Perjalanan Cinta Habibah..

Perjalanan Cinta Habibah..
Nuraini


__ADS_3

Hari pernikahan antara Habibah dan Purnomo tinggal menghitung hari. Entah kenapa disaat hari pernikahan semakin dekat, semakin banyak hal-hal yang mengganggu ketenangan mereka. Satu persatu orang-orang dari masa lalu bermunculan, menguji seberapa kuat hati mereka menerima ujian itu. Namun keadaan itu tak begitu mempengaruhi perasaan mereka. Hanya saja, selalu saja ada orang yang mau mengambil kesempatan untuk menyerang mental mereka. Salah satunya itu ada kakak ipar dari Habibah sendiri, Nuraini. Sejak pertama mereka bertemu, Nuraini memang tak menyukai Habibah. Entah apa sebenarnya yang membuatnya begitu tak menyukai Habibah. Padahal Habibah sendiri tak pernah merasa punya masalah dengan kakak iparnya itu. Seperti pagi ini, Habibah masih sibuk dengan rutinitas paginya didapur seperti biasanya. Tiba-tiba saja Nuraini datang menghampirinya.


" Apa yang kamu buat pagi ini?" tanyanya berbasa-basi sembari melihat satu persatu hasil dari pekerjaan Habibah.


" Masak yang ada aja mba, yang penting cukup untuk kita sekeluarga." jawab Habibah sambil tetap melanjutkan pekerjaannya tanpa melihat kearah yang mengajaknya berbicara.


BRAK...!!


" Kamu ini sombong sekali ya sekarang, sampa bicara dengan orang yang lebih tua aja sudah gak ada sopan santunnya sama sekali. Kamu fikir karena kamu sekarang sudah dewasa dan bisa menghasilkan uang sendiri kamu bisa bersikap seenaknya pada orang yang lebih tua dari kamu hah..!" tiba-tiba saja Nuraini murka sambil menggebrak meja yang tak jauh dari tempat Habibah berdiri.


" Astaghfirullah hal'adziim...!!" Habibah sangat terkejut dengan apa yang dilakukan oleh Nuraini.


" Mba Aini kenapa mba? Apa saya melakukan kesalahan pada mba Aini?" tanya Habibah tak mengerti.


" Kamu itu memang munafik ya Bibah, pandai sekali kamu berakting polos begini. Kamu mau menipu siapa hah..!?" Nuraini mendekati Habibah yang kini berbalik menghadap padanya. Diraihnya dagu Habibah dan dicubit dengan kuat sampai Habibah meringis menahan sakit.


" Pantas saja hidupmu selalu susah, karena memang kamu pantas mendapatkannya." ucap Nuraini sambil melempar dagu Habibah kesamping, yang membuat tubuh Habibah ikut terhempas.

__ADS_1


" Mba Aini ini kenapa sih mba? Salah saya itu apa?" tanya Habibah masih tak mengerti mengapa kakak iparnya selalu bersikap kasar padanya.


" Ada apa sih ribut banget disini? Bisa gak kalau kalian bertemu itu gak usah pakai ribut?" ayah Habibah tiba-tiba datang kedapur karena mendengar keributan didapur.


" Coba ayah lihat anak perempuan ayah ini, karena sekarang dia sudah merasa jadi perempuan yang dewasa dan bisa menghasilkan uang dengan tangannya sendiri. Sekarang sudah gak ada lagi sopan santun pada orang yang lebih tua. Bicara denganku saja sekarang tak ada hormat-hormatnya. Bagaimana nanti kalau dia sudah bisa jadi orang yang sukses dan hebat? Bisa-bisa dia tak mau memandangku lagi sebagai kakak iparnya. Sangat keterlaluan..!" Nuraini meninggalkan dapur setelah merasa cukup puas melihat wajah Habibah yang kebingungan dengan sikap kakak iparnya yang tiba-tiba marah tanpa dia tau apa sebabnya.


" Ayah.. Bibah betul-betul gak tau apa kesalahan Bibah pada mba Aini. Bibah tak melakukan apa yang dikatakan mba Aini itu yah.."


" Ayah tau, kamu gak akan mungkin berbuat seperti itu. Kita tau benar dia orang yang seperti apa, jadi lain kali gak usah dilayani." ucap ayahnya lalu meninggalkan Habibah yang masih termangu seorang diri.


Sebenarnya mba Aini itu kenapa sih kalau sama saya kok begitu? Padahal pada yang lain gak seperti itu. Kalau memang saya punya salah seharusnya dia bilang apa kesalahan saya kan?😪😪


" Kamu itu kenapa sih, suka sekali mengganggu Bibah?" tanya Yusuf pada Nuraini.


" Kenapa? Kamu keberatan? Aku cuma kasih dia pelajaran kecil padanya. Mau bela dia lagi? Kalau aku mau ganggu dia memangnya kenapa? Itu gak sebanding dengan rasa sakit hatiku ini tau..!"


" Aini.. Kamu itu istriku atau musuhku? Bagaimanapun juga dia adikku, dialah yang banyak membantuku disaat aku kesulitan. Disaat yang lain tak perduli padaku tapi dia tetap ada untukku. Apakah kamu lupa akan semua itu?" Yusuf mencoba mengingatkan istrinya.

__ADS_1


" Jadi karena itu kita harus tunduk sama dia? Berapa banyak yang sudah dia berikan padamu, kita bisa menggantinya sekarang. Tapi aku gak mau tunduk dihadapannya..!"


" Siapa yang meminta kita untuk tunduk padanya? Aku hanya ingin kamu akur dengannya, jangan kamu ganggu dia. Dan itu sudah cukup untukku merasa senang. Jangan seperti ini terus, lalu mau sampai kapan kamu bersikap seperti itu padanya? Kenapa kamu masih mengingat-ingat masa lalu yang sudah nyata itu salah. Dia tak bersalah, semua itu hanya salah faham saja. Semua tuduhanmu itu hanya kesalah fahaman saja. Jadi tolong hentikan.."


" Ya...!! Mulai kamu bela dia lagi kan? Aku sudah bilang, aku hanya akan mempercayai apa yang aku lihat dan aku dengar. Dan aku tak butuh yang lain lagi..! Dan semua yang aku dengar tentang kamu dengan perempuan tak tau diri itu sudah cukup membuatku sakit hati. Kamu bahkan berani membela mereka dihadapan ku, apa itu tak cukup untuk membuatku merasa marah? Semua orang dirumah ini selalu membela dia, tak satu orangpun yang mau memihakku. Semua hanya ada dia saja, jadi apakah aku tak boleh cemburu?" suara Nuraini semakin meninggi sampai kedua orang tua Yusuf bisa mendengar dengan jelas apa saja yang diucapkannya.


" Tolong berhentilah.. Ini rumah orang tuaku..."


" Memangnya kenapa kalau ini rumah orang tuamu? Apa karena ini rumah orang tuamu lalu aku hanya boleh diam dan tunduk pada semua orang yang ada dirumah ini? Kalau begitu aku ini hanya orang asing bagi kalian kan? Kamu hanya memikirkan perasaan mereka,. tapi pernahkah kamu fikirkan bagaimana perasaanku? Aku ada dirumah ini hanya seperti sebuah pajangan saja..!" Nuraini benar-benar tak bisa mengontrol emosinya.


BRAKK...!!!


Nuraini menutup pintu kamarnya dengan keras hingga mengejutkan semua orang yang ada dirumah itu.


" Astaghfirullah hal'adziim... Sudahlah kak.. Biarkan saja dia mau berbuat apa. Tapi jangan sampai kalian bertengkar hanya karena hal tak penting seperti ini. Toh saya gak apa-apa juga kok.." Habibah mendekati Yusuf dan mencoba menenangkan nya, Habibah takut kakaknya itu tersulut emosinya.


Sebenarnya Yusuf merasa sangat malu pada keluarganya dengan sikap istrinya yang selalu seperti itu. Tapi dia juga bingung harus bagaimana menangani istrinya yang selalu saja cemburu buta padanya.

__ADS_1


***


Cemburu itu akan jadi perekat sebuah hubungan jika dengan dosis cemburu yang pas. Kalau dosisnya kelebihan maka akan jadi jurang yang siap menjerumuskan orang itu pada sebuah kehancuran.


__ADS_2