
" Gak tau sejak kapan.. Mungkin sejak aku sadar kalau aku jatuh cinta sama seorang gadis kecil. Gadis kecil yang sudah mengajarkanku banyak dalam hidupku, seorang gadis kecil yang sangat sulit di dekati apalagi untuk disentuh hatinya. Seorang gadis kecil yang sudah merubah banyak hal dari aku walaupun gak merubah aku jadi super Hero. Tapi dia sudah merubah banyak hal dariku. Dan gadis kecil itupun sudah jadi gadis dewasa sekarang, tapi dia masih imut dan menggemaskan dimataku. Dan dia itu adalah kamu Nur."
" Makin lama makin pinter ngegombal ya? Udah ah, saya mau istirahat, jadi jangan ganggu saya lagi." walaupun dia mengatakan hal begitu, namun kata-kata dari Zelly cukup membuat pipinya merona. Entah karena apa, mungkin karena hal seperti ini baru pertama kali di terimanya.
" Tunggu... Aku masih ada yang ingin aku sampaikan sama kamu. Dan aku rasa kamu harus tau dari sekarang. Aku sudah tau bagaimana masa lalu mu, tapi kamu tak tau apapun tentang aku.
Nur, kamu memang bukan orang pertama yang aku cintai, tapi kau adalah orang pertama yang bisa membuat aku jatuh cinta sampai seperti ini. Dan bahkan hanya dengan mencintaimu bisa merubah banyak hal dariku tanpa kamu tau.
Nur, dulu aku pernah jatuh cinta pada seorang wanita. Dia cantik, putih, tinggi dan juga mempesona. Di mataku dia adalah wanita yang seperti itu, entah di mata orang lain. Aku menjalin hubungan dengannya selama delapan tahun. Sejak dia duduk di bangku SMA kelas XII, aku sudah mulai membiayai sekolahnya. *Bahkan sampai kuliahnya pun aku yang biayai, aku belikan dia motor dan bahkan dia yang memegang kartu ATM ku.
Entah aku ini bodoh atau apa, sampai aku bisa seperti itu. Bahkan aku sampai sering kehabisan uang di dompetku sendiri hanya demi dia. Aku bahkan tak tau sudah berapa banyak uang yang aku berikan padanya selama delapan tahun itu. Aku masih melakukannya bukan hanya sampai dia mendapatkan gelar sarjananya, tapi sampai dia bekerjapun masih aku lakukan.
Tapi, semua itu tak sebanding dengan yang aku terima. Dia meninggalkanku dengan laki-laki lain tanpa mengatakan alasannya apa. Dia tiba-tiba memberikanku sebuah undangan pernikahan.
Saat itulah aku mulai bersikap sebagaimana saat kita pertama kali bertemu. Mungkin sebelum itupun aku sudah bersikap seperti itu, tapi tak separah saat kita pertama bertemu. Dulu aku terlalu percaya diri dengan apa yang aku lakukan itu tak akan mungkin dia mengkhianatiku. Karena aku fikir, aku sudah memberikan segalanya pada dia. sebab itulah aku sangat mempercayainya.
Tapi itu salah besar, karena aku tak bisa tegas dalam hubungan kami. Aku yang salah karena terus memberi peluang padanya untuk bisa mengkhianatiku. Andai aku bisa sedikit lebih tegas dalam hubungan kami, mungkin aku tak akan merasakan kekecewaan yang dalam padanya.
Tapi sejak bertemu denganmu, segala kecewaku, luka-luka ku terobati tanpa aku sadari. Semakin aku sering berinteraksi denganmu semakin berkurang rasa sakit dan kecewaku itu. Perdebatan kita jadi sebuah candu untukku. Karena itulah aku tak pernah bisa berhenti merindukanmu.
__ADS_1
Kamu tau Nur, aku selalu merindukan masa-masa dimana kamu selalu bersikap cuek dan dingin sama aku. Aku selalu merindukan momen dimana saat kita selalu memperdebatkan hal-hal yang sepele. Momen indah ku itu, saat aku menginap di camp dan makan malam bersamamu. Kamu tau Nur, itu momen terindah yang pernah aku alami dalam hidupku. Memang hanya satu malam aku berada disana, hanya malam itu kita melalui waktu bersama. Tapi dari satu malam itu aku belajar banyak darimu. Aku seperti menemukan bahwa selama ini aku tak berada di duniaku yang sebenarnya. Dan kamulah yang sudah menyadarkan aku, jika aku telah melupakan kita masih banyak kehidupan lain dan situasi lain di sekitarku. Tapi sayangnya, aku tak bisa mengulang lagi semua momen itu, karena kamu pergi."
Zelly menjeda kalimatnya lagi, dia terdengar menarik nafas dalam-dalam dan membuangnya dengan berat. Seolah dia ingin melepaskan semua beban berat yang selama ini tersimpan rapi dalam hatinya.
" Nur... Apakah kamu masih disana?"
" Ya." entah mengapa Habibah merasa perih dalam hatinya mendengar semua penuturan yang di ucapkan oleh Zelly. Dia teringat kembali pada saat dia harus menhan segala perasaannya pada almarhum suaminya selama bertahun-tahun lamanya. Dia bisa merasakan perasaan yang di rasakan oleh Zelly selama ini.
" Aku senang, akhirnya Tuhan mengabulkan segala doa-doa ku. Aku selalu meminta agar bisa bertemu denganmu lagi, walaupun aku tak bisa mengharap lebih dari itu. Hanya dengan bisa melihatmu sebenarnya aku sudah sangat bahagia. Tapi ternyata Tuhan mempertemukan kita dalam keadaan yang jauh dari dugaan dan harapanku. Tuhan tiba-tiba memberikanku keberanian untuk berharap sesuatu darimu. Tak apa kalau kamu tak cinta sama aku, asalkan aku bisa bahagiakan kamu itu sudah lebih dari cukup. Aku tak minta agar kamu cinta atau sayang sama aku, cukup biarkan aku yang melakukan itu untukmu dan anak-anak mu. Aku sudah merasa bahagia Nur.."
Ada kesedihan tiba-tiba merayap dinding-dinding hatinya saat mendengar harapan yang di ucapkan oleh Zelly. Dia jadi merasa bahwa dia akan dzolim pada Zelly jika dia melakukan seperti apa yang dikatakan Zelly barusan.
"Apa mas ingin saya jadi orang yang jahat?" tanya Habibah.
" Ya... Kalau mas nikahin saya, terus saya gak bisa sayang dan cinta sama mas. Sedangkan mas sendiri cinta dan sayang sama saya, berarti saya dzolim dong. Dan itu berarti saya jadi orang jahat."
" Kalau kamu gak mau jadi orang yang dzolim dan jahat, maka belajar lah untuk bisa sayang sama aku. Kamu bisa sayang sama aku itu hadiah yang luar biasa untuk ku. Aku gak butuh cinta kamu, aku hanya bermimpi kamu bisa sayang sama aku Nur. Dan sungguh itu sudah lebih dari pada cukup untuk ku."
Habibah bisa mendengar ketulusan di setiap kata-kata yang di ucapkan oleh mantan atasannya itu. Dia tak bisa mengatakan lagi kata-kata penolakan dan dan tak bisa lagi mencari alasan untuk bisa menolak dari perasaan dan harapan Zelly padanya.
__ADS_1
Disisi yang lain, Zelly merasa senang karena sekarang Habibah mau mendengarkan perkataanya yang panjang lebar tanpa mengalihkannya ke topik lain atau menutup panggilannya lagi. Dia yakin jika Habibah kini sudah sedikit memberi harapan dan memberi rasa perduli padanya. Karena dia yakin, jika Habibah tak memberi harapan dan perduli padanya walau hanya sedikit, pasti Habibah tak mau mendengarkan semua celotehannya dengan baik. Dan bahkan dia memperhatikan semua perkataan yang di ucapkan olehnya dengan seksama.
Setelah panggilan berakhir, Habibah termenung dalam kamarnya dengan melihat sebuah surat yang pernah diterimanya dari Zelly saat lelaki itu pergi meninggalkan pulau Kalimantan dan kembali ke kampung halamannya beberapa tahun yang lalu. Di bacanya lagi surat itu, dan terdapat banyak kata-kata yang sama setiap kali Zelly berbicara padanya. Yaitu tentang perasaannya yang masih tetap sama padanya. Perasaan yang tanpa ada harapan darinya, perasaan yang terus menorehkan luka akibat rasa rindunya yang semakin lama semakin memperdalam luka dalam hatinya.
Sama seperti dirinya dulu saat dia hanya bisa mencintai orang yang di cintai bersanding dengan sahabatnya dan hancur karena dirinya juga. Dia menerima luka yang hampir sama persis dengan luka yang di alami oleh Zelly selama ini.
Mungkin sebaiknya aku beri dia kesempatan, walaupun keputusan ini bukan karena aku kasihan padanya. Tapi demi permintaan anakku. Dan niat Lillahi Ta'ala..
Ya Allah..
Jika keputusan ku ini benar maka permudahlah segala urusannya.
Tapi jika keputusanku ini salah dan Kau tak meridhoi nya, maka batalkanlah dengan cara yang terbaik darimu.
Dengan tangan bergetar, Habibah meraih handphone kesayangannya. Lalu mengetik sebuah pesan singkat pada Zelly.
Assalamu'alaykum warrahmatullah wabarokaatuh..
Baiklah mas, insya Allah saya bersedia menerima pinangan dari mas.
__ADS_1
Terimakasih...
Wassalam...