Perjalanan Cinta Habibah..

Perjalanan Cinta Habibah..
Pekerjaan baru


__ADS_3

Dua hari dirumah, Habibah pun mulai mengurus berkas lamaran pekerjaan di sebuah perusahaan Sawit yang tak jauh dari kampungnya. Dari mengurus surat kesehatan sampai mengurus surat keterangan berkelakuan baik dari kepolisian dia lakukan sendiri. Setelah tiga hari semua berkas persyaratan lamaran pekerjaannya telah selesai. Dan diapun di jemput oleh seorang teman sekolahnya dulu saat duduk dimadrasah Tsanawiyah Agus untuk sama-sama menyerahkan surat lamaran pekerjaannya ke bagian personalia. Dua Minggu kemudian mereka pun mendapat panggilan interview, saat di interview itu Habibah mendapatkan sebuah pertanyaan yang menurutnya agak aneh.


" Kalau kamu di terima kerja di perusahaan ini, mana yang mau kamu pilih jadi Kerani Kantor atau Kerani lapangan?" tanya seorang Askep yang menginterview nya.


" Saya ingin bekerja di bagian Kerani lapangan" jawabnya yakin.


" Kenapa? Berikan alasanmu?" tanyanya lagi.


" Saya lebih suka berada di lapangan sebab bisa lebih banyak berinteraksi dengan banyak orang dan bisa lebih mengenal karakter orang dari berbagai suku. Selain itu saya tak begitu menyukai pekerjaan yang banyak duduk, saya lebih menyukai pekerjaan yang menuntut saya agar lebih banyak bergerak" jawabnya lagi.


" Apakah kamu tak takut kepanasan dan kotor? Biasanya seorang gadis tak menyukai keadaan yang panas ataupun kotor. Itu sebabnya pekerjaan di lapangan lebih banyak di lakukan oleh laki-laki." tanya Askep itu lagi.


" Banyak duduk itu membosankan pak" jawab Habibah singkat. Jawabannya membuat Askep dan beberapa Manajer yang menginterview nya tertawa. Karena jawaban semacam itu nyaris tak pernah mereka dapatkan apalagi dari seorang gadis yang cantik juga berhijab.


" Baiklah kamu bisa keluar sekarang, kamu bisa menunggu kabar dari kami satu Minggu lagi. Jika kamu di terima kamu pasti akan menerima surat panggilan kerja dari kami." ucap salah seorang Manajer sambil berdiri dan mengulurkan tangannya. Tapi gadis itu tak menyambutnya, dia hanya menangkupkan kedua tangannya didepan dadanya dengan sedikit membungkukkan badannya. Mereka sedikit terkejut dengan sikap gadis itu, tapi akhirnya mereka mengerti gadis itu tak berjabatan tangan dengan sembarang lelaki.

__ADS_1


Salah satu Askep yang menginterview Habibah begitu tertarik dengan sikap Habibah yang sangat berbeda dengan gadis seusianya yang sedang senang-senangnya mencari perhatian dari lawan jenisnya. Tapi gadis itu seolah menutup diri dari itu semua. Rudy adalah nama Askep itu. Pria tampan berusia tiga puluh lima tahunan yang berasal dari pulau Sumatra yang memang terkenal dengan sifatnya yang agak genit pada gadis-gadis. Melihat sikap yang ditunjukkan oleh Habibah dia merasa ada suatu tantangan dihadapannya.


Kalau dia benar-benar diterima bekerja di sini, aku ingin tau seberapa kuatnya gadis itu bertahan dengan prinsipnya. Kalau aku tak bisa menggoyahkan prinsipnya itu, aku akan tinggalkan tempat ini. Dia bertaruh dengan dirinya sendiri.


Sementara Agus berada di tempat yang berbeda dengan Habibah sebab Agus mengajukan lamaran pekerjaannya untuk posisi sebagai seorang scurity. Itu sebabnya dia harus menjalani tes fisik dan tertulis juga interview secara lisan juga. Lebih sulit dari Habibah, sehingga saat Habibah pulang, Agus belum bisa pulang kerumahnya.


Sesampainya di rumah, gadis itu merebahkan dirinya di atas kasur tipisnya. Tak sengaja matanya melihat sesuatu disamping koper di atas lemari pakaiannya. Akhirnya diapun bangkit dari pembaringan nya dan meraih apa yang dilihatnya tadi. Eh, bukannya ini hadiah dari ibu dan bapak tempo hari itu ya? Kok sampai bisa lupa belum membukanya. Fikirnya setelah ingat bahwa kotak yang di tangannya itu hadiah ulang tahun dari majikannya tempo hari saat dia akan pulang ke kampung.


Perlahan dia membuka bungkusan kotak itu sambil bertanya-tanya dalam hati, apakah isinya? Begitu bungkusannya terbuka nampaklah sebuah kotak yang bergambarkan handphone. Ini beneran handphone atau bukan ya isinya? Atau cuma kotaknya aja? Tanyanya penasaran. Akhirnya setelah di buka, dia pun tertegun melihat isi didalamnya. Wah, beneran handphone..!! Serunya dalam hati. Selain handphone didalamnya juga terdapat sebuah kartu perdana yang masih bersegel dengan sebuah nomor yang sangat mudah di ingat baginya dengan akhiran angka tahun kelahirannya.


" Gak nyangka hadiahnya handphone" gumamnya pelan. Dia yakin handphone itu mahal ( untuk diukur dari kemampuan dia itu terlalu mahal). Dia merasa orang yang pertama harus dia hubungi adalah mantan majikannya itu. Untuk mengucapkan terimakasih kepada mereka. Setelah itu dia pun belajar menggunakan handphone itu melalui buku panduan yang ada di dalam kotak itu. Perlahan-lahan dia mencobanya untuk mengirim pesan kepada mantan majikannya itu.


" Assalamu'alaykum.." sapa orang diseberang sana.


" Wa'alaykumussalam warrahmatullah.." sahut Habibah dengan berdebar-debar. karena itu adalah pengalaman pertamanya menggunakan handphone dengan panggilan yang pertama pula.

__ADS_1


" Hai bibah apa kabar? Dimana kamu sekarang? Kenapa baru di aktifkan nomor ponselmu? ibu sudah berkali-kali coba hubungi nomor ini tapi belum aktif- aktif juga. Sudah mau satu bulan baru kamu aktifkan, ibu tuh kangen dengan suara kamu." Meylan segera memberondong dengan banyak pertanyaan pada Habibah.


" Maaf Bu, saya baru buka kado ibu dan bapak tadi siang, dan langsung saya coba hubungi ibu. Saya kira pesan saya gak sampai, ternyata sampai ya Bu? Maaf ya Bu, saya masih belajar pakai handphone nya." ucap Habibah polos.


Obrolan pun berlanjut hingga hampir satu jam lamanya, sampai Habibah sendiri tak tahu mau membicarakan apa dengan mantan majikannya itu. Yang banyak bercerita dan bertanya justru Meylan , Habibah hanya menimpali sebisanya saja.


Seminggu kemudian Agus datang kembali menemuinya demi menyerahkan surat panggilan kerja di perusahaan Sawit yang Minggu lalu dia pergi interview. Dia sungguh tak menyangka kalau dia akan benar-benar diterima bekerja disana dengan posisi sebagai Kerani lapangan. Wah, benar-benar di lapangan...! Seru dalam hatinya bergembira. Tanpa dia sadari bibirnya tersenyum lebar , dan itu terlihat jelas oleh Agus.


" Mimpi apa aku semalam ya, hari ini aku bisa lihat kamu tersenyum selebar itu? Hasilnya pasti seperti yang kamu harapkan ya? Kalau gak, gak mungkin kami bisa segembira itu, iya kan..?!" ucap Agus dengan sedikit menggodanya.


" Kamu benar, saya di terima bekerja di tempat yang saya mau. KERANI LAPANGAN.." serunya dengan sedikit ditahan walau masih dengan senyum lebarnya tetap menghiasi wajah cantiknya di sore itu.


" Ya sudah, kalau gitu aku pulang dulu ya, hari pertama besok kamu kerja jangan sampai terlambat ya..?!" pesannya sebelum akhirnya melajukan motornya pulang.


Sementara Habibah masih memandangi surat panggilan kerja itu sambil tersenyum dan masih tersisa perasaan tak percaya dengan apa yang dia terima saat itu. Dia terus membayangkan bagaimana hari pertama dia kerja besok, apakah atasannya baik atau tidak, teman kerjanya dan juga lingkungan tempat dia bekerja bagaimana. Semua berkelebatan dalam fikirannya. Yah.. lihat besok ajalah, mudah-mudahan semuanya baik-baik aja.. Aamiin..

__ADS_1


***


gak bosan-bosan untuk minta dukungannya ya dengan like dan komennya.. terimakasih 🥰 semoga


__ADS_2