
Nuraini benar-benar belum merasa puas untuk mengganggu hidup Habibah. Dia sungguh tak merasa tenang jika melihat hidup Habiba baik-baik saja. Rasa dengki benar-benar telah menguasai hati dan fikirannya.
Sore itu Habibah sedang sibuk didapur memasak untuk makan malam mereka. Sedangkan Zain sedang asyik bermain permainan Lego dikamarnya, dan Nuraini yang melihat Zain bermain sendiri dikamarnya tiba-tiba menghampirinya.
" Halo Zain..! Main apa ini?" tanyanya sembari ikut duduk disampingnya.
" Ini namanya Lego, masa Ua gak tau?" sahut Zain sambil terus menyusun legonya.
" Kamu buat apa ini?"
" Buat rumah, nanti kalau Zain sudah besar mau buat rumah begini buat Uma. Baguskan Ua?" wajah polos Zain terlihat bangga saat mengatakannya.
" Iya, bagus.. Zain kamu gak takut kalau punya papa baru?" tanya Nuraini tiba-tiba.
" Papa baru?" jawabnya tak mengerti.
" Sebentar lagi kan mama kamu mau nikah sama orang lain dan kamu nanti punya papa baru. Itu namanya papa tiri, jadi kamu harus hati-hati ya sama papa tirimu nanti. Biasanya papa tiri itu jahat lho, suka pukul dan cubit anak tiri. Jadi kamu nanti jangan terlalu baik sama papa tirimu ya, Ua aja takut sama papa tiri masa kamu gak takut..."
" Mba...!!" tiba-tiba Habibah masuk kedalam kamarnya yang membuat Nuraini tak melanjutkan kalimatnya. Zain hanya melongo karena belum mengerti apa yang dimaksud oleh Nuraini. Tapi dia faham apa yang dimaksud dengan papa jahat.
" Mba Aini jangan keterlaluan deh mba.. Saya berusaha untuk diam selama ini walaupun mba mau bagaimana pada saya. Tapi tolong jangan ganggu Zain, dia gak ngerti apa-apa mba. Bagaimana bisa mba seperti ini pada anak sekecil ini?"
__ADS_1
" Memangnya letak kesalahannya dimana? Aku kan cuma mau kasih tau dia aja, kalau biasanya yang namanya ibu tiri atau ayah tiri itu jahat. Dan aku hanya mengingatkan dia supaya dia jangan sampai mengalami hal itu. Kalau kamu gak terima dengan niat baikku ya sudah, aku pergi. Jadi orang itu jangan terlalu curigaan.. Masih syukur aku mau ingatkan masih gak ada rasa terima kasih banget kamu sebagai saudara." Nuraini meninggalkan Habibah dan Zain. Habibah benar-benar marah dengan apa yang telah dilakukan oleh kakak iparnya saat ini.
Nuraini sendiri melangkahkan kakinya dengan gembiranya. Dia sangat senang bisa mulai menghasut anak sekecil Zain. Dia tak ingin melihat Habibah hidup bahagia walaupun nantinya dia akan menikah dengan Purnomo. Karena dia tak perduli dengan siapa Habibah akan menikah, yang dia perduli adalah Habibah akan hidup menderita.
" Uma.. Apa papa nanti pukul Zain?" tanya Zain saat Habibah membaringkan tubuh mungilnya di tempat tidurnya.
" Gak dong sayang.. Anak Uma kan anak yang Sholeh, mana ada anak Sholeh yang dipukul. Papa kan sayang sama Zain." Habibah mencoba meyakinkan jika siapapun ayahnya tak akan jahat padanya.
" Tapi Ua Eni bilang..."
" Shtt.. Dengar ya sayang.. Papa akan sayang sama Zain seperti Uma sayang sama Zain. Apalagi Zain anak Uma yang Sholeh, mana mungkin dipukul. Kalau anak sesholeh Zain dipukul nanti Allah marah, papa gak akan buat Allah marah. Jadi mustahil papa akan pukul Zain. Sudah sekarang Zain tidur ya.. Mau Uma cerita atau peluk aja?" Habibah mencoba menghibur hati putra kecilnya itu yang terlihat gelisah akan perkataan dari Nuraini sore tadi.
" Oke. Baca doa dulu ya, tangannya bagaimana kalau doa? " Habibah membimbing Zain untuk membaca doa sebelum tidur dengan perlahan. Lalu dia memeluk Zain sambil mengelus-elus kepalanya dengan menggunakan salah satu tangannya yang lain. Habibah menatap lekat wajah anaknya dengan banyaknya kelebatan pertanyaan dari banyaknya permasalahan yang dihadapinya.
Habibah benar-benar tak mengerti bagaimana bisa kakak iparnya itu mengatakan hal yang mengerikan semacam itu pada anak usia 4 tahun. Jika saja tadi Habibah tak masuk ke kamarnya, entah apa lagi yang akan dikatakan oleh kakak iparnya itu pada Zain.
Setelah Zain tidur, Habibah keluar dari kamarnya menuju ruang keluarga. Disana ada ayahnya dan kakaknya Yusuf.
" Kak Yusuf, dimana mba Aini?" tanyanya tanpa basa-basi.
" Ada dikamarnya, kenapa? Apa ada perlu dengannya? Kamu bisa langsung saja ke kamarnya." Yusuf menyahuti sambil tatap menatap layar TV.
__ADS_1
" Gak usah, kalau gitu saya mau minta tolong sama kakak. Tolong kasih tau mba Aini, jangan pernah lagi dia mengatakan hal-hal seperti sore tadi pada Zain. Karena kalau hanya Bibah saja yang dia ganggu, Bibah akan tetap diam. Tapi kalau dia mulai mengganggu Zain, maka Bibah gak akan bisa diam lagi. Hari ini Bibah masih diam karena Bibah masih menghormati kakak sebagai suaminya. Tapi kalau lain kali, maka akan berbeda, mungkin Bibah akan melupakan kalau dia itu istri dari kakak." Habibah mengatakan peringatannya dengan serius. Dan apa yang dikatakan oleh Habibah membuat Yusuf juga ayahnya mengerutkan keningnya.
" Apa lagi yang dikatakan dia pada Zain?" tanya ayahnya sebelum Yusuf sempat mengatakan sesuatu.
" Dia mencoba menghasut Zain dengan mengatakan jika nanti jika mas Purnomo jadi papa tirinya, maka dia akan sering dipukul dan disakiti oleh mas Pur. Maksudnya apa coba yah dia mengatakan hal semacam itu pada anak sekecil Zain? Apakah pantas dia mengatakan hal-hal seperti itu ? Apa tujuan dia sebenarnya?"
" Apa? Kamu kata siapa?" tanya Yusuf terkejut.
" Bukan kata siapa-siapa, karena Bibah dengar dengan telinga Bibah sendiri dan melihatnya dengan mata kepala sendiri. Jadi ini bukan gosip apalagi fitnah. Karena tak ada perantara antara Bibah dengan kejadian sore tadi." Habibah terlihat menahan amarahnya saat mengatakan kejadian sore tadi itu.
" Apa sih mau istrimu itu suf? Sudahlah dia mengganggu adikmu tanpa ada bosan-bosannya dan sekarang malah anak sekecil Zain pun tak lepas dari mata jahatnya itu. Ayah benar-benar kesal dengan tingkah istrimu itu. Kamu sebagai kepala rumah tangga harusnya tegas pada istrimu. Masa kamu kalah pamor dan wibawa dari istrimu." ayahnya akhirnya buka suara mengenai tingkah Nuraini yang selalu saja berulah dan membuat marah.
" Iya, nanti aku nasehatin dia. Karena aku juga bingung menghadapi dia yang selalu bertingkah sesuka hatinya begitu. Aku minta maaf pada kalian atas semua prilakunya yang tak menyenangkan. Aku benar-benar malu dengan kelakuan dia yang suka berulah tanpa perduli kondisi dan tempat. Nanti aku akan coba untuk bicara dengan dia." Yusuf terlihat sangat tertekan dengan banyaknya Maslah yang dibuat oleh istrinya.
" Sebenarnya istrimu itu maunya apa sih suf? Kamu sebagai suaminya gak ada harga dirinya sama sekali. Istri macam apa yang seperti itu, gak bisa menjaga Marwah sebagai seorang istri juga suaminya. Bahkan dia pun tak perduli pada nama baik ku sebagai mertuanya. Aku sungguh-sungguh menyesal telah merestui pernikahanmu dengan perempuan semacam itu. Bagaimana bisa kamu dapatkan perempuan yang gak ada akhlak begitu. Jangan sampai ayah jadi benci padanya, jadi jangan biarkan dia terus-terusan berulah yang diluar batas lagi. Ingat kata-kata ayah ini, karena ayah gak main-main dengan apa yang ayah ucapkan." pak Rukmana memberi ultimatum yang cukup keras pada Yusuf, lalu meninggalkan Yusuf yang hanya bisa tertunduk lesu.
" Maafkan Bibah kak, Bibah tak bermaksud untuk mengadu macam-macam. Hanya saja Bibah gak bisa kalau yang di incarnya adalah Zain. Karena Zain tak bersalah apapun pada mba Aini dan bahkan belum mengerti apapun permasalahan orang dewasa. Jadi Bibah tak akan tinggal diam jika dia mau menghasutnya dengan fikiran-fikiran yang salah." ucap Habibah sebelum diapun meninggalkan Yusuf seorang diri.
***
Realitanya banyak orang dewasa punya masalah bukan introspeksi diri, malah suka menyalahkan orang lain dan bahkan suka melibatkan orang yang tak bersalah pula. 😪😪😪
__ADS_1