Perjalanan Cinta Habibah..

Perjalanan Cinta Habibah..
Kemarahan Lina


__ADS_3

Habibah telah memikirkannya semalaman tentang lamaran Purnomo itu, namun dia masih belum bisa memutuskan jawaban apa yang akan dia berikan pada Purnomo.


Dan seperti biasa, sekitar jam 10 pagi Purnomo akan mengantarkan Nur untuk bermain dirumah Habibah. Dan seperti biasa juga Purnomo hanya mengantarnya sampai dipinggir jalan depan rumahnya saja, setelah itu dia akan pulang. Hari itu Habibah sengaja menunggunya diteras rumahnya, begitu melihat Nur akan memasuki halaman rumahnya Habibahpun segera berlari kecil menghampiri Purnomo yang sudah membalikan badannya untuk kembali pulang.


" Mas Pur tunggu..!" seru Habibah dengan sedikit tergesa-gesa.


" Ya..?" Purnomo menoleh kearah suara yang memanggilnya, namun entah kenapa tiba-tiba rasa gugup menyerangnya. Dia bahkan tak berani menatap wajah Habibah.


" Emm.. itu.. bisa kita bicara sebentar?" tanya Habibah tak kalah gugupnya dengan Purnomo.


" Sekarang..?" tanya Purnomo yang terdengar sedikit konyol.


" Ya sekarang masa tahun depan.. " jawab Habibah sedikit sewot. Purnomo yang melihat Habibah sewot hanya bisa tersenyum.


" Baiklah.." Purnomo akhirnya mengikuti langkah Habibah dan duduk diteras rumahnya yang sejuk. Habibah masuk kedalam rumahnya sebentar dan kembali dengan membawa secangkir teh dan sepiring camilan seperti biasanya.


" Wah.. kayaknya gak jadi sebentar ini Nur kalau ada suguhannya begini.." kata Purnomo mencoba menetralkan kecanggungan yang tiba-tiba tercipta diantara keduanya.


" Begini mas.. ini memgenai apa yang disampaikan oleh ayah saya semalam, dan sampean pasti sudah tau itu apa. Dan saya ingin mendengarnya dari mas Pur sendiri, apakah bisa?" tanya Habibah dengan suara yang sedikit bergetar karena gugupnya. Dan Purnomo bisa dengan jelas menangkap kegugupan dari suara Habibah.


" Ya.. Aku ingin menikahinu, dan kamu tau hatiku sejak dulu tak pernah bisa berubah. Jadi bisakah kamu menerimaku kali ini?" tanya Purnomo tanpa berbasa-basi.


" Tapi mas.. Saya sudah terlalu banyak menyakiti hati mas Pur, saya merasa tak pantas mendapatkan perasaan yang sebesar itu dari sampean mas. Dan mas juga tau, keadaanku yang seperti ini.."


" Aku gak pernah perduli tentang masa lalumu, yang aku tau adalah hati dan perasaanku tak pernah berubah dan berkurang padamu. Soal pantas dan tak pantas bukan kamu yang putuskan, tapi aku Nur. Aku yang menginginkan untuk bisa hidup bersamamu dan aku merasa kamu pantas bersamaku. Kalau tak pantas, apa batasannya antara pantas dan tak pantas menurutmu? Apakah kamu bisa jelaskan itu padaku?" tanya Purnomo serius. Dan Habibah hanya menggelengkan kepalanya pelan sebagai tanda bahwa dia tak bisa menjelaskan apa yang dipertanyakan oleh Purnomo.


" Nur.. Jangan terlalu membawa masa lalu untuk menata masa depan, jika kamu seperti ini maka kamu akan sulit untuk lepas dari masa lalu dan akan sulit juga kamu untuk bisa bahagia. Sedangkan kamu berhak untuk bahagia. Selain itu, anakku sangat menyukaimu dan kamupun pasti tau itu. Jika dia yang sekecil itu bisa jatuh cinta padamu dengan semudah itu, lalu bagaimana denganku Nur?" tanya Purnomo. Kejujuran Purnomo membuat wajah Habibah merona, untungnya dia mengenakan cadar jika tidak pasti sudah nampak jelas wajahnya yang memerah karena tersipu malu. Disaat suasana yang hangat seperti itu, tiba-tiba saja ada seorang wanita yang berteriak-teriak sambil memasuki halaman rumahnya penuh dengan amarah.

__ADS_1


" Dasar wanita munafik..! Penggoda suami orang..! Dasar wanita jalang..! Dasar perempuan tak tau malu..! Percuma kamu berpakaian seperti orang yang alim tapi berhati busuk..!" teriakan dan makian terus diucapkan untuk Habibah. Dan Habibah mengenal wanita itu dengan baik, dia tau betul siapa wanita yang kini sedang marah-marah itu.


" Mba Lina.. ada apa? Kenapa datang dengan marah-marah begini? Ayo kita duduk dulu.." Habibah berusaha menghampiri Lina dengan niat untuk membawanya duduk terlebih dahulu. Tapi sayangnya niat Habibah tak diterima baik oleh Lina, Lina justru semakin marah dan mulai mencengkram jilbab yang sedang dikenakan oleh Habibah dan berniat untuk membukanya didepan umum agar Habibah malu. Purnomo yang melihat hal itu tentu tak bisa diam saja, Diapun mencengkram tangan Lina dengan kuat agar Lina mau melepaskan cengkeramannya pada jilbab yang dikenakan Habibah.


" Kalau mau bicara ya bicara pakai mulut saja, jangan pakai tangan juga. Karena bukan hanya kamu yang bisa main kasar disini, aku juga bisa melakukan itu." ucap Purnomo tegas dengan sorot mata yang tajam ditujukan pada mata Lina. Lina pun merasa takut dalam hatinya, namun karena emosinya dia masih mengeras.


" Siapa kamu? Jagan ikut campur urusan orang lain, urus saja urusanmu sendiri sana." Lina masih tak mau melepaskan cengkraman tangannya dari jilbab Habibah.


" Urusan dia adalah urusanku juga, kalau kamu mau berurusan dengannya berarti harus siap berurusan denganku." Purnomo makin mengeratkan cengkraman tangannya yang membuat Lina meringis menahan rasa sakit dipergelangan tangannya yang dicengkeram Purnomo. Lina pun akhirnya melepaskan cengkraman tangannya, namun tangannya masih dalam cengkraman Purnomo.


" Ingatlah baik-baik kata-kata ku ini, jangan pernah kamu berani-beraninya menyakiti dia. Jika sampai itu terjadi, maka kamu akan menyesal karena telah melakukannya." Purnomo mengatakannya denan mendekatkan wajahnya ditelinga Lina, yang membuat Lina merinding mendengar ancaman Purnomo yang terdengar menyeramkan. Purnomo menghempaskan dengan kasar tangan Lina hingga hampir membuat Lina terjatuh.


" Bibah siapa dia?" tanya ibunya yang memang tak mengenal siapa wanita itu.


" Dia Lina ma.. Dia istrinya mas Qodir." sahut Habibah sambil membenahi jilbabnya yang tadi sempat berantakan.


Plakk...


Sebuah tamparan mendarat keras diwajah Lina dari tangan milik ibunya Habibah. Semua yang ada disana terkejut termasuk Habibah. Dia tak menyangka jika ibunya akan memukul Lina dihadapan semua orang yang melihat drama itu terjadi.


" Hai wanita gila.. Kamu rupanya wanita itu.. Kamu bilang apa tadi? Anakku wanita tak tau malu? Pengganggu suami orang? Munafik? Apakah kamu sedang mengumumkan siapa sebenarnya dirimu disini? Bukankah kamu yang sudah merebut suami anakku? Bukankah itu berarti kamu yang tak tau malu dengan datang kemari dan berbuat rendahan seperti ini. Bukankah kamu yang munafik karena kamu yang memutar balikan fakta tentang siapa sebenarnya yang jalang disini? Kamu bilang anakku percuma berpakaian seperti itu? Apa menurutmu dengan pakaianmu yang seperti ini lebih baik daripada anakku? Apa hak mu menilai anakku seperti itu? Harusnya kau jaga suamimu baik-baik agar tak mengganggu anakku lagi. Dan beritahu suamimu, dia bisa kembali pada anakku tapi itu hanya dalam hayalan dia saja. Karena sampai kapanpun dia tak akan pernah kembali pada suamimu. Karena sekarang anakku juga akan menikah dengan orang yang jauh lebih baik dari suamimu. Sekarang cepat kamu pergi dari sini dan sampaikan itu pada suami tercintamu." ibunya Habibah bicara panjang lebar karena amarahnya hingga dia tak sadar jika perkataannya mengejutkan semua orang termasuk Habibah dan Purnomo


Dengan perasaan malu dan marah, Lina pergi meninggalkan rumah Habibah.


Tunggu saja kamu Habibah, aku akan balas penghinaan ini dengan berkali-kali lipat padamu. Kamu boleh senang sekarang, tapi itu hanya sementara karena pembalasanku akan segera datang padamu.


Orang-orang pun mulai meninggalkan halaman rumah Habibah karena tontonannya telah usai. Bagi para penggosip tentu ini adalah berita besar untuk jadi bahan gosip yang pasti seru.

__ADS_1


" Kamu gak apa-apa kan Nur?" tanya Purnomo pada Habibah yang masih terlihat syok dengan kedatangan Lina yang tiba-tiba menggila.


" Saya gak apa-apa kok mas, cuma kaget aja. Gak nyangka aja bakal ada kejadian begini." jawab Habibah jujur.


Purnomo sangat mengerti perasaan yang dirasakan oleh Habibah itu, karena dulu kejadian yang serupa pernah dialami juga oleh Habibah karena kesalahannya. Dan ternyata sekarang terulang lagi karena ulah mantan suaminya.


Ibunya membawa Habibah masuk kedalam rumahnya dan duduk diruang tamu, sedangkan Purnomo hanya mengikutinya tanpa diminta.


" Jadi sudah resmi ya?" tiba-tiba Purnomo memecah kesunyian dengan pertanyaan yang menggantung.


" Apanya yang resmi?" tanya Habibah dan ibunya hampir bersamaan.


" Kan tadi ibu sudah mengumumkannya didepan banyak orang masa lupa?" tanya Purnomo sambil mengulum senyum, namun justru jadi terlihat manis dipandang.


" Pengumuman apa?" Habibah masih tak mengerti.


" Itu calon suamimu dan kamu akan segera menikah, sudah ingat?" Purnomo tersenyum lebar saat usai menyelesaikan kalimatnya itu. Habibah yang teringat dengan perkataan ibunya tadi hanya bisa menundukan wajahnya sambil meletakkan salah satu telapak tangannya untuk menutupi sebagian wajahnya. Sementara ibunya baru menyadari bahwa dia telah mengatakan hal yang seharusnya tak dikatakan didepan banyak orang, sedangkan dia sendiri belum tau apa keputusan dari Habibah. Sekarang kata-katanya seolah telah menjadi sebuah jebakan yang dibuat oleh seorang ibu pada anaknya.


" Maafkan mama ya Bibah, tadi mama terbawa emosi. Mama hanya tak ingin kalau kamu diganggu lagi oleh mereka, hanya itu kok sungguh." kata ibunya menyesali kata-katanya yang mengenai pernikahannya itu.


" Sudahlah ma.. sudah terlanjur, jadi ya sudahlah.. Mungkin dengan cara ini Allah ingin menunjukan jalannya pada kita." jawab Habibah pelan.


" Jadi kamu bersedia menikah denganku Nur..?" tanya Purnomo sambil menatap lekat wajah Habibah. Habibah tak menyahutinya dengan kata-kata, dia hanya menganggukkan kepalanya pelan.


***


jangan lupa dukung terus dengan like, komen dan votenya ya.. terima kasih 🥰🥰

__ADS_1


__ADS_2