
Seharian dirumah ibu Sofia, Habibah merasa sangat gembira karena kehangatan yang ada dirumah itu sangat menenangkan hati. Canda tawa tercipta didalam rumah itu, meski Habibah tak bisa tertawa lepas seperti yang lain, tapi itu sudah sangat membuatnya bahagia.
Seperti saat mereka selesai dengan aktivitas makan siangnya, Habibah memutuskan untuk tidur siang dirumah mertuanya itu. Anak-anak tidur dikamar Nur Laily yang berada tepat bersebelahan dengan kamar Purnomo. Setelah Nur Laily dan Zain tidur, Habibah segera kembali ke kamar tidur Purnomo yang berarti telah menjadi kamarnya juga. Saat Habibah masuk, dia melihat suaminya sedang memegang sebuah album foto yang besar dan tebal ditangannya.
Ditatapnya satu persatu foto-foto yang ada di setiap lembaran album itu, hingga dia tak menyadari keberadaan Habibah yang sudah berdiri disampingnya demi memperhatikannya.
" Apa yang buat mas begitu fokus melihat foto-foto ini?" tanya Habibah yang membuat Purnomo terkejut.
" Oh.. Kamu sudah kembali? Duduklah... Aku hanya sedang melihat-lihat foto dimasa lalu." jawab Purnomo dengan senyuman tipisnya.
" Boleh tanya sesuatu?" tanya Habibah ragu-ragu.
" Tanyakanlah apapun yang ingin kamu tanyakan dan ingin kamu tau, Aku akan jawab semua pertanyaanmu yang memang aku bisa menjawabnya. Dan semoga aku bisa menjawab semua yang akan kamu tanyakan nanti." jawab Purnomo dengan lembutnya sembari meraih tangan Habibah.
" Emm... Boleh saya tau, kenapa mas bisa melakukan semua ini? Apa yang membuat mas bisa seperti ini? Bukankah saya telah banyak menyakiti hati mas dan bahkan merusak kehidupan mas dengan menjodohkannya dengan Ririn? Kenapa dengan semua yang telah saya lakukan itu tak membuat mas membenci saya atau marah pada saya?"
__ADS_1
" Hei...! Mana satu yang harus aku jawab hem? Kenapa banyak sekali pertanyaannya? Tapi tak apa, aku akan jawab semuanya... Maka dengarkan baik-baik, jangan sampai ada yang terlewat oke..?
Dengarkan aku... Aku jatuh hati pada gadis remaja yang ada didalam foto ini sejak pertama kali aku melihatnya bukan sejak aku mengenalnya. Karena aku jatuh hati padanya saat aku belum mengenalnya, lebih tepatnya sebelum dia mengenalku. Karena sebelumnya hanya aku yang tau dia tapi dia gak tau aku, hehehe...
Yang membuatku jatuh hati padanya adalah sikap waspada ya pada semua laki-laki, dia juga sangat dingin, dia itu galak, jutek tapi dia juga imut, dan satu hal yang membuatku jatuh hati sekaligus kagum adalah dia itu rajin dan gak malu dengan pekerjaan dalam kesehariannya. Aku sering memperhatikannya diam-diam, dia tak pernah terlihat tersenyum sama sekali, dia benar-benar seperti tak punya hati, dia seperti robot yang bernyawa. Ekspresi wajah yang datar, tatapan mata yang tajam, dan dia adalah cewek tomboy yang berhasil membuatku penasaran setengah mati. Kamu lihat ini, ini adalah foto saat pertama kali aku lihat dia hanya saja aku belum tau siapa namanya. Dia adalah cinta monyet ku yang pertama dan juga jadi jadi cinta pertamaku hingga kini. Entah mantra apa yang sudah dia bacakan untukku sampai aku tak pernah bisa benar-benar marah padanya. Hanya dia wanita yang bisa membuatku menangis setelah ibuku. Tapi walau begitu aku tetap tak bisa marah padanya. Seolah hatiku ini ada dalam kendalinya. Aku berkali-kali ingin lari dari ikatan yang mengekang hatiku ini, tapi semakin aku mencobanya hatiku justru semakin terikat kuat padanya. Setiap aku rindu padanya, aku selalu membuat sebuah surat untuknya walau tak pernah satupun suratku yang aku berikan padanya. Tapi entah mengapa rasa rinduku seolah akan terobati begitu saja setelah aku menuliskannya dan menyimpannya seolah dia sudah mengetahui apa yang aku sampaikan dalam setiap kata yang aku tulis di setiap surat-surat ku itu.
Aku bahagia setiap kali bisa melihatnya walaupun aku melihatnya dari jarak jauh, aku sudah sangat bahagia dan tenang saat aku tau dia dalam keadaan baik-baik saja. Aku jatuh hati padanya saat aku masih diusia yang benar-benar remaja. Waktu itu usiaku baru 14 tahun dan dia 3 tahun lebih muda dariku, dan aku tetap tak bisa melihat wanita lain hingga saat ini aku berusia 37 tahun. Aku ingat dulu aku bilang kalau aku suka padanya saat aku berusia 17 tahun, dan aku selalu menunggu jawabannya sampai saat ini. Dia tak pernah sekalipun mengatakan jika dia menyukaiku ataukah tidak. Walaupun aku sudah mengetahui bagaimana perasaannya padaku dari buku diarynya yang aku temukan. Tapi aku ingin sekali mendengarnya langsung dari mulutnya sendiri. Bodohnya aku adalah, disaat aku benar-benar ingin mengetahui perasaannya padaku itu seperti apa aku justru tak pernah bisa melihat isi hatinya sama sekali. Sampai aku benar-benar harus kehilangan dia baru aku tau perasaannya padaku itupun karena diarynya itu.
Tapi aku tak pernah berhenti berdoa untuk kebahagiaan untuknya, aku berkali-kali lari dari kenyataan bahwa aku tak bisa lepas dari perasaanku ini dan akhirnya aku pasrah. Tapi aku sekarang bersyukur dengan syukur yang sebesar-besarnya pada Allah, karena perasaanku dan ketulusanku ini tak sia-sia. Karena wanita itu kini ada bersamaku dan selalu membuatku jatuh hati berkali-kali.
Apa masih ada yang ingin kamu tanyakan lagi?" Purnomo tak melepaskan pandangannya barang sedetik saja dari wajah Habibah sepanjang dia mengungkapkan akan perasaannya pada wanita yang sangat dia cintainya itu. Dia ingin melihat setiap perubahan wajah istrinya jika mendengar pengakuannya itu. Bahkan Purnomo tak menyangka jika semua ucapannya bisa membuat istrinya meneteskan air mata. Seolah sedang mendengarkan dongeng cerita cinta yang menyedihkan.
" Maafkan saya mas..." hanya kalimat itu yang keluar dari mulut mungil Habibah.
" Kenapa. harus minta maaf? Aku tak pernah menyalahkanmu.. Allah yang menghendaki aku untuk seperti itu dan aku menerimanya dengan ikhlas dan aku tak pernah menyesalinya. Dan ternyata Allah punya rencana yang lebih indah untukku. Kau dikembalikan padaku dalam keadaan yang lebih baik dan indah dari pada saat aku yang dulu benar-benar mengharapkanmu. Tapi belehkah aku mendengar kata-kata yang selama ini ingin aku dengar darimu itu? Bukan aku meragukanmu atau tak percaya padamu, tapi aku ingin mendengar kata-kata indah itu langsung dari bibirmu ini sayang." bisik Purnomo sembari menyentuh lembut bibir Habibah. Yang otomatis membuat pipi tembemnya merona dan degup jantungnya berdebar dengan hebatnya.
__ADS_1
" Apa itu harus? " tanyanya merasa tak yakin dia bisa mengatakan kata-kata yang di inginkan oleh suaminya. Dia benar-benar malu jika harus mengatakannya langsung.
" Emm..."
Habibah terdiam beberapa saat seolah dia sedang berfikir bagaimana cara mengatakannya dan sekaligus mengumpulkan keberaniannya agar dia bisa mengatakannya dengan benar, karena seumur hidup nya dia tak pernah mengatakan tentang perasaan cintanya pada siapapun. Ditariknya nafas dalam-dalam dan dihempaskan perlahan dan itu dilakukannya hingga tiga kali helaan nafasnya.
" Baiklah.. Maka dengarkanlah... Sebagaimana perasaan mas pada saya seperti itulah saya pada mas. Hanya saja saya tak pernah tau sejak kapan saya memiliki perasaan itu, yang saya tau saya terlalu nyaman dengan adanya mas didekat saya.. Dan mungkin saya juga sama seperti mas, mas adalah orang pertama yang membuat saya rindu dan merasa kehilangan. Saya selalu merasa rindu jika sehari saja saya tak jumpa dengan mas, saya merasa kehilangan saat kita benar-benar tak bisa dekat dan bertemu lagi. Saya merasakan pedih dalam hati saya setiap kali melihat mas dekat dengan perempuan lain. Mas adalah orang pertama yang bisa membuat saya menangis karena sakit dalam hati saya yang saya sendiri tak tau kenapa. Dan mas adalah orang pertama yang membuat saya menjadi orang yang kejam, mas adalah sahabat sekaligus kekasih buat saya. Saya menyadari itu saat saya merasa saya tak pantas untuk mas. Mas terlalu baik buat saya, itu sebabnya saya ingin mas mendapatkan yang jauh lebih baik dari saya tapi tak disangka apa yang saya baik aalah yang terburuk untuk mas. Dan itu juga menyakiti hati saya. Dan sekarang saya bisa mengatakan dengan yakin seyakin-yakinnya kalau saya benar cinta pada mas Pur. Entah dulu ataupun sekarang. Saya tak pernah merasa bahagia seperti saat saya bisa bersama dengan mas, dan mas Pur adalah satu-satunya yang saya inginkan sekarang dan disisa hidup saya. Karena saya sangat mencintai suami saya ini." panjang lebar Habibah menyampaikan isi hatinya yang tak pernah bisa dia ucapkan sejak dulu. Ditatapnya wajah suaminya yang tersenyum dengan manisnya, dan Purnomo pun memeluknya dengan kedua tangan kekarnya. Betapa hangat pelukan yang diberikannya.
" Terima kasih sayang... Aku bahagia sekali bisa mendengar semua ini langsung darimu bukan hanya dari tulisan bisumu. Aku benar-benar bahagia..." air mata haru akhirnya berhasil meluncur bebas dari pelupuk mata Purnomo yang sejak tadi dia tahan saat istrinya mengungkapkan isi hatinya.
***
Jujur itu membahagiakan hati.
Jangan lupa kembali author mengingatkan untuk terus mendukung author dengan like, komen dan vote/tip nya ya...
__ADS_1
Terima kasih 🥰🥰🙏