Perjalanan Cinta Habibah..

Perjalanan Cinta Habibah..
kehilangan harapan


__ADS_3

Seminggu telah berlalu sejak pemakaman anak habibah, Habibahpun telah diperbolehkan pulang. Walaupun kesedihan masih nampak jelas dimatanya, namun Habibah berusaha untuk tegar.


Setelah istirahat beberapa hari dan Habibah merasa cukup kuat untuk berjalan agak jauh, akhirnya Habibah nekat untuk pergi menziarahi makam anaknya yang ternyata dimakamkan persis disamping makam almarhum suaminya. Jadi Habibah bisa menziarahi mereka sekaligus.


Habibah nampak berjongkok untuk membersihkan makam almarhum suaminya dari rerumputan dan dedaunan yang mengotori permukaan makam. setelah membersihkannya, Habibah nampak membacakan ayat-ayat suci lalu mendoakannya.


Mas, maafkan aku yang gak bisa menjaga amanah terakhirmu ini. Allah menyayanginya sebagaimana Allah menyayangimu.


Allah lebih suka jika anak kita bersama denganmu, Allah tak menyukai anak kita kesulitan saat hidup bersamaku.


Mas, aku kangen sama kamu.


Aku kangen dengan semua masa-masa yang pernah kita lalui bersama sejak kita masih sekolah sampai kamu pergi ke haribaanNya.


Aku merindukan semua senyum dan tawamu.


Aku rindu saat kamu marah , aku rindu saat kamu bersikap menggemaskan. Dan aku rindu semua yang ada padamu mas.


Mas, Aku kira anak kita akan jadi pengobat segala kerinduanku padamu.


Tapi Allah tak menyukai harapanku itu. Mungkin harapanku itu keliru di hadapan Allah. Itu sebabnya Allah ambil anak kita kembali.


Mas, harapanku kita bisa berkumpul kembali kelak diakhirat. Biarlah kita berpisah di dunia, asalkan kita bisa bersama di akhirat nanti.


Aamiin........


Setelah puas dengan segala keluh kesahnya di samping pusara suaminya dan anaknya, Habibahpun pulang dengan perasaan yang sedikit lega. Meski masih menyisakan sedikit kesedihan, tapi kini dia sudah jauh lebih baik dari saat dia berjalan menuju pemakaman tadi.


* * *


Sementara jauh di sebuah kota di seberang pulau sana. Seorang pria tampan yang sedang duduk di sebuah kursi kayu dibawah sebatang pohon besar di taman yang memang banyak di kunjungi orang terutama disaat sore hari. Menatap jauh dengan pandangan yang menerawang entah kemana. Disandarkannya punggung pada sandaran kursi itu dengan malasnya. Dan dia hanya duduk seorang diri. Wajah tampannya tampak diselimuti kesuraman hatinya.


Didalam kesendiriannya dia hanya bisa mengenang masa lalunya yang terkadang membuat bibirnya menyunggingkan sebuah senyuman, meski senyumannya itu terlihat patah dan hambar.


Dirogohnya kantong celananya dan mengeluarkan benda pipih kesayangannya. Dibukanya lock folder yang tersimpan didalamnya. Di tatapnya dengan seksama, bahkan dia melupakan semua keramaian yang ada ditaman itu. Dia benar-benar merasa sendirian di dunianya saat ini.

__ADS_1


*Nur, apa kabarmu disana?


Sudahkah kamu bahagia kini?


Bagaimana dengan anakmu?


Pasti sudah lahir sekarang, dan apakah dia cantik seperti mu ataukah dia tampan seperti ayahnya?


Nur, berdosakah aku jika aku masih merindukanmu?


Walaupun aku hanya merindukanmu dalam diamku.


Apakah tuhan akan marah padaku?


Nur, slahkah jika aku masih menyimpan segala kenangan ku ini? Berdosakah aku yang masih menyimpan wajah dan namamu dalam hatiku hingga saat ini?


Jika kau tau, apakah kaupun akan marah padaku?


Nur, jauh darimu adalah sebuah siksaan yang sangat panjang bagiku. Tekadku tak sekuat perasaanku padamu. Ternyata melupakanmu adalah hal yang mustahil bagiku. Dan aku sudah menyerah untuk itu*.


Tiba-tiba handphone yang digenggamnya bergetar beberapa kali. Diliriknya layar handphonenya dan tertera sebuah nama yang tak pernah dia harapkan ada dalam hidupnya..


Berkali-kali handphonenya bergetar , namun masih dia abaikan. Sampai terdengar sebuah dentingan sebagai notifikasi ada sebuah pesan yang masuk. Diapun membukanya.


Hai, kamu dimana? Ini sudah sore kenapa kamu gak cepat pulang?Jangan lupa bawakan aku makanan kalau kau pulang nanti.


Yah, itu adalah pesan yang hampir setiap hari dia terima. Dengan kalimat yang hampir sama setiap harinya. Sebenarnya dia sangat bosan, tapi dia tak bisa berbuat apa-apa.


" Hai Zell? Kamu kah itu?" terdengar sebuah suara yang menanyakan tentang dirinya. Dengan berat hati dia menatap ke arah suara itu datang.


" Kau Rud, kapan kau pulang?" tanyanya sambil berdiri menyambut kedatangan temannya dengan sebuah pelukan ringan


" Aku gak salah lihatkan? Bagaimana bisa sahabatku jadi seperti ini? Ya Allah...! Kamu kurusan sekarang, Sedang apa kau di sini seorang diri? Dimanakah istrimu? Bukankah kamu sudah menikah?" tanya Rudy bertubi-tubi.


" Aish....! Kau ini macam polisi yang lagi interogasi aja, Aku cuma sedang cari angin saja. Dan istri... Hmm..." Zelly menggantungkan kalimatnya saat mengatakan tentang istrinya. Wajahnya terlihat tersenyum getir. Dan Rudy sahabatnya itu bisa melihatnya dengan jelas.

__ADS_1


" Ya sudahlah.... Gak usah di bahas kalau kau tak mau membahasnya. Aku hanya terkejut saja, melihat keadaanmu sekarang. Seharusnya kau lebih terawat saat kau sudah menikah. Bukan seperti ini.." Rudy menepuk-nepuk pelan bahu Zelly.


Zelly bukan tak hanya tak ingin membahas tentang istrinya. Jika bisa, diapun tak ingin bertemu dengannya saat pulang kerumahnya. Istri yang seharusnya melayaninya tapi justru kerap kali menyakiti hatinya. Zelly masih mengerjakan segalanya sendiri, kecuali jika ibunya atau mertuanya datang, baru istrinya akan baik padanya.


" Ingat ya, aku mau menikah denganmu karena orang tuaku yang banyak berhutang Budi pada orang tuamu. Kalau tidak, siapa yang mau menikah dengan bujang lapuk sepertimu? Sedangkan aku masih muda dan cantik begini, jadi kamu jangan mengharapkan macam-macam dariku. Jangan pernah campuri urusanku dan dan jangan mimpi untuk bisa menyentuhku. " ucap wanita yang kini menjadi istrinya itu saat mereka baru saja selesai melakukan resepsi pernikahan.


Sebenarnya hatinya sangat sakit mendengar perkataan Riana istrinya itu. Tapi Zelly tak pernah melayani setiap ucapan yang dilontarkan padanya, sesakit apapun itu. Dia menyadari jika keadaannya itu memang tak akan mudah untuk diterima oleh wanita muda seperti Riana.


Hari demi hari dilaluinya dengan rasa sakit dan kesepian yang semakin mencengkram jiwanya. Seakan memutuskan segala harapan indah dalam hidupnya. Dia jalani hidupnya dengan apa adanya. Tanpa ada tujuan dan impian.


Zelly memiliki usaha kuliner dan bengkel mobil. Dan penghasilannya bisa dibilang lebih dari kata lumayan. Itu semua hasil jerih payahnya selama 10 tahun lebih dia bekerja diperantauan. Namun keadaan ekonominya itu tak menjadikannya bahagia. Karena pada kenyataannya, dia seperti tak memperdulikan dirinya sendiri.


" Rud, bagaimana kabarnya? Apakah dia baik-baik saja?" tanyanya pelan.


"Ya ampun Zell...! Kamu masih seperti ini? Zelly, aku tak melihat adanya kekurangan padamu. Tapi bagaimana bisa kau hanya terpaku pada satu wanita? Sedangkan kau sendiri sudah menikah sekarang." jawab Rudy yang menatapnya tak percaya. Dia benar-benar tak habis fikir jika sahabatnya itu bisa sampai seperti itu padahal saat ini sudah memiliki seorang istri.


" Istri..?" tanyanya getir.


" Dia hanya wanita asing yang sebenarnya sangat membenciku. Wanita yang selalu merendahkan aku, yang tak pernah menghargai apapun yang ada padaku selain uangku. Itukah yang kau sebut istri?" ucap Zelly sambil menatap jauh kedepan.


Rudy sangat terkejut mendengar penuturan yang diucapkan Zelly. Dia tak menyangka jika sahabatnya itu menjalani hidup yang tak mudah dalam rumah tangganya. Tadinya dia menyangka jika keadaannya saat ini hanya karena perasaannya pada Habibah. Ternyata dia mendapatkan seorang istri yang jauh dari kata baik sebagai seorang istri.


" Maaf Zell, aku tak tau kau mengalami hal seburuk itu dengan rumah tanggamu. Tapi kenapa kau diam saja dengan sikap istrimu itu?" tanya Rudy penasaran dengan sikap diamnya Zelly.


" Apakah akan berubah jika aku meladeninya? Akankah dia jadi baik padaku? Akankah bisa merubah kenyataan jika memang aku ini hanya seorang bujang lapuk? Dan apakah bisa merubah kenyataan jika memang dia itu wanita yang masih muda dan cantik yang seharusnya menikah dengan laki-laki yang pantas untuknya. Bukan laki-laki seusiaku yang menikahinya dengan cara dijodohkan. Dan apa gunanya aku marah padanya, karena pada kenyataannya aku ini hanya seorang laki-laki yang payah." ucap Zelly dengan ekspresi wajah yang menunjukan kepasrahan pada takdirnya atau malah bisa di bilang jika itu adalah rasa putus asanya.


Rudy sudah tak bisa berkata-kata lagi. Hanya rasa prihatin yang dimilikinya untuk sahabatnya itu.


" Bang, ayo kita pulang..!" seru seorang wanita pada Rudy yang masih memikirkan nasib sahabatnya itu.


" Maaf ya Zell, aku harus pulang. Kau juga harus pulang dan urus dirimu dengan baik. Dan mengenai Habibah. Dia baru saja kehilangan anaknya karena kecelakaan. Hanya itu yang aku tau, karena aku juga hanya mendengar orang-orang yang membicarakannya. Selebihnya aku tak tau. Rawatlah dirimu baik-baik, bayangkanlah jika saat ini dia ada dihadapanmu. Apakah dia akan senang melihat keadaanmu yang seperti ini? Sayangilah dirimu,. anggaplah itu juga demi dia." ucap Rudy sambil menepuk bahu Zelly sebelum akhirnya dia pergi meninggalkannya.


Nur, benarkah kau akan sedih jika melihatku seperti ini?


***

__ADS_1


Maaf ya baru bisa up lagi, terima kasih buat yang selalu setia menanti up dari author yang lagi riweuh ini🥰🥰


__ADS_2