
Pagi ini Habibah menepati perkataannya pada Zain untuk melakukan video call dengan Nur Laily setelah selesai mandi serta sarapan. Karena hari ini adalah week end, jadi mereka bersantai bersama dirumah.
" Assalamu'alaykum warrahmatullah wabarokaatuh anak Sholeha Uma apa kabar?" Habibah memulai video call nya dengan Nur Laily.
" Wa'alaykumussalam warrahmatullah wabarokaatuh.. Uma.... Aku kangen... kangen Uma, kangen Abah juga adik Zain.. Uma kok lama gak telpon aku? Uma sudah gak sayang aku lagi?" seru Nur Laily begitu melihat wajah Habibah di layar handphonenya. Air matanya pun tak absen mengiringi seruan dari bibir mungilnya.
" Loh, anak Uma kok nangis? Jangan nangis dong sayang... Uma sayang bahkan sangat sayang sama putri Uma yang Soleha ini. Jadi bagaimana mungkin Uma gak kangen? Uma kangen banget malah.. Adik Zain juga kangen sama kakak Nur yang cantik ini. Uma jarang telpon karena Uma sibuk sayang.. Uma janji deh, Uma akan sering-sering telpon anak kesayangan Uma yang Sholeha dan cantik ini.
Oh ya,. ini adik Zain mau bicara. Kalian ngobrol lah.. Ini sayang.." Habibah menyerahkan handphonenya pada Zain yang sudah terlihat tak sabar untuk video call dengan kakaknya Nur Laily.
" Halo kakak... Kakak kapan kesini? Sekarang Zain sudah sekolah Lo kak. Sekolah Zain bagus, banyak mainannya. Kalau kakak kesini nanti Zain ajak ke sekolah Zain. Kakak pasti suka.." celoteh Zain begitu melihat wajah yang sangat dia rindukan.
" Iya dek, kakak pasti suka. Nanti kalau kakak kesana, kakak kesekolah Adek ya.. Tapi nanti, kalau sekarang belum bisa. Kakak masih belum libur sekolah. Kata eyang nanti kakak boleh kesana kalau kakak libur sekolah."
" Masih lama gak liburannya?" tanya Zain.
" Tiga bulan lagi. Padahal kakak kangen baget loh sama Adek. Tapi, sayangnya kita belum bisa ketemu. Video call gini juga gak apa-apa lah." ucap Nur Laily sambil tersenyum bahagia.
" Oh, iya kak. Tau gak, kalau Zain mau punya Adek loh kata Abah. Tapi adeknya masih sembunyi di perutnya Uma. Iyakan Bah?" kata Zain sambil menatap Zelly meminta kepastian.
" Iya, sayang.. Doakan supaya Uma dan adeknya sehat ya.." sahut Zelly seraya tersenyum gemas pada kedua kakak beradik itu.
" Waaahhh... Jadi gak sabar pengen lihat Adek bayinya.. Kira-kira adeknya nanti cewek apa cowok ya Bah? Aku pengen punya Adek cewek, biar bisa aku dandanin yang cantik. Kalau Adek cowok kan sudah ada Adek Zain. Nanti kalau Adek nya cewek mau dikasih nama siapa ya? Nanti kalau adeknya cewek aku yang kasih nama boleh gak Bah?" celoteh Nur Laily penuh antusias.
" Iya boleh, nanti kalau adeknya cewek Kakak yang kasih nama. Tapi mau Adeknya cewek atau cowok yang penting sehat." jawab Zelly.
__ADS_1
" Uma, boleh gak. Kalau nanti aku sekolah SMP sama Uma disana? Sebentar lagi kan aku mau lulus, jadi boleh ya Uma aku tinggal sama Uma? Disini sepi gak ada Adek Zain, gak ada Uma, gak ada lagi yang ajarin aku ngaji dan ngajarin aku masak-masak.
Nanti kalau aku disana kan bisa bantu Uma jagain Adek , kalau Adek bayinya sudah lahir juga aku bisa bantu Uma jagain Adek bayinya. Boleh ya Uma?" pinta Nur Laily dengan wajah memohon.
" Maaf sayang, Uma gak bisa kasih jawaban apa-apa. Semua tergantung eyang mengizinkan ataukah nggak.
Kalau Uma sih senang kalau anak shaleha Uma bisa sama-sama dengan Uma disini. Tapi kakak harus ingat juga, yang lebih berhak merawat kakak itu eyang bukan Uma dan Abah. Jadi, apapun itu harus dengan izin dan persetujuan dari eyang.
Kalau eyang kasih izin dan menyetujui untuk kakak sekolah dan tinggal sama Uma, nanti kami akan jemput kakak. Tapi kalau eyang gak izinkan, bolehlah kesini saat kakak liburan. Nanti Uma dan Abah yang minta izin sama eyang." ucap Habibah memberi pengertian pada gadis kecilnya yang terlihat sangat memelas mengharap bisa tinggal bersama lagi dengan habibah seperti dulu.
Tapi, Habibah tak ingin bersikap egois. Karena dia tau betul hak pengasuhan itu mutlak ada di keluarga almarhum suaminya. bukan pada dirinya yang hanya ibu sambung bagi Nur Laily.
Walaupun sebenarnya dia tak tega melihat betapa inginnya Nur Laily berkumpul bersama lagi seperti dulu. Tapi, dia pun harus ingat posisinya yang hanya sebagai ibu sambung saat almarhum suaminya masih hidup.
Habibah tau betul apa yang di inginkan gadis kecilnya itu, dia merindukan sosok ibu yang sudah dia dapatkan dari Habibah. itu sebabnya gadis kecil itu tak mau jauh berpisah dari Habibah.
" Uma... Uma masih sayangkan sama aku?" tanya Nur Laily memecah lamunan Habibah yang sempat mengalihkan akan keberadaan kakak kesayangan Zain nya itu.
" Ya tentu dong sayang.. Kok princess Uma nanyanya gitu sih? Kan Uma sudah pernah bilang, kalau Uma akan terus sayang dan sayang terus sama anak shaleha Uma yang cantik dan baik hati ini. Bagaimana bisa Uma gak sayang lagi? Kakak kan kesayangan kita semua kan Bah?" ucap Habibah sambil menoleh pada Zelly meminta dukungan atas apa yang di ucapkan ya barusan
" Tentu.. Kamu tau gak, hampir setiap hari Uma kamu ini selalu bilang kangen sama kamu. Cuma karena Uma kamu ini orang sibuk, jadi gak sempet buat video call kamu.
Lagian pas Uma kamu ada waktu, anak gadisnya lagi gak ada dirumah. Kalau sudah gitu, tinggal ambilkan tisu aja karena sudah pasti Uma kamu yang manis ini akan nangis karena kangen sama anak gadisnya yang jauh di sana tapi dekat dihati umatnya." sahut Zelly dengan wajah yang bisa membuat orang tertawa karena gaya bicaranya.
" Abah... Sejak kapan Abah bisa ngomong sepanjang itu? Perasaan Abah kalau ngomong gak pernah bisa langsung sepanjang itu." Nur Laily terkekeh melihat Zelly yang mendadak terlihat lucu dimatanya.
__ADS_1
" Oh ya? Masa sih? Kok Abah gak sadar ya? Mungkin karena Uma kamu yang ngajarin ngomong banyak tiap hari, jadi sekarang Abah terbiasa." jawab Zelly sambil tersenyum genit pada Habibah.
" Apaan.. Mana ada begitu, emang abahnya aja yang sekarang udah pinter ngomong. Bahkan sekarang udah lebih jago lagi loh ngegombalnya. Nanti kalau Kakak kesini lihat sendiri, gimana genitnya abangmu sekarang." tukas Habibah sambil tertawa kecil.
" Iya deh, ya sudah.. Gak usah bahas itu lagi, aku jadi makin gak sabar pengen cepet-cepet kesana. Jangan sampai aku kabur gara-gara Abah dan Uma yang kayak gini..."
" Husy... Anak shaleha Uma kok ngomongnya gitu? Anak shaleha itu harus sabar, gak boleh buru-buru dalam memutuskan sesuatu.
Kapanpun kakak mau kesini, kakak bilang sama Uma ya? Kakak sekarang sudah besar, sebentar lagi sudah mau masuk SMP. Gak lama lagi kakak Aqil baligh, jadi kakak harus belajar jadi gadis yang penyabar dan penyayang.
Apapun keputusan eyang nanti, kakak harus bisa sabar menerima nya. Percayalah, apapun keputusan eyang, itu adalah yang terbaik untuk kakak dan untuk kita semua.
Jangan pernah membantah apapun yang dikatakan oleh eyang. Turuti segala nasehatnya dan patuhi semua kata-kata eyang. Karena bagaimanapun eyang itu sangat sayang sama kakak.
Jadi, kakak gak boleh mengecewakan eyang. Kalau kakak kecewakan eyang, berarti kakak sudah kecewakan Uma dan Abah disini. Jangan sampai Allah juga ikut kecewa dan marah sama kakak hanya karena kakak yang sudah berani mengecewakan eyang dan kami disini. Kakak faham kan maksud Uma?" ucap Habibah menasehati putri tercintanya.
" Iya Uma... Maaf kalau buat Uma sedih sama pertanyaan aku tadi. Aku janji, aku akan jadi anak tang penurut. Supaya gak ada yang aku kecewakan nantinya." jawab Nur Laily sambil mengusap air mata yang entah kapan sudah jatuh di ujung dagunya.
Hati Habibah merasa sakit melihat ketidak berdayaan gadis kecil yang kini wajahnya terpampang di layar handphonenya. Tapi apa boleh buat, karena pada kenyataannya Habibah sendiri pun tak bisa berbuat banyak untuk Nur Laily.
***
Maafkan author nya ya leaders, Lama gak up karena sempat sakit covid dan dikarantina juga. Tapi sekarang Alhamdulillah sudah oke, jadi bisa up lagi
Sekali lagi mohon maaf jika sudah mengecewakan leaders semua.
__ADS_1
Terima kasih yang sudah setia menunggu up an dari author.. Jaga kesehatan ya...🥰🥰🙏