Perjalanan Cinta Habibah..

Perjalanan Cinta Habibah..
Sekolah Baru


__ADS_3

Sejak kejadian pagi itu, hari-hari Alvian terasa jadi indah. Senyumnya selalu menghiasi wajah tampannya. Ririn yang menyadari ada yang aneh dengan sikap Alvian pun akhirnya memberanikan diri untuk bertanya.


" Mas Alvian kayaknya sejak datang bahagia banget ya? Ada apa sih mas? Lagi jatuh cinta ya?" tanyanya penuh dengan penasaran.


" Mau tau aja, lagian ngapain kamu tanya gitu mau tau aja urusan orang. " jawab Alvian kurang suka dengan sikap Ririn yang selalu ingin tau urusannya.


" Ih mas Alvian ini, kita kan udah kenal lama mas dan aku pasti tau lah kalau ada yang aneh sama mas. Termasuk beberapa hari ini, mas kelihatan gembira terus padahal mas kan belum sehat bener tapi wajah mas itu kayak orang yang gak lagi sakit Taulah mas?" jawab Ririn dengan wajah yang kesal karena mendengar jawaban dari Alvian yang seolah menjadikan dia orang asing. Karena mereka memang berteman sudah cukup lama, tepatnya sejak Ririn bekerja dirumah itu.


"Oh iya mas, udah kenalan belum sama teman baru ku itu? Dia cantik ya mas, cuma sayang agak susah di ajak ngobrol. Lumayan pendiam dia, kadang aku suka kesel kalau dia diajak ngobrol suka gak jawab. Kayak radio butut gitu aku jadinya. Apa dia gak bosan ya begitu?" keluh Ririn akhirnya. Ririn belum tau kalau Alvian dan Habibah sudah saling mengenal. Karena gadis itu sendiri selalu berusaha menghindari untuk berpapasan dengan Alvian. Alvian sebenarnya merasakan hal itu, hanya saja dia tak ingin buru-buru untuk bisa dekat dengan gadis itu. Masih banyak waktu untuk bisa dekat dengan dia dan dapatkan hatinya. Yakinnya dalam hati.


Hari itu ada hari pendaftaran sekolah baru Habibah. Meylan yang mengantarnya pergi mendaftar di sebuah sekolah kejuruan swasta yang tak jauh dari rumahnya. Karena Habibah tak ingin sekolah yang jauh-jauh supaya bisa pergi dan pulang sendiri. Dia memilih jurusan Manajemen Bisnis. Setelah semua persyaratan sudah diserahkan kepihak sekolah,. merekapun keluar dari area sekolah.


" Sebelum pulang kita belanja dulu ya, sambil nyari keperluan sekolahmu." ajak Meylan.


" Boleh..." jawab Habibah singkat.

__ADS_1


" Kamu kok jarang aku dengar bicara, apa kamu gak suka tinggal di rumah ku, apa kamu gak betah?" tanya Meylan penasaran karena dia jarang melihat gadis itu ngobrol seperti Ririn yang memang suka ngobrol.


" Gak ko Bu, Saya suka tinggal dan kerja dirumah ibu. Kalau soal ngobrol, karena saya gak tau apa yang mau saya obrolkan Bu." jawabnya jujur.


" Kamu tau gak kalau kamu itu cantik, cuma sayang kamu terlalu dingin untuk ukuran seorang gadis. Gak baik loh begitu, kamu harus lebih banyak interaksi dengan orang di sekitarmu dan banyakin senyum. Kamu kaya susah banget mau senyum. Padahal kalau kamu senyum itu kelihatan sangat manis loh. Kan sayang kalau cuma kamu tutupi kecantikan dan ke manisan kamu dengan sikap dingin juga cuek mu itu. Kamu itu seorang gadis, yang sebentar lagi dewasa, kalau sikap kamu terus begini nanti kamu gak dapat jodoh loh. Jadi kamu mulai sekarang usahakan untuk rubah sikap kamu itu. Kamu lihat deh Ririn, walau umurnya hanya beda satu tahun sama kamu tapi perbedaan nya jadi terlalu jauh sama kamu. Bukan aku mau beda-bedakan kamu dengan Ririn, tapi kamu bisa belajar banyak dari dia supaya kamu jauh lebih hangat pada orang lain." ucap Meylan panjang lebar.


Habibah tak bisa menjawab apapun dan hanya mendengarkan apa yang dikatakan oleh Meylan itu dengan helaan nafas yang cukup berat. Bukan tak ingin bisa seperti Ririn, hanya saja dia tak pernah tau harus bagaimana. Bicara apa dan tertawa atau tersenyum karena apa. Dia sulit menemukan hal yang patut di bicarakan atau yang lucu baginya agar dia bisa tertawa ataupun hanya tersenyum. Karena dia sering merasa heran melihat orang mentertawakan sesuatu tapi menurutnya itu tak lucu sama sekali.


" Tuh kan, kamu ini gimana sih. Masih gak jawab sepatah katapun. Aku ngomong udah panjang lebar gitu kamu faham gak sih" gregetan melihat respon gadis itu yang hanya diam tak berkata sepatah katapun.


" Ya udah deh,. bingung juga aku mau ngomongnya gimana sama kamu. Pelan-pelan aja kalau gitu kita bahasnya. Cuma usahakan kamu cari topik apakah gitu untuk bisa ngobrol dengan seseorang. Seperti tentang kamu saat dikampung, saat kamu kecil, apa saja yang kamu mainkan saat kamu kecil atau kenangan- kenangan kamu yang indah atau yang berkesan, atau impian masa depan kamu itu apa. Kan banyak yang bisa di bicarakan."ucapnya dengan lembut. Dia berharap gadis yang duduk disampingnya itu bisa mulai membuka diri pada orang lain yang ada di sekitarnya.


Semua perlengkapan sekolahnya sudah dibeli semua, lalu mereka pulang setelah mendapatkan apa yang mereka butuhkan. Sambil menunggu kabar dari sekolah baru Habibah yang pastinya dalam waktu dekat harus mendaftar ulang dan mengurus soal beasiswa nya yang dia dapat saat kelulusan juga menanti masa orientasi siswa baru di sekolahnya. Susah gak ya sekolah dikota? Teman-temannya nanti baik apa gak ya? Kira-kira gurunya galak-galak gak ya? Sangat banyak pertanyaan yang tiba-tiba muncul di kepalanya.


Alvian pun sudah sehat seperti sediakala. Dia selalu berusaha mencari cara supaya bisa ngobrol dengan gadis yang selalu membuat dia penasaran itu. Walau sering di cuekin atau bahkan bisa di bilang kalau gadis itu tak menganggap kehadirannya sama sekali.

__ADS_1


"Kamu sudah siap masuk sekolah baru?" tanyanya sambil menghampiri Habibah yang sedang memberi pupuk pada bunga-bunga anggrek di halaman rumah.


" Iya, emang kenapa harus gak siap?" dia malah balik bertanya pada Alvian, yang ditanya tentu bingung dong mau jawab apa. Karena harapannya jawaban gadis itu lebih panjang dan santai bukan yang singkat dan kaku begitu.


" Ya gak apa-apa sih, cuma pengen tau aja bagaimana kesiapan kamu untuk masuk ke sekolah baru kamu. Dan aku gak nyangka loh kalau kamu bisa dapat beasiswa dari pemerintah juga dari perusahaan. Ternyata kamu hebat ya.." ujar Alvian yang tak bisa menutupi kekagumannya pada gadis itu.


" Saya juga gak tau kok kalau saya dapat beasiswa karena saya gak pernah merasa mengajukan diri untuk dapat beasiswa." terang nya sambil tetap dengan aktivitas tanpa melihat pada orang yang diajak bicara.


" Kamu kenapa masih mau kerja begini sih, kan kamu udah dapat beasiswa. Masa itu gak cukup buat kebutuhan sekolah kamu?" tanya Alvian lagi yang masih dengan rasa penasaran nya.


" Saya ingin bisa hidup mandiri, saya gak mau merepotkan keluarga saya. Saya ingin menabung untuk masa depan saya dari hasil saya sendiri bukan dari pemberian orang tua. Karena saudara-saudara saya masih ada tiga orang lagi yang harus di biayai oleh orang tua saya." jawabnya menjelaskan, setelah itu dia berlalu meninggalkan Alvian yang masih termangu mendengar penuturan gadis itu. Dia tak pernah menyangka gadis se usia itu mampu berfikir sejauh itu dan bisa semandiri itu. Ah Tuhan, aku semakin penasaran dan kagum padanya. Bagaimana bisa menghentikan perasaan ku ini Tuhan... Gumamnya dalam hati sambil menatap punggung gadis itu hingga menghilang di balik pintu.


***


kenapa cowok itu lebih suka sama cewek yang susah didekati ya🤔🤔

__ADS_1


__ADS_2