
Sementara di tempat yang lain, Habibah sedang merasakan kegelisahan yang luar biasa. Hal yang tak pernah di alami sebelumnya.
Zelly yang melihat hal itu jadi ikut merasa khawatir. Mengingat kandungan Habibah yang cukup lemah.
" Sayang... Ada apa? Apa yang kamu rasakan? Apa ada yang gak nyaman? Atau ada yang sakit? Mau kita periksa kerumah sakit?" tanya Zelly penuh kecemasan.
" Gak mas. Gak tau kenapa kok hati ini tiba-tiba gelisah banget. Dan gak tau kenapa ada rasa khawatir pada neneknya Zain.
Kira-kira ada apa ya mas dengan beliau? Takutnya ada apa-apa, kan beliau lagi sakit mas?"
". Mudah-mudahan gak terjadi apapun pada beliau, doakan saja semoga semuanya baik-baik saja. Jangan terlalu banyak berpikir. Ingat dengan kondisi kandungan mu.
Positif thinking aja, mungkin beliau lagi rindu sama kamu dan Zain. Jangan terlalu banyak berpikir, ingat dengan kondisimu juga.
Nanti kamu bisa menelpon mereka untuk tau kondisi neneknya Zain. Oke? Sekarang istirahatlah." hibur zelly.
Habibah pun hanya bisa menuruti perkataan dari suaminya itu, meski dalam hatinya masih merasakan kegelisahan.
Ke esokan harinya, Habibah mendapatkan telpon dari Qodir. Iya mengabarkan jika sang ibu sedang berada di rumah sakit karena mendadak kondisinya ngedrop.
Kepanikan tak dapat di tutupi dari wajah ayu Habibah. Dengan tangan yang bergetar serta air mata yang tak dapat di bendung Habibah menghubungi Zelly untuk menyampaikan kabar buruk itu pada Zelly.
" Tenangkan dirimu sayang. Aku tau kamu khawatir, tapi kamu juga jangan sepanik itu. Kalau benar begitu keadaannya, kita bisa pergi ke sana besok untuk membesuknya. Tapi sekarang kamu harus tenang, supaya keadaanmu gak ikutan ngedrop. Kalau kamu ngedrop bagaimana kita bisa membesuk neneknya Zain?" Zelly mengingatkan Habibah dengan penuh perhatian dan kelembutan yang akan menenangkan siapa saja yang mendengarnya.
Itulah salah satu yang membuat Habibah banyak merasa tak enak hati pada suaminya itu. Pengertiannya terlalu tinggi pada setiap hal yang berkaitan dengan masa lalunya.
" Terima kasih mas, terima kasih atas pengertian mas selama ini. Maafkan kalau Bibah masih akan selalu merepotkan mas. Dan maaf kalau Bibah gak bisa membalasnya dengan yang setimpal...."
" Sstt... Kamu bicara apa sih sayang? Kamu itu istriku, bukan orang lain. Dan sebagai suami sudah sewajarnya untuk selalu ada untuk mu setiap saat kamu membutuhkan aku. Jadi jangan pernah berkata seperti itu lagi. Kalau kamu masih mengatakannya berarti aku ini bagai orang asing untukmu. Dan aku pasti akan sangat kecewa.
Apapun yang aku lakukan semata-mata hanya untuk kamu bahagia, karena kalau kamu bahagia maka akupun akan ikut merasa bahagia. Begitupun sebaliknya. Kamu harus ingat kata-kata ku, adanya kamu ada sebagian dari kehidupanku.
Kalau mau pakai bahasa yang lebay nya seperti di lagu-lagu cinta, kamu adalah separuh nyawaku, belahan jiwaku dan aww....." belum sempat Zelly menyelesaikan kalimatnya, ia sudah mendapatkan cubitan di pinggangnya.
Zelly lantas tertawa begitu melihat raut wajah istrinya yang memerah karena malu. Dengan bibir yang mengerucut serta mata yang mendelik. Begitu menggemaskan dalam pandangan Zelly.
Karena tak tahan dengan godaan dari suaminya yang terus tertawa sambil mencolek-colek pipi tembemnya. Akhirnya Habibah beranjak meninggalkan suaminya dengan perasaan kesal bercampur malu karena terus di goda Zelly.
__ADS_1
****
Akhir pekan yang biasanya cerah kini nampak mendung. Dan seperti hari-hari biasanya, Habibah tak bisa bersantai saat pagi hari. Walaupun sudah ada mbok Ratih yang membantu pekerjaan rumah, tapi tetap saja Habibah turun tangan untuk menyiapkan sarapan bagi suami dan anaknya.
Setelah menyendokan nasi dan lauknya untuk sang suami serta bersiap menyuapi Zain. Tiba-tiba saja terdengar suara dering handphone miliknya yang ia letakkan di meja dapur.
" Sebentar ya sayang, Uma terima telepon dulu." ucap Habibah pada Zain.
" Iya, Uma. Zain bisa suap sendiri kok. Kan Zain sudah besar, sudah sekolah juga." sahut Zain sambil menarik piring makannya agar lebih dekat kehadapannya.
Habibah mengusap kepalan Zain sambil tersenyum, lalu beranjak meninggalkan ruang makan menuju dapur yang tak jauh dari ruang makan. Beberapa saat kemudian, Susan menggantikan Habibah untuk menyuapi Zain.
Nada dering pertama telah padam, tapi baru saja Habibah hendak memeriksa nomer si penelpon. Handphone nya kembali berdering. Dan begitu di perhatikan, ternyata yang menelponnya. adalah Qodir. Entah mengapa tiba-tiba rasa khawatir dalam hatinya kembali menguat.
" Assalamu'alaykum...." sapa Habibah begitu menggeser tombol hijau pada layar.
" Wa'alaykumussalam warrahmatullah wabarokaatuh...
Habibah.... Ada kabar untukmu..." jawab Qodir diujung telpon. Jawaban Qodir sontak mengundang firasat buruk dihati dan fikirannya. Jantungnya tiba-tiba berpacu disertai getaran halus di tubuhnya yang tiba-tiba membeku.
" Mama...." Qodir menjeda kaimatnya. namun terdengar jelas di telinga Habibah jika saat ini Qodir sedang mengatur emosinya. Hal itu terdengar jelas dari suara nafas Qodir yang nampak berat dan tersengal.
" Ada apa dengan mama?! Mama baik-baik aja kan mas?" tanya Habibah tak sabar dalam kepanikan.
Terdengar helaan nafas berat Qodir sebelum akhirnya berkata " Mama sudah pulang.... tadi subuh mama sudah pulang.." ulang Qodir dengar getaran suara yang sangat jelas.
Hal yang paling di takutkan habibah akhirnya terjadi. Kabar yang sama sekali tak pernah ingin dia dengar, akhirnya hari ini harus dia dengar juga.
Bahkan Habibah sudah tak bisa mendengar lagi apa yang di ucapkan oleh Qodir di ujung telponnya. Tiba-tiba semuanya menghilang dari pandangan dan fikirannya. Dia mendadak linglung, bahkan dia tak menyadari kala handphone yang di genggamnya tadi telah terlepas dan jatuh terhempas ke lantai.
Zelly yang sedang menikmati sarapannya sambil mendampingi Zain yang tengah sarapan sendiri terkejut saat mendengar suara benda yang terhempas ke lantai. Dengan sigap Zelly segera menghampiri Habibah yang masih didapur.
" Ada apa sayang, kamu kenapa?" tanya Zelly begitu melihat keadaan Habibah yang berdiri mematung dengan wajah yang pucat juga pandangan mata yang kosong.
Zelly merengkuh tubuh mungil istrinya itu dengan lembut, tapi tindakannya itu cukup menyadarkan Habibah yang beberapa waktu jiwanya entah kemana. Begitu menyadari Zelly tengah memeluknya dengan lembut dan hangat, Habibah baru bisa mengeluarkan air matanya tadi yang tiba-tiba saja terasa membeku.
Zelly tak langsung bertanya ada apa dan kenapa lagi pada istrinya. Dia membiarkan istrinya menumpahkan semua yang kesedihan dalam hatinya dalam bentuk tangisan. Meski air matanya membasahi pakaian yang dikenakan nya. Dia tak memperdulikannya.
__ADS_1
Di lihatnya mbok Ratih yang hanya tertegun di dekat kulkas dengan wajah yang kebingungan menyaksikan majikannya yang menangis tanpa tau apa penyebabnya. Zelly hanya menganggukkan kepalanya sebagai tanda bahwa tak perlu mengkhawatirkan Habibah Dan mbok Ratih pun hanya membalas anggukan tuannya dengan penuh keraguan di matanya.
Sementara Habibah masih menangis sampai dia merasa lemas dan hampir tak mampu lagi untuk berdiri, kalau saja Zelly tak sedang memeluknya sudah bisa di pastikan dia akan jatuh kelantai. Untungnya Zelly menahannya dalam pelukannya, jadi begitu menyadari tubuh mungil dalam pelukannya itu melemah dia buru-buru membopongnya kedalam kamar. Zelly tak ingin Zain melihat keadaan ibunya yang dalam keadaan tak baik-baik saja.
Setelah beberapa saat, akhirnya Habibah pun tertidur dalam dekapan Zelly karena lelah menangis. Zelly membaringkan Habibah dengan pelan dan hati-hati, khawatir jika ia akan terbangun.
Di usapnya pelan sisa air mata yang membasahi pipi Habibah. Ditatap lekat wajah yang masih terlihat imut meski usianya bukan lagi anak remaja. Tapi, entah mengapa wajah Habibah masih tampak seperti anak SMA yang masih polos.
Zelly menghela nafas perlahan, dia dapat merasakan apa yang dirasakan oleh istrinya itu. Dia mengerti betapa berat kehilangan orang yang sangat berarti dalam hidup. Dia juga tau, ada ikatan tersendiri antara Habibah dengan ibu mertuanya itu. Meski terkadang dia merasa sedikit cemburu pada kedekatan antara keduanya. Karena selama menjadi istrinya, dia belum pernah melihat kedekatan yang mencolok Anata Habibah dengan sang ibu.
Akhirnya Zelly pun beranjak dari kamar dan sebelum ia meninggalkan Habibah yang terlelap, Zelly masih menyempatkan diri untuk menyelimuti sang istri. Zelly memperhatikan kembali wajah sang istri dengan perasaan yang sedikit kacau.
Zelly meninggalkan kamarnya dengan sangat pelan ia menutup pintunya karena takut mengganggu istrinya yang tengah terlelap. Zelly menuju ruang tamu dan duduk termangu di sofa seorang diri.
Pikirannya berlarian kesana kemari memikrkan banyak hal yang tiba-tiba memenuhi kepalanya. Di saat Zelly hanyut dalam fikirannya, tiba-tiba ada sentuhan lembut dari sebuah tangan mungil milik Zain.
" Abah... Abah kenapa bengong? Mana Uma?" tanya Zain dengan wajah polosnya yang menggemaskan.
" Aih, sayang.... Mari sini.. Abah gak lagi bengong kok sayang.. Abah cuma lagi bertanya-tanya aja, anak jagoan Abah ini rindu gak sama nenek Zain? Bagaimana kalau kita pergi kesana untuk menjenguknya?" tanya Zelly sambil mengangkat Zain kedalam pangkuannya .
" Zain gak kangen kok.. Kl sama nenek dan eyang Zain baru kangen.." sahut Zain sembari menatap wajah Zelly penuh tanya.
" Hmm... Bagaimana kalau kita pergi jenguk nenek Masurai? Nenek Zain lagi sakit, jadi besok kita jenguk ya.."
" Siapa nenek Masurai itu?" tanya Zain bingung karena merasa tak mengenalnya.
" Nenek Masurai itu ibu dari abahnya Zain. Dulu Zain pernah ketemu, cuma Zain masih kecil. Jadi, Zain gak ingat. Nanti kalau sudah ketemu Zain pasti akan ingat. Nenek Masurai itu orangnya sangat baik dan sangat sayang pada Uma dan Zain. Jadi Zain juga harus sayang pada nenek Masurai. Oke?"
" Oke..." jawab Zain meski tak begitu mengerti dengan apa yang di ucapkan oleh Zelly.
***
Hai readers....!
Mohon maaf baru bisa update lagi karena ada sesuatu hal yang menyebabkan author vakum selama beberapa bulan . Atas ketidaknyamanan ini author benar-benar meminta maaf kepada readers setia Perjalanan Cinta Habibah..
Atas pengertiannya author ucapkan terimakasih 🙏🙏
__ADS_1