
Habibah melewati hari-harinya seperti biasanya, Nur pun setiap hari main kerumahnya hanya untuk bermanja-manja pada Habibah dan bermain dengan Zain. Purnomo pun memanfaatkan situasi ini untuk lebih banyak berinteraksi dengan Habibah. Karena waktu cuti selama satu bulan itu cukup singkat baginya untuk bisa meraih hati wanita pujaannya itu. Hingga pada suatu senja, saat Purnomo menjemput Nur bertemu dengan ayah Habibah yang baru saja pulang dari kebun. Purnomo menyapa dan sedikit berbasa-basi, begitupun dengan ayah Habibah yang memang sudah mengenal baik Purnomo mengajaknya duduk terlebih dahulu bersamanya. Mereka membicarakan tentang pekerjaan sampai tentang lingkungan tempat mereka yang sudah berkembang cukup pesat dalam sektor pembangunan dan ekonomi. Semua obrolan mereka mengalir sampai Habibah datang menyuguhkan minuman dan sepiring camilan buatan tangan Habibah. Setelah Habibah berlalu, Purnomo memberanikan diri untuk bertanya tentang Habibah.
" Sebenarnya maaf ya pak, saya ingin bertanya tentang Habibah. Apakah benar dia sekarang single parents?" tanya Purnomo hati-hati.
" Oh.. itu benar. Dia sudah tiga tahun jadi janda, tapi syukurnya dia baik-baik saja." jawab pak Rukmana.
" Tiga tahun? Berarti seumuran dengan Zain?" Purnomo tak bisa menutupi rasa terkejutnya, dia hampir tak percaya jika Habibah telah menjanda selama itu.
" Yah, begitulah.. Namanya hidup, kita tak pernah tau kedepannya akan seperti apa. Sudah begitu ketentuan yang telah digariskan oleh Allah, kita hanya bisa menjalaninya dengan ikhlas saja." jawab pak Rukmana.
" Kalau seandainya saya mau menikahi dia, apakah di izinkan pak?" tanya Purnomo tiba-tiba.
" Menikahi anak saya? Nak Purnomo apakah serius dengan ucapan ini? "
" Tentu saja saya serius pak, saya gak akan bercanda dalam hal seperti ini. Selain karena saya mencintai anak bapak, anak saya juga sangat menyukainya." Purnomo berterus terang pada pak Rukmana. Pak Rukmana sendiri menyukai sikap gentle yang ditunjukan oleh Purnomo.
" Nanti akan saya tanyakan dulu pada anak saya, karena bagaimanapun juga dia yang akan menjalani rumah tangga bukan saya. Jadi keputusan tetap saya serahkan pada anak saya, jika dia bersedia maka saya hanya memberi restu pada kalian. Tapi kalau dia menolak, ya berarti kalian tak berjodoh." ucap pak Rukmana. Namun jawaban ayah Habibah itu membuat hati Purnomo jadi gelisah, dia gelisah memikirkan apa kira-kira jawaban dari Habibah.
Setelah cukup lama berbincang, Purnomo pun akhirnya pamit undur diri. Karena memang waktu sudah mendekati waktu Maghrib. Purnomo pulang bersama Nur dengan membawa sejuta pertanyaan dalam hatinya.
Apakah Nur akan menerima pinangan ku? Bagaimana jika dia menolaknya? Dia sudah berkali-kali menolak, apakah kali ini pun dia akan menolak? Jika dia menolak, lalu apa yang harus aku lakukan? Bagaimana dengan anakku? Apa yang harus aku katakan padanya? Apakah dia akan patah hati seperti aku dulu? Ah Nur... Kenapa harus ada situasi yang seperti ini sih? Bagaimana caranya agar aku bisa mendapatkan diri dan hatimu? Kenapa rasanya sulit sekali untuk bisa mendapatkanmu, tapi apakah kamu tau Nur kalau aku juga sangat sulit melupakanmu dan menghilangkan perasaanku ini. Ya Allah... bantulah aku kali ini. Buatlah hatinya menerima niat baikku ini..
__ADS_1
Bermacam-macam pertanyaan muncul dalam benaknya, dia benar-benar tersiksa dengan pertanyaan-pertanyaan yang muncul begitu saja dalam benaknya. Dan parahnya dia tak siap menerima kemungkinan terburuknya, karena yang dia ingin hanya Habibah mau menerimanya.
" Bibah.. Sini duduk dulu, ayah mau bicara." panggil pak Rukmana pada Habibah setelah usai makan malam. Dan Habibahpun menuruti ayahnya dan segera duduk didekat ayahnya.
" Ada apa yah? " tanya Habibah sambil menatap lekat wajah ayahnya. Karena biasanya jika dia di panggil seperti itu, ada hal yang penting yang akan dibicarakan oleh ayahnya itu.
" Kapan kamu mau menikah lagi?" pertanyaan ayahnya itu benar-benar membuatnya terkejut, begitupun dengan ibunya yang tau tentang pembicaraan yang terjadi antara suaminya dan Purnomo sore tadi ikut terkejut.
" Apa yang ayah bicarakan ini yah? Kenapa tiba-tiba ayah bertanya tentang hal ini? Apakah ayah sudah keberatan dengan keberadaan Bibah disini bersama ayah?" tanya Habibah yang tiba-tiba ada kesedihan menusuk dalam hatinya.
" Bukan begitu, ayah hanya ingin melihat kamu menemukan kebahagiaanmu terutama untuk anakmu Zain. Ingat bagaimanapun dia membutuhkan kasih sayang seorang ayah, kamu tak boleh merampas hak dia sebagai seorang anak untuk mendapatkan haknya yaitu mendapat kasih sayang yang cukup seorang ayah dan ibunya. Kamu jangan sampai lupakan itu." ucap ayahnya panjang lebar, dia berharap anaknya mau membuka hatinya untuk mau menikah lagi.
" Iya yah, Bibah faham itu. Tapi mencari sosok ayah yang baik bagi Zain itu bukanlah mudah ayah. Jika hanya mencari seorang suami itu mudah, tapi mencari seorang yang bisa jadi ayah yang baik bagi Zain itu tak semudah mencari suami." Habibah mencoba memberi alasan pada ayahnya agar ayahnya tak menanyakan lagi tentang menikah padanya.
" Kenapa tiba-tiba ayah bertanya soal mas Pur yah, dia hanya teman saja." jawab Habibah dengan wajah merona karena gugup.
" Hai.. Ayah tak tanya apa hubunganmu dengan Purnomo. Yang ayah tanyakan bagaimana menurutmu tentang Purnomo, apakah dia termasuk kriteria yang bisa jadi ayah yang baik untuk anakmu Zain atau gak? Itu yang ayah tanyakan, kenapa hal lain yang kamu jawab?" pak Rukmana nampak melihat gelagat yang membuatnya senang, dia yakin jika anaknya itu sedang gugup karena dia ada hati juga pada Purnomo.
" Kalau itu.. Bibah gak tau yah.." jawab Habibah sambil menundukan wajahnya.
" Ayah rasa dia termasuk dalam kriteria yang kamu inginkan." pak Rukmana tak melepaskan pandangannya sedikitpun dari wajah anaknya,dia benar-benar ingin melihat reaksi Habibah jika dia terus membahas Purnomo.
__ADS_1
" Darimana ayah bisa tau dia bisa jadi ayah yang baik untuk Zain?" tanya Habibah penasaran.
" Apakah kamu lupa jika dia juga punya seorang anak yang harus dia urus sendiri sejak anak itu masih balita? Jika dia bisa merawat anaknya sendiri berarti dia adalah seorang ayah yang baik, kalau dia bukan ayah yang baik maka mustahil dia bisa merawat anaknya sendiri. Coba kamu fikirkan itu." terang ayahnya mencoba membawa Habibah untuk berfikir jauh. Dan memang benar jika Habibah baru terfikirkan akan hal itu saat ini.
" Lalu apa hubungannya dengan Bibah? " Habibah masih belum mengerti kearah mana tujuan dari pembicaraan ayahnya ini.
" Begini.. Tadi Purnomo mengajukan lamarannya pada ayah untuk menikahinu. Dan ayah ingin membicarakan hal ini denganmu, karena nanti kamu yang akan menjalani rumah tangga bukan ayah. Tapi menurut ayah, dia orang yang tepat untukmu juga anakmu. Bagaimana pendapat mama tentang ini?" tanya pak Rukmana pada istrinya.
" Menurut mama juga sama seperti yang dikatakan oleh ayah.."
" Aku rasa juga begitu kak.. Kalau aku jadi Kakak aku bakal langsung bilang oke.." sela Dona memotong kalimat ibunya yang belum selesai.
" Kamu itu ya main nyahut aja, gak sopan tau.." kata ibunya seraya memukul pelan pundak Dona. Sedangkan Dona hanya tertawa sambil menyandarkan kepalanya di bahu ibunya.
" Mas Pur melamar Bibah yah..?" Habibah mengulang perkataan ayahnya menjadi sebuah pertanyaan untuk ayahnya juga untuk dirinya sendiri. Dia masih belum bisa mempercayai pendengarannya jika Purnomo telah mengajukan lamaran untuk dirinya.
" Iya.. Dia bersungguh-sungguh dengan ucapannya dan ayah yakin itu. Fikirkanlah baik-baik semua yang sudah ayah katakan padamu. Selain itu, kita juga sudah tau dia orang yang seperti apa dan bagaimana keluarganya. Semua bisa jadi pertimbangan, jadi pelan-pelan kamu fikirkan semua itu. Dan ingat Zain membutuhkan sosok ayah tang sesungguhnya bukan hanya kasih sayangnya saja yang dia butuhkan, tapi juga sosoknya yang nyata yang bisa jadi pelindungnya dan dijadikan panutan untuknya." pak Rukmana menasehati dengan lembut agar Habibah benar-benar mau membuka dirinya dan mau menerima sebuah hubungan yang baru lagi.
" Baik yah.. Apa yang ayah katakan semua itu benar. Nanti Bibah akan bicara langsung saja dengan mas Pur. Kalau gitu, Bibah istirahat dulu ya yah.. kasihan Zain sudah mengantuk dan bibah juga besok harus bangun subuh untuk buat pesanan kue." Habibah pamit untuk masuk ke kamarnya lebih awal.
***
__ADS_1
kira-kira diterima gak yah pinangannya🤔🤔