
Setelah dokter meninggalkan ruangan, suasana kembali sunyi dan mencekam. Semua bergelut dengan fikiran masing-masing. Hingga terdengar suara adzan dari aplikasi handphone Habibah yang menyadarkan semua yang ada dalam ruangan itu.
" Sudah waktunya kita shalat Dzuhur, ayo kita shalat dulu agar hati iya bisa lebih tenang dan kita doakan agar mas Qodir lekas sadar. Ayo ma, jangan terlalu difikirkan. Nanti mama bisa sakit kalau mama seperti ini. Baik kita banyak-banyak berdoa, apalagi dia seorang ibu itu sangat mustajab kan ma? Setelah kita shalat nanti kita kembali lagi, oke?" Habibah mencoba menghibur hati ibu mertuanya.
" Bibah... Apakah selama ini mama terlalu keras padanya? Apakah sikap mama itu salah yang telah mengabaikannya? Kalau saja aku tak mengabaikannya, mungkin dia tak akan seperti sekarang ini kan?" tanyanya sendu, terlihat seksi jika ia menyalahkan dirinya sendiri.
" Itu semua bukan kesalahan mama, itu sudah takdirnya seperti ini. Ini sudah digariskan oleh Allah jauh sebelum dia dilahirkan kedunia ini ma. Jadi jangan pernah lagi menyalahkan diri mama karena hal ini. Ayo.. Sebaiknya sekarang kita shalat dulu, kita doakan untuk kesembuhannya bersama-sama." Habibah terus membujuk ibu mertuanya yang terlihat dalam kondisi yang tak baik. Di papahnya ibu Masurai menuju musholla yang ada di rumah sakit itu. Dan mereka pun melakukan shalat Dzuhur berjamaah dengan posisi imam oleh Purnomo. Di akhir shalat, mereka berdoa bersama serta tak lupa mendoakan untuk kesembuhan Qodir. Air mata ibu Masurai tak dapat di tahan, terus membasahi pipinya hingga membasahi mukena yang tengah dikenakannya.
Ya Allah..
Bangunkanlah anakku.
Aku akan menerima pernikahan mereka agar dia bisa kembali kerumah dan aku bisa merawat anakku dengan baik.
Ya Allah..
__ADS_1
Ampuni ke khilafanku yang telah mengabaikannya selama 4 tahun ini. Aku janji, aku akan menerima semua keputusannya dalam kehidupannya. Asalkan dia bangun dan bisa sembuh.
Aku akan perbaiki semua kesalahanku di masa lalu. Aku maafkan semua kesalahannya dimasa lalu asal kau sadarkan dia, ya Allah..!
Setelah shalat, selain purnomo mereka kembali ke ruang perawatan Qodir. Purnomo pergi mencari makanan untuk makan siang mereka. Saat mereka memasuki ruangan, terlihat Lina duduk di samping tempat tidur pasien dengan tangan menggenggam tangan Qodir.
" Mna Lina,. sebaiknya pergi membersihkan diri terlebih dulu dan shalat. Nanti kita makan siang bersama-sama. Ada kami yang akan menjaganya disini. Jadi sebaiknya mba Lina merawat diri mba juga. Jangan sampai mba Lina sakit karena terlalu mengkhawatirkan mas Qodir. Ingat mba, tubuh mba juga punya hak untuk dirawat dan diperhatikan. Jadi jangan menyakiti diri mba dengan terus seperti itu." pinta Habibah pada Lina, yang memang kondisinya terlihat sangat menyedihkan. Wajah cantik dan bersih itu sudah terlihat sangat muram dan layu. Dengan berat hati Lina meninggalkan Qodir dan menuruti apa yang dikatakan oleh Habibah. Dia benar-benar merasa malu pada Habibah, orang yang sangat dia benci selama ini justru masih mau memperdulikannya. Bahkan setelah kesalahan yang baru saja dia lakukan, Habibah tak memarahi dan memukulnya. Tapi justru memperlihatkan rasa empatinya yang besar padanya.
Pantas saja kamu bisa mendapatkan hati semua orang. Kamu memang benar-benar pantas mendapatkannya. Hanya karena rasa dengki dan iriku telah menutup mata hatiku dari melihat semua kebaikan dan kemurnian hatimu. Bahkan aku telah menyebabkan suamiku dalam kondisi yang seperti ini hanya demi memuaskan keegoisanku.
Air mata Lina terus membasahi pipinya bila teringat semua yang telah dilakukannya selama ini. Dan kini dia benar-benar mengerti jika ketulusan yang diberikan oleh Habibah memang cukup membuat suaminya menyesali semua perbuatannya pada Habibah. Dia menyadari jika dia tak bisa dibandingkan sama sekali dengan mantan istrinya itu. Wanita yang selama ini dia hina dan caci maki, kini malah berempati padanya dan masih memikirkan tentang kebaikan untuknya.
Setelah makan siang usai, Habibah merapikan bekas makan mereka dan mengumpulkan sampahnya. Setelah semuanya rapi, Habibah beranjak dari tempat duduknya dan pergi keluar ruangan untuk membuang sampah. Lina yang melihat Habibah keluar, dia mengikutinya. Setelah sampah dibuang, Habibah berniat untuk kembali namun ditahan oleh Lina.
" Habibah.. Tunggu..!" Lina menahan Habibah sudah melangkahkan kakinya beberapa langkah dari tempatnya membuang sampah.
__ADS_1
" Mba Lina? Ada mba?" tanya Habibah dengan memperhatikan Lina yang datang menghampirinya. Tiba-tiba Lina berlutut dihadapan Habibah yang tentu membuat Habibah terkejut dan spontan menahan tubuh Lina dari berlutut padanya.
" Ada apa mba?" tanya Habibah tak mengerti dengan sikap Lina yang tiba-tiba berlutut padanya.
" Aku mohon padamu, maafkan aku. Walaupun mungkin aku tak pantas untuk dimaafkan dengan semua yang telah aku lakukan padamu. Tapi aku benar-benar minta maaf padamu dengan sepenuh hatiku. Aku tau, selama ini kesalahanku tak termaafkan. Tapi aku sekarang benar-benar menyadari semua kesalahanku. Hanya demi memenuhi keegoisanku karena rasa dengki dan iriku padamu, aku telah menyakiti banyak hati. Dan kini suamiku, dia seperti ini karena kesalahanku. Akulah yang membuatnya dalam kondisi seperti sekarang. Ini semua salahku..." Lina menangis tersedu-sedu dihadapan Habibah. Dengan sepenuh hati, dipeluknya Lina dengan penuh kehangatan. Dibelainya rambut Lina dengan lembut. Perlakuannya itu membuat air mata Lina semakin deras mengalir.
" Insya Allah saya sudah maafkan mba Lina, saya juga minta maaf pada mba kalau saya sudah membuat kesalahan yang membuat mba Lina bisa semarah itu pada saya. Mulai sekarang, lupakan masa lalu. Kita bisa hidup berdamai. Dan soal Zain... Saya gak akan pernah menghalangi kalian untuk bertemu dengan Zain. Bahkan jika Zain mau, dia boleh main kerumah mba. Tapi tolong jangan berbuat hal-hal yang hanya akan menyakiti hati kita." dengan lembut Habibah mengatakan semua kalimat-kalimat yang semakin menyayat hati Lina. Dia yang dari awal melakukan kesalahan pada Habibah, tapi kini Habibahpun meminta maaf padanya dan bahkan mengajaknya hidup berdamai. Dia semakin membenamkan wajahnya dipundak Habibah. Entah mengapa, dia merasa hatinya menjadi lebih tenang. Walaupun awalnya dia takut untuk berhadapan dengan wanita ini, tapi yang ada hanya rasa malu,. bahagia dan tenang. Kedamaian benar-benar telah diberikan oleh Habibah padanya.
" Terima kasih banyak.. Aku tak bisa mengatakan apapun lagi padamu. Aku malu padamu, tapi kamu justru membuatku merasa tenang sekarang. Semoga kamu bahagia dengan rumah tanggamu hingga maut memisahkan kalian. Karena kamu layak mendapatkannya. Sekali lagi maaf dan terima kasih banyak.." Lina melepaskan pelukannya. Dia menundukan kepala dan membungkukkan tubuhnya sedikit sebagai tanda ketulusannya dalam meminta maaf.
" Sudahlah.. Ayo sekarang kita naik. Jangan sampai membuat yang lain merasa khawatir karena kita pergi terlalu lama." ajak Habibah sambil menggandeng tangan Lina.
Lina merasa takjub dengan sikap yang dimiliki Habibah. Dia adalah wanita yang dulu terlihat sangat dingin dan cuek, ternyata bisa menjadi wanita yang begitu lembut dan manis seperti itu.
Bagaimana dulu aku bisa buta dalam menilaimu.. Benar kata mama, Taka akan ada menantu yang seperti dirimu. Pantas saja mama tak bisa melihatku sama sekali. Karena aku memang tak ada apa-apanya dibandingkan dengan dirimu. Hatimu itu terbuat dari apa? Sampai kamu bisa seperti ini.
__ADS_1
***
Batu jangan dilawan dengan batu, karena batu dilawan dengan hasilnya hanya kehancuran. Cobalah menjadi tetesan air, karena tetesan air yang Istiqomah bisa melubangi batu tanpa harus menghancurkannya.