
" Ehm.. Iya, maksudnya mas Zelly.. " dengan cepat Habibah meralatnya setelah sipenelpon protes soal panggilannya.
" Kamu tidur...? Maaf kalau aku mengganggu tidurmu. Aku hanya ingin tau kalian sudah sampai mana? Selain itu, karena aku rindu.. Aku masih sangat rindu sama kamu Nur.. Tak apa kan kalau aku bilang aku rindu padamu?"
" Kami sudah melewati trans bengalon. Sekitar satu jam setengah atau dua jam lagi kami sampai, mas." sahut Habibah yang seketika rasa kantuknya hilang entah kemana.
" Kamu gak kangen kah sama aku?"
" Ehh..!"
" Ya udah kalau kamu gak kangen juga gak apa-apa, yang penting kamu tau kalau aku gak pernah bisa untuk berhenti rindu sama kamu."
" Mas... maaf. Sebentar lagi kami masuk daerah yang gak ada signal, jadi lebih baik tutup dulu telponnya ya. Nanti kalau kami sudah sampai kami kabari lagi."
" Ya udah kalau gitu, hati-hati aja dijalan. Dan jangan lupa nanti kabari aku kalau sudah sampai."
" Iya mas, sudah dulu ya. Assalamu'alaykum...."
" Wa'alaykumussalam warrahmatullah wabarokaatuh."
Habibah memandangi handphone yang berada di genggamannya. Dia masih bingung dengan situasi yang tengah di hadapinya. Zelly adalah orang yang tak pernah terfikirkan oleh Habibah, apalagi untuk ada sebuah hubungan dengannya. Tapi, Allah maha berkuasa, jika Ia sudah berkehendak maka itulah yang terjadi.
Sulit rasanya bagi Habibah untuk bisa menerima kehadiran sosok baru dalam hidupnya. Dan dia tak menyangka jika Zelly masih menyimpan harapan padanya. Habibah ingat jelas saat Zelly mengutarakan perasaannya dulu saat Habiba sudah bertunangan dengan mantan suaminya yang pertama. Dulu dia fikir jika Zelly hanya sedang menggodanya dan hanya main-main saja.
Tapi sekarang, dia juga berusaha meyakini jika Zelly masih sekedar main-main saja saat mengatakan semua perasaannya. Tapi jika di fikirkan lagi, seperti yang di katakan oleh Zelly. Mustahil baginya untuk bercanda di usianya yang sudah tak muda lagi, memang sesuatu yang mustahil dilakukan oleh orang dengan karakter seperti Zelly. Bahkan pernyataannya ini bukan untuk yang pertama ataupun yang kedua kalinya. Melainkan untuk yang ke sekian kalinya Zelly mengatakannya dan untuk yang kesekian kalinya juga Habibah menolaknya.
Tapi sekarang, Zelly sedikit berbeda. Dulu dia berkali-kali menyatakan isi hatinya tanpa menyimpan harapan dan meminta kesempatan. Tapi sekarang, dia jelas-jelas meminta kalau tak ingin di katakan memohon pada Habibah agar memberinya kesempatan untuk bisa membuktikan semua perkataannya tentang perasaannya itu.
Habibah percaya jika Zelly adalah orang baik. Selain karena usianya yang terpaut 10 tahun. Habibah juga merasa tak adil jika dia menerima Zelly saat ini. Secara, Habibah sudah mengalami dua kali pernikahan dengan adanya dua orang anak. Walaupun Nur Laily bukan anak kandungnya, tapi sekarang perwaliannya berada pada dirinya.
Sementara Zelly masih sendiri walaupun saat ini dia seorang duda, tapi Zelly duda tanpa anak. Walaupun yang benar adalah duda yang masih perjaka🤭🤭.
Hanya saja Habibah atau siapapun tak ada yang mengetahuinya selain Zelly sendiri. Bahkan mantan istrinya pun tak pernah tau jika Zelly tak pernah melakukan " hal itu" dengan siapapun. Meski di zaman sekarang sangat sulit untuk bisa menemukan wanita yang masih perawan atau lelaki yang masih perjaka walaupun mereka belum menikah. Karena bukan rahasia lagi jika " hal itu" sudah di anggap lumrah oleh sebagian orang asalkan dengan catatan suka sama suka. Tapi itu tak berlaku pada Zelly.
Zelly hanya ingin melakukannya dengan orang yang benar-benar dia cintai dan sayangi. Atau lebih tepatnya adalah wanita yang telah halal baginya.
Sesungguhnya Zelly banyak di cibir oleh rekan-rekan yang seusia dengannya atau bahkan yang usianya lebih muda darinya dalam hal yang satu itu.
Zelly sering dikatakan kolot dalam hal berfikir tentang sebuah hubungan dengan lawan jenisnya.
__ADS_1
" Sekarang tuh yang penting kita sama-sama suka dan sama-sama nyaman, ya udah jalanin aja. Soal yang lainnya itu urusan belakangan. Kalau dirasa cocok dan sejalan, bisa aja langgeng sampai pernikahan. Tapi kalau memang kita cuma sekedar untuk senang-senang juga sah-sah saja selama suka sama suka."
Perkataan itu yang paling sering mereka katakan saat membahas mengenai hal "memuaskan nafsu" lelaki dewasa mereka.
Prinsip Zelly pada dasarnya sedikit mirip dengan prinsip yang dimiliki oleh Habibah dalam hal itu, Habibah juga tak mau jika melakukan hal-hal yang intim selain dengan orang yang telah halal baginya. Itu sebabnya dia tak pernah mau berpacaran, itu demi menghindari hal-hal intim yang sudah lazim dilakukan oleh orang-orang yang sedang di mabuk cinta. Dan Habibah sangat takut dengan hal itu.
Pengalaman dalam dua kali pernikahan yang kandas, Habibah memiliki rasa trauma untuk menjalani sebuah pernikahan lagi. Dia sangat takut jika dia akan kehilangan lagi di saat dia sedang membangun sebuah istana harapan dalam rumah tangganya. Dia takut jika istana harapan yang sedang dia bangun akan hancur berantakan lagi.
🍀🍀🍀
Assalamu'alaykum...
Mas, kami sudah sampai rumah dengan selamat..
Terimakasih sudah mendoakan untuk keselamatan kami.
Wassalamu'alaikum warahmatullahi wa barokaatuh
Tulis Habibah dalam pesan singkat yang dikirimkannya pada Zelly. Padahal saat itu masih pukul 4 dini hari. Rencananya dia akan mengabari Zelly saat pagi harinya, tapi dia takut lupa untuk melakukannya nanti. Jadi begitu sampai dan masuk kedalam kamarnya, dia langsung mengirimkannya pesan singkat itu. Padahal Habibah belum sempat membersihkan diri sama sekali saat mengirim pesan singkat itu.
Baru saja Habibah memasuki kamar mandi untuk membersihkan diri. Terdengar suara notifikasi ada pesan yang masuk. Hanya saja Habibah tak menghiraukannya.
Usai shalat Subuh, Habibah mengambil Al Qur'an kesayangannya. Al Qur'an itu adalah mas kawinnya saat dia menikah dengan Purnomo. Al Qur'an itu selalu dia bawa kemanapun dia pergi saat bepergian. Dia membacanya sampai matahari terbit dari ufuk timur. Karena Habibah merasa tubuhnya sangat lelah, Habibah akhirnya merebahkan tubuhnya di pembaringan terhangatnya lalu tertidur.
Habibah terbangun saat jam dinding menunjukkan pukul 9 pagi. Dengan malas Habibahpun bangun dari tidurnya. Walau sebenarnya dia masih sangat lelah, tapi dia tetap bangun demi melihat anaknya yang belum dia jumpai sejak dia pulang subuh tadi. Tentu saja Zain pun sangat ingin bertemu dengan ibunya. Setelah satu Minggu tak berjumpa.
" Pagi sayang... Rindunya Uma...!" seru Habibah begitu dia melihat Zain yang tengah duduk ditengah rumah sambil bermain dengan legonya.
" Uma......!" teriak Zain sambil berlari menghampiri Habibah dan memeluknya dengan erat. Zain tergelak geli saat wajahnya di sapu oleh kecupan-kecupan dari bibir ibunya sebagai pelepas rasa rindunya yang dalam.
" Hahaha.... geli Uma, geli..." seru Zain sambil berusaha menghindari kecupan dari ibunya.
" Oh, ya...! Masa sih geli...? " ucap Habibah sambil merangkulnya kedalam dekapannya. Mendengar tawa ceria dari Zain bagi Habibah adalah obat paling mujarab untuk menghilangkan segala rasa lelahnya dan bagai vitamin untuk mengembalikan semangatnya.
" Uma punya oleh-oleh untuk Adek, Adek mau gak?" tanya Habibah setelah puas menciumi wajah anaknya itu.
" Mau Uma... Mana oleh-oleh nya?" tanya Zain penasaran.
" Sebentar Uma ambil dulu dikamar. Adek mau ikut ambil oleh-oleh nya?" tanya Habibah.
__ADS_1
" Mau.. Ayo kita ambil Uma.. " Zain pun lantas berdiri dan menarik tangan ibunya untuk segera mengambil oleh-oleh yang dikatakan oleh ibunya tadi.
Sesampainya didalam kamar, Habibah memberikan satu kotak Lego beserta papannya yang baru pada Zain.
" Asyik... Terima kasih Uma.. Zain sayang sama Uma.. " ucap Zain sambil mengecup kedua belah pipi ibunya.
Drtt.. drtt.. drtt....
Handphone Habibah yang di letakkan di atas nakas bergetar. Habibah segera meraihnya dan melihat sebuah nama tertera indah di layar handphonenya. Dengan sedikit ragu-ragu, akhirnya dia menerima panggilan itu.
" Assalamu'alaykum mas.." ucap Habibah setelah menempelkannya benda pipih itu ditepi telinganya.
" Wa'alaykumussalam warrahmatullah wabarokaatuh... Kamu sedang apa Nur? Sedang sibuk kah? Kok chat dari aku gak ada yang di baca?"
" Chat..?" ulang Habibah seolah dia teringat akan motivasi dari handphone nya subuh tadi.
" Maaf mas, tadi setelah shalat subuh saya ketiduran. Dan ini baru bangun, jadi belum sempat buka dan baca chat dari mas. Maaf.."
" Iya udah, gak apa-apa.. Aku cuma khawatir kalau kamu kenapa-kenapa aja. Syukurlah kalau kamu baik-baik saja.. Oh ya, bagaimana dengan kabar orang tuamu. Mereka sehat kan? Salam ya buat mereka, katakan kalau calon menantunya mengirim salam."
Blush...
Entah kenapa tiba-tiba wajah Habibah terasa menghangat saat mendengar ucapan dari Zelly barusan. Entah dari mana datangnya desiran yang tiba-tiba menyeruak dalam dadanya. Sampai-sampai Habibah tak bisa menjawab perkataan dari Zelly itu.
" Nur... Kamu masih disana?"
" Eh.. Iya.. Saya masih disini."
Aduuhh..
Aku kenapa jadi begini sih..?
Masa baru dia bilang gitu aja aku udah bingung mau jawab apa?
Tapi aku memang gak tau harus jawab apaan..
Gerutu Habibah dalam hati.
" Ah, aku sangka kamu tidur. Habisnya kamu nya diam aja sih. Coba kek jawab apa gitu Nur.."
__ADS_1
" Gak kok, cuma lagi mikir aja. Sejak kapan pak Muhammad Zelly Nur Rohman jadi secerewet ini. Perasaan dulu paling pelit ngomong dan jutek. Kenapa sekarang kalau ngomong jadi manis?"