
Tiga hari lagi hari raya Natal, semua berkumpul di depan kantor divisi untuk mendengar sebuah pengumuman. Bahwa dalam lima hari mereka yang beragama Nasrani akan diliburkan. Dan bagi yang Non Nasrani akan libur selam tiga hari, satu hari sebelum Hari raya Natal sampai satu hari setelah hari raya Natal. Dan hari itu mereka yang sudah bekerja minimal enam bulan mendapatkan tunjangan THN. Hari itu kantor divisi sangat sibuk. Selain pembagian THN mereka juga membagikan gaji karyawan dihari yang sama. Kesibukan mereka benar-benar menguras emosi. Disaat sedang sibuk-sibuknya, tiba-tiba saja mata Zelly melihat ada yang lain dari Habibah. Tapi dia tak tau apa yang berbeda dengan bawahannya itu, diapun berusaha memperhatikan perubahan apa yang ada pada gadis itu. Disaat semua pembagian THN dan gaji karyawan selesai di bagikan. Seperti biasa gadis itu bergegas mengambil air wudhu yang sekarang sudah disediakan disamping kantor divisi oleh Zelly, setelah berwudhu diapun naik kembali ke dalam kantor dan seperti biasa dia membersihkan sudut ruangan itu dan shalat disana. Setelah selesai shalat dan merapikannya kembali diapun menuju meja kerja Zelly.
" Punya saya mana pak?" tanyanya tanpa basa-basi dan mengulurkan tangannya meminta gajinya.
" Kamu tu ya gak sopan, coba basa-basi dulu. Lagipula aku gak akan kurangi gaji kamu, takut betul kalau aku potong. Kalaupun aku potong itu pantas kamu terima, karena kamu satu-satunya karyawan ku yang berani melawan padaku." kata Zelly tak menghiraukan. Namun tiba-tiba matanya tertuju pada sebuah benda yang melingkar di jari manis gadis itu.
" Tumben kamu pakai cincin? Kukira kamu gak suka pakai perhiasan, ternyata kamu masih normal juga ya Nur." ledek Zelly seketika itu juga.
" Ya terpaksa dipakailah.. kalau gak di pakai nanti bikin orang salah faham lagi." balasnya dengan menunjukan cincin yang dipakainya itu.
" Maksudnya apa bikin salah faham?" tanya Zelly tak kuasa menahan rasa penasarannya.
" Ya kalau cincin tunangan gak mungkin harus di simpankan pak, kalau saya simpan nanti disangka orang kalau saya masih single. Bukannya itu buat orang lain salah faham namanya?" ucapnya dengan sedikit menyindir atasannya itu.
Tanpa di duga ekspresi wajah Zelly langsung berubah, dia sangat terkejut dengan jawaban gadis yang ada di depannya saat ini.
" Kapan kamu tunangan? Kok gak bilang-bilang?" Tanya Zelly dengan nada yang menunjukan ada rasa keberatan didalamnya.
" Memangnya harus bilang dulu ya sama bapak kalau saya mau tunangan? Bapak kan bukan orang tua saya ngapain juga saya kasih tau bapak? Lagi pula gak ada hubungannya juga dengan bapak, saya mau tunangan atau nikah itu hak saya jadi terserah saya dong pak, kenapa bapak mesti keberatan.?" jawaban gadis itu begitu menohok. Zelly sendiri heran kenapa juga dia harus bereaksi begitu, itu hak nya kenapa juga dia harus marah karena tak tau bila gadis itu telah bertunangan. Ya ampun, aku kenapa lagi... Malu-maluin ... Kenapa juga aku harus bicara omong kosong begitu? Gak mungkin kan kalau aku cemburu? gerutunya dalam hati. Entah kenapa dia merasa sangat kesal saat itu, dia mengeluarkan amplop dan menyerahkannya pada Habibah dengan sedikit membanting amplop itu di atas meja.
__ADS_1
" itu gaji kamu, ambillah dan cepat kamu pulang.." katanya dengan ketusnya.
" Ih.. Biasa ajalah pak.. kenapa juga harus pakai marah sih? Lagi pula ini hak saya dari perusahaan bukan dari bapak, kenapa bapak gak ikhlas gitu ngasih nya. " balas Habibah sambil mengambil amplop itu dengan sedikit kasar juga. Lalu dia turun dan pulang. Sementara Zelly masih duduk di kursinya, dia memikirkan sikapnya yang akhir-akhir ini dirasa itu tak wajar untuk dirinya.
Ah... ada apa dengan ku? Kenapa aku jadi seperti ini? Ada apa dengan gadis itu? Semua yang terlihat dari gadis itu seakan semua nampak menarik bagiku. Aku tertarik dengan sikap beraninya, aku tertarik dengan cara bicaranya, aku tertarik dengan semua yang dia lakukan.. Aihhh.. Siaaaalll.... Bagaimana bisa aku termakan oleh kata-kata ku sendiri? Aku mengatakan padanya bahwa tak akan ada laki-laki yang mau dengannya tapi justru aku selalu menyukai semua yang dilakukan dan dikatakannya. Ah, Gilaaa... Aku gak mungkin benar-benar jatuh cinta dengan diakan? Dia hanya gadis umur 20 tahun-an dan aku 30 tahun. Masa aku ditaklukkan oleh gadis kecil begitu. Gerutunya kesal hingga tak sadar diapun memukul meja dihadapannya.
" Hai hai hai... Kenapa dengan kawan kita yang satu ini? Kusut sekali wajahmu itu? Sampai meja yang kamu jadikan sasaran, Ada apa heh?" tanya Rudy salah satu Askep yang pernah menginterview Habibah. Yang juga adalah atasan dari Zelly. Hanya sja mereka berasal dari satu kota yang sama.
" Diamlah.. Kau datang kemari ada apa?" tanyanya masih dengan ketus.
" Wuih.. kau makin galak aja. Hai kurangi kegalakanmu itu kalau kau tak ingin para gadis menjauhimu." ledek Rudy sambil tertawa melihat wajah muram temannya itu .
Sepanjang perjalanan menuju Mes yang di sediakan oleh perusahaan, Zelly Tek bisa berhenti memikirkan Habibah. Hal itu benar-benar membuat nya sangat frustasi. Karena dia tau benar bahwa gadis itu tak akan pernah memikirkan dirinya seperti saat ini dia yang tak berhenti memikirkan gadis itu. Setibanya di dalam kamar, Zelly membaringkan tubuh lelahnya. Dan dia merogoh kantong bajunya dan mengeluarkan handphone miliknya. Dia membuka galeri foto, terlihat beberapa foto Habibah yang dia curi saat gadis itu lengah. Bagaimana bisa aku seperti ini, bahkan aku bisa mencuri-curi foto dia saat memotretnya.? Pesona gadis itu sangat kuat, bahkan aku bisa seperti ini di buatnya. Keluhnya sambil menatap satu persatu foto yang ada di ponselnya.
Akhirnya dia membuka kontak dihandphonenya dan mencari nama Habibah, dia memberanikan diri untuk mengirimkan sebuah pesan singkat.
"Assalamu'alaykum.." tulisnya lalu mengirimkannya. Dia menunggu dengan hati harap-harap cemas. Dia balas gak ya? Tanyanya pada diri sendiri sambil terus menatap layar ponselnya, tapi sayang hingga malam pun balasan yang ditunggu tak datang-datang. Betapa kesalnya dia menunggu balasan pesannya yang tak dibalas, akhirnya dia melakukan panggilan telepon pada Habibah.
Tuutt..tuutt..tuutt...
__ADS_1
"Assalamu'alaykum.." sapa suara di seberang sana. Mendengar suara itu, Zelly sangat gembira sampai tak tau mau berkata apa.
" Halo.. Siapa ini?" sapanya lagi karena tak mendengar suara jawaban dari Zelly.
" Berani-beraninya kamu gak save nomorku ya Nur? " serunya pada Habibah. Aduh.. Bodohnya aku, kenapa aku bersikap seperti ini? Aku malah meneriakinya lagi. Makinya pada diri sendiri sambil menepuk keningnya.
" Pak Zelly? Kok bapak punya nomor handphone saya?" tanya gadis itu.
" Aku atasan kamu bagaimana mungkin aku gak punya nomor handphone kamu? Dan kamu? Bisa-bisanya kamu tak menyimpan nomor handphone ku?" ucap Zelly masih dengan nada kesalnya.
" Ya sudah ma'af, tapi ngomong- ngomong ada apa kok bapak tumben telpon saya?" tanya gadis itu akhirnya.
" Gak ada apa-apa, aku cuma mau ngecek aja kalau kamu save nomorku atau gak.Dan ternyata kamu gak save nomorku ya? Sekarang kamu save nomorku ini.!" pintanya yang setengah memerintah.
" Baik pak akan saya simpan. Kalau gak ada perlu lagi saya tutup telponnya. Assalamu'alaykum.." ucap Habibah seraya memutuskan panggilan diponselnya.
Zelly hanya bisa memandangi ponsel dalam genggamannya itu dengan perasaan yang campur aduk. Berani sekali dia menutup panggilanku? Tapi kenapa aku malah berkata-kata omong kosong macam tadi? Seharusnya aku tak mengatakan hal itukan? Memalukan sekali... Zelly menghempaskan handphone nya keatas kasurnya karena kesal dengan sikapnya yang menurutnya sangat memalukan tadi.
***
__ADS_1
bagai kemakan tulah sendiri ya🤭🤭🙏