
Hari-hari berlalu dengan cepat, hingga tiga bulan terlewati tanpa terasa. Nur Laily baru saja menyelesaikan ujian akhir sekolahnya, dia sangat bekerja keras untuk bisa mendapatkan nilai yang memuaskan, agar dia bisa pergi bersekolah di kota sesuai perjanjiannya dengan eyangnya beberapa waktu yang lalu.
Flashback on
" Ayolah eyang, boleh ya aku sekolah di kota ikut Uma? Aku janji gak akan ngerepotin Uma dan Abah disana. Aku bakal rajin belajar dan bantuin kerjaan Uma dirumah.
Aku juga janji bakal tiap hari telpon eyang, kasih kabar eyang setiap hari. Aku juga bakal pulang kesini kalau aku liburan. Boleh ya, eyang?" rayu nur Laily pada eyang .
" Kenapa gak sekolah disini aja sih Nur? Disini juga kan gak kalah bagus sama sekolah dikota? " tanya eyang.
" Intinya bukan masalah bagus gak bagusnya eyang, intinya itu aku kangen sama Uma, sama Abah dan Adek Zain. Apalagi sekarang Uma sudah mau punya Adek lagi, nanti siapa yang jagain Adek Zain? Uma pasti kerepotan jagain sendirian.
Lagian, aku juga pengen kayak teman-teman yang kalau cerita selalu seru kalau ada mama- papanya. Sedangkan aku gak ada, cuma ada eyang.
Aku cuma ingin kasih tau sama semua orang kalau aku juga punya orang tua, bukan cuma punya eyang Aku juga punya Uma dan Abah yang sayang sama aku, bukan cuma katanya aja. Tapi sungguhan nyata ada didekat aku.
Andaikan saja papa masih ada, aku yakin papa juga gak akan keberatan selama yang jadi mama aku itu Uma bukan orang lain." ucap Nur Laily menunduk sendu.
" Baiklah. Kamu boleh sekolah di kota dengan Uma kesayanganmu itu, tapi dengan satu syarat. Kamu harus dapat nilai yang memuaskan, kalau gak dapat nilai yang bagus dan memuaskan kamu harus sekolah disini sama eyang." akhirnya eyang menyerah dengan kesungguhan hati cucu kesayangannya itu.
Flashback off
Aku sudah belajar sungguh-sungguh demi bisa bersama Uma , Abah dan adik Zain. Selama ini aku selalu bisa masuk tiga besar disekolah, masa sekarang aku bakalan gagal?
Papa...
Apakah sekarang papa lihat aku disini?
Kalau papa ada disini, papa gak akan marah sama aku kan pa?
Pilihanku ini gak salah kan pa?
Aku bukan gak sayang sama eyang disini, tapi aku lebih ingin punya keluarga yang lengkap seperti teman-teman yang lain yang punya papa dan mama.
Bukan seperti aku yang hanya ada eyang di sampingku.
Aku juga ingin bisa menceritakan hal-hal yang menyenangkan bersama Uma dan Abah serta adik pada teman-temanku.
Papa, aku bosan jadi pendengar.
Aku juga ingin jadi orang yang menceritakan pengalaman menyenangkan itu pada teman-teman. Bukan hanya sekedar jadi pendengar saja.
Papa...
Aku gak salah kan pa?
Aku ingin tinggal bersama Uma dan Abah juga adik, bukan berarti aku sudah melupakan papa.
__ADS_1
Selamanya papa gak akan tergantikan di dalam hatiku.
Tapi, bolehkan kalau aku juga sayang sama Abah Zelly?
Dia juga orangnya sangat baik.
Selain itu dia juga sayang sama aku sama seperti dia sayang sama adik Zain.
Papa...
Papa gak marah sama aku kan pa?
Kalau aku sayang dan kangen banget sama papa.
Tapi aku juga sayang dan kangen sama Abah Zelly.
Maafkan aku ya pa, kalau seandainya papa gak suka kalau aku sekarang juga sayang sama Abah Zelly.
💮💮💮
" Mas, lagi sibuk gak sekarang?" terdengar suara Habibah di ujung telepon dengan kecemasan yang sangat terasa.
" Gak begitu sibuk, ada apa? Apa ada sesuatu?" tanya Zelly yang tak kalah cemas setelah mendengar nada kecemasan dari istrinya.
" Bisa jemput saya gak mas sekarang, tolong antar saya ke dokter Risa sebentar boleh?" perkataan Habibah semakin membuat Zelly semakin cemas.
" Gak apa-apa mas, mau ada yang di periksakan aja.. Gak usah khawatir." Habibah mencoba menenangkan suaminya yang mulai panik.
" Ya sudah, tunggu aku sebentar. Aku berangkat sekarang ya sayang..." Zelly segera meraih kunci mobil di atas meja sedetik setelah mematikan sambungan telepon.
" Ada apa bos? Kenapa buru-buru gitu? Ada apa?" tanya Zacky yang terkejut melihat Zelly yang tiba-tiba bangkit dari kursi dan berlari begitu saja tanpa memperdulikan pertanyaannya.
Zacky hanya melongo melihat kepergian Zelly dengan kepanikan yang sangat jelas terlihat di wajahnya.
" Mudah-mudahan gak ada sesuatu yang serius." gumamnya sambil kembali duduk di kursi kesayangannya.
Sesampainya di restauran tempat Habibah bekerja, Zelly bergegas berlari menuju ruangan Habibah. Dia bahkan tak memperdulikan sapaan para pegawai yang berpapasan dengannya.
BRAAKK...!!
Suara pintu terbuka dengan keras mengejutkan semua orang yang mendengarnya.
" Sayang, kamu gak apa-apa kan?" seru Zelly begitu menerobos masuk kedalam ruangan Habibah.
" Astaghfirullah mas, pelan-pelan dong. Nanti dikira orang ada apa, saya aja dapet kaget loh mas buka pintunya sampai begitu kerasnya." tegur Habibah mengingatkan
" Iya, maaf. Aku panik soalnya dengar suara kamu tadi di telpon kayak yang cemas banget, apalagi minta di antar ke dokter segala. Tapi kamu beneran gak apa-apa? Gimana sama perut kamu? Apa dia nakal? Atau ..."
__ADS_1
" Udah ah mas, kapan kita pergi ke dokter nya kalau mas nanyak-nanyak gini terus?" gerutu Habibah kesal.
" Iya deh, ayo. tapi beneran kan kamu gak apa-apa?" ulang Zelly meyakinkan lagi.
" Iya mas, saya gak apa-apa." jawab Habibah sambil menggamit lengan Zelly.
" Maaf ya mba Rika, saya titip sebentar. Saya mau ke dokter dulu, nanti saya kembali lagi." ucap Habibah pada salah satu asistennya.
" Baik, Bu." jawabnya sambil tersenyum.
Tadi banyak orang yang sempat salah faham dengan kedatangan Zelly yang begitu buru-buru bahkan sempat tak sengaja menghempaskan pintu ruangan Habibah saat membukanya dengan tergesa-gesa.
Tadinya, mereka mengira suami dari bosnya itu sedang marah. Tapi ternyata hanya karena panik saat mendengar istrinya minta antar kedokter saja.
Baru dengar istrinya minta antar kedokter aja sudah paniknya begitu, gimana kalau sampai istrinya kenapa-kenapa ya?
Terdengar suara bisik-bisik dari beberapa orang yang tak jauh dari Rika berdiri. Membuat Rika tersenyum mendengar bisikan-bisikan yang sedang ngeghibahin bos dan suaminya itu.
"Mau gak jadi bahan ghibahan gimana, kalau pasangannya kayak mereka ini? Siapapun akan iri kalau melihat keharmonisan mereka." gumam Rika sambil kembali meneruskan pekerjaannya yang tadi sempat tertunda.
💮💮💮
" Dok, istri saya kenapa dok? Dia gak kenapa-kenapa kan dok? Anak kami juga gak kenapa-kenapa kan dok?" Zelly mencecar dokter yang memeriksa Habibah dengan beberapa pertanyaan sekaligus.
" Sabar dong mas, nanti juga dokternya bakal jelasakan. Duduk yang tenang, lagian saya kan gak kenapa-kenapa juga." tegur Habibah lembut sambil meraih genggaman suaminya agar suaminya bisa lebih tenang.
Dokter Risa hanya tersenyum melihat respon Zelly yang terlihat sangat panik itu.
" Istri bapak ini sepertinya kelelahan, sebab itu sempat mengalami flek. Sebaiknya aktivitas nya dikurangi dan lebih banyak istirahat. Apalagi sekarang sudah memasuki trimester ketiga, bapak dan ibu harus lebih banyak memperhatikan kondisi ibu dan bayi yang ada dalam kandungan ibu.
Asupan nutrisinya, dan lakukan juga olah raga ringan supaya badan tetap bugar dan rileks. Jangan sampai kelelahan dan terjadi ketegangan pada otot-otot tubuh anda.
Selain untuk menjaga kondisi ibu dan bayi tetap dalam kondisi yang baik, hal inipun sangat penting untuk persiapan menjelang kelahiran yang sudah tak lama lagi.
Atau kalau boleh saya sarankan agar ibunya bisa mengikuti senam ibu hamil. Apalagi di usia ibu yang sudah di atas 30 tahun. Harus benar-benar serius memperhatikan kondisi tubuh dalam mempersiapkan persalinan nanti." Nasehat dokter Risa pada Zelly dan Habibah.
" Baik dok, terimakasih." jawab Habibah singkat.
Mungkin sebagian besar wanita di usia Habibah sudah memiliki beberapa orang anak. Sedangkan Habibah baru punya seorang anak. Selain karena dia menikah di usia dua puluh lima tahun, dia juga pernah mengalami insiden saat kehamilan kedua, saat kecelakaan yang merenggut buah hatinya bersama almarhum suaminya Purnomo. Hal itu menyebabkan kondisinya agak beresiko saat mengandung dan melahirkan nanti.
" Mulai besok, kamu di rumah aja. soal restoran biar aku yang handle untuk sementara waktu." kata Zelly mengambil keputusan.
" Tapi mas..."
" Ga ada tapi-tapi.. Aku gak mau kamu dan anak kita kenapa-kenapa sayang. Apapun yang aku punya Sekarang ini gak akan ada artinya kalau kamu dan anak kita kenapa-kenapa. Kalian adalah yang terpenting dalam hidupku.
Jadi jangan fikirkan lagi soal kerjaan. Masih ada aku dan Zacky, selain itu ada asisten kamu Rika juga kan yang bisa bantu ngehendle kerjaan kamu. Jadi gak ada alasan lagi ya ." kata Zelly penuh penekanan.
__ADS_1
" Iya.. Saya ngikut apa kata mas aja.." jawab Habibah akhirnya.