Perjalanan Cinta Habibah..

Perjalanan Cinta Habibah..
Harus "puasa" lagi


__ADS_3

" Ma.. Kami pamit pulang dulu. Hubungi kami jika ada yang mama butuhkan. Maafkan kami kalau kami tak bisa tinggal lebih lama lagi disini." ucap Habibah berpamitan pada mertuanya.


" Iya sayang.. Gak apa-apa. Terima kasih kalian sudah menemani kami sampai selama ini, memang sudah waktunya kalian pulang." jawab ibu Masurai. Habibah menghampiri Qodir yang terbaring tak berdaya dan memperhatikannya dengan penuh iba.


" Mas Qodir... Bangunlah.. Bibah sudah maafkan semua kesalahanmu, Bibah juga sudah maafkan semua kesalahan mba Lina. Jadi jangan jadikan masa lalu sebagai beban dalam hatimu. Jalanilah hidupmu dengan sebaik-baiknya dan jaga juga kesehatanmu. Bibah janji, kalau mas bangun dan sembuh boleh menemui Zain kapan saja dan boleh bermain dengannya. Yang terpenting sekarang mas bangun ya? Kami mau pamit pulang karena aku tak memungkinkan untuk menginap disini kan? Karena mas dirawat bukan dihotel, tapi rumah sakit. Sayang banget kan jadi kami gak bisa nginap rame-rame..?" Habibah terus mengajak Qodir bicara dengan lembut. Dia teringat pesan dokternya agar sering-sering membawanya berbicara. Setelah beberapa saat kemudian Habibahpun benar-benar. berpamitan dan pulang.


Sesampainya dirumah, Habibah memandikan Zain dan menyuapinya makan malam. Semua kembali bahagia dengan kembalinya Zain ketengah-tengah mereka. Setelah makan malam selesai, Habibah membawa anak-anak kekamar tidurnya sendiri yang tepat berada di samping kamar Habibah. Kamar itu dulunya adalah kamar tidur Maryam adik Habibah. Sekarang menjadi kamar anak-anak. Didalam ada dua tepat tidur, Zain tidur di atas dan Nur Laily tidur dibawah. Seperti biasa Habibah selalu membimbing membaca doa sebelum tidur dan bertanya ingin dipeluk atau ingin Habibah menceritakan sesuatu. Tapi Zain memilih dipeluk saja. Mungkin karena dia masih rindu dengan pelukan ibunya juga merasa lelah jadi ingin cepat tidur.


" Uma.. Apakah benar orang yang sakit itu papanya Adek Zain?" tiba-tiba terdengar suara Nur menanyakan siapa sebenarnya Qodir.


Habibah perlahan-lahan melepaskan pelukan tangan mungil Zain dari tubuhnya dan menutupinya dengan selimut. Perlahan-lahan Habibah turun dari atas tempat tidur Zain dan turun kekasur Nur Laily yang ada dibawahnya. Habibah berbaring disisi gadis kecilnya dan mengusap lembut kepalanya.


" Iya sayang.. Dia itu memang Abahnya kandungnya Zain. Tapi Adek Zain gak akan kemana-mana kok, dia akan tetap dengan kita. Jadi jangan khawatir ya, kita akan tetap bersama-sama. Sekarang kau tidur ya sayang, jangan sampai telat bangun subuh." Habibah mencoba menghilangkan kekhawatiran gadis kecilnya yang menggemaskan itu. Dikecup keningnya dan mengusap kepalanya dengan lembut. Perlakuannya membuat Nur Laily merasa terlena dan dengan cepat membawanya masuk kedalam mimpi yang indah.


Purnomo menunggu Habibah ditempat tidurnya sambil memainkan handphonenya. Selang beberapa waktu, orang yang ditunggunya datang. Namun sesaat kemudian Habibah pergi lagi ke kamar mandi. Bahkan Purnomo belum sempat berkata-kata istrinya sudah hilang dibalik pintu kamar mandi. Agak lama Habibah didalam kamar mandi membuat Purnomo khawatir. Diketuknya pintu kamar mandinya dan dipanggilnya Habibah. Namun tak ada sahutan dari Habibah.


" Sayang.. Kamu ngapain didalam? Kamu gak apa-apa kan?" seru Purnomo khawatir. Namun tetap tak ada jawaban dari dalam kamar mandi. Purnomo merasa panik sendiri, sebab pintu kamar mandinya dikunci dari dalam. Tapi baru saja dia berniat untuk mendobrak pintu kamar mandi itu, tiba-tiba pintunya terbuka.

__ADS_1


" Pyuhh..! Ku kira kamu kenapa-kenapa didalam. Kenapa kok lama banget didalam? Kenapa gak jawab panggilanku tadi,. aku jadi khawatir kirain kamu kenapa-kenapa didalam. Hampir aku dobrak pintunya." Oceh Purnomo dengan menghembuskan nafas lega. Tadi dia benar-benar sudah berfikir buruk, tapi melihat Habibah baik-baik saja itu benar-benar membuatnya merasa lega.


" Lagian mas ini aneh.. Orang didalam kamar mandi kok di ajak bicara. Orang yang ada didalam kamar mandi itu gak boleh di ajak bicara." jawab Habibah sambil melewati Purnomo yang masih berdiri didepan kamar mandi.


" Iya maaf.. Aku tau gak boleh, cuma tadi aku khawatir aja soalnya kamu kok lama didalam. Aku takut kamu kenapa-kenapa aja kok. Terus kamu tadi kenapa lama banget didalam?" tanya Purnomo penasaran kenapa istrinya lama berada di dalam kamar mandinya.


Habibah hanya diam dan sangat jelas terlihat jika wajahnya merona. Namun Habibah segera menelungkup kan tubuhnya di tempat tidur. Purnomo semakin penasaran dan gemas dengan sikap diamnya Habibah.


" Sayang..." Purnomo ikut berbaring disampingnya dan menyentuh punggung Habibah. Entah datang dari mana, tiba-tiba saja dadanya berdegup kencang saat dia menyadari keintiman di antara mereka.


" Sayang.. Kita kan sudah resmi menikah, masa aku gak boleh lihat kamu tanpa jilbab besarmu ini? Boleh ya? Bangun dong sayang, kamu gak sesak nafaskah telungkup begini? " Purnomo kembali berbisik dengan lembutnya. Akhirnya Habibah bangun dan duduk dengan menundukan wajahnya. Dibukanya jilbab besarnya dengan perlahan. Namun wajahnya menunjukkan jika dia sangat malu melakukan itu, sebab wajah sangat merah menahan malu. Purnomo tersenyum bahagia melihat wajah istrinya yang merona seperti ini.. Dia benar-benar merasa gemas dengan sikap pemalu istrinya itu, ingin rasanya di mencubit kedua pipi tembem milik istrinya yang menggemaskan.


Diulurkan tangannya menyentuh kepala Habibah dan terus turun dan melepaskan ikatan rambut istrinya. Digeraikannya rambut panjang istrinya yang hitam bergelombang.


Ya Allah...


Betapa indah ciptaanmu yang kau berikan kepadaku..

__ADS_1


Sungguh dia adalah anugerah terindah yang pernah aku miliki. Terima kasih ya Allah.. Kau jadikan dia milikku..


Dikepcup keningnya dengan lembut dan diraihnya dagu Habibah yang sejak tadi hanya menundukkan wajahnya agar berhadapan dengan wajahnya.


" Sayang.. Boleh gak kalau malam ini aku..." Purnomo menggantungkan kalimatnya. Karena dia yakin Habibah mengerti apa yang di maksud olehnya.


" Maaf mas, sepertinya gak bisa. Karena baru tadi tamu saya datang. Mangkanya tadi agak lama di kamar mandi.." ucap Habibah dengan wajah yang semakin memerah karna malu.


" Apa..? Aaaahhhh...! Ya Allah, kenapa harus sekarang sih..! Seru Purnomo sambil menjatuhkan tubuhnya kebelakang dan mengucek-nhucek rambutnya. Dia tertawa sambil meninju-ninju bantal, walau dia tak tau apa yang dia tertawaan. Tingkah Purnomo membuat Habibah tertawa, tingkahnya terlihat lucu di matanya.


" Mas, jangan ribut.. Yang lain sudah pada tidur lho.. Sekarang tidurlah, ini sudah hampir larut malam. Jangan sampai kesiangan bangun subuh." Sambil tertawa Habibah mengingatkan suaminya agar tak ribut lagi.


" Yaahh.. Terpaksa deh puasanya diperpanjang sampai seminggu kedepan. Baiklah.. Ayo kita tidur, dari pada nanti ada yang "bangun " dan repot kalau dia bangun susah disuruh tidurnya. Hahaha.." ucap Purnomo sembari menepuk-nepuk bantal agar Habibah baring di sampingnya. Habibah pun dengan malu-malu membaringkan tubuhnya disisi Purnomo dengan berbantalkan lengannya. Habibah ingin membelakangi Purnomo, namun Purnomo justru membalikkan tubuhnya menghadap kearahnya. Dipeluknya tubuh mungil Habibah dengan tangan kekarnya Jantung Habibah terasa akan meledak menerima perlakuan yang sehangat dabn seintim ini dari suaminya. Namun apa yang dilakukan oleh Purnomo perlahan-lahan mengusir rasa gugupnya dan berubah menjadi ketenangan dalam hatinya. Dia bahkan bisa merasakan hangatnya hembusan nafasnya yang menerpa wajahnya. Purnomo bukanlah suami pertamanya, namun serasa ini adalah pernikahan pertama baginya. Karena ini adalah pengalaman pertama baginya menerima perlakuan yang sehangat dan seintim ini dari seorang pria. Bahkan perasaan yang dirasakannya pun adalah perasaan yang tak pernah dia rasakan pada pernikahannya dengan Qodir.


***


Indahnya cinta hanya bisa dirasakan oleh orang-orang yang menjalaninya dengan penuh ketulusan.

__ADS_1


__ADS_2