
Hari-hari yang di tunggu- tunggu itu akhirnya datang juga. Purnomo datang mengunjungi rumah itu di sore hari.
Ting tong..Ting tong..
Suara bel berbunyi nyaring, Meylan yang baru akan naik kelantai atas akhirnya berbalik dan membukakan pintu.
" Maaf kak Mey, Alvian nya ada?" sapa Purnomo begitu tahu siapa yang membukakan pintu untuk nya..
" Ada tuh dikamarnya, masuk aja Pur.. Kamu lama gak main kesini lho, bagaimana dengan kuliahmu? Apa ada kendala? "
" Alhamdulillah kuliah saya masih aman terkendali kok kak Mey." sahut Purnomo.
" Oh ya, besok kamu nginap di sini aja Pur. Aku dan suami akan ada pekerjaan diluar kota selama dua Minggu dan sepulang dari sana bakal langsung kembali ke perusahaan yang ada di kampung kamu.. Sudah lama kami belum kembali kesana dan sekarang sudah gak bisa di tunda lagi. Jadi mungkin lebih baik kalau kamu tinggal di sini temani Alvian. Rumah sebesar ini akan semakin sepi Pur kalau kami pergi nanti. Dan kemungkinan kami baru bisa kembali kesini tiga bulan lagi." Kata Meylan pada Purnomo seraya mempersilahkannya agar menemui adiknya yang berada dikamarnya.
"" Nanti saya usahakan untuk bisa temani Alvian disini kak, terimakasih sudah menawarkan tempat tinggal disini." ucap Purnomo sungkan.
Meylan hanya menganggukkan kepalanya lalu naik kelantai atas menuju kamarnya.
Richard dan Meylan memang jarang ada dirumah karena suami istri bekerja. Itu sebabnya rumah sebesar itu nampak sepi apalagi Richard dan Meylan belum juga dikaruniai keturunan padahal mereka sudah menikah selama tujuh tahun. Dan saat ini mereka sedang mengikuti program bayi tabung. Dengan harapan mereka akan segera mendapatkan keturunan.
Ririn melihat kedatangan Purnomo sangat senang dan bergegas menghampiri Habibah yang sedang menyiram bunga di halaman rumah.
" Bibah ...!!" Serunya dengan setengah berlari menghampiri nya.
" Cowok yang hari itu datang lagi lho.. Nanti kamu temani aku ya untuk kenalan sama dia." imbuhnya sambil memegang tangan Habibah.
" Kamu sesenang itu dia datang. Kamu suka sama dia?"selidik Habibah akhirnya.
__ADS_1
" Sepertinya begitu." jawabnya sambil tersenyum malu-malu.
" Iya nanti saya coba ya. Saya usahakan biar kamu bisa jadian sama dia." ucapnya. Walau entah kenapa hatinya tiba-tiba terasa perih.
Setelah makan malam semua kembali ke kamar masing-masing. Hanya Habibah yang keluar rumah menuju taman di halaman rumah dan duduk di sebuah gazebo kecil yang berada di tengah-tengah taman itu. Tak lupa " sahabat sejatinya" buku diary nya pun dia bawa. Entah kenapa malam itu dia sangat ingin duduk disana. Menikmati semilir angin yang berhembus lembut dari arah sungai yang memang tak jauh dari kediaman majikannya itu. Dia menuliskan banyak kata dalam buku diary nya, setelah dirasa semua yang ada dalam hatinya telah dia tumpahkan disana dia pun menelungkup kan wajahnya. Angannya menerawang jauh entah kemana sampai akhirnya dia tertidur disana.
Richard yang baru datang dari kegiatan di luar sangat terkejut saat ada seseorang tersorot lampu dari mobilnya saat dia sedang memasuki halaman rumahnya. Setelah memasukan mobilnya ke garasi, diapun menghampiri orang yang dilihatnya tadi dan dia menemukan pembantunya itu tertidur disana.
" Bibah bangun. Kamu kenapa tidur disini?" sambil menepuk pundaknya agar gadis itu bangun.
" Astaghfirullah hal 'adzim.. Ma'af pak, saya gak sengaja ketiduran di sini." dia refleks berdiri karena terkejut dan yang lebih mengejutkan ternyata yang membangunkannya itu adalah majikannya.
" Ya sudah ayo masuk, ini sudah tengah malam. Gak baik kalau terlalu lama kena angin malam bisa-bisa kamu sakit. Ayo." Perintah Richard.
" iya pak." Habibah mengikuti langkah majikannya dengan perlahan. Dia takut majikannya itu berfikir macam-macam tentang dirinya yang negatif. Aiihhh... bagaimana bisa ketiduran di sini sih.? Kira-kira pak Richard mikir aku ini bagaimana ya? Gak akan nyangka yang gak-gak kan? keluhnya dalam hati.
" Pur, kamu tinggal dimana?" Richard memecah keheningan meja makan itu.
" Saya ngekost di dekat kampus koh." sahutnya disela-sela kegiatan sarapannya.
" Kenapa gak tinggal di sini aja Pur bareng Alvian, kalian kan satu kampus juga. Selain itu rumah ini terlalu besar kalau hanya dihuni oleh lima orang. Ririn juga jarang ada disini kalau malam , dia perlu menemani kakaknya yang baru saja melahirkan. Jadi dia kerjanya pulang pergi. Jadi tambah sepi kan rumah ini. Saya dan istri jarang ada dirumah juga, kebayangkan bagaimana sepinya rumah saya ini?." ucap Richard panjang lebar, dia mengharap sahabat adik iparnya itu mau tinggal dirumahnya.
" Iya koh, nanti saya akan temani Alvian , terimakasih Koko mau mengijinkan saya tinggal di sini." ucapnya dengan penuh rasa terima kasih.
" Kami yang berterima kasih sama kamu Pur, kamu bersedia menemani adikku ini. Kalau dia nakal di luaran kamu kasih tau ya biar ku jewer dia" Meylan ikut menimpali ucapan suaminya sambil melirik ke arah Alvian yang tersenyum mendengar ucapan kakaknya itu.
Seusai sarapan Richard dan Meylan berpamitan untuk pergi dalam urusan pekerjaan seperti yang dia katakan pada Purnomo pada malam sebelumnya bahwa mereka akan lama tak berada dirumah karena urusan pekerjaan. Dan pagi itu mereka berangkat. Setelah kepergian mereka, Ririn baru sampai di rumah itu dengan nafas tersengal-sengal karena berlari saat menuju rumah itu. Habibah, Alvian dan Purnomo yang melihatnya datang dengan keadaan seperti itu saling pandang karena heran.
__ADS_1
" Kamu kenapa Rin, habis di kejar anjing gila ya?" ledek Alvian.
" Aku terlambat tau..! Mangkanya aku lari mas." sahut Ririn kesal.
" Ya udah gak apa-apa, kita maklum. Ayo masuk." ajak Alvian lagi.
Tapi pandangan mata Ririn tak terfokus pada siapa yang sedang berbicara melainkan terfokus pada satu sosok yang sedang berjalan ke arah gazebo di taman. Yah, dia adalah Purnomo.
" Hei.. mau masuk gak?!" seru Alvian yang menyadari bahwa gadis itu tak memperhatikannya melainkan sahabatnya.
" Oh i..iya mas." sahut Ririn tergagap. Aduh.. malunya aku.. bisa-bisanya aku begini di depan mas Alvian.. tanpa disadari wajahnya pun merona karena malu. Alvian hanya tertawa kecil melihat rona malu diwajah pembantu kakaknya itu.
Alvian menghampiri Purnomo yang terlihat sedang duduk melamun di gazebo.
" Jangan suka melamun, nanti kesambet lho. Kalau kamu kesambet nanti aku juga yang repot." goda Alvian pada sahabatnya itu.
" Siapa yang melamun, gak ada kok.." Purnomo coba mengelak walaupun sebenarnya itu benar.
" Oh ya Pur, kayaknya Ririn naksir sama kamu lho.. " ujar Alvian tiba-tiba.
" Menurut ku Dia gadis yang baik, rajin dan lembut. Gak mau coba untuk saling kenal dulu?" imbuhnya lagi.
" Kamu jangan ngaco deh Al, aku kesini bukan untuk macarin pembantu kakakmu tapi untuk nemani kamu." dengus Purnomo tak suka.
" Gak masalah juga kok Pur, kan sambil menyelam minum air. Gak usah pusing acara apel dan kencan kan. Kalian bisa ketemu tiap hari." ucap Alvian sambil tertawa.
***
__ADS_1
kira-kira jadi gimana ya mereka🤔🤔