
" Ehem..ehem..ehem.. Srimbit rupanya.." celetuk Dona sambil melirik Habibah dengan senyum menggoda. Habibah yang mendapat godaan dari adiknya itu semakin tersipu. Wajahnya terasa panas karena malu, untungnya dia menggenakan cadar jika tidak tentu sudah terlihat betapa merah wajahnya. Purnomo yang mendengar Dona menggoda Habibah hanya bisa tersenyum saat melihat Habibah menyembunyikan wajahnya itu dengan meletakkan salah satu tangannya pada salah satu pelipisnya dan sedikit memalingkan wajahnya kearah yang berlawanan. Dia benar-benar merasa malu tapi juga senang. Karena ternyata Purnomo berbuat seolah-olah mereka telah menjadi satu keluarga.
Tak berselang lama tamu berdatangan silih berganti untuk silaturahmi dan saling bermaaf-maafan. Tak lupa mereka juga mencicipi hidangan yang telah disediakan. Disaat mereka tengah asyik menerima tamu dan bercengkrama, tiba-tiba datang sepasang suami istri yang sangat dikenal oleh Habibah. Ada sedikit rasa terkejut saat melihat kedatangan mereka, tapi yang lebih jelas adalah rasa canggung diantara mereka. Habibah tak tau harus bagaimana menghadapi mereka saat ini. Namun dia masih berusaha sebaik mungkin untuk menyambutnya dengan ramah.
" Kalian..? Masuklah.." ucap Habibah setelah menjawab salam dari mereka. Mereka adalah Nelly dan Ricky.
" Kakak..! Maafkan aku kak, aku telah banyak menyakiti hati kakak tapi kenapa kakak tak bicara apapun?" ucap Nelly seraya memeluk Habibah sambil menangis, dia tak memperdulikan jika dirumah itu sedang banyak orang. Yang dia perduli adalah rasa bersalahnya pada Habibah sudah tak dapat dia bendung.
" Nelly.. Saya sudah maafkan kamu jauh sebelum kamu mengucapkannya. Saya sudah memaafkanmu disaat saya pergi dari sana. Semua sudah saya lupakan, jadi kamupun harus melupakannya." jawab Habibah yang membuat Nelly semakin merasa bersalah. Air matanya bukannya berhenti mengalir, tapi justru semakin deras membasahi jilbabnya. Bahkan dia lupa jika saat itu banyak mata yang memperhatikannya.
" Sudahlah Nelly, malu dilihat banyak orang. Saya sudah bilang tak apa-apa, jadi jangan difikirkan lagi. Ayo, sekarang kita duduk dan saya perkenalkan pada keluarga saya." Habibah mengajak Nelly dan Ricky untuk duduk dan diperkenalkan pada semua keluarganya juga pada keluarga Purnomo. Ricky memperhatikan Purnomo, dia merasa familiar dengan wajah Purnomo. Hanya saja dia tak dapat mengingatnya, tapi dia merasa pernah bertemu dengan pemilik wajah tampan itu.
" Apakah kita pernah bertemu sebelumnya? Wajah anda serasa tak asing untukku." kata Ricky membuka percakapannya dengan Purnomo.
" Benar. Kita memang pernah bertemu sebelumnya, tepatnya dimalam tahun baru dirumah kak Richard kakak Alvian sahabatku waktu kita masih sekolah dikota. Apakah sekarang kamu sudah mengingatnya?" jawab Purnomo mencoba mengingatkan Ricky akan pertemuan mereka yang memang sudah sangat lama.
" Oh, iya.. Aku sudah ingat. Mas kan yang dulu tunangan dengan temannya Nur itu kan? Tapi.. tunggu dulu.. Kenapa hari ini pakaian mas samaan dengan yang dipakai Nur..? Mana istrinya mas?" ucap Ricky saat menyadari jika pakaian yang dikenakan oleh Purnomo memiliki motif yang sama dengan yang dikenakan oleh Habibah dan Zain.
" Sekarang baru calon istri,. ya dialah calon istriku sekarang." jawab Purnomo dengan santainya memperkenalkan Habibah sebagai calon istrinya.
" Apa..!? Kalian...!?" Ricky tak menyelesaikan kalimatnya. Entah kenapa hatinya seakan tak bisa merelakan jika wanita yang kini berstatus sebagai saudara angkatnya itu akan dimiliki oleh Purnomo. Diapun tak bisa memahami ketidakrelaannya itu, tapi hal itu benar-benar dia rasakan. Walaupun dia bisa melihat bagaimana ketulusannya Habibah pada dirinya juga pada Nelly dalam persaudaraan yang kini telah terjalin. Tapi tetap saja dia tak bisa melepaskan Habibah dengan suka rela untuk bahagia dengan pria lain. Disaat Ricky sedang bergelut dengan perasaannya sendiri, tiba-tiba terdengar sebuah suara yang mengucapkan salam. Semua yang berada didalam ruangan itu serempak menoleh ke arah suara itu berasal sembari menjawab salamnya. Hanya Habibah dan ibunya saja yang mengenali orang itu.
" Pak Zelly?" gumam Habibah pelan.
" Mari masuk..! "ajak ibu Fatma.
Zelly dan dua orang temannya mengikuti perkataan Bu Fatma dan duduk disalah satu sisi yang tak jauh dari tempat duduk Habibah yang sebelumnya menyalami hampir semua yang berada disana saat itu. Hanya Habibah seorang yang tak disalaminya. Karena dia tau wanita dengan berpenampilan seperti itu tak akan mau disalami oleh lelaki yang bukan muhrimnya.
" Wah.. ternyata sedang banyak tamu ya Bu?" ucap Zelly berbasa-basi.
__ADS_1
" Ah.. kebetulan saja, mereka ini keluarganya dari calon besan kami." jawab pak Rukmana menimpali senyum yang mengembang.
" Besan..? Siapa yang akan menikah pak?" tanya Zelly sedikit penasaran.
" Anak saya Nur Habibah dengan nak Purnomo." jawab pak Rukmana sambil menunjuk kearah Habibah dan Purnomo.
" Nur Habibah..!?" ucap Zelly terkejut seraya menoleh kearah Habibah. Dia tak menyangka jika wanita bercadar itu adalah Habibah gadis kecil yang dulu telah mencuri hatinya. Sementara Habibah yang diperhatikan oleh Zelly hanya menundukan wajahnya. Habibahpun tak menyangka jika dia akan bertemu kembali dengan mantan atasannya itu bahkan itu terjadi dirumah orang tuanya. Purnomo yang menyadari jika Zelly memperhatikan Habibah merasa tak suka. Dia bisa melihat ada yang tak beres dengan tatapan yang ditunjukan oleh Zelly pada calon istrinya itu.
" Benar.. insyaallah pernikahannya akan dilangsungkan tanggal 10 Syawal ini,. kalau bisa nanti nak Zelly hadir ya.." ucap pak Rukmana.
" Oh..! I- iya pak, insyaallah saya akan hadir." jawab Zelly dengan sedikit tergagap karena dia tak menyangka akan diundang langsung oleh pak Rukmana ayah Habibah.
" Lha.. Nak Zelly mana istrinya kok gak diajak sekalian biar kami bisa kenalan." sela Bu Fatma.
" Oh..! Saya.. Saya belum nikah Bu.." Jawabnya sambil tersenyum kecut dan mengusap-usap tengkuknya tanpa sebab.
" Masa orang seganteng om belum laku juga, jangan-jangan ada yang om tunggu ya?" tukas Dona yang membuat wajah Zelly memerah karena malu.
" Udah om, nanti om nikah sama aku aja mau gak?" tanya Dona menggoda Zelly yang sudah terlanjur malu.
" Husy..!! Kalau ngomong jangan sembarangan. Sudah jangan digodain lagi, kasian kan nanti kalau sampai dia malu." bisik Habibah pada Dona yang menurutnya sudah agak kelewatan.
Apa mungkin gadis yang sedang ditunggunya itu Nur? Karena mustahil dengan tampang yang segitu tampannya tak ada gadis yang jatuh hati padanya. Kecuali dia yang tak menginginkannya.
" Bukannya dulu bapak pernah bilang kalau bapak mau pulang kampung untuk nikah?" tanya Habibah yang akhirnya buka suara juga. Dan tanpa disadari jika pertanyaannya itu membuat Purnomo semakin yakin jika gadis itu adalah Habibah. Dari pertanyaan yang diajukan oleh Habibah menandakan jika mereka dulu pernah dekat.
" Oh.. Iya dulu hampir nikah, tapi batal." jawab Zelly singkat.
" Batal?"
__ADS_1
" Kenapa bisa batal?" tanya Dona menyela diantara pembicaraan Habibah dan Zelly.
" Yah.. Karena ada sesuatu hal yang mengharuskan untuk membatalkan pernikahan." jawab Zelly yang nampak enggan untuk menceritakan alasan akan batalnya pernikahan nya.
" Kenapa gak cari gantinya aja, pasti banyak cewek yang mau sama om?" tanya Dona sekenanya.
" Memang banyak, tapi gak ada yang seperti yang aku mau. Bahkan mungkin gak akan ada lagi yang seperti yang aku mau." jawabnya pelan namun masih bisa terdengar dengan jelas.
" Atuh om gak takut jadi bujang lapuk, kan sayang om kalau orang seganteng om cuma jadi bujang lapuk?" Dona kembali menimpali dengan ceplas-ceplosnya.
" Kalau sudah takdir ya mau bagaimana lagi, mau gak mau ya harus mau." jawaban Zelly semakin pesimis saja.
" Boleh tau gak, sekarang umur om berapa?" tanya Dona yang membuat semua menoleh padanya. Dan hal itu membuat Dona bertanya-tanya apakah ada yang salah dengan pertanyaannya itu.
" Kenapa? Gak boleh ya tanya umur?" ucap Dona sambil cengengesan setelah dia meyakini jika pertanyaannya itu tak pantas untuk ditanyakan.
" Gak apa-apa kok, saya gak keberatan. Sekarang umur saya 42 tahun."
" 42 tahun..!" sahut Dona dengan suara yang nyaris berteriak karena terkejut, dia tak percaya dengan apa yang sudah dia dengar itu.
" Waaahhh om, kayaknya gak bisa ya kalau om nikah sama aku. Soalnya aku baru 20 tahun dan itupun baru genap 2 bulan lagi. Ternyata beda umur kita 22 tahun..!" Dona memelototkan matanya sambil mengacungkan dua jarinya dari kedua tangannya.
Semua yang hadir saat itu hanya bisa geleng-geleng kepala melihat tingkah laku Dona
***
mohon maaf sebelumnya..
baru bisa update lagi karena ada sesuatu hal yang tak memungkinkan untuk bisa update..
__ADS_1
Terima kasih atas dukungannya..🥰🥰