Perjalanan Cinta Habibah..

Perjalanan Cinta Habibah..
Gundah gulana


__ADS_3

Habibah tampak termenung sendiri sejak panggilannya berakhir pada ibu mertuanya. Dia tak menyangka jika keadaan ibu mertuanya akan seperti itu. Masih mengganggap bahwa Habibah dan Qodir masih berstatus suami istri. Dia bahkan tak bisa menjelaskan pada ibu mertuanya jika sebenarnya mereka sudah bukan suami istri lagi.


Ada rasa rindu, ada rasa khawatir juga rasa bersalah dalam hati Habibah. Dia sangat merindukan sosok ibu Masurai yang lembut dan penyabar yang selalu menyayanginya dengan sepenuh hati. Dia merasa khawatir dengan keadaan ibu mertuanya itu karena dia yakin itu bukanlah suatu kondisi yang baik-baik saja. Dan rasa bersalah itu datang, karena disaat kondisinya seperti itu dia tak bisa merawat dan menemani ibu mertuanya.


Kegelisahan hati Habibah masih bertahan hingga Zain pulang dari sekolahnya. Bahkan tanpa sadar Habibah telah sedikit mengabaikannya.


Zain yang belum mengerti apa-apa hanya bisa terdiam saat ibunya mengabaikannya saat ia berbicara padanya. Zain pun hanya bisa berlari mencari mbak pengasuhnya untuk mengajaknya bermain.


Bahkan saat makan siang tibapun Habibah tampak tak berselera melihat hidangan yang telah tersedia di atas meja makan. Sampai terdengar pertanyaan kekhawatiran dari mbok Ratih.


" Maaf Bu, apa makanannya gak enak? Atau ibu mau makanan lain?" tanya mbok Ratih pelan.


Dia takut jika Habibah tak menyukai hidangan yang ia masak siang itu.


" Bukan mbok. Maaf, bukan makanannya yang gak enak. Tapi sayanya yang lagi gak berselera untuk makan mbok. Masakan mbok enak kok, cuma selera makan saya yang lagi jelek. Maaf ya mbok..." ucap Habibah seraya menyuapkan makanan yang sejak tadi hanya dia pandangi tanpa berniat memakannya.


Seharian itu di jalani oleh Habibah dengan hati yang gundah gulana. Waktunya banyak di habiskan hanya dengan termenung.


Teringat kenangan saat ia masih menyandang status istri dari Qodir. Disaat Qodir tak ada untuk nya, ibu Masurai lah satu-satunya orang yang setia disisinya. Menyayanginya dengan sepenuh hati, bahkan seperti pada anak kandungnya sendiri bukan layaknya pada seorang menantu.


Saat hamil pun, ibu Masurai lah yang selalu memperhatikan segala kebutuhan dan mental dari Habibah yang sempat drop. Waktunya banyak dihabiskan bersama dengan ibu mertuanya itu, entah hanya untuk memasak atau menjahit pakaian.


Karena ibu Masurai juga seorang penjahit pakaian. Cukup banyak yang menjadi pelanggan setianya. Apalagi jika sudah memasuki tahun ajaran baru dan pada saat bulan ramadhan.


Habibah yang memang juga pandai menjahit dengan senang hati untuk membantu ibu mertuanya melayani setiap jahitan yang datang.


Kenangan-kenangan itu terlintas kembali dalam ingatan Habibah yang entah mengapa jadi sangat merindukan ibu mertuanya itu. Kedekatan antara Habibah dengan ibu mertuanya itu lebih dekat dari pada ibu Sumarni yang notabene ibu kandung nya sendiri.

__ADS_1


Hingga senja pun tiba, saat kepulangan Zelly yang biasanya selalu di tunggu dan di sambutnya di depan pintu, tapi hari itu ia seolah lupa dengan kebiasaannya itu.


Hal itu membuat Zelly keheranan saat mendapati tak ada sambutan yang biasanya selalu ia terima disetiap harinya.


Tiba-tiba hal itu membuat kekhawatiran memenuhi hatinya. Ia takut terjadi sesuatu pada Habibah istrinya. Ia segera berlari mencari keberadaan istrinya.


Tempat pertama yang ia datangi adalah kamar tidur mereka. Dan memang disanalah Habibah berada.


Habibah bahkan tak menyadari kedatangan suaminya. karena Habibah sedang duduk menghadap kejendela yang mengarah ke kebun belakang rumah mereka.


"Assalamu'alaykum sayang..." Sapa Zelly lembut seraya memeluk Habibah dari belakang. Ia merasa sangat lega karena ternyata istrinya dalam keadaan baik-baik saja.


" Wa'alaykumussalam warrahmatullah wabarokaatuh.. Mas, kapan pulangnya? Maaf mas, saya gak tau kalau mas sudah pulang. Mau mau minum? Saya ambilkan ya?" jawab Habibah penuh rasa bersalah. Karena dia telah melupakan suaminya bahkan tak menyambut kedatangannya seperti biasanya


" Aku baru datang kok sayang. Kamu kenapa disini sendirian? Apa yang sedang kamu fikirkan? Jangan terlalu memikirkan sesuatu dengan berat, ingat kalau kamu sedang mengandung. Kasihan anak kita kalau kamu terlalu banyak fikiran. Kalau ada apa-apa, kamu bisa ceritakan sama aku ka , sayang?" ucap Zelly lembut seraya mengecup ubun-ubun Habibah yang tertutup hijabnya.


" Gak perlu minta maaf, karena gak ada yang perlu di maafkan. Kamu itu istriku, sudah tanggung jawab ku untuk senantiasa memperhatikanmu, menjagamu jangan sampai terjadi sesuatu yang gak di harapkan sama kamu.


Aku nikahin kamu, jadikan kamu istriku dan juga ibu dari anak-anakku bukan untuk aku biarkan sendirian. Tapi untuk aku sayangi, aku lindungi dan ku bahagiakan lahir bathinnya.


Kalau seandainya kamu ada masalah lalu aku biarkan kamu larut dengan masalahmu sendiri, lalu apa gunanya aku sebagai suamimu?


Sekarang kamu ceritakan, ada masalah apa sampai membuat senyum manismu ini menghilang?


Aku gak terbiasa melihatmu yang seperti ini, yang biasa aku lihat itu saat aku melihatmu senyum manismu itu selalu ada untukku. Apakah kamu sedang kehabisan stok pemanisnya?" celoteh Zelly panjang lebar. Yang mau tak mau membuat istrinya tersenyum karena malu.


Habibah sangat bersyukur memiliki seorang suami seperti Zelly. Selama pernikahan mereka , belum pernah ia melihat suaminya itu marah padanya atau pada siapapun dirumah itu.

__ADS_1


Pembawaannya selalu tenang dalam setiap kelembutannya. Bahkan ia selalu menggapai setiap kekurangan atau kesalahan Habibah sebagai kekurangannya. Karena menurutnya,. mungkin dialah yang kurang dalam memimpin rumah tangga. Belum pernah sekalipun Zelly menyalahkan istrinya dalam setiap kesalahan atau kekurangan yang dilakukan oleh Habibah.


" Maaf, mas. Bibah lagi ingat sama mama Masurai. Tadi pagi Bibah sudah telepon, dan mas tau apa yang beliau bilang?


Beliau tanya kapan saya dan Zain pulang mas. Beliau bilang kalau akan tunggu kepulangan kami. beliau bilang biar kami di jemput pulang sama mas Qodir.


Mas, beliau mengira kalau saya masih istri mas Qodir. Beliau bahkan lupa kalau kami sudah bercerai lama. Bibah merasa keadaan mama lagi gak baik-baik aja mas.


Seandainya rumah mama masurai itu dekat, saya mau sekarang juga kesana untuk menjenguknya. Tapi sayang tempatnya jauh mas.


Maafkan saya mas, kalau saya jadi kepikiran beliau. Saya cuma takut kalau penyakitnya itu benar-benar serius. Karena kalau gak serius gak mungkin kan mas beliau lupa dengan perceraian saya dengan mas Qodir?" tutur Habibah menceritakan tentang ibu mertuanya. Sepanjang bercerita, air mata Habibah seolah ingin ikut menceritakan rasa kekhawatiran yang tengah dirasakan nya.


Zelly memperhatikan setiap kata dan kalimat yang di ucapkan istrinya. Pandangannya pun tak lepas dari wajah istrinya yang bercerita sambil berurai air mata.


Zelly faham betul jika suasana hatinya benar-benar dalam keadaan yang buruk. Karena Habibah bukanlah type wanita mudah untuk menangis. Jika sampai istrinya itu menangis, berarti hal yang dirasakannya itu benar-benar mendalam dihatinya.


" Sabar sayang, sekarang kita hanya bisa mendoakan beliau agar dalam keadaan baik-baik saja dan segera pulih seperti sedia kala. Kamu juga jangan terlalu banyak fikiran, supaya kandunganmu sehat dan aman. Kalau sudah memungkinkan untuk bisa berjalan jauh, nanti kita akan kesana untuk mengunjungi beliau. Oke?" hibur Zelly seraya mengusap sisa air mata yang membasahi pipi Habibah. Dan di rengkuh tubuh mungil istrinya itu kedalam pelukannya.


" Mas, janji ya kalau kita bakalan kesana lihat keadaan mama?" ucap Habibah meminta kepastian dari suaminya.


" Insya Allah, sayang. Kita doa sama-sama ya?" jawab Zelly lagi.


Habibah bisa merasakan ketenangan menerpa hatinya setiap kali suaminya mendekapnya dengan hangat seperti itu. Apalagi di tambah belaian tangan Zelly yang lembut membuat nya merasakan kenyamanan yang mung tak pernah dia dapatkan selama hidupnya.


Dia bahkan tak bisa membayangkan jika seandainya Zelly tak ada disisinya lagi. Entah bagaimana dengan hidupnya nanti. Dia yang sudah terbiasa dengan segala kelembutan dan kehangatan dari Zelly, pasti akan sangat merasa kehilangan bahkan jauh lebih besar dari rasa kehilangan yang di rasakan saat dia kehilangan Purnomo.


Walaupun almarhum suaminya Purnomo pun tak kalah lembut dan hangat seperti Zelly. Tapi mungkin karena masa kebersamaan mereka yang jauh berbeda. Dia hidup bersama Purnomo hanya sebulan lebih lamanya. Sedangkan dengan Zelly entah sampai kapan. Walaupun dia berharap sampai maut yang memisahkan mereka disaat mereka tua nanti.

__ADS_1


__ADS_2