Perjalanan Cinta Habibah..

Perjalanan Cinta Habibah..
Pulang kampung


__ADS_3

Setelah pulih dari sakitnya, Habibah memutuskan untuk pulang ke kampung secepatnya. Dia tak menghadiri acara perpisahan di sekolahnya. Dia hanya datang saat pengambilan ijazah saja. Dia benar-benar tak ingin bertemu dengan Ricky disekolah. Dia juga tak ingin bertemu dengan Purnomo atau Alvian saat dirumah. Setelah ijazah diterima, diapun segera menemui Richard dan Meylan diruang kerjanya. Ruang kerjanya itu berada tepat bersebelahan dengan kamar tidurnya di lantai atas.


Tok..tok..tok..


" Masuk.." seru Richard begitu mendengar pintu ruang kerjanya diketuk seseorang dari luar.


" Permisi pak, Bu.. saya mau ada perlu sebentar.." ucap Habibah


" Oke.. Duduk dulu baru bicara.." ucap Meylan.


" Ada apa ? Apa ada hal yang serius?" tanya Richard karena melihat wajah Habibah yang sedikit tegang.


" Begini Pak, Bu.. saya sudah terima ijazah saya, dan saya berencana untuk pulang ke kampung besok. Saya akan melamar pekerjaan disana, jadi saya mohon izinnya dari bapak dan ibu." ucap Habibah yakin.


" Kenapa buru-buru sekali sih? Kenapa gak tunggu beberapa hari lagi? Kita bisa pergi sama-sama. Kebetulan Minggu depan kami harus kembali ke perusahaan Gunung Gajah." kata Meylan menimpali.


" Terimakasih Bu, tapi saya bisa naik bis sendiri. Saya dapat kabar dari teman saya kalau di perusahaan Sawit sedang memerlukan karyawan untuk posisi Kerani Kantor dan Kerani lapangan. Dan saya tertarik untuk melamar pekerjaan itu." kata Habibah memberi penjelasan.


" Ya sudah kalau begitu, semoga kamu berhasil ya? Dan jangan lupakan kami kalau kamu sudah ada disana. Tunggu sebentar, ibu ambilkan uang gajimu dulu." ucap Meylan seraya bangkit dari tempat duduknya dan menuju kamar tidurnya.


" Ini no handphone kami jika kamu perlu bantuan kamu bisa hubungi kami kapan saja." ucap Richard sambil menyerahkan kartu namanya pada Habibah.


" Baik pak, terimakasih." jawab Habibah sambil melihat nomor kedua majikannya itu.

__ADS_1


" Tapi boleh saya telponnya ke nomor kantor aja ya pak. Kalau telpon ke nomor handphone pasti mahal. Gak bisa telpon lama-lama." kata Habibah ragu-ragu.


" Hahahaha... Disana sudah ada jaringan seluler kok sekarang. Sudah empat bulan, kamu bisa telpon kami dengan handphone gak usah ke wartel lagi." Richard tertawa melihat ekspresi wajah pembantunya itu saat merasa keberatan harus menelponnya dengan nomor handphone. Tak lama Meylan pun kembali keruang kerja itu dan menyerahkan sebuah amplop coklat pada Habibah.


" Ini uang gajimu bulan ini, semoga kamu bisa memanfaatkannya dengan baik." ucap Meylan.


" Mam, ambil sekalian hadiah kita untuk Habibah , anggap itu ucapan terimakasih kita padanya karena selama ini bersama kita." kata Richard pada istrinya. Meylan pun berjalan menuju kesebuah lemari yang ada di samping meja kerjanya dan mengeluarkan sebuah kotak kecil dan menyerahkannya pada Habibah.


" Bukalah.. Tadinya itu akan kami berikan saat kamu ulang tahunmu bulan depan, tapi berhubung kamu mau pulang jadi kami serahkan sekarang saja. Anggap itu kenang-kenangan dari kami." ucap Meylan lagi.


" Terimakasih banyak pak, Bu.. Kalau begitu saya permisi dulu, saya mau beres-beres barang saya dulu." pamit Habibah sambil berdiri dan membungkuk kan badannya sebagai tanda terima kasih dan hormatnya pada kedua majikannya itu.


Ririn melihat Habibah menuruni tangga dengan membawa sebuah amplop coklat dan sebuah kotak akhirnya memberanikan diri untuk bertanya pada gadis itu.


" Apa itu bibah? Kado dari siapa?" tanya Ririn penasaran.


" Kamu mau pulang? Apa kamu gak kembali lagi kesini?" tanya Ririn lagi, dan entah kenapa dia merasa senang mendengar gadis itu akan pulang kampung.


" Iya, saya gak kembali lagi karena saya mau kerja di kampung. Sudah tiga tahun saya gak pulang jadi saya harus segera pulang dan melamar pekerjaan di sana." Jawab Habibah sambil melanjutkan langkahnya menuju kamarnya. Ririn mengikutinya dari belakang dan duduk di tepi ranjang tempat tidur Habibah sambil memperhatikan gadis itu mengemasi barang-barang nya.


" kamu mau kerja apa dikampung?" tanya Ririn lagi.


" Saya akan melamar pekerjaan di perusahaan Sawit yang ada di sana, kebetulan sedang ada lowongan pekerjaan di posisi Kerani Kantor dan Kerani lapangan. Yang minimal pendidikannya SMA. Itu sebabnya saya harus secepatnya pulang, takut mati gak sempat, kan sayang kalau sampai terlewat." jawabnya sambil tetap melanjutkan pekerjaannya.

__ADS_1


***


Ke esokan harinya, Habibah di antar oleh Richard dan Meylan juga Alvian ke terminal bus. Ririn tak ikut karena harus menjaga rumah agar tak kosong saat mereka pergi. Ririn sengaja tak mengabari kepergian Habibah pada Purnomo. Karena dia tak ingin melihat kejadian seperti saat Purnomo menjenguk gadis itu tempo hari. Dia masih sangat merasa marah jika mengingat hari itu. Apalagi Purnomo tak memberi penjelasan apapun tentang hari itu.


" Saya permisi pak, Bu... mas Alvian.. Terimakasih sudah mengantar saya, dan saya mohon maaf lahir bathin kalau selama saya bersama bapak ibu juga mas Alvian banyak melakukan kesalahan yang di sengaja ataupun tidak disengaja. Saya benar-benar minta maaf.." ucapnya sambil membungkuk kan tubuhnya sedikit pada ketiga nya sesaat sebelum menaiki bus yang akan membawanya pulang ke kampungnya. Setelah itu Habibahpun naik kedalam bus yang akan membawanya pulang ke kampung. Habibah melambaikan tangan pada Meylan, Richard juga Alvian yang masih berada ditempatnya tadi berdiri. Mereka membalas lambaian tangan Habibah dengan senyum perpisahan yang cukup manis, namun berbeda dengan Meylan dan Richard, Alvian tersenyum penuh kegetiran. Dia masih belum bisa melepaskan Habibah dari hatinya, dia masih belum bisa mengikhlaskan gadis itu untuk pergi dari kehidupannya dan juga dari hatinya.


***


Perjalanan menggunakan bus agak lebih lama di bandingkan dengan menggunakan mobil pribadi. Perjalanan yang biasanya paling lama sembilan atau sepuluh jam kini ditempuh selama dua belas jam perjalanan menggunakan bus. Perjalanan yang sangat melelahkan. Habibah sampai di kampung pada saat adzan shalat isya berkumandang. Dia turun depan gapura RT tempat dia tinggal yang tak jauh dari rumahnya. Dia sedikit pangling melihat sekitar tempat tinggalnya yang sudah banyak perubahan selama tiga tahun dia tinggalkan. Dia berjalan kaki menuju rumahnya yang berjarak sekitar seratus meter dari gapura itu. Sambil menyeret koper besar miliknya di memperhatikan sekitar tempat tinggalnya itu.


" Assalamu'alaykum..!" serunya sambil mengetuk pintu rumahnya.


" Wa'alaykumussalam..!" sahut seseorang dari dalam rumah itu.


" Kak bibah...!" seru Maryam begitu melihat siapa yang datang, diapun memeluk kakaknya itu dengan senangnya.


" Ma.. Mama.. kak bibah pulang..." teriaknya pada ibunya yang sedang menyiapkan makan malam di ruang makan. Ibunya pun bergegas menghampiri Maryam.


" Mama apa kabarnya? " ucap Habibah begitu melihat ibunya mendekat. Dia segera meraih tangannya dan menciumnya. ibunya memeluknya dengan erat dengan air matanya mengalir karena bahagia melihat anak gadisnya telah kembali.


" Mama baik-baik aja. Kamu sendiri bagaimana nak, mama kangen sekali sama kamu." kata ibunya sambil menciumi wajah anak gadisnya itu.


" Alhamdulillah saya baik ma, mulai sekarang saya akan disini. Saya akan melamar pekerjaan di sini. Jadi kita gak akan jauhan lagi." jawab Habibah meyakinkan ibunya bahwa dia tidak akan pergi jauh lagi.

__ADS_1


***


ada yang pernah ngalamin cinta bertepuk sebelah tangan 🤔🤔🙏


__ADS_2