
Beberapa hari setelah pembicaraan yang disampaikan oleh istrinya, Qodir masih merasakan suasana yang sangat canggung untuk berhadapan dengan istrinya itu. Dia sendiri menyadari jika sikapnya akhir-akhir ini salah, tak seharusnya dia berlaku khianat di belakang istrinya. Tapi diapun tak bisa bisa mengendalikan hatinya untuk tak dekat dengan Lina. Walaupun kini Lina hanya berstatus sebagai mantan kekasih, namun rasa cinta dan sayangnya masih sangat besar pada gadis itu. Lina adalah cinta pertama Qodir sejak duduk di bangku SMA, mereka berpacaran selama bertahun-tahun sampai mereka lulus dari kuliah bersama-sama. Hanya saja disaat Qodir mengajak Lina untuk menikah tiga tahun yang lalu, Lina lebih memilih melanjutkan studinya ke Australia untuk mendalami bakatnya di bidang desain interior. Dan disaat hatinya terluka dengan keputusan Lina, dia bertemu dengan kakak kelasnya saat di bangku SMA dulu, yaitu Yusuf kakak pertama Habibah. Dia yang mengenalkannya dengan Habibah, dan diapun tak menolaknya. Selain sedang patah hati, diapun sudah dituntut oleh keluarganya agar segera menikah dan saat ibunya bertemu dengan Habibah langsung merasa cocok. Sebab itulah Qodir berharap bisa benar-benar mencintai dan menyayangi istrinya itu sebagaimana seharusnya. Tapi kini, disaat dia mulai merasa sayang pada Habibah justru datang sebuah ujian yang cukup berat baginya. Lina datang kembali dengan membawa sebuah harapan untuk bisa kembali seperti dulu, bahkan kini gadis itu sudah bersedia untuk menikah dengan dirinya.
Hari itu, Qodir pergi keluar kota lagi untuk perjalanan dinasnya. Tiba-tiba Habibah merasakan sakit dibagian bawah perutnya, dia merasa perutnya merasa nyeri dan kencang. Sementara dia hanya seorang diri dirumah, dia tak tau harus bagaimana saat itu. Dia hanya beristighfar berkali-kali untuk menenangkan hatinya agar tak panik. Selang setengah jam kemudian dia merasakan bahwa ada air yang tak bisa dia tahan dari ***********. Dia mengira jika saat itu dia sedang buang air kecil, tapi sebenarnya itu air ketubannya yang menandakan dia akan segera melahirkan. Ya Allah... kenapa aku pipis disini sih? Dan kenapa aku gak bisa menahannya sama sekali? Untung hanya aku sendiri dirumah, kalau ada mas Qodir betapa malunya aku... Selang beberapa waktu, terdengar suara orang mengucapkan salam dari arah pintu. Dan setelah didengarkan baik-baik, itu tetangga dekatnya Muti'ah.
" Masuk aja kak..! Pintunya gak saya kunci.." seru Habibah dari dalam kamarnya.
" Bibah, ini aku bawakan camilan buat kamu.. Aku taruh mana nih?" tanya Muti'ah sambil masuk kedalam rumahnya. Karena Habibah yang diajak bicara tak kunjung keluar juga dari dalam kamarnya, akhirnya Muti'ah memberanikan diri untuk mengetuk pintu kamar Habibah.
Tok..tok..tok..
" Bibah... kamu gak apa-apa kan?" tanya Muti'ah cemas karena tak mendengar suara Habibah.
" Gak apa-apa kak.. cuma bisa tolong masuk dulu gak kak.. mau minta tolong.." ucap Habibah dengan malu.
__ADS_1
" Astaghfirullah... kamu kenapa bibah...?!" seru Muti'ah panik begitu melihat genangan air dilantai sedangkan Habibah hanya berdiri mematung tak bergeming.
" Saya pipis kak.. mangkanya saya gak berani kemana-mana takut mengotori kebanyak tempat. Tapi, saya bingung kak. Saya pipisnya gak bisa ditahan, terus ngalir dari tadi.." ucap Habibah sambil tertunduk malu.
" Sejak kapan kamu begini..!?" tanya Muti'ah semakin terlihat panik.
" Sudah dari tadi kak, sekitar setengah jam lah. Kenapa kak?" tanya Habibah bingung dengan reaksi Muti'ah.
" Astaghfirullah Habibah....!! Kamu itu mau melahirkan..!! Ini bukan pipis tapi air ketuban...!! Dimana suamimu..!?" Muti'ah benar-benar panik saat itu. Dengan segera dia menelepon suaminya agar cepat datang untuk membantunya. Bahkan dia memanggil Nelly tetangga barunya agar membantu untuk mempersiapkan keperluan bersalin. Suaminya Muti'ah segera memanggilkan ambulans untuk segera membawa Habibah ke klinik terdekat. Ridho suami Muti'ah terus mencoba menghubungi Qodir, namun nomor handphonenya masih tak bisa dihubungi. Sementara Habibah semakin merasa kesakitan karena kontraksinya.
" Air ketubannya sudah hampir kering Bu, sedangkan kepala si bayi masih belum masuk ketempat yang seharusnya. Posisinya seperti masih dalam usia kandungan tujuh bulan. Posisi bayinya masih ada diatas. Sedangkan sang ibunya sudah terlihat lemah. Ini saja baru satu jam tapi dia sudah menghabiskan tiga botol infus yang sudah kami injeksi dengan perangsang kontraksi agar pembukaannya cepat. Tapi tetap tak banyak membantu, pembukaannya masih sangat lambat. Normalnya, jika air ketubannya sudah pecah itu paling lama setengah jam sibayi harus sudah lahir. Sedangkan ini air ketubannya sudah hampir kering tapi pembukaan masih belum ada kemajuan, masih dipembukaan lima. Apakah saya bisa bicara dengan suami atau keluarga nya?" tanya dokter itu setelah menjelaskan kondisi Habibah dengan panjang lebar.
" Suaminya masih belum bisa dihubungi dok. Dan keluarganya tak ada disini. Semua keluarganya jauh, dia disini hanya dengan suaminya saja." jawab Muti'ah dengan air matanya yang mulai menetes mengingat begitu menderitanya Habibah dengan persalinannya itu.
__ADS_1
" Lalu bagaimana sekarang dok?" tanya Muti'ah lagi.
" Kita tunggu paling lama setengah jam lagi, kalau masih belum ada perubahan dalam pembukaannya maka dia harus dibawa kerumah sakit besar dikota untuk menjalani prosedur operasi Caesar. Karena klinik kami tak memiliki fasilitas itu." terang dokter wanita paruh baya itu. Dia menunjukkan rasa prihatinnya pada nasib Habibah, yang tak didampingi oleh suami dan keluarganya disaat yang sangat penting itu. Hari dimana dia harus bertaruh nyawa dalam memperjuangkan satu kehidupan yang baru yaitu bayinya.
Habibah mendengar semua pembicaraan antara Muti'ah dengan dokter tadi,namun dia tak bisa berbuat apa-apa. Dia hanya terus beristighfar dan merenungkan perjuangan ibunya saat dulu melahirkannya. Dia semakin mengerti jika tak mudah perjuangan seorang ibu dalam mengandung, melahirkan sampai mengasuh dirinya hingga dewasa ternyata tak mudah. Dia elus-elus perutnya dengan lembut dalam hatinya berbisik pada anak dalam kandungannya. Sayang.. jika kamu menyayangi umi, maka jangan susahkan umi saat melahirkan dirimu. Jika kamu memang anak yang Sholeh atau Sholeha, jangan perpanjang penderitaan umi saat ini. Umi ingin cepat berjumpa denganmu kesayangan umi. Jika kamu dengar, maka turutilah permintaan umi ini. Umi masih ingin menatapmu saat kamu lahir, umi ingin mendengar tangisanmu saat kamu pertama kali menangis didunia barumu. Umi ingin, umilah orang yang pertama kali memeluk dirimu dan mencium baumu. Sayang... Umi sungguh tak punya kemampuan jika harus operasi, jadi kamu harus jadi anak yang Sholeh ya sayang.. jangan lama-lama lagi ya.. Do'akan agar umi mampu untuk melahirkanmu dengan normal. Doamu masih mustajab karena kamu masihlah suci. Sayang...
Habibah merintih menahan sakit yang semakin menjadi-jadi pengaruh obat perangsang kontraksi yang diberikan padanya.
" Bibah.. kamu harus tetap sadar.. bibah jangan sampai kamu kehilangan kesadaranmu.. ingat.. ada satu kehidupan yang harus kamu perjuangkan.. maka kamu jangan menyerah.. Habibah...!" Muti'ah semakin panik melihat kondisi Habibah yang sudah semakin lemah bahkan sudah mulai kehilangan kesadaran dirinya. Dalam keadaan yang sangat lemah itu, entah bagaimana Habibah merasakan sebuah gerakan yang seolah memberi semangat padanya dari bayi dalam perutnya itu. Gerakan yang memberitahukan padanya bahwa dia mendengar semua yang diucapkan oleh Habibah tadi. Dan gerakannya semakin kuat , yang membuat perawat yang menjaganya terkejut. Sebab dari pemeriksaan yang dilakukan lima belas menit sebelumnya menunjukan bahwa pergerakan bayi dalam perut Habibah makin melemah. Tapi disaat kondisi Habibah yang selemah itu, justru menunjukan pergerakan bayinya semakin sering dan kuat. Perawat itupun segera memanggil dokter, dan saat memeriksa Habibah dokter itupun terkejut.
" Alhamdulillah... keajaiban ini hanya keajaiban.. disaat cairan sudah kering justru sijabang bayinya akan lahir. Bayinya sudah siap lahir.." seru dokter itu sambil meneteskan air mata karena rasa harunya yang tak bisa dia tahan lagi. Dokter itupun segera memerintahkan perawat-perawatnya untuk segera mempersiapkan peralatan untuk persalinan. Hanya dalam dua kali tarikan nafas saja, Habibah sudah berhasil melahirkan bayinya. Bayinya lahir tanpa membawa cairan apapun, benar-benar bersih. Bahkan darahpun sudah tak ada menempel ditubuh bayi itu. Keadaan yang sudah hampir dikatakan mustahil untuk bisa melahirkan dengan normal karena keadaannya sudah benar-benar mustahil bagi kedokteran. Sebab sudah tak ada cairan dan darah yang mengalir dari jalan lahirnya. Tapi itulah keajaiban, tak ada yang mustahil bagi tuhan.
Habibah hanya bisa mendengar suara tangisan bayinya yang awalnya pelan semakin lama semakin nyaring terdengar. Dia juga mendengar saat seseorang mengadzani anaknya itu dengan suara yang terdengar indah baginya. Dia sudah tak mampu untuk membuka matanya. Dia masih bisa merasakan saat sang bayi diletakan dalam pelukannya untuk menghangatkan bayinya. Dia sangat terharu bisa merasakan tubuhnya bersentuhan langsung dengan bayinya. Sebelum akhirnya dia tak sadarkan diri sebab kelelahan yang dirasakannya selama delapan jam berjuang demi melahirkan bayinya dengan normal. Muti'ah tak henti-hentinya menangis melihat perjuangan Habibah yang begitu berat dalam melahirkan bayinya. Melahirkan tanpa didampingi oleh suami dan keluarga itu sangat berat baginya. Muti'ah sudah menganggap Habibah seperti adiknya sendiri, sebab itu dia sangat menyayangi Habibah meski pada kenyataannya mereka beda suku dan keluarga. Kamu memang gadis yang kuat.. jika aku ada diposisi kamu, belum tentu aku mampu menjalani semua ini..
__ADS_1
***
hal yang paling indah saat sang buah hati terlahir kedunia🥰🥰