Perjalanan Cinta Habibah..

Perjalanan Cinta Habibah..
Suami protektif


__ADS_3

Setelah menunggu beberapa saat, Habibah pun keluar dari toilet dengan membawa hasil testpack di tangannya.


" Silahkan Bu ditaruh di sini dulu. Kita lihat haslnya sama-sama." kata dokter wanita paruh baya itu.


Habibah meletakkan testpack nya di atas meja di hadapan dokter itu. Zelly meraih tangan Habibah dengan wajah yang harap-harap cemas. Dia berharap dugaan dokter itu benar jika istrinya kini berbadan dua, tapi disisi lain dia cemas jika apa yang dikatakan dokter itu benar jika dirinya tengah mengalami morning sickness. Dia membayangkan bagaimana nasibnya jika benar mengalami ngidam yang lumrahnya di alami oleh wanita hamil bukan di alami oleh laki-laki seperti dirinya.


" Alhamdulillah, dugaan saya benarkan? Coba lihat hasil testpack ini, disini terlihat bahwa hasilnya adalah positif. Tapi kalau bapak masih belum yakin juga , mari kita lakukan USG." kata dokter itu sambil memperhatikan Habibah untuk mengikutinya ke ruang USG yang ada di dalam ruang pemeriksaan itu juga.


Dengan tanpa banyak bicara, akhirnya Habibah mengikuti perkataan dokter itu untuk melakukan pemeriksaan USG.


" Silahkan baring dulu, dan rileks saja ya gak usah tegang Dan mohon maaf ibu, anda bisa mengenakan selimut ini untuk menutupi bawah tubuh anda sebentar. Dan maaf, tolong angkat baju ibu hingga ke dada ya. Kita akan periksa dulu. Dan untuk bapak, boleh di perhatikan layar monitor nya ya.." dokter itu memberikan arahan pada Habibah sebelum memulai pemeriksaan.


" Nah, mari kita lihat area ini. Ini ada satu bulatan yang ada disebelah kanan ini, ini adalah kantung tempat Janin itu berada. Hanya karena kandungan ibu masih baru delapan Minggu, jadi ukurannya masih sangat kecil. Jadi, sebelumnya saya ucapkan selamat dulu pada bapak dan ibu, karena sekarang anda berdua akan menjadi orang tua baru.


Saran saya untuk ibu, karena kandungan anda masih dalam masa trisemester pertama, sebaiknya anda jangan terlalu lelah, jaga asupan agar calon janin dalam rahim ibu juga tak kekurangan nutrisi.


Harus cukup istirahat, dan jaga emosi anda. Jangan sampai anda stress. Karena itu bisa berdampak buruk pada kehamilan anda.


Dan untuk bapak, anda harus benar-benar menjaga kesehatan anda juga pola makan anda. Jangan sampai morning sickness yang anda alami menjadi lebih parah.


Di bawa happy aja ya pak, anggap saja anda berbagi tugas dengan istri anda. Istri anda yang mengandung, anda yang ngidamnya. Jarang loh ada yang begitu. Berarti anda berdua benar-benar pasangan yang sangat serasi. Buktinya, sampai mengandungpun Allah buat anda berdua "kerja sama".


Pesan dan candaan yang di ucapkan oleh dokter itu benar-benar di dengarkan oleh keduanya.


Keduanya sangat bahagia saat perkataan dokter itu benar jika Habibah kini sedang hamil. Kebahagiaan nampak jelas di wajah Zelly. Apalagi saat dia melihat hasil USG itu. Matanya nampak berkaca-kaca menatap layar monitor.


*Masya Allah...


Sungguh kuasa Allah yang sangat luar biasa.


Menjadikan manusia dari setetes air hina, menjadi satu sosok manusia dengan proses yang sangat indah seperti ini.


Didalam sana ada calon anak ku yang masih belum terlihat.


Yang masih berbentuk bulatan sekecil itu dala rahim istri ku.


Terima kasih, ya Allah...


Kau masih beri aku kesempatan untuk merasakan perasaan bahagia ini dengan menitipkan satu amanah baru padaku.


Dengan menjadikan aku salah satu orang yang diberi keberuntungan merasakan menjadi orang tua.

__ADS_1


Dari anak yang di kandung oleh istri yang sangat aku cintai dan aku sayangi.


Semoga kelak aku bisa menjadi ayah yang bisa jadi tauladan terbaik untuk anakku.


Semoga Engkau jadikan dia anak yang Sholeh/ Sholeha.


Aku mohon padamu ya Allah...


Lindungi anak ku dari godaan setan dari saat ini hingga dia "menghadap" kepadamu kelak.


Dan jagalah istriku dari segala kesusahan dan marabahaya.


Aamiin*...


"Mas.. Mas...Mas..." panggil Habibah sambil menepuk lembut bahu suaminya.


" Eh, iya.. Ada apa?" Zelly tersadar dari lamunannya.


" Mas denger gak apa yang dibilang dokter tadi?" tanya Habibah.


" Eh, iya.. Dengar kok." jawab Zelly.


" Eh, siapa bilang aku gak seneng...! Aku seneng kok.. Beneran... Aku seneng.. Aku tadi cuma terharu lihat ini. Gak nyangka aja, didalam bulatan sekecil ini ada calon anak kita." jawab Zelly sambil menunjuk foto USG yang tadi diminta agar dokter mencetaknya.


Dokter yang mendengar percakapan keduanya hanya bisa tersenyum. Setelahnya, dokter itu memberikan resep yang harus di ambil oleh Habibah.


***


" Sayang, biar aku aja. Kamu tunggu disini aja. Kata dokter kamu gak boleh capek dan bawa yang berat-berat kan?." kata Zelly sambil mengambil belanjaan yang mereka beli di pasar saat pulang dari dokter kandungan tadi.


" Apaan sih, mas? Inikan gak berat? Saya juga gak capek kok mas, saya baik-baik aja." tukas Habibah.


" Nggak. Mungkin kata kamu ini nggak berat, tapi kata anak kita ini bisa jadi berat loh sayang. Udah, kamu diam aja. Biar nanti bibi yang bawa dan bereskan semua ini. Dari pada nanti ada apa-apa, lebih jaga-jaga kan sayang. Jadi, istriku yang Sholeha harus nurut ya sayang..." kata Zelly sambil menduduk kan istrinya di sofa ruang tamu.


Sementara dia sendiri mengangkat semua belanjaan dari bagasi mobil kedalam dapur.


" Uma... Uma dari mana? Kok Zain gak di ajak sih?" terlihat Zain datang menghampiri sambil berlari lantas memeluk Habiba penuh rasa rindu.


" Uma dari dokter, sayang. Tadi Adek kan masih tidur, jadi Uma tinggal. Maaf ya sayang, besok kalau Uma mau pergi lagi Uma ajak Adek juga deh.." jawab Habibah sambil memeluk Zain dengan gemas.


Abah mana, Uma?"

__ADS_1


" Ada apa cari Abah? Kangen ya? Masa jagoan baru di tinggal sebentar sudah kangen? O, iya.. Ada kabar bagus buat jagoan Abah... Kamu bakal punya Adek loh..." Ucap Zelly penuh semangat.


" Adek? Mana?"


" Adeknya ada disini." jawab Zelly sambil menyentuh perut Habibah.


Zain nampak bingung melihat perut ramping ibunya yang tertutup baju gamis nya.


" Tapi disitu gak ada Adek, Abah. Itu perut Uma." protes Zain polos.


" Maksud Abah, adeknya ada dalam perut Uma. jadi belum kelihatan, sayang."


" Adeknya dimakan sama Uma? Mati dong Adek nya?" jawab Zain dengan mata yang berkaca-kaca karena sedih.


" Bukan di makan sayang.. Tapi hidupnya masih dalam perut Uma. Nanti kalau perut Uma sudah besar begini, baru Adek nya keluar." kata Zelly sambil membuat setengah lingkaran didepan perutnya.


" Adeknya masih sembunyi diperut Uma, tunggu adeknya sudah bisa nangis baru nanti bisa kita lihat sama-sama. Oke?" lanjut Zelly.


Zain yang mendengarkan hanya menganggukkan kepala, walaupun sebenarnya dia belum faham apa yang di katakan oleh Zelly padanya.


Habibah hanya tersenyum sambil memperhatikan interaksi antar keduanya. Dia bahagia, karena Zain sungguh langsung bisa menerima keberadaan Zelly sebagai ayah barunya.


" Uma, Zain kangen kakak. Kapan kakak datang?" ucap Zain tiba-tiba.


Zelly dan Habibah hanya bisa saling pandang mendengar pertanyaan anak mereka.


" Kalau Adek kangen, kita bisa video call kan, sayang? Nanti habis shalat Maghrib atau Isya kita video call kakak ya? Sekarang kita mandi dulu yuk, sudah sore.." kata Habibah menghibur Zain yang kelihatan sekali sangat ingin bertemu dengan kakaknya Nur Laily.


" Mandinya sama Abah aja ya, sayang. Uma nya nanti capek, kasihan kalau Uma nya capek nanti adeknya yang di perut Uma sakit loh.. Jadi Adek mandinya sama Abah aja ya..?" bujuk Zelly pada Zain.


" Baiklah... Zain mandi sama Abah aja, nanti kalau Zain mandi sama Uma. Adeknya sakit.. Ayo kita mandi..." seru Zain dengan riangnya.


Di gandengnya tangan Zelly dengan tangannya yang mungil. Habibah hanya bisa geleng-geleng kepala melihat betapa protektif nya sang suami padanya.


Aku tak pernah menyangka kalau dia bisa seprotektif itu.


Aku kira dia akan seperti suami-suami kebanyakan.


Tapi, aku tak suka terlalu protektif seperti ini..


Aku akan bosan kalau aku hanya diam saja begini.

__ADS_1


__ADS_2