Perjalanan Cinta Habibah..

Perjalanan Cinta Habibah..
sikap Qodir


__ADS_3

Sesungguhnya Qodir pun merasakan apa yang di ucapkan oleh keluarganya dan sahabatnya itu. Dia bukan tak ingin melepaskan Lina, melainkan karena dia merasa malu telah gagal dua kali dalam rumah tangganya.


Walaupun tak ada seorangpun yang akan merendahkan dia hanya karena hal itu. Mungkin perasaan itu muncul karena rasa bersalah nya pada Habibah yang telah dia kecewakan hanya demi seorang wanita seperti Lina. Yang tadinya dia mengira akan bisa membuatnya bahagia karena ada rasa cinta di antara mereka, tapi justru jauh dari ekspektasi yang malah sangat menyakiti dia sendiri bahkan juga keluarganya.


Dia tak berani mengambil keputusan untuk meninggalkan Lina karena dia sadar sepenuhnya jika pilihannya untuk memilih Lina adalah sebuah kesalahan terfatal yang pernah dia lakukan.


Sesungguhnya dalam hatinya selalu berontak dengan segala sikap diam yang ia tunjukan di hadapan semua orang. Sehingga hari-hari yang di laluinya terasa sangat menyiksa batinnya.


* * * * *


Sore hari saat Qodir kembali kerumahnya, Lina telah menunggunya di ruang tamu dengan wajah yang benar-benar tak bersahabat


Sebenarnya Qodir hafal benar dengan sikap istrinya itu, hanya saja kali ini dia benar-benar tak ingin mendengar apapun dari mulut pedas Lina yang pasti akan melukai hatinya lagi.


" Kamu selalu saja begini, kalau ada masalah kamu selalu saja pergi. Kamu fikir aku gak capek dengan keadaan ini? Aku juga capek mas, aku juga ingin merasakan hidup tenang dan bahagia bersama kamu seperti istri-istri orang lain di luar sana.


Aku gak segila itu yang akan senang dengan segala keributan seperti ini setiap hari. Tapi mengertilah apa yang aku inginkan dari kamu. Jangan selalu bersikap seperti ini padaku, aku juga ingin merasakan pembelaan dari kamu.


Selama kita menikah, aku belum pernah merasa dibela oleh kamu di depan keluargamu. Kamu selalu diam setiap kali mereka memarahiku dan membicarakan aku di luar sana.


Sebenarnya kamu sayang gak sih sama aku mas?" Ujar Lina begitu melihat Qodir hanya melewati dirinya tanpa mengucapkan sepatah katapun.


Qodir tak menanggapi ucapan Lina. Dia bahkan tetap melanjutkan langkah kakinya menuju kamarnya.


Sikap diam Qodir itu semakin membuat hati Lina semakin panas. Di tambah Qodir malah berlalu begitu saja dari hadapan Lina tanpa berkata sepatah katapun, bahkan menatapnya pun tidak.

__ADS_1


Dengan amarah yang semakin meninggi, Lina mengejar Qodir dan mencekal lengan nya agar suaminya itu mau menghentikan langkahnya


" Mas..!! Kamu dengar gak sih kalau aku sedang bicara? Aku sedang bicara sama kamu mas! Teganya kamu mengabaikan aku seperti ini!" seru Lina dengan wajah yang mulai memerah karena amarah.


Qodir perlahan berbalik dan menatap wajah istrinya dengan tak bersemangat bahkan tak menunjukkan ekspresi yang jelas pada Lina.


Jelas hal itu semakin menambah kemarahan dalam hati Lina.


" Terus kamu mau aku bagaimana?" tanya Qodir dengan sikap dinginnya yang langsung menusuk hati Lina.


" Tentu saja aku mau kamu gak biarkan siapapun merendahkan aku di hadapanmu lagi, sekalipun itu orang tuamu mas. Supaya aku bisa merasakan rasa sayang dan perdulimu. Dan aku juga bisa merasakan kalau aku ini berarti untuk mu mas ! " jawab Lina dengan intonasi suara yang ditekan karena menahan amarahnya yang terlanjur meninggi.


" Aku harus bela kamu di bagian mananya? Bagaimana caranya agar aku Isa bela kamu? Bahkan kamu sendiripun tak pernah segan-segan untuk menjatuhkan harga diriku sebagai suamimu di hadapan semua orang? Bagaimana caranya agar aku bisa membanggakan mu di hadapan semua orang, sedangkan kamu sendiri tak berusaha menjaga marwahmu sendiri di hadapan mereka?" tanya Qodir dengan ekspresi wajah yang terlihat begitu putus asa.


Lina yang mendengar ucapan suaminya itu sangat terkejut, karena dia tak menyangka jika suaminya bakal mengeluhkan sikapnya langsung dihadapannya.


" Menurutmu? Apa kamu fikir semua orang itu hilang akal Lina? Hingga tak bisa lagi membedakan mana yang baik dan yang gak baik? Apa kamu pernah memikirkan jika seandainya posisimu itu ada di posisi mereka? Atau pernahkan kamu berusaha merasakan bagaimana perasaanku saat kamu memarahiku di hadapan banyak orang hanya karena rasa cemburumu yang tak beralasan? Bagaimana jika posisi kita di balik, aku yang berbuat seperti itu padamu. Apa yang akan kamu rasakan? Apakah kira-kira kamu masih merasa harga dirimu masih baik-baik saja? Apakah hatimu gak akan terluka?


Pernahkah kau bayangkan, jika sikapku pada keluargamu terutama pada orang tuamu seperti Bagaimana sikapmu pada orang tuaku. Apakah hatimu tetap akan baik-baik saja? Apakah kamu masih bisa menerimanya tanpa ada rasa kecewa dan terluka sama sekali dalam hatimu?


Jika seandainya kamu merasa kalau kamu akan baik-baik saja, apakah boleh kalau mulai sekarang aku bersikap sama sebagaimana kamu bersikap pada keluargaku bahkan pada orang tuaku?" ungkap Qodir meluapkan semua isi hatinya pada Lina.


" Jadi karena hal itu kamu selalu diam mas? Diam-diam kamu marah padaku dan bahkan menyimpan rasa dendam dalam hatimu karena hal ini, mas? " Lina melepaskan cekalan tangannya pada lengan sang suami dengan semakin tak percaya.


" Sudah bertahun-tahun kita bersama, mas. Kenapa baru sekarang kamu bilang? Kenapa gak dari dulu kamu bicara padaku?" tanya Lina dengan rasa kecewa yang semakin menggunung dalam hatinya.

__ADS_1


Lina tak menyangka jika suaminya pun merasa jika dia bersalah pada keluarganya.


" Jadi, sekarang kamu menyalahkan aku atas semua ini mas?" tanya Lina kembali untuk meyakinkan hatinya atas apa yang sudah dia dengarkan tadi.


" Jadi menurutmu Akau harus bagaimana, Lina? Coba jawablah pelan-pelan satu persatu semua pertanyaan ku tadi. Aku ingin sekali tau jawaban darimu. Kalau kamu sudah dapat jawabannya, kamu secepatnya kasih tau aku " ucap Qodir sambil berlalu meninggalkan Lina yang masih terpaku ditempatnya berdiri.


Lina benar-benar tak pernah menyangka jika suaminya itu akan bicara setajam itu dengan wajah dinginnya yang tak pernah dia lihat sebelumnya.


Lina lebih suka jika Qodir marah dengan ekspresi marahnya yang biasa dia tunjukkan padanya di setiap kali mereka bertengkar. Dari pada dengan sikap dingin suaminya yang sekarang yang ternyata terasa sangat menusuk dalam hatinya.


"Dia kenapa tiba-tiba bisa berubah jadi sedingin itu sih?


Apakah aku seburuk itu di mata semua orang?


Bahkan di mata suamiku sendiri?


Aku gak masalah jika orang lain yang akan menjadi lawanku, tapi bagaimana bisa yang sekarang aku hadapi adalah suamiku sendiri?


Orang yang aku sangka bisa jadi tempat berlindung ku dari setiap kata buruk dari semua orang.


Tapi sekarang, justru keluhan negatif itu justru datang dari mulut suamiku sendiri.


Mas, sebenarnya aku ini masih ada dalam hatimu gak sih?


Kalau masih ada gak mungkin kamu bisa dan tega berkata seperti itu padaku..

__ADS_1


Apakah sudah ada orang lain lagi dalam hatimu?"


Pikiran Lina sudah mulai melantur ke mana-mana hanya karena perubahan sikap dari suaminya.


__ADS_2