke kota karena harus kuliah. Walau dengan berat hati, Ricky akhirnya pulang juga ke kota. Sambil menunggu travel datang menjemput, Ricky berbincang-bincang dengan keluarga Habibah di ruang tamu.
" Oh ya pak, kalau suatu saat saya kembali kesini, boleh gak saya nginap di rumah bapak?" tanya Ricky pada pak Rukmana di sela-sela minum teh yang sedang mereka nikmati dipagi itu.
" Silahkan.. Rumah kami selalu terbuka lebar untuk siapa saja yang datang bertamu. Selama kedatangannya dengan maksud yang baik tentu kami akan menerima dengan tangan terbuka." jawab pak Rukmana.
" Kamu dengar itu Nur, aku boleh nginap di sini kalau aku kembali ke sini. Jadi kamu gak boleh suruh aku nginap di penginapan lagi ya.." ucap Ricky pada Habibah dengan gaya manjanya seperti biasanya. Ricky tak perduli meski harus bersikap seperti itu di hadapan keluarga Habibah.
" Dasar kamu tu ya Rick, saya tuh gak pernah nemuin orang macam kamu ini. Selain tebal muka , kamu juga pintar memanfaatkan kebaikan orang." ejek Habibah sambil tersenyum.
" Kamu memang teman terbaikku Nur...!" dengan gemas Ricky merangkul pundak Habibah dari samping. Yang langsung di sambut dengan mata Habibah yang melotot padanya.
" Sorry... terlalu senang.. hehehe.." kata Ricky tersipu malu, sebab dia tak sadar melakukan itu di depan keluarga Habibah.
Tak lama kemudian travel yang ditunggu akhirnya datang juga. Setelah berpamitan pada keluarga Habibah, Ricky pun menuju travel yang akan membawanya pergi hari itu. Sebelum dia meraih handle pintu mobil itu, dia berbalik dan dengan cepat memeluk Habibah yang sudah pasti membuat terkejut semua orang disana termasuk Habibah. Dia tak menyangka jika Ricky akan memeluknya dihadapan semua orang yang ada di sana saat itu. Sebelum hilang keterkejutan semuanya, Ricky sudah melepaskan pelukannya dan segera masuk ke dalam mobil. Dia menurunkan kaca jendelanya lalu melambaikan tangannya dengan senyum lebarnya. Entah kapan lagi kita akan bisa bertemu. Jika kita bertemu lagi, apakah masih sendiri ataukah sudah dimiliki oleh seseorang? Entah siapa yang akan memiliki hatimu dan hidup denganmu kelak. Siapapun dia, jika kamu bisa bahagia maka akupun akan merasa bahagia karenanya. Bisik hatinya sambil memandangi foto-foto dia dan Habibah selama seminggu itu yang ada di dalam ponselnya.
Hari-hari Habibah kembali seperti semula. Zelly pun sudah gak uring-uringan lagi. Semua kembali seperti biasanya. Tapi rasa senangnya itu hanya bertahan selama tiga bulan saja. Karena di suatu pagi, sesaat setelah mengikuti apel pagi tiba-tiba gadis itu menerima sebuah panggilan dari seseorang yang membuat raut wajah Habibah seketika itu juga menjadi muram. Dan Zelly melihat dengan sangat jelas perubahan diwajah Habibah itu.
" Siapa yang telpon kamu Nur, apa ada kabar buruk?" tanya Zelly cemas.
__ADS_1
" Itu dari bapak saya, minta saya untuk berhenti kerja mulai besok." jawab Habibah pelan.
" Kenapa mendadak begitu..!? Apa gak bisa di tunda..?" tiba-tiba saja Zelly jadi merasa panik sendiri. Dia tak siap mendengar berita seperti itu. Bahkan dia tak pernah ingin mendengar kata-kata itu walau hanya dapat mimpi sekalipun.
" Alasannya apa kamu harus berhenti bekerja besok..!?" tanyanya lagi.
" karena Minggu depan calon suami saya mau datang. Sebab dua Minggu lagi saya mau menikah pak. " jawab Habibah lemah. Dia sendiri tak siap sama sekali dengan berita pernikahannya itu.
" Apa..!? Nikah..!? Kamu mau nikah dua Minggu lagi..!?" tanya Zelly tak percaya dengan apa yang sudah dia dengar itu. Dia berharap kalau dia telah salah dengar, walaupun dia sudah mendengarnya dengan sangat jelas tadi. Tapi hatinya menolak apa yang sudah dia dengar itu.
" Iya pak, saya mau nikah.." sahut Habibah singkat.
Zelly menyandarkan tubuhnya pada sandaran kursinya. Habibah yang akan menikah tapi dia yang tiba-tiba seakan dunianya runtuh. Hari itu Suasana di dalam kantor divisi itu jadi mendadak sunyi. Mereka sibuk dengan fikirannya masing-masing. Tak ada yang bisa fokus lagi pada pekerjaan mereka.
Perhatian Zelly hanya tertuju pada gadis yang berada satu kantor dengannya itu. Begitu banyak pertanyaan yang dia sendiri tak bisa menjawabnya. Karena Habibah sendiri tak pernah menceritakan tentang masalah pribadinya. Jadi diapun tak mungkin untuk menanyakan hal itu. Tapi dia sangat ingin tau kebenarannya.
* Kamu kenapa Nur? Sejak pagi kok murung itu..?" akhirnya sebuah pesan singkat terkirim juga ke nomor ponsel Habibah.
" Gak kenapa-napa." balas Habibah singkat.
" Boleh aku tanya sesuatu?" tanya Zelly lagi.
__ADS_1
" ya.." balas Habibah lebih singkat lagi.
" Apa yang membuatmu murung, Apa karena pernikahanmu atau karena kamu berhenti bekerja?"
" Dua-duanya.." balas Habibah masih singkat.
" Dua-duanya..?"
" Ya.." jawabannya yang singkat itu membuat Zelly merasa sangat gemas. Dia berharap Habibah mau mengatakan banyak hal padanya. Tapi sayangnya gadis itu tak melakukannya.
" Kamu bisa jelaskan gak Nur soal dua-duanya itu? Sebab aku gak ngerti maksudnya kamu itu bagaimana..?"
" Ya pokoknya dua-duanya . Dan saya gak bisa jelaskan itu ke bapak sekarang. Karena memang gak ada yang perlu untuk di jelaskan."
Habibah tak bisa menjelaskan pada Zelly jika sebenarnya dia belum siap untuk menikah dalam waktu dekat dan dia juga sebenarnya masih ingin bekerja. Karena semuanya serba mendadak, secara mental dia belum siap sama sekali untuk menghadapi kedua hal itu. Tapi dia tak punya keberanian untuk menyampaikan isi hatinya itu pada keluarganya sendiri ataupun kepada calon suaminya beserta keluarganya. Komunikasi mereka hari itu hanya bisa dilakukan melalui pesan singkat, padahal mereka berada di satu ruangan. Hari itu benar-benar terasa sangat berbeda dan aneh.
Ya Tuhan.. bagaimana bisa seperti ini? Dia ada di hadapanku, tapi aku bahkan tak berani bicara langsung dengannya. Aku justru mengajak bicara dia hanya melalu pesan singkat? Gila..! Aku ini laki-laki macam apa?
Dia duduk tepat didepanmu, dimana keberanianmu sebagai seorang lelaki? Ayolah Zelly... nyalimu dimana untuk berhadapan dengan seorang gadis kecil saja tak punya.
Zelly terus memarahi dirinya sendiri, tapi dia tetap tak berani berbicara langsung dengan Habibah.
__ADS_1
***
kehebatan cinta itu ya gitu, bisa melemahkan yang kuat atau menguatkan yg lemahkan ya😁😁