
" Bang Ze.."
Zelly, Rudy dan Zacky sontak menoleh ke arah suara itu berasal.
" Lagi pada ngapain disini? Masih suka nongkrong kayak dulu rupanya. Tapi bag Ze kok tumben ikut nongkrong? Dulu aja kalau di ajak nongkrong susahnya minta ampun.. Hehehe.." Rudy dan Zacky hanya melongo mendengar selorahan dari seorang wanita yang baru saja menghampiri mereka. Sementara Zelly sendiri memalingkan wajahnya ke arah lain, seolah dia sedang menghindari untuk bersitatap degan wanita itu.
" Yah, kita lagi buang suntuk aja mangkanya kesini. Lagian kami dah lama gak kesini juga." Rudy menyahuti dengan wajah dan nada suara yang super datar.
" Emm... Kok gak pada bawa pasangan? Bukannya kalian sudah ada pasangan?" tanya wanita itu lagi.
" Lagi pengen aja ngebujang .." jawab Rudy asal.
" Oohh... Ya udah, aku kesana dulu bang. Selamat menikmati.." ucapnya sambil tersenyum canggung. Dia sangat merasa tak nyaman dengan sikap yang ditunjukkan dari Rudy, apalagi Zelly yang tak menatapnya sama sekali apalagi mau menjawab perkataannya tadi.
" Kenapa sih kok pada bersikap so cool gitu? Emang ada yang salah ya dengan sapaan perempuan tadi?" celetuk Zacky dengan wajah polos tak berdosa yang sontak saja membuat kedua mata Zelly menatap dengan tatapan yang menghunus tajam sampai ke jantung. Zacky sampai merinding dibuatnya, yang seketika itu dia sangat menyesali pertanyaannya yang dia tau itu adalah pertanyaan yang salah dan tak seharusnya dia tanyakan.
" Sudahlah Zac, gak usah bahas lagi soal perempuan tadi..." Rudy memecah keheningan yang seketika saja mencekam diketiganya.
" Jadi, kita kesini mau ngapain?" tanya Zelly masih dengan wajah datarnya.
" Sialan kau Zell.. Kau yang ajak kita nongkrong sekarang malah tanya kita mau ngapain kesini? Harusnya aku yang tanya bukan malah kau yang tanya.." sahut Rudy sambil mendengus karena kesal dengan Zelly yang seolah-olah dia terpaksa untuk datang ketempat itu.
" Trus, kenapa dari tadi kita gak pesan apapun?" tanyanya lagi
" " Hei Zell, memangnya kau gak ada mulut atau tangan untuk memanggil pramusaji disini dan memesan apa yang mau kamu pesan. Masa gitu aja harus aku sih Zell, aku kira kau sudah berubah sepenuhnya. Tapi ternya masih tetap menyebalkan..!" gerutu Rudy sambil melangkah mencari pramusaji untuk memesan beberapa pesanan untuk mereka.
"Memangnya dia fikir aku power rangers atau Spiderman berubah? Aku masih berubah yang normal bukan macam super Hero." sungut Zelly menanggapi gerutuan Rudy sahabatnya.
Zacky hanya jadi penonton dari kedua orang yang kini sedang bersamanya itu. Karena pada dasarnya dia tak pernah melihat bosnya sekaligus temannya itu bersikap seperti saat ini. Dan dia fikir momen ini sangat langka dan entah kapan dia bisa menyaksikan sisi lain dari kepribadian bosnya itu.
" Kenapa kamu lihat aku dengan tatapanmu yang begitu?" semprot Zelly Sabil mendelikkan matanya yang tajam.
" Ih si bos nih kayak cewek yang mau PMS aja.. Emosian mulu, masa liat aja kena semprot sih bos? Terus nanti kalau aku gak mau lihat bos juga salah, mati disangka apa lagi?" sewot Zacky menanggapi sikap bosnya yang makin aneh dimatanya.
" Nyela aja. Jangan sok tau kamu..." jawab Zelly masih dengan wajah datar yang tiba-tiba terasa sangat dingin sampai ke ulu hati.
Dih, salah lagi..
Tak lama Rudy kembali dengan pramusaji yang membawa pesanan mereka.
" Ngapain sih kamu tungguin pesanannya disana, emang gak bisa nunggu pesanannya sambil duduk disini? Jangan-jangan ada yang kamu godain disana? Ingat Rud, kamu sudah ada anak istri dirumah.." celoteh Zelly mengomentari Rudy yang baru saja meletakkan bokongnya dikursi.
" Apaan sih Zell,. kamu ini lama-lama jadi kaya cewek yang lagi cemburu aja. Jangan-jangan iya, kau cemburu sama aku? Ih, amit-amit ya Zell.. Aku laki-laki normal.." kata Rudy sambil mengetuk-ngetuk kan jarinya ke meja dan kepalanya dengan ekspresi yang menggelikan.
" Aww... Sialan kau Zell.. sakit tau! Main tendang-tendang sembarangan.." seru Rudy sambil mengusap-usap kakinya yang kena tendang oleh Zelly.
__ADS_1
" Kau yang sembarangan.. Yang mau cemburuin kamu tuh siapa? Aku masih waras tau..! Masih ada orang yang lebih pantas menerima rasa cemburuku ketimbang laki-laki oleng kayak kamu.." balas Zelly tak kalah sengitnya.
" Stop.. stop.. stop...! Jadi ga nih pesanan kita nikmatin? Lagian malu bos dilihatin banyak orang lho bos disini. Jangan kayak anak-anak deh.." sela Zacky ditengah-tengah perdebatan antara bos dan sahabatnya tu. Walaupun dalam hati dia takut kena semprot lagi oleh bosnya itu.
Tapi ternyata, Zelly hanya diam saja. Hanya wajahnya saja yang berubah jadi tak enak di pandang.
Tanpa mereka sadari, sejak tadi ada sepasang mata yang tak lepas memperhatikan semua yang mereka lakukan di cafe itu. Sepasang mata yang kini tengah di genangi air mata yang setengah mati dia tahan agar tak tumpah membasahi pipinya.
Hatinya terasa perih saat mendengar Zelly mengatakan ada orang yang lebih patas mendapatkan rasa cemburunya itu. Dia sedikit tak terima jika sekarang ada orang lain yang mendapatkan kehormatan dari Zelly untuk menerima rasa cemburunya itu, yang sebagai tanda bahwa Zelly saat ini benar-benar mencintai orang tersebut.
Ah, aku benar-benar sudah tak ada dalam hatinya..
Bahkan sekarang untuk menatapku sudah tak sudi.
Sebegitu bencilah dia padaku sekarang?
Tak cukupkah rasa penyesalan dan hukuman yang sudah aku dapatkan ini?
" Halo, kamu apa kabar? Aku sekarang sudah pulang, apa kita bisa ketemu?"
"......."
" Oke deh, kalau gitu besok aku kerumahmu. Kamu gak sibuk kan besok?"
" Oke, sampai jumpa besok ya.. Bye....!"
Panggilan di akhiri dengan wajah yang penuh dengan kesedihan. Setelah mengakhiri panggilannya, wanita itupun meninggalkan cafe dimana Zelly dan kedua sahabatnya itu berada.
🍀🍀🍀
" Assalamu'alaykum......!" terdengar ucapan salam dari teras rumah yang membuat ibu Sumarni bergegas untuk menemui si empunya suara sambil menjawab salam.
" Halo Tante.. masih ingat sama aku gak?" sapanya sambil tersenyum.
" Kamu.... Kamu anaknya pak Hasim kan? Kamu bukannya di Surabaya ikut suamimu? Kok ada disini? Kapan kamu datang? Sama siapa kamu kesini?" ibu Sumarni menghujaninya dengan beberapa pertanyaan sekaligus yang membuat sang tamu tertawa mendengarnya.
" Ih Tante.. panjang banget pertanyaan nya,. serasa lagi di interogasi aja jadinya. Hahaha...
Boleh masuk gak nih Tan?"
" Eh iya, maaf Tante sampai lupa. Ayo masuk, Habibah lagi ada di kamarnya. Dia baru aja selesai mandi. Mau tunggu di sini atau mau langsung ke kamarnya?" tanya ibu Sumarni.
" Langsung aja deh, itung-itung kasih dia surprise..😁😁" jawabnya sambil berlalu menuju kamar Habibah
Tok.. Tok.. Tok...!
__ADS_1
Klek...!
" Hai saya.ng... Kangen gak sama aku?"
" Kak Ana...!?" seru Habibah sambil memeluk orang yang berada di depan pintu kamarnya dengan bahagianya.
" Kakak kok gak bilang-bilang kalau mau kerumah? Kakak sama siapa ke sini? "
" Ish.. Kamu tuh ya, sama aja sama Tante.. Kalau nanya gak bisa satu-satu." gerutunya sambil tertawa.
" Kakak kok sekarang jadi kurusan sih kak, lama gak ketemu kok jadi sekurus ini?" tanya Habibah sambil menarik tamunya itu kedalam kamarnya.
" Mana jagoanmu? pasti sekarang sudah besar kan?" tanya nya.
" Iyalah sudah besar, orang dikasih makan dan di rawat baik-baik. Sekarang dia lagi tempat eyangnya.." sahut Habibah sambil melanjutkan melipat pakaiannya yang sempat terhenti.
" Eyang..?"
" Iya, orang tua dari almarhum Suami Bibah.."
" Almarhum suami?"
" Iya.. Bibah sempat menikah lagi beberapa tahun yang lalu, tapi gak lama.. cuma sekitar 2 bulanan Allah sudah memanggilnya kembali." jawab Habibah yang berubah sendu.
" Oh, maaf.. Aku gak tau.." kata Ana sambil menggenggam kedua tangan Habibah dengan rasa bersalah, karena sudah mengingatkan Habibah pada almarhum suaminya.
" Gak apa-apa kak, namanya juga takdir hidup, gak akan ada yang tau akan seperti apa." jawab Habibah sambil tersenyum.
" Oh ya, ayah bilang kamu mau nikah ya dek..? Kapan? Sama orang mana? Ganteng gak? Orangnya gimana, baik gak sama anak kamu? Dia kerjanya apa dan dimana? Dia..."
" Stop.. stop... stop...! Panjang banget pertanyaannya.. Tadi bilang Ifah yang terlalu banyak pertanyaannya sampai gak tau mana yang mau di jawab. Nah sekarang kakak sendiri apa gak lebih panjang tuh pertanyaan?" potong Habibah begitu yang dipanggil kak Ana itu memberondongnya dengan pertanyaan yang bertubi-tubi.
" Hahaha... Maaf khilaf..." keduanya tertawa dengan tangan masih saling menggenggam.
" Tenang kak, dia orang yang baik insya Allah. Bibah mengenalnya waktu Bibah baru lulus SMA dulu, kami bertemu di tempat kerja. Lebih tepatnya dia jadi atasan Bibah.
Dulu waktu awal kenal, dia orangnya sangat menyebalkan. Dia orangnya sangat judes ples galak, dingin kayak orang dari eskimo, dia juga tiap hari maunya cari gara-gara Mulu sama Bibah. Mungkin lebih tepatnya Bibah yang selalu melawan setiap hal yang Bibah rasa gak sesuai dengan yang Bibah fikirkan.
Dia yang merasa jadi atasan otomatis merasa tak suka kalau ada bawahan yang selalu membantah dan mendebat dia kalau dia sedang bicara.
Bayangin deh kak, mau Bibah gak jengkel gimana kalau dia suka sekali mempermasalahkan hal-hal yang sebenernya bukan masalah. Bahkan kalau ada masalah kecil aja ngamuknya kayak yang lagi ada masalah besar. Nyebelin banget kan..?
Tapi entahlah.. Namanya juga rahasia dari Allah, kita gak pernah tau jalan hidup kita kedepannya bakal bagaimana. Dan sekarang dia malah mau nikah sama Bibah.." cerita Habibah panjang lebar sambil tersenyum membayangkan masa lalunya bersama Zelly.
" Mungkin itu yang namanya benci jadi cinta ya dek.."😂😂😂.
__ADS_1