Perjalanan Cinta Habibah..

Perjalanan Cinta Habibah..
Kedatangan Qodir


__ADS_3

Pesta ulang tahun itu berjalan dengan lancar dan memuaskan, ada rasa kepuasan tersendiri dihati Habibah bisa menyaksikan semuanya berjalan dengan lancar. Dengan melihat senyum dan tawa dari anak-anak yang ada disana sudah sangat cukup untuk membuat dirinya merasakan kehangatan dalam hatinya. Habibah dan Dona membantu tuan rumah merapikan tempat yang telah digunakan, mulai dari dekorasi sampai perkakas yang dipakai untuk prasmanan. Semua dibersihkan, dan sebagian telah dibawa pulang oleh Dona tinggal menunggu beberapa barang lagi yang belum dibawa pulang karena masih ada isinya.


" Mas, sisanya mau ditaruh dimana? Bolehkah saya minta tempat baru untuk memindahkan sisa isinya ini?" tanya Habibah pada Purnomo.


" Ini Tante, aku bawakan tempatnya.. " Nur kecil tiba-tiba menyela sebelum Purnomo sempat menjawab sepatah katapun.


" Anak pintar.. Terima kasih sayang.." Habibah menerima sebuah tempat yang diberikan Nur kecil dengan mencubit gemas salah satu pipinya. Anak itu ternyata menyukai perlakuan yang ditunjukkan oleh Habibah. Meski dia tak melihat seperti apa wajah Habibah, namun dia sangat menyukai sikap yang ditunjukan padanya. Mungkin karena dia tak pernah mendapat perlakuan manis itu dari ibunya.


Nur memperhatikan setiap apapun yang dikerjakan oleh Habibah dirumahnya itu, sampai akhirnya Habibah menyelesaikan semua pekerjaannya dan bersiap untuk pamit pulang. Nur tiba-tiba memeluk Habibah seolah tak ingin Habibah pergi dari hadapannya.


" Ada apa sayang?" tanya Habibah lembut sambil mengelus kepalanya.


" Tante.. Boleh gak aku ikut kerumah Tante..?" tanyanya dengan wajah polosnya yang memelas. Habibah tak bisa menjawabnya, dia mencoba mencari jawabannya dengan menatap ayahnya dan keluarganya yang ada disana.


" Boleh.. Nanti papa jemput sebelum jam empat sore.." Purnomo yang memberi jawabannya.


" Yeayy.. Ayo Tante, kita kerumah Tante..!" Nur menarik tangan Habibah dengan penuh semangat.


" Tunggu dulu sayang.. Salim dulu sama papamu juga yang lainnya jika mau pergi keluar, gak boleh pergi begitu aja."


" Oke..!" Nur menuruti apa yang dikatakan oleh Habibah.


" Anak pintar.. Ayo..!" Ajak Habibah.


" Kami pergi dulu.. Assalamualaikum.." ucap Habibah berpamitan pada semuanya.


" Wa'alaykumussalam.." jawab Purnomo dan yang lain serempak. Purnomo dan Bu Sofia mengantar hingga teras rumahnya. Mereka tersenyum melihat tingkah Nur kecil mereka yang terlihat sangat gembira dengan salah satu tangannya menggandeng tangan Habibah sementara tangan lainnya menggandeng tangan kecil milik Zain.

__ADS_1


Sesampainya dirumah, Habibah dikejutkan dengan adanya seseorang yang sedang duduk di teras rumahnya, orang yang tak pernah ingin dia lihat dan temui sama sekali kini tengah duduk disana. Melihat Habibah datang, orang itupun berdiri. Namun belum sempat dia mengatakan apapun Habibah sudah menunjukan rasa tak sukanya.


" Ada apa kamu kesini mas? Aku tak merasa mengundangmu datang kerumah ini, jadi ada urusan apa kamu datang kemari?" tanya Habibah dingin, bahkan rasa dinginnya sangat menusuk dihati. Terlebih lagi Habibah tak menatapnya sama sekali, itu menambah kecanggungan pada tamu yang tak diundang itu.


" Aku datang kesini ingin bertemu dan bicara denganmu. Aku juga ingin melihat anakku.."


" Sayang.. Kalian masuk dulu ya, Tante ada tamu sebentar.." ucap Habibah pada Nur memberi isyarat agar anak itu membawa Zain bersamanya kedalam rumah. Sementara Habibah mau tak mau harus menghadapi ayah dari anaknya itu dulu.


" Sekarang kamu sudah bertemu dan bicara dengan saya juga sudah melihat anak yang kamu akui sebagai anakmu, jadi bisakah kamu pergi sekarang? Saya lelah, saya mau istirahat.." Habibah mengucapkan semua kata-kata itu tanpa melihat sama sekali kearah orang yang dimaksud.


" Habibah... tolonglah, aku perlu berbicara denganmu tentang kita.."


" Tentang kita..? Tentang apa itu? Saya gak merasa ada sesuatu yang perlu kita bicarakan, karena memang kita gak ada urusan apapun." Habibah menyela perkataan Qodir yang belum sempat diselesaikan.


" Aku ingin kita rujuk, demi anak kita Bibah. Dia.."


" Demi anak kita..!? Anak yang mana? Apa kamu gak salah bicara? Sejak kapan dia jadi anakmu? Apa pernah kamu sentuh dia sejak dia lahir? Apa kamu perduli padanya sejak dia lahir? Apa kamu pernah memikirkan dia saat kamu pergi meninggalkan dia? Apa kamu pernah perduli dia hidup atau mati? Apa yang sudah kamu lakukan untuknya selama dia lahir didunia ini? GAK ADA..!!! Jadi atas dasar apa dia bisa kamu sebut sebagai anakmu? Dia hanya anak biologismu saja, tak lebih dari itu.. Dan kenapa baru sekarang kamu datang? Dimana dia orang yang sangat kamu cintai sampai kamu bisa meninggalkan kami hanya untuk dia bahkan kamu rela menyakiti hati kedua orang tuamu hanya untuk dia. Lalu kenapa kamu datang sekarang? Apa kau fikir saya sebodoh itu, yang akan luluh hanya dengan kamu mengatakan " demi anak kita" lalu saya akan menerimanya dan melupakan semuanya? Kamu terlalu naif mas, kamu salah orang." Habibah benar-benar kesal dengan tujuan kedatangan Qodir kerumahnya.


" Sudahlah mas.. Gak ada gunanya kamu bahas soal masa lalu. Saya hidup bukan untuk masa lalu, tapi masa depan mas. Jadi jangan mengharap apapun pada saya." potongnya lagi.


" Kalau benar yang kamu bilang, kamu gak mau hidup untuk masa lalu. Kenapa kamu gak kasih aku kesempatan untuk kita bisa kembali seperti dulu?" tanya Qodir.


" Seperti dulu? Memangnya dulu kita seperti apa mas?" tanya Habibah, dan kali ini dia berbalik berhadapan langsung dengan Qodir bdan menatap tajam kearah mata Qodir. Qodir yang mendapat tatapan setajam itu dari mantan istrinya yang bahkan dulu saat mereka masih jadi suami istri tak pernah dilakukan oleh Habibah padanya jadi merinding dibuatnya. Qodir benar-benar bisa melihat kemarahan didalam tatapan mata Habibah.


" Sudahlah mas.. Saya mau istirahat dan sebentar lagi juga masuk shalat Dzuhur." Habibah meninggalkan Qodir yang masih tertegun ditempatnya berdiri. Setelah beberapa saat, Qodirpun pergi meninggalkan rumah orang tua Habibah.


" Tante.. siapa orang itu?" tanya Nur setelah Habibah berada didalam kamarnya dan bersiap untuk mandi.

__ADS_1


" Itu ayahnya Zain.." jawab Habibah jujur.


" Kenapa gak masuk?" tanyanya lagi.


" Dia gak tinggal disini sayang.. Sudah ya, tante mau mandi dulu, mau sholat.." Habibah mencubit gemas kedua pipi Nur dan mengelus kepalanya sebentar, lalu meninggalkannya untuk membersihkan diri kemudian shalat. Nur kecil hanya bengong, dia sama sekali tak mengerti mengapa ayahnya Zain tak tinggal bersama mereka.


Setelah shalat, Habibah menyuapi Zain makan siang. Nur yang melihat hal itu, terus memperhatikan nya tanpa menyentuh makanan yang ada dihadapannya. Setelah beberapa saat,. Habibahpun menyadari jika diperhatikan oleh Nur.


" Ada apa sayang? Apakah kamu tak suka dengan makanannya? " tanya Habibah.


" Engg..enggak kok Tante.. cuma,.. bisa gak tante suapi aku juga?" kata Nur sedikit ragu-ragu. Habibah tersenyum mendengar pertanyaan itu.


" Baiklah sayang.. mari sini, tante suapi. Tapi janji harus di habiskan makannya ya..?" kata Habibah sambil mengambil piring dihadapan Nur dan meminta Nur pindah duduk di sampingnya. Nur sangat senang karena ternyata Habibah mau mengabulkan permintaannya.


Ternyata Tante Nur mau nyuapin aku. Ternyata Tante Nur selain cantik juga baik, benar-benar baik. Senangnya kalau aku punya mama seperti tante Nur. Kalau aku panggil dia mama, kira-kira dia marah gak ya?


Nur terus memperhatikan wajah Habibah tanpa memalingkannya pada yang lain. Dona dan ibunya yang melihat hal itu tentu sedikit heran, sebab dia hanya anak kecil dari seorang pria dari masa lalu Habibah. Tapi sikapnya bisa sedekat dan semanja itu pada Habibah.


" Bibah, untuk apa tadi Qodir datang kesini?" tanya ibunya tiba-tiba.


" Biasa ma, alasan klasik. Dia minta kesempatan untuk kembali sama Bibah, tapi Bibah gak akan bisa memberikannya. Bibah sudah memaafkannya tapi bukan berarti Bibah akan mau untuk kembali, apalagi hanya dengan alasan demi anak. Anak Bibah buktinya baik-baik saja selama ini, jadi untuk apa mau jadikan anak sebagai alasannya?" jawab Habibah menjelaskan.


" Dasar manusia gak tau malu.." celetuk Dona.


" Memangnya kakak dianggap apa sama dia..!? Terminal.!? Yang bisa didatangi dan ditinggalkan sesuka hatinya..?!" lanjut Dona menggerutu, dia merasa jengkel mendengar mantan kakak iparnya itu sesuka hatinya minta kembali.


" Sudahlah.. gak usah bahas dia lagi.. jangan sampai ayah tau hal ini." tutup Habibah sambil memberikan bekas makan Zain dan Nur. Setelah selesai, Habibah segera membawa Zain dan Nur untuk tidur siang. Habibah benar-benar memperlakukan Nur sama seperti memperlakukan Zain. Dan itu membuat Nur semakin nyaman dan tak mau jauh dari Habibah. Bahkan tidur siang pun, Habibah terpaksa berada ditengah-tengah dari kedua anak manis itu. Keduanya memeluk tubuh Habibah yang memang mungil, sehingga anak sekecil mereka pun akan nyaman untuk memeluknya. Dan akhirnya bukan hanya kedua anak itu yang tidur, Habibahpun ikut tertidur juga karena memang dia kelelahan. Dan mereka bertiga sama-sama memasuki alam mimpi indah mereka.

__ADS_1


***


jangan lupa jempol, komen dan votenya ya untuk author.. Biar author nya tambah chemungut..🥰😢


__ADS_2