Perjalanan Cinta Habibah..

Perjalanan Cinta Habibah..
Kak Yusuf kecewa


__ADS_3

Purnomo akhirnya bisa tenang sekarang, karena ternyata dia yang telah berfikir terlalu banyak tentang Zelly dan Habibah. Ketika sedang mengobrol itulah datang sebuah mobil dan parkir tepat dihalaman rumah. Purnomo dan Habibah menoleh bersamaan memperhatikan untuk melihat siapa yang datang. Ternyata yang datang adalah kakak pertama Habibah, kak Yusuf dan istrinya Nuraini. Habibah yang melihat mereka turun dari mobil segera menghampirinya dan mencium tangan mereka. Tapi entah kenapa Nuraini terlihat sangat tidak menyukai Habibah. Mungkin karena Habibah adalah adik yang paling dekat dengan Yusuf suaminya. Habibah hanya bisa berpura-pura tak mengetahuinya demi menjaga perasaan kakaknya. Tapi sikap yang ditunjukkan oleh Nuraini sangat jelas terlihat, hingga siapapun bisa melihat rasa tak sukanya pada Habibah dengan mudah.


" Kak Yusuf kenapa baru pulang hari ini? Kami menunggu dari kemarin lho.. Kapan kita bisa sungkeman dengan keadaan semua anggota keluarga kita berkumpul. Rasanya rindu suasana sungkeman seperti dulu.."


" Jangan mengharapkan sesuatu yang memang tak mampu kamu wujudkan. Jangan pernah mengharapkan sesuatu yang sama seperti saat kalian masih anak-anak dan masih single. Ingat.. Kalau kalian sekarang sudah sangat dewasa, harusnya kalian malu pada anak kalian. Pola fikirmu ini seakan kalian ini menolak kenyataan bahwa kalian sekarang sudah tua." Nuraini menyela kalimat Habibah yang belum tuntas. Setelah itu diapun berlalu dan masuk kedalam rumah untuk menemui keluarga yang lain. Habibah yang melihat rasa tak sukanya Nuraini padanya hanya bisa terdiam dan tertunduk.


" Sudahlah.. Kamu tau sifat kakak iparmu itu. Jadi jangan masukkan kedalam hati ya.." Yusuf berusaha menghibur hati Habibah yang terlihat sedih.


Disaat Habibah dan Yusuf baru melangkahkan kaki beberapa langkah untuk masuk kedalam rumahnya, datang sebuah mobil lain yang parkir disebelah mobil milik Yusuf. Seperti dikomando, Habibah, Yusuf dan juga Purnomo menoleh kearah mobil itu datang. Setelah beberapa saat, terlihatlah sepasang suami istri turun dari mobil itu. Yusuf bergegas pergi saat mengetahui siapa yang datang.


" Yusuf...!!"


Yusuf terpaksa menghentikan langkah kakinya dengan posisinya yang kini berada di ambang pintu masuk rumahnya. Dia menoleh dengan enggan kearah suara yang memanggil namanya.


" Ada apa?" tanyanya dengan nada yang benar-benar tak bersahabat.


"Aku.. Aku datang kesini untuk minta maaf.." sahutnya penuh rasa bersalah.

__ADS_1


" Maaf..? Kamu baru ingat kata-kata itu sekarang? Lalu kemana kata-kata itu ketika kamu menyakiti adikku? Dimana kata-kata itu ketika kamu mengkhianati adikku? Dan dimana kata-kata itu ketika kamu abaikan adikku bersama anaknya? " Yusuf mendekat dan mencengkram baju yang dikenakan oleh tamu tak diundang itu dengan kuat.


" Kak Yusuf.. Sudahlah.. Malu dilihat orang. Sebaiknya dibicarakan baik-baik.."


" Dasar munafik..!" celetuk seorang wanita yang berdiri tak jauh dari Habibah.


" Oh, jadi kamu wanita tak tau malu itu? Hanya demi wanita seperti ini kamu bahkan membuang adikku? Hai Qodir.. Saat ini aku katakan padamu.. Aku bersyukur kamu telah meninggalkan adikku, walaupun aku tak terima kamu telah menyakiti adik dan keponakanku dengan sesuatu yang tak termaafkan. Tapi aku tetap bersyukur kamu telah melakukan itu semua. Aku bersyukur karena adikku terlepas dari manusia sepertimu yang tak punya prinsip hidup. Aku senang karena saat ini kamu sudah mendapatkan orang yang pantas disisimu. Karena adikku terlalu baik dan berharga untuk berada disisimu. Dan sekarang untuk apa kamu datang kemari? Jika hanya ingin mengatakan kata maaf, kami sudah mendengarnya dan sekarang kalian boleh pergi." Yusuf melepaskan cengkraman tangannya sembari mendorong tubuh Qodir hingga nyaris terjatuh. Untungnya Lina dengan sigap menarik tangan Qodir agar tak terjatuh ke tanah.


" Aku tau kamu marah padaku, tapi aku ingin bertemu dengan anakku. Bibah.. Izinkan aku untuk bertemu dengan anakku, aku mohon." Qodir memohon dengan sungguh-sungguh. Habibah tak menjawab apapun, dia lalu pergi masuk kedalam rumahnya yang ternyata semua orang yang berada didalam rumahnya sedang menyaksikan drama yang terjadi diluar rumah itu. Habibah menghampiri Zain yang sedang bermain bersama sepupunya didalam kamar.


" Sayang.. ikut Uma sebentar ya.." ucap Habibah pada Zain. Zain hanya mengangguk lalu berdiri mengikuti Habibah keluar untuk menemui Qodir. Setelah sampai di teras rumah Zain berlari menghampiri Purnomo.


" Sayang.. itu Abahnya Zain.. Coba dilihat dulu, dan Salim dulu ya.." bujuk Purnomo. Namun Zain tetap memeluk erat leher Purnomo.


" Sepertinya Zain tak bersedia untuk bertemu dengan mas Qodir. Mungkin karena dia masih terlalu kecil untuk mengerti apa itu ayah kandung dan bukan ayah kandung. Seandainya saja sejak dulu mas Qodir menemui dan memperkenalkan diri sebagai ayah kandungnya, saya yakin dia tak akan setakut ini." Purnomo akhirnya buka suara juga atas situasi yang ada saat itu.


" Pasti kamu sudah meracuni fikiran dia kan Bibah.? Supaya dia membenci ayah kandungnya dan hanya menerima laki-laki ini sebagai ayahnya?" tuduh Lina pada Habibah.

__ADS_1


" Astaghfirullah hal'adziim mba Lina.. Mungkin saya ini bukan orang yang baik, tapi saya juga tau dosa mba. Saya gak mungkin menanamkan fikiran buruk tentang ayah kandungnya pada Zain. Mungkin saya dan mas Qodir ada mantan, tapi tidak pada Zain. Sampai kapanpun bahkan sampai kiamatpun mereka tetaplah ayah dan anak, jadi sangat berdosa ya saya jika saya akan memutuskan tali ikatan antara mereka. Hubungan darah antara mereka tak akan bisa berubah walupun hanya dengan kata mantan mba. Secara logika, jika saja Zain kenal dengan mas Qodir lebih awal dan bisa dekat dengannya. Apa mungkin Zain akan bersikap seperti sekarang?"ucap Habibah pada Lina dengan nada yang dia usahakan setenang mungkin. Dia berusaha untuk tak terpancing emosi dengan kata-kata dari Lina.


" Jadi kamu mau menyalahkan kami? Sedangkan anak itu dalam pengasuhan mu. Kalau benar kamu tak mempengaruhi anak ini, lalu bagaimana dia bisa bersikap yang sebaliknya pada orang asing seperti dia? Jadi gak usah sok-sokan bicara soal dosa." Lina terus berusaha memojokkan Habibah, namun Habibah tetap berusaha tenang.


" Mba Lina yang baik... Dia adalah calon suami saya, sudah tentu karena dia bisa dekat dengan Zain itu sebabnya saya bisa menerima dia. Kalau kalian tak bisa percaya itu masalah kalian. Sudah lah mas, jauhkan Zain dari mereka kalau memang mereka tak percaya. Saya juga tak akan memaksa Zain untuk bisa menerima mereka. Kalau kalian masih tak bisa menerima dan merasa tak puas hati, kalian bisa melakukan cara lain bahkan melalui jalur hukum pun akan saya layani." Habibah akhirnya mengucapkan kalimat yang membuat mereka terdiam. Purnomo membawa Zain kedalam rumah dan disusul oleh Habibah. Sementara tinggalah Qodir , Yusuf dan Lina yang masih berada dihalaman.


" Qodir.. Dulu mungkin kita bersahabat, itu sebabnya aku bisa mempercayakan adikku pada kamu karena aku tau kamu adalah orang yang baik. Tapi ternyata aku salah, mungkin selama aku bersahabat denganmu mataku ini telah buta hingga aku tak bisa mengenalimu dengan baik. Tapi sekarang mataku telah terbuka lebar dan mengenali dirimu yang sebenarnya. Aku sungguh menyesal pernah menyerahkan adikku padamu, aku menyesal telah memberikan penderitaan pada adikku dengan menikahkannya denganmu. Aku sungguh-sungguh kecewa padamu. Dan sejak kamu meninggalkan adik dan keponakanku kamu hanya orang asing untukku. Kata sahabat hanya mimpi buruk untukku. Dan soal Zain, jangan coba-coba menyalahkan Habibah. Seharusnya kalian berdua instrospeksi diri kalian, apa yang sudah kalian lakukan padanya selama ini. Apakah kalian pernah perduli padanya atau mengingat keberadaanya? Dan apakah kalian sudah melakukan kewajiban kalian sebagai orang tua? Jangan menyesali apa yang sudah jadi pilihanmu. Sekarang kau sudah melihat anakmu dan melihat bagaimana sikapnya padamu. Jadi sekarang sebaiknya kalian pergi dari sini. Karena kalian telah merusak suasana lebaran indah kami." setelah menyelesaikan kalimatnya, Yusuf pun meninggalkan Qodir dan Lina yang masih terpaku ditempatnya berdiri.


Yusuf..


Maafkan aku, aku telah menghancurkan segalanya hanya demi memenuhi hasrat ku sendiri. Sekarang semuanya telah berubah karna memang aku yang telah merubahnya. Bahkan keberadaanku disini sekarang menjadi sebuah duri yang yang harus segera disingkirkan. Aku tak akan menyalahkan kalian atas semua ini, karena memang ini semua adalah kesalahanku.


Qodir melangkahkan kaki dengan perasaan yang tak bisa dilukiskan dengan kata-kata. Bahkan dia terlihat putus asa dengan keadaan yang tengah dia hadapi saat ini. Dia benar-benar menyesali semuanya, namun apa daya penyesalannya kini tak ada artinya sama sekali. Lina merasa sangat marah saat melihat Qodir hanya diam saja dan bahkan terkesan menerima saja semua yang dikatakan oleh Habibah dan Yusuf.


***


Mendapatkan kepercayaan itu sangatlah mudah, yang sulit itu menjaga kepercayaan yang telah didapatkan.

__ADS_1


Jangan lupa dukung terus author dengan like, komen dan votenya ya. Terima kasih 🥰🥰🙏


__ADS_2