
Baru saja Zelly, Rudy dan Zacky akan meninggalkan meja makan mereka, tiba-tiba saja ada seseorang yang menyapa Zelly. Suara yang sangat familiar dan hampir terlupakan dari ingatan itu cukup mengejutkan Zelly dan Rudy.
" Bang Ze... " sebuah panggilan yang sudah lama tak terdengar kini tiba-tiba terdengar bagaikan sebuah mimpi disiang bolong. Zelly sangat terkejut saat mendengar panggilan itu, hingga refleks membalikkan tubuhnya dengan cepat ke arah suara itu datang.
Zelly yang disapa hanya diam tertegun mencoba meyakini bahwa itu bukanlah mimpi. Sementara Rudy yang melihat bagaimana reaksi dari Zelly segera menyentuh pundaknya dengan lembut agar Zelly tersadar dari ke tertegunannya.
" Eh.. Iya.. Ini aku.." entah kenapa Zelly merasa tiba-tiba seperti linglung dan tak tau harus berbuat apa. Dia hampir tak mempercayai siapa yang kini berdiri dihadapannya dan yang selalu memanggil nya dengan panggilan yang berbeda dari yang lain. Yah, itu adalah panggilan sayang untuk nya.
" Abang apa kabar? Bang Rudy juga ada disini? Bagaimana kabar semuanya? Senang bisa bertemu dengan kalian lagi.."
" Ehm... Ya.. Bagaimana denganmu sendiri? Dengan siapa kamu disini? Kamu mau kemana atau dari mana mau kemana?" tanya Rudy berusaha berbasa-basi.
Sementara Zelly masih tetap diam di posisi awalnya, sedangkan Zacky hanya memperhatikan dalam diam. Karena memang Zacky tak mengenal siapa orang asing yang kini ada di hadapan mereka itu.
" Aku dari Sangatta, aku sama kakak dan juga orang tuaku. Dan sekarang kami mau pulang, dan kebetulan kami lapar jadi kami singgah juga disini. Ternyata Tuhan pertemukan kita disini." lanjutnya sambil tersenyum manis, tapi matanya tak berpaling sedikitpun dari Zelly walaupun dia berbicara demi menjawab pertanyaan dari Rudy.
" Maaf Kirana, kami harus pergi sekarang. Ayo Rud, Zack kamu yang nyetir ya.." Zelly tiba-tiba menyela percakapan dan bergegas beranjak dari tempat semula dia berdiri. Zelly segera meninggalkan Rudy dan Zacky yang masih sedikit bingung karena harus pergi di tengah-tengah percakapan dengan Kirana. Walaupun akhirnya mereka segera menyusul Zelly yang sudah duduk manis di dalam mobil.
Kirana adalah wanita yang sudah mengkhianati Zelly dimasa lalu. Kirana lah wanita yang dicintainya sejak Kirana masih duduk di bangku SMA hingga Kirana lulus dari universitas dan bekerja. Wanita itu pula yang sudah ditanggung biaya hidup dan biaya pendidikannya oleh Zelly selama berstatus sebagai kekasih Zelly. Bahkan wanita itu pulalah yang sudah memegang kartu ATM Zelly sejak wanita itu duduk di bangku universitas dan bekerja. Dan wanita itu pulalah yang sudah memporak-porandakan hati dan kehidupan Zelly.
" Bang Ze....! Tunggu bang..! Bang Ze..!" Kirana menggedor kaca jendela mobil dimana Zelly duduk. Rudy yang duduk di samping Zacky yang sudah siap untuk menyetir hanya bisa menoleh pada Zelly yang tampak memalingkan wajahnya agar tak melihat Kirana.
Rudy faham betul dengan sikap yang di tunjukkan oleh Zelly saat ini. Rudy yakin jika luka yang sudah nyaris sembuh itu mau tak mau tergores lagi dengan adanya pertemuan yang tak di sengaja itu.
" Zell? Apa perlu waktu dari kami? Mungkin kalian perlu bicara sedikit.." tanya Rudy.
" Apa menurutmu masih ada yang perlu kami bicarakan kah Rud? Memangnya dia siapa? kenapa dia datang di waktu aku sudah menemukan kebahagiaanku? Lalu apa lagi yang harus kami bicarakan?" Zelly balik bertanya pada sahabatnya itu dengan nada yang sangat tak enak di dengar.
" Kalau begitu berilah dia pengertian, agar tak jadi salah faham. Coba kamu lihat diluar, semua mata melihat ke arah kita, kalau kita pergi begitu saja sementara dia masih terus menggedor-gedor kaca jendela mobilmu ini. Kita pergi seperti seorang penjahat yang sedang membuang wanita disini. Bisakan Zell? Turunlah dulu sebentar dan buatlah dia mengerti, setelah itu kita pergi.." pinta Rudy.
__ADS_1
" Kamu tuh ya, bener-bener omong kosong banget ya Rud..! " dengus Zelly sambil membuka kaca jendelanya tanpa berniat sedikitpun untuk turun dari mobilnya.
" Kamu kenapa sih Kirana? Jangan malu-maluin deh kamu. Apa-apaan coba kamu begini? Lagian ada apa sih? Aku harus cepat pergi karena ada urusan yang sangat penting sekarang." Zelly berbicara tanpa menatap pada Kirana sedikitpun. Bahkan nada bicaranya pun terdengar sangat malas dan enggan. Hal itu membuat hati Kirana menciut dan sedih.
" Bang Ze, apakah Abang masih marah sama aku? Aku sudah tau kalau aku salah, dan sekarang aku sudah dapat balasannya. Tapi jangan hukum aku lebih dari pada itu bang. Aku..Aku.. Sungguh minta maaf sama Abang kalau sudah nyakitin dan ngecewain Abang. Tapi aku mohon jangan tambah lagi hukuman buatku bang...." air mata Kirana tak henti mengiringi setiap kata yang meluncur lembut dari bibirnya. Mungkin dia berharap agar Zelly mau luluh dan Sudi untuk memandang wajahnya lagi saat berbicara dengannya. Tapi sayangnya itu tak terjadi. Zelly malah merasa sangat muak dengan apa yang di tunjukkan oleh Kirana saat ini.
" Sudahlah Kirana, aku sudah melupakan semuanya. Dan sekarang aku juga sudah bahagia dengan kehidupanku dan cintaku." Zelly sangat menekankan sekali setiap kata yang di ucapkannya. Seolah dia ingin menunjukkan bahwa benar saat ini dia sudah bahagia dengan cinta barunya.
Kirana terlihat terkejut dengan apa yang diucapkan oleh orang yang dulu sangat mencintainya itu. Ada rasa tak percaya saat Kirana mendengarkan pengakuan dari Zelly.
" Aku sudah memaafkan mu dan sudah melupakan semuanya, jadi jangan di ingat-ingat lagi yang sudah lalu. Kami harus pergi sekarang, permisi." Zelly menutup kembali kaca jendelanya dan meminta pada Zacky agar segera menyetir dan pergi meninggalkan rumah makan itu. Zacky pun hanya menurut tanpa ada pertanyaan sama sekali.
Kirana hanya bisa terpaku di tempatnya berdiri sambil menatap kepergian Zelly hingga mobil yang membawanya itu menghilang dari pandangan.
*Bang Ze...
Benarkah Abang gak benci sama aku?
Memang salahku yang sudah sangat keterlaluan da menyakitimu dengan luka yang aku tau itu pasti sangat dalam.
Aku sudah melakukan kesalahan yang aku sadari kalau aku yang ada diposisi mu pun pasti akan sangat mustahil bisa memaafkan dan melupakannya.
Bang Ze...
Aku harap kita bisa bertemu lagi dan bisa berteman dengan baik.
Aku tau mustahil bagiku untuk bisa dekat denganmu lagi, tapi apakah bertemanpun sudah tak bisa*?
Kirana kembali masuk kedalam rumah makan itu dengan lesu dan wajah yang sembab. Banyak mata yang memperhatikannya, hanya saja Kirana tak menghiraukannya.
__ADS_1
" Siapa mereka? Dan kenapa kamu harus mengejarnya begitu Ana?" tanya kakaknya.
" Itu bag Ze dan teman-temannya.." sahutnya singkat.
" Ze..?"
Kirana hanya mengangguk pelan.
" Jadi itu mantan pacar mu yang dulu itu? Gila.., ganteng tau..! Bagaimana bisa kau tinggalkan cowok seganteng itu cuma demi laki-laki kampret macam mantan suamimu itu? Kalau saja dulu aku yang dapatkan dia, gak mungkin aku sia-siakan." celoteh kakaknya yang terus tak henti-hentinya mengagumi sosok Zelly yang tadi dilihatnya sekilas.
🍀🍀🍀
Disepanjang perjalanan yang tersisa, Zelly hanya diam. Begitupun dengan Rudy dan Zacky, tak ada lagi yang berani menggoda Zelly atau membahas tentang Kirana. Karena jelas sekali jika Zelly sangat tak menyukai pertemuannya dengan Kirana.
Mereka sampai di kampung Habibah saat hari sudah pagi, mereka memilih untuk menuju penginapan yang terdekat dengan rumah orang tua Habibah. Setelah mereka mandi, mereka memilih istirahat dan tidur yang sebelumnya mereka sudah sarapan terlebih dahulu.
Nur...
Aku kangeenn...
Tapi sekarang aku lelah ngantuk, jadi aku istirahat dulu di penginapan.
Jangan kangen karena lama nunggu aku ya 🥰🥰.
Sebuah Notifikasi chat masuk di handphone Habibah, dan Habibah membuka lalu membacanya dengan heran. Habibah heran bukan karena dari siapa chat itu berasal, tapi dia heran dengan kata-kata yang terbaca disana.
Kenapa sekarang dia jadi kayak anak ABG gini sih..
Siapa juga yang mau kangenin dia? Ge'er banget jadi orang..
__ADS_1
Tapi tanpa dia sadari wajahnya merona juga saat memikirkan kata-kata Zelly yang makin menunjukkan aroma kasmaran. Ada rasa hangat yang merayap ke setiap sudut relung hatinya yang dingin. Serasa dia menemukan sisi lain dari Zelly yang tak pernah dia tau sebelumnya.