Perjalanan Cinta Habibah..

Perjalanan Cinta Habibah..
Kecelakaan


__ADS_3

Ibu Sumarni yang sedang didepan pintu kamar Habibah sangat terkejut begitu mendengar apa yang diucapkan oleh Zelly pada anaknya. Dia tak menyangka jika Zelly mencintai anaknya, bahkan rela melajang hingga usia yang sudah tak muda lagi. Dia pun baru menyadari jika Zelly selalu terlihat murung setiap kali berada didekat Habibah.


Jadi ini alasannya dia mau " direpotkan " dengan keadaan Habibah sekarang. Bahkan dia rela meluangkan banyak waktunya hanya untuk menemani Habibah?


Nak Zelly...


Kamu seharusnya tak melakukan hal ini. Kenapa kamu melakukan banyak hal untuk orang yang tak ada hati untuk mu.


Masih banyak gadis yang jauh lebih baik diluaran sana yang pantas kamu dapatkan. Bukan anakku yang hanya seorang janda, bahkan sekarang dalam keadaan yang tak sehat.


Aku percaya kamu orang yang sangat baik, jadi kamu pantas dapatkan yang terbaik dan bahagia. Bukan seperti sekarang, kamu menghabiskan waktumu untuk orang yang tak pernah ada untukmu.


Ibu Sumarni meninggalkan kamar Habibah dan kembali kedalam kamarnya sendiri. Ibu Sumarni merenungi apa yang baru saja dia ketahui tentang Zelly. Selama ini dia mengira jika Zelly banyak membantunya karena anaknya dulu sebagai bawahan dari Zelly. Tapi sekarang dia tau jika semua itu karena mantan atasan anaknya itu memiliki perasaan pada anaknya.


Apa yang harus aku lakukan sekarang?


Aku tak mungkin membiarkan Zelly terus melakukan banyak hal untuk Habibah, karena itu hanya akan melukai hatinya saja.


Tapi apa yang harus aku katakan padanya agar dia mau menghentikan semua itu?


Sementara Habibah yang mendengar perkataan Zelly pun hanya bisa diam. Dia tak tau jika Zelly masih menyimpan perasaannya hingga sekarang.


Pak Zelly..


Jangan terus berbuat baik padaku pak..


Karena aku tak pantas mendapatkan semua kebaikan dari bapak. Jangan berharap apapun, karena aku sendiri sudah tak punya harapan apa-apa.


Zelly meninggalkan rumah Mia setelah dia memastikan jika Habibah sudah tidur dengan pulas. Ingin rasanya Zelly menggenggam tangan nya dan berkata jika dia akan selalu ada untuknya dan memintanya untuk berjuang keluar dari kondisi sekarang. Tapi dia tak bisa melakukannya, karena dia bukan mahram nya.


Malam itu perasaan Zelly sangat gelisah, sebenarnya dia tak ingin jauh-jauh dari Habibah. Tapi untuk selau berada dekat dengan wanita itu juga tak mungkin. Mia sudah tak bisa berkata apa-apa melihat keadaan sahabatnya itu. Karena apapun yang dikatakan Mia, Zelly punya jawabannya sendiri.


Sepanjang perjalanan kembali ke hotel tempatnya menginap, fikirannya melayang entah kemana. Dia tak bisa fokus mengemudikan mobilnya. Saat dipersimpangan jalan, dia terkejut saat ada sebuah mobil yang melaju cukup kencang yang menyalip dari arah berlawanan. Dengan refleks Zelly membanting setir ke kiri, alhasil dia menabrak trotoar dan menerobos pembatas jalan. Mobilnya terhenti saat menabrak sebuah pohon besar yang ada tak jauh dari tepi jalan.


Kecelakaan itu mendapat perhatian dari banyak orang yang berada di lokasi kejadian. Zelly sendiri sudah tak sadarkan diri, dadanya terbentur cukup keras pada setir, kepalanya terluka terkena pecahan kaca, dan kakinya terjepit. Zelly yang tak siap dengan kejutan itu tak bisa mengendalikan laju mobilnya, hingga benturan tang di alaminya pun cukup keras. Dan kerusakan mobilnya pun cukup parah.

__ADS_1


Tak berselang lama, polantas datang untuk memeriksa kecelakaan itu. Dan setelah dirasa cukup mendapatkan informasi yang dibutuhkan, salah seorang polisi menghubungi Mia. Sebab panggilan terakhir yang ada dikontak handphone Zelly adalah Mia.


" Halo.. selamat malam.."


" Iya, selamat malam." Kening Mia berkerut saat menyadari jika orang yang menghubunginya bukanlah Zelly.


" Siapa ini? Kenapa anda menggunakan handphone teman saya? Dimana dia sekarang?" Mia mulai khawatir pada Zelly.


" Sabar Bu, saya dari polantas yang sedang berpatroli. Teman ibu saat ini sedang tak sadarkan diri karena kecelakaan lalu lintas. Saat ini korban masih berada di lokasi kejadian. Saya ingin mengabarkan jika korban akan kami bawa ke rumah sakit terdekat. Anda bisa mengabarkannya pada keluarga korban dan datang kerumah sakit saat ini." polisi itu menjelaskan.


" Kecelakaan? Baik pak, terimakasih atas informasinya. Kami akan segera kesana." Fadhlan yang melihat istrinya panik dan tubuhnya bergetar segera menghampirinya.


" Sayang, ada apa? Kenapa kamu sepanik ini?" tanyanya pada Mia.


" Itu... Zell... Zelly... ke.. kecelakaan...!" jawab Mia terbata-bata.


" Kecelakaan? Dimana? Bagaimana keadaannya sekarang?" Fadhlan jadi ikut panik setelah mendengar ucapan istrinya.


" Dia tak sadarkan diri, dan sekarang dibawa kerumah sakit terdekat. Kita kerumah sakit Islam sekarang." kata Mia sambil meraih tas dan mantel miliknya.


Saat menuruni tangga, mereka bertemu dengan ibu Sumarni yang hendak mengambil air minum.


" Mau kemana tengah malam begini? Kenapa kalian begitu panik? Apa ada sesuatu?" tanya ibu Sumarni heran melihat Mia dan Fadhlan yang berjalan dengan terburu-buru.


" Iya, kami mau kerumah sakit, Zelly kecelakaan. Dan dia di bawa kerumah sakit sekarang, kami harus segera kesana." Jawab Mia cepat.


" Zelly..!? Ibu ikut ya?" ucap ibu Sumarni.


" Kalau ibu ikut, Habibah sama siapa?" tanya Fadhlan.


" Saya ajak dia, tunggu sebentar..!" ibu Sumarni bergegas ke kamar Habibah. Dia membangunkan Habibah lalu mengenakan cadar dan jilbabnya. Dan mereka bergegas menyusul Mia dan Fadhlan yang sudah menunggu di mobil.


Sesampainya di rumah sakit, mereka segera menuju resepsionis untuk menanyakan ruang diamana Zelly dirawat. Setelah mengetahui dimana ruang perawatan Zelly mereka pun segera menuju ruangan yang dimaksud. sesampainya mereka didepan ruangan Zelly, mereka bertemu dengan beberapa orang polisi yang menangani kasus kecelakaan Zelly.


" Apakah anda keluarga dari korban kecelakaan tadi?" tanya salah seorang polisi itu.

__ADS_1


" Benar.. Kami kerabatnya. Bagaimana keadaannya sekarang?" tanya Mia.


" Korban masih belum sadarkan diri, tapi kami sudah meminta pada dokter untuk memeriksa keseluruhan kondisi dari korban." polisi itu menjelaskan.


" Apakah kami boleh melihatnya pak?" tanya Fadhlan.


" Boleh. Silahkan.. Nanti kami akan menemui anda lagi untuk menyelesaikan prosedur pemeriksaan."


" Baik. Terima kasih pak." jawab Mia.


Fadhlan, Mia, ibu Sumarni dan Habibah memasuki ruang perawatan dimana Zelly sedang terbaring dengan sebuah selang infus yang menempel disalah satu lengannya. Tiba-tiba Habibah bergetar hebat saat matanya tertuju pada tubuh Zelly yang terbaring di ranjang pasien. Perlahan Habibah mundur dengan kedua tangannya menangkup kepalanya sendiri. Setelah tubuhnya membentur dinding, Habibahpun terduduk dengan bercucuran air mata. Dia menyembunyikan wajahnya diantara kedua tangan dan lututnya.


" Bu, itu ibu yang dibelakang kenapa?" tanya seorang perawat yang baru masuk kedalam ruangan serba putih itu. Mia, Fadhlan dan ibu Sumarni sontak menoleh kearah perawat itu menunjuk


" Kamu kenapa sayang..?" ibu Sumarni mendekati Habibah diikuti oleh Mia.


" Sepertinya dia teringat almarhum suaminya lagi hanya dengan melihat kondisi dari Zelly." ucap Mia pada ibu Sumarni.


Mia mendekati salah seorang perawat dan berbicara sebentar, tak lama kemudian perawat itu pergi dan kembali lagi dengan membawa dua buah kursi dan meletakan di salah satu sisi tempat tidur Zelly.


Mia memapah Habibah dan mendudukannya di salah satu kursi yang dibawakan oleh perawat tadi. Diraihnya kedua tangan Habibah dan digenggamnya salah satu tangannya, sedangkan tangan yang satu lagi di genggam oleh ibu Sumarni. Mereka duduk dikedua sisi Habibah.


" Coba kamu lihat, apakah kamu tau siapa dia? Apakah kamu tau dia sedang apa? " Mia mulai berbicara pada Habibah. Habibah meresponnya dengan membulatkan matanya saat dia melihat tubuh Zelly yang di tutupi selimut putih.


Tubuhnya bergetar, air matanya kembali membasahi cadarnya. Perlahan dia berdiri dengan gemetar, didekatinya ranjang dimana Zelly sedang terbaring tak berdaya. Dilihatnya wajah Zelly yang banyak luka karena terkena pecahan kaca. Dan wajahnya pun terlihat sanagt pucat. Mungkin karena sebelum kecelakaan itu terjadi, Zelly memang kurang istirahat.


Di angkat nya tangannya yang gemetar dengan perlahan, disentuhnya luka-luka yang ada diwajah Zelly dengan hati-hati. Seolah dia takut wajah yang terluka itu kesakitan.


Ibu Sumarni dan Mia juga Fadhlan memperhatikan dengan seksama semua yang dilakukan oleh Habibah. Mereka sendiri menyaksikannya dengan dada yang berdebar, antara senang, terharu juga perasaan tak percaya menjadi satu. Mereka tak menyangka jika Habibah akan bereaksi sebesar itu saat melihat keadaan Zelly. Bahkan kah lebih baik dari reaksinya yang sebelumnya saat Habibah melihat ambulance saat di tepian Mahakam waktu itu.


" Mas...!" tiba-tiba terdengar suara Habibah dengan suara sangat pelan nyaris berbisik dan serak, suaranya mengejutkan Mia, Fadhlan dan ibunya.


" Bibah...! dia bicara..!" seru ibu Sumarni tak percaya.


" Alhamdulillah...!" pekik Mia sambil memeluk ibu Sumarni. Air mata haru meleleh membasahi pipi. Mereka tak menyangka jika musibah yang menimpa Zelly membuat kesadaran Habibah tergugah.

__ADS_1


Walaupun hanya satu kata itu saja yang terucap, tapi itu benar-benar sebuah kemajuan yang sangat luar biasa bagi Mia.


__ADS_2