
Proses perceraian antara Zelly dan Riana bisa dibilang cepat, karena memang dari kedua belah pihak tak ada yang saling menyulitkan dan sebaliknya semakin memudahkan proses perceraian mereka. Dan keduanya memiliki alasan yang kuat untuk berpisah. Hanya dalam waktu tiga bulan, pengadilan agamanya sudah mengeluarkan surat putusan cerai untuk mereka. Hakim pun tak bisa mempersatukan mereka dalam mediasi. Karena keputusan keduanya memanglah sudah bulat untuk bercerai.
Setelah surat pputusan cerai terbit dari pengadilan agama, Zelly menyerahkan rumah yang ditinggali Zelly dan Riana selama pernikahan itu pada Riana. Zelly tak mau menempati lagi rumah yang memberi kenangan buruk padanya. Karena sejujurnya pengalaman nya dalam pernikahan pertamanya tak memberinya kebahagiaan, hanya memberikan kepahitan dalam hidupnya.
Sejak surat keputusan cerai ditandatangani, Riana pun sudah tak pernah lagi menunjukkan batang hidungnya di hadapan Zelly maupun mantan mertuanya. Sejatinya Riana pun merasa malu dan bersalah pada Zelly dan ibunya. Tapi karena keinginannya untuk berpisah dari Zelly sangat besar, dia sengaja melakukan semua itu pada Zelly.
Sementara Zelly sendiri sekarang menjadi lebih fokus dalam menjalankan usaha kulinernya. Dia bisa melupakan sejenak segala permasalahan dalam hidupnya. Dia berusaha melupakan semua persoalan yang sudah terjadi dalam hidupnya, terutama pengalaman rumah tangganya bersama Riana selama setahun lebih ini.
🍀🍀🍀🍀🍀🍀🍀🍀🍀🍀🍀
Di salah satu sudut kota di Kalimantan timur dimana Habibah tinggal, Habibah mulai dengan aktivitas lamanya yaitu mengurus anak-anak nya dan memulai kembali bisnis bakery nya yang sempat dia tianggalkan sejak suaminya meninggal dulu.
Hidupnya sudah kembali normal seperti sebelumnya. Malah bisa dibilang sekarang dia semakin bersemangat dalam menjalani hari-hari nya, karena ada anak-anak yang kini semakin besar dan pintar.
" Uma , bolehkah kalau aku ikut lomba cerdas cermat? Kemarin guru panggil aku dan bilang kalau aku di rekomendasikan untuk jadi kandidat cerdas cermat mewakili sekolah. Tapi aku gak berani jawab dulu sebelum minta izin dari Uma." ucap Nur Laily sambil ikut membantu Habibah yang sedang menyiapkan catering pesanan salah satu warga desa sebelah.
" Kapan lombanya dimulai?" tanya Habibah tanpa menghentikan pekerjaannya.
" Minggu depan, Uma. Tapi kalau aku di izinkan, mulai besok aku harus ikut latihan untuk persiapan lombanya." jelas anak gadisnya lagi.
" Apa kamu siap untuk itu, sayang?" tanya Habibah yang kali ini menghentikan pekerjaannya dan memperhatikan anaknya dengan lembut.
" Insya Allah, Uma. Asalkan Uma doakan aku, aku pasti bisa. Bahkan aku pasti bisa sampai ke lomba tingkat provinsi." Nur Laily tambak begitu yakin dan bersemangat saat mengatakannya. Dan matanya terlihat berbinar-binar, yang menandakan jika dia benar-benar menginginkan lomba itu.
" Baiklah, kamu boleh ikut. Tapi ingat, jangan memaksakan diri jika memang kamu sudah gak mampu. Jaga kesehatan dan jangan lupa sholat dan berdoa, mintalah pada sang pemilik ilmu agar membuka pemahanmu dan wawasan mu. Dan minta dimudahkan dalam segala urusanmu nanti. Umapun akan selalu mendoakan kamu. Uma bangga padamu, jika saja Abahmu masih ada...... " Habibah tak melanjutkan kalimatnya. Dia memilih untuk memeluk gadis kecilnya.
__ADS_1
Tak terasa rasa rindunya menyelinap kedalam hatinya. Perasaan yang sudah lama dia benamkan dalam kesibukannya, kini tiba-tiba rasa itu menyeruak menyelimuti hatinya. Nur Laily membalas pelukan ibu sambungnya dengan penuh kasih. Walaupun habibah bukanlah ibu kandungnya dan bahkan ayahnya pun telah tiada. Tapi kasih sayang Habibah padanya tak pernah berubah. Hal itu menunjukkan bahwa Habibah dengan tulus menyayanginya. Itu sebabnya dia lebih memilih tinggal bersama Habibah yang berstatus sebagai ibu sambung dari almarhum ayahnya. Ketimbang tunggal bersama eyangnya.
" Jangan lupa do'akan selalu papamu, semoga papamu diberikan tempat yang terbaik disisi Allah. Karena hanya doa anak shaleh dan shaleha yang akan membahagiakan orang tuanya di akhirat kelak." pesan Habibah pada Nur Laily tanpa melepas pelukannya.
" Iya, Uma." jawab Nur Laily singkat.
Nur Laily merasa sangat beruntung telah dipertemukan dengan Habibah, bahkan wanita itu telah menjadi ibu sambung baginya disaat ayahnya masih hidup dan tetap bersamanya disaat ayahnya telah tiada. Kasih sayang Habibah padanyapun tak berkurang sedikitpun. Masih tetap sama, bahkan cenderung bertambah.
*Papa...
Aku beruntung punya Uma disisiku.
Uma tetap menyayangi ku walau papa sudah gak ada.
Aku janji akan menuruti semua perkataan Uma. Aku juga akan selalu menyayangi Uma dan adik selama hidupku.
Aku akan berusaha bahagiakan Uma dan adik kalau aku sudah dewasa nanti dan gak akan meninggalkan mereka
Aku akan buat semua orang bangga padaku dan gak akan kecewakan mereka*.
Sekilas Nur Laily mencium kedua pipi Habibah.
" terima kasih Uma, aku janji gak akan kecewakan Uma." ucap gadis kecil itu setelah menciumnya.
" Anak Uma memang manis sekali." sahut Habibah sambil mencium kening Nur Laily.
__ADS_1
Keesokan harinya Nur Laily menjalani latihan selama seminggu untuk persiapan lomba cerdas cermat yang akan di ikutinya diminggu berikutnya. Semua kebutuhan nya telah disiapkan oleh Habibah, mulai dari vitamin hingga makanan yang bernutrisi tinggi untuk menunjang daya tahan tubuh anaknya agar tak mudah sakit karena kesibukannya.
Lomba cerdas cermat antar sekolah dalam satu kecamatan telah dimenangkan oleh Nur Laily sebagai perwakilan dari sekolahnya. Mereka kini sedang mempersiapkan diri untuk lomba cerdas cermat sekolah tingkat kecamatan.
Selama perlombaan cerdas cermat itu, Habibah tak pernah sekalipun absen dalam mendampingi gadis kecilnya itu. Selain karena Habibah tak bisa melepaskannya sendiri tanpa dirinya, dia juga ingin memberi semangat pada anaknya itu. Dan itu Memeng sangatlah membantu Nur Laily disaat dirinya merasa sedikit tertekan dengan keadaan saat perlombaan itu berlangsung, dia akan merasa punya energi baru setiap kali dia melihat Habibah duduk dibarisan penonton yang terdepan.
Kemenangan demi kemenangan telah dia raih mewakili sekolahnya. Walaupun tak selalu berada di peringkat pertama, tapi dia tetap bangga bisa mengharumkan nama sekolahnya dengan prestasinya. Pengetahuannya semakin lama semakin luas dalam banyak mata pelajaran. Dan di usianya yang baru saja memasuki usia 10 tahun, dia sudah berhasil membuat bangga keluarganya dan juga sekolahnya.
" Terimakasih Uma, karena doa-doa dari Uma aku bisa buat sekolah kita menang. Dan bulan depan kami berangkat ke ibu kota untuk lomba cerdas cermat tingkat provinsi. Aku mulai besok lusa latihan untuk persiapan lomba ke ibu kota. Kata pak guru biar gak terlalu dekat dengan hari perlombaan, jadi belajarnya sedikit santai. Kalau terlalu mepet waktunya, takutnya nanti kami gak siap pas hari H nya." terang Nur Laily.
" Baiklah, banyak-banyak istirahat. Jangan terlalu capek, biar badan tetep fit sampai hari H. Jangan sampai kamu jatuh sakit." ucap Habibah mengingatkan.
" Baik, Uma. Aku sayang sama Uma." balas Nur Laily sembari memeluk Habibah lalu mencium pipinya. Selepas itu iapun meninggalkan Habibah menuju kamarnya.
Mas...
Anakmu sekarang sudah besar dan makin pandai.
Andai saja kamu ada di sini sekarang, aku yakin kamupun akan bangga padanya.
Aku janji akan selalu menjaga dan menyayanginya sebagaimana aku menyayangi Zain anakku selama hidupku.
Bisik Habibah sambil tersenyum melihat kepergian Nur Laily menuju kamarnya dengan senyum cerahnya.
Tak terasa satu bulan telah berlalu, sudah saatnya perlombaan cerdas cermat tingkat provinsi berlangsung. Tak lupa Habibah menemani Nur Laily ke ibu kota Kalimantan timur, Samarinda. Sedangkan Zain seperti biasa dititipkan bersama ibu Sumarni.
__ADS_1
Perjalanan yang cukup melelahkan selama 10 jam menggunakan Bus yang telah disediakan oleh salah satu perusahaan kelapa sawit yang mendonasikan bantuan untuk kepentingan pendidikan daerah sekitar perusahaan.
Sesampainya di kota Samarinda, mereka langsung diantarkan kesalah satu Hotel yang cukup mewah bagi mereka. Yaitu hotel Victoria. Sedangkan cerdas cermat dilaksanakan di halaman kantor Gubernur yang berjarak tak begitu jauh dari hotel Victoria.