
Habibah menatap jasad yang terbujur dihadapannya dengan tatapan yang kosong. Air matanya tak henti-hentinya mengalir, tak ada suara sepatah katapun yang keluar dari bibirnya. Dia merasa dunia berhenti berputar dan kakinya tak lagi berpijak di bumi. Semuanya menjadi kosong seakan dia hanya sendirian didunia ini. Satu persatu peziarah datang untuk menyampaikan bela sungkawa mereka dan menguatkannya. Tapi semua kata-kata yang diucapkan itu tak ada satupun yang terdengar ditelinga nya. Baginya dunia ini sunyi, bahkan peluk dan tangis dari putri kecilnya tak terdengar olehnya.
Habibah benar-benar tak siap dengan cobaan yang besar kali ini. Kebahagiaan yang baru saja dia rasakan kini telah berganti dengan kesedihan yang tak pernah dibayangkan sama sekali. Sebuah perpisahan yang tak akan ada lagi perjumpaan didunia ini. Guncangan yang diterimanya kali ini benar-benar menghancurkan semua keceriaan diwajahnya. Menenggelamkan senyum manis yang akhir-akhir ini menghiasi wajah cantiknya. Tapi kini wajah cantik itu telah berubah bagai mayat hidup, pucat tanpa ada ekspresi apapun diwajahnya. Perlahan-lahan air matanya berhenti membasahi pipinya yang tembem. Hilang sudah keceriaan dan kesedihan dari wajahnya, semuanya berubah menjadi sebuah kehampaan. Tak ada yang menyangka jika kebahagiaan yang baru saja dia rasakan akan secepat itu pergi dan berganti dengan duka.
"Sayang... Sadarlah.... Ikhlaskan dia pergi, Allah lebih sayang padanya itu sebabnya dia di panggil pulang lebih cepat. Tapi jangan biarkan kesedihan mu menghancurkan hidupmu. Dia akan bersedih jika tau kamu seperti ini sayang... Ingatlah masih ada anak-anak yang membutuhkan perhatian dan kasih sayangmu. Maka dari itu kamu harus kuat, jangan seperti ini.... Sebaiknya kamu mendo'akannya agar dia mendapatkan tempat yang terbaik disisi Allah.." ibu Sofia mencoba menyadarkan kembali menantu kesayangannya itu agar kembali pada dirinya sendiri. Dia sangat terluka saat mengetahui jika menantunya itu kini bagai mayat hidup, walau bernyawa tapi bagai tak ada kehidupan dimatanya. Semuanya kosong, membuat siapapun yang melihatnya akan merasakan kesedihan yang mendalam. Sejak jasad Purnomo diantarkan ke kediaman keluarganya, tak ada rintihan atau ratapan dari Habibah. Hanya air matanya saja yang menunjukan kesedihannya. Tapi walau hanya air mata saja telah menjadikannya bagai mayat hidup, tak ada yang dilakukannya selain menatap kosong lurus kedepan. Dan hal itu benar-benar lebih buruk dari kehilangan karena kematian.
Seminggu telah berlalu, Habibah masih tak ada perubahan. Guncangan atas kematian Purnomo benar-benar merubahnya 180°. Dia telah melupakan segalanya, bahkan anak-anak pun dia lupakan.
" Yah, bagaimana kalau kakak kita bawa ke kota untuk berobat atau kita konsultasi ustadz, ke psikiater atau psikolog atau apalah itu namanya. Yang penting kakak bisa kembali lagi seperti dulu. Kasihan anak-anak mereka sudah kehilangan ayah mereka dan sekarang mereka juga harus kehilangan ibunya." Maryam mengusulkan pada ayahnya untuk membawa Habibah berobat agar kakaknya itu mendapat perawatan.
Dan akhirnya mereka memutuskan untuk membawa Habibah kekota, berharap Habibah akan bisa kembali pulih seperti semula.
Kabar meninggalnya Purnomo dengan cepat tersebar, kabar itupun akhirnya sampai juga ketelinga teman-teman Habibah ataupun Purnomo. Banyak dari mereka yang datang berziarah meski sudah beberapa hari Purnomo dimakamkan. Tak terkecuali Zelly, diapun datang berziarah dan diapun sempat melihat kondisi Habibah yang begitu menyedihkan. Ingin sekali rasanya dia bisa menghibur Habibah, namun itu tak mungkin bisa dia lakukan.
" Bagaimana kondisi Nur sekarang Bu?" tanya , Zelly pada ibu Sumarni.
" Ya... Begitulah... Dia benar-benar terpukul dengan kepergian suaminya yang begitu tiba-tiba. Dia benar-benar tak siap menerima guncangan sebesar ini. Mungkin karena dia baru saja bisa bahagia dan sekarang harus menerima cobaan seberat ini. Jika normalnya orang yang baru menjalani rumah tangga, tentu masa ini adalah masa-masa paling indah dalam hidupnya. Masa-masa indahnya yang banyak disebut orang sebagai bulan madu. Bagaimana tidak? Mereka baru menikah selama sebulan tapi sekarang dipaksa untuk berpisah dengan sebuah kematian. Dia benar-benar tak siap dengan kondisi ini." jawab ibu Sumarni seraya menatap Habibah yang sedang menatap keluar jendela.
" Bagaimana dengan anak-anak? Bagaimana kondisi mereka?" tanyanya lagi
" Anak-anak sementara sekarang dirumah eyangnya, karena kasihan anak-anak kalau harus melihat keadaan ibunya yang seperti ini. Jadi sementara mereka disana dulu sampai kondisi ibunya membaik." terang ibu Sumarni. Walaupun dia sendiri tak tau kapan anaknya itu akan kemabli membaik.
" Kenapa gak dibawa ke psikiater, siapa tau dia bisa pulih dengan bantuan dari seorang yang ahli seperti psikiater?"
__ADS_1
" Kami sudah merencanakan untuk membawanya kekota dua hari lagi, kami masih cari-cari yang mana yang cocok untuknya nanti." ujar Bu Sumarni lagi.
" Kalau boleh saya rekomendasikan teman saya yang jadi seorang psikiater di Samarinda, tempanya saya jamin akan membuatnya nyaman dan yang terpenting dia seorang muslimah juga. Insyaallah itu lebih baik. Kalau ibu setuju, nanti akan saya antar kesana sekalian saya ada urusan pekerjaan tapi saya bisa perginya tiga hari lagi. Kalau ibu dan keluarga setuju nanti akan saya bicarakan kedatangan kita dengan teman saya itu. Supaya Nur ada tempat nantinya kalau bisa mendapatkan tempat yang terbaik, supaya dia cepat pulih." Zelly menawarkan bantuannya. Dia benar-benar berharap jika wanita yang telah menyita hatinya itu bisa kembali pulih, walaupun dia tak bisa mendapatkan cinta dari wanita itu tapi dia ingin bisa melakukan sesuatu untuk nya.
" Baiklah. . Nanti saya bicarakan dulu dengan keluarga saya dan juga keluarga dari besan saya. Jika semuanya setuju nanti saya kabari lagi nak Zelly.
" Baiklah Bu... akan saya tunggu kabar dari ibu.. Ini kartu nama saya, kalau sudah ada keputusannya bisa hubungi saya secepatnya." Zelly memberikan sebuah kartu nama nya pada ibu Sumarni. Setelah itu diapun undur diri karena memang hari sudah tak lagi pagi.
Malam harinya pak Rukmana dan ibu Sumarni menyambangi kediaman besannya. Mereka mendiskusikan tentang rencana untuk pengobatan Habibah dan menyampaikan juga tawaran yang diberikan oleh Zelly pada mereka. Dan orang tua almarhum Purnomo menyetujui usulan itu, karena menurut mereka itu yang terbaik. Karena mereka juga ingin agar Habibah kembali pulih. dan ibu Sumarni segera menghubungi Zelly malam itu juga, memberitahukan jika kedua keluarga telah menyepakati bahwa Habibah akan dirawat mengikuti usulan dari Zelly. Dan Zelly pun menginstruksikan persiapan apa saja yang harus disiapkan oleh keluarga Habibah sebelum keberangkatan dan apa saja yang harus dibawa nanti.
Ibu Sofia mengemasi beberapa peninggalan anaknya yang dia tau itu sangat berarti bagi anaknya. Sebuah foto album, sekotak surat dan sebuah buku diary milik Habibah itu yang diberikan pada ibu Sumarni agar dibawa serta saat mereka ke kota nanti. Dia berharap peninggalan anaknya itu bisa membantu dalam pemulihan menantunya itu. Mereka tak bisa mengantar karena mereka harus menjaga cucu mereka, Zain dan Nur Laily yang sementara tinggal bersama mereka selama Habibah masih dalam kondisi seperti sekarang.
Hari keberangkatan ke Samarinda akhirnya tiba juga. Zelly membawa mobil inventaris dari perusahaan karena keberangkatannya ke kota dalam rangka tugas kerja, jadi dia bisa membawa kendaraan inventaris. Dia sengaja tak menggunakan supir pribadi dalam perjalanan tugas kali ini. Karena dia harus membawa Habibah dan kedua orang tua Habibah bersama dengannya. Zelly sudah berjanji akan mengantar mereka ketempat tujuan mereka dikota sesuai dengan yang telah disepakati.
" Nak Zelly, kalau boleh tau berapa umurnya sekarang?" tanya Bu Sumarni tiba-tiba, memecah keheningan dalam mobil itu.
" Saya... Sudah cukup tua Bu.. Sudah kepala 4.. Kenapa Bu?" jawab Zelly dengan sedikit rasa tak nyaman.
" Seharusnya nak Zelly sudah berkeluarga dan punya beberapa anak ya? Tapi kok ibu gak pernah lihat juga dengar tentang istri dan anak nak Zelly? Apakah mereka gak ada disini?" tanya Bu Sumarni penasaran.
" Emmm... Iya Bu,. ehm.. Seharusnya begitu." Zelly menjawab dengan kalimat yang menggantung.
" Seharusnya begitu? Maksudnya bagaimana?" lanjut Bu Sumarni.
__ADS_1
" Ehmm... Iya... Seharusnya memang begitu Bu, cuma sayangnya saya belum menemukan jodoh saya saja. Jadi ya istri dan anak belum masuk dalam sejarah perjalanan hidup saya. Hehehe.." Zelly tertawa dengan ekspresi wajah yang sulit untuk diartikan. Bahkan dia tak tau apa yang membuatnya tertawa. mungkin dia sedang menertawakan nasibnya sendiri.
" Jadi yang dibicarakan hari itu beneran? Ibu kira itu cuma candaan.. Maaf ya, ibu gak tau.." ibu Sumarni tampak menyesali pertanyaan yang telah diajukannya.
" Gak apa-apa kok Bu, lagi pula itu memang kenyataannya jadi gak ada yang perlu ditutup-tutupi." Zelly tersenyum pahit.
Bagaimana bisa aku menikah dengan orang yang tak bisa aku cintai, jika aku paksakan hanya akan melukai dan menyiksa diri sendiri. Dan kemungkinan terburuknya akan menyakiti banyak hati. Hati wanita yang aku nikahi dan juga keluarganya juga keluargaku.
Aku tak ingin itu terjadi. Dan yang membuat aku tak bisa melakukannya adalah anak ibu..
Wanita yang kini ada disamping ibu, yang sedang kehilangan dirinya karena kehilangan cintanya.
Nur...
Begitu besar dan dalamnya rasa cintamu untuk suamimu itu sampai membuat wanita sekuat dirimu jatuh tak berdaya dihadapan cinta.
Aku tak pernah menyangka akan melihat sisi rapuh mu yang seperti ini.
Zelly terus melajukan mobilnya dengan kecepatan normal, Meraka akan sesekali singgah untuk istirahat makan atau shalat di masjid yang mereka lewati.
***
Mungkin seperti itulah rasanya orang yang ditinggalkan pas lagi sayang-sayangnya.😭😭
__ADS_1