
" Gak bisakah kamu berhenti memanggilku dengan sebutan bapak? Ga adakah panggilan lain yang pantas untukku?" tanya Zelly kesal.
" Seingatku dulu kamu masih bisa memanggilku dengan panggilan Mas untuk ku. Apakah sekarang sudah gak pantas kamu sematkan untukku? Apakah karena usiaku yang cukup jauh denganmu sampai tak ada panggilan lain yang pantas selain kata itu di matamu? kekesalan Zelly berbaur dengan kesenduan hatinya seolah ingin mengatakan kalau dia membenci panggilan itu.
Habibah benar-benar merasa tak enak hati mendengar keluhannya itu. Tapi lidahnya benar-benar telah terbiasa dengan sebutan itu pada Zelly. Rasanya canggung sekali kalau harus merubah panggilan baru untuknya.
" Maaf kan saya ma.. mas..!" ulang Habibah Ter bata-bata saat mengucapkan panggilan Mas untuk Zelly.
Zelly hanya tersenyum mendengar panggilan yang sudah sangat lama tak di dengarnya itu terucap dari mulut mungil Habibah.
" Kenapa harus begini sih pa.k .. eh mas.. Saya sudah menikah dua kali, saya juga ada dua anak, bagaimana dengan keluarga mas saat tau kondisi saya?" tanya Habibah serius.
" Bagaimana jika keluargaku tak pernah mempersoalkan akan hal itu, apakah kamu bersedia menikah denganku?" balik Zelly yang bertanya pada Habibah.
" Saya gak bisa jawab pak.. eh mas, karena sesungguhnya saya sudah tak berniat untuk menikah lagi. Maaf.."
" Kalau amu gak bisa jawab, lalu siapa yang bisa menjawabnya untuk ku?" tanya Zelly dengan hati yang sempat mencelos saat mendengar pengakuan dari wanita yang sangat dia cintai itu.
" Bagaimana kalau aku yang minta pada Uma? Apakah Uma mau menyetujuinya?" tiba-tiba terdengar sebuah suara yang mengejutkannya dari arah belakangnya.
" Sayang... Sedang apa kamu di sini? Kenapa gak tidur duluan?" Habibah segera menghampiri gadis kecilnya yang entah sejak kapan ada disana dan mendengarkan percakapan mereka.
" Uma.. Jika saja ada papa disini sekarang, papa juga pasti akan sedih lihat Uma yang seperti ini. Jangan jadikan kami anak-anak Uma jadi penghalang untuk Uma bahagia Uma. Aku rasa Om itu sangat baik, kalau gak baik bagaimana bisa dia menunggu Uma selama itu, Uma?" celotehnya di barengi dengan air matanya yang merembes melalui sudut mata indahnya yang jernih.
" Sayang....!" dekap Habibah penuh dengan kasih sayang. Dia tak tau harus berkata apa sekarang. Dia benar-benar tak siap dengan kejutan yang sebesar ini. Satu sisi gadis kecilnya yang sudah untuk kedua kalinya memintanya untuk menikah kembali dan di satu sisi ada Zelly yang tetap setia dengan segala perasaannya.
Ya Allah...!
Apa yang harus aku lakukan sekarang?
Haruskah aku mengikuti harapan mereka?
__ADS_1
" Bisakah kasih saya waktu untuk memikirkannya? Semua ini terlalu mendadak bagi saya." kata Habibah tanpa menoleh pada Zelly.
" Bolehkah aku meminta nomor ponselmu?" tanya Zelly tanpa menjawab apa yang di tanyakan oleh Habibah. Seraya Zelly menyodorkan handphone miliknya pada Habibah. Habibahpun mengetikkan beberapa digit angka di ponsel Zelly, lalu menyerahkan kembali pada pemilik ponsel itu dengan tertunduk.
Sebelum Habibah dan Nur Laily meninggalkan Zelly, tanpa di sangka gadis kecil itu menghampiri Zelly.
" Apa Om betul-betul serius dengan Uma? Apakah kalau Uma menikah dengan Om, Uma gak akan menangis lagi? Apakah om akan Sagang pada kami kalau Uma menikah dengan Om? " tanyanya tiba-tiba.
Zelly cukup terkejut mendengar pertanyaan yang di lontarkan oleh gadis kecil di hadapannya itu. Dia tak menyangka jika gadis sekecil itu mampu memikirkan pertanyaan yang cukup dewasa di usianya yang masih 9 tahun.
" Aku tak bisa menjanjikan hal yang masih menjadi rahasia Tuhan, tapi aku akan berusaha sebisa mungkin untuk membuat kalian bahagia dan aku akan menyayangi kalian sebagai keluargaku. satu hal yang bisa ku janjikan hanya satu, aku tak akan pernah menyia-nyiakan kalian dalam hidupku. Apakah itu cukup, cantik?" ucap Zelly sambil mengelus lembut kepala Nur Laily seperti saat pertemuan pertama dan keduanya tadi sore.
" Baiklah, kalau Om sudah bilang begitu. Berarti aku akan dukung Om untuk Uma." kata Nur Laily Habibah juga Zelly.
πππππππππππ
Hari-hari kompetisi dilalui dengan waktu yang amat panjang oleh Habibah. Sejak bertemu dan berbicara dengan Zelly, Habibah seolah kehilangan ketenangannya. Dia selalu merasa gelisah setiap harinya. Dia selalu merasa tak nyaman setiap kali menerima pesan singkat atau hanya sekedar chat dari Zelly. Karena sesungguhnya dia masih belum siap untuk bisa dekat dengan lawan jenis atau bahkan bisa di katakan tak siap untuk membuka diri dan hati untuk cinta yang baru selain dari almarhum suaminya.
Hingga babak final itu tiba dan Nur Laily memenangkan juara pertama di kategori kelompok, dan meraih juara kedua di kategori perorangan.
Setelah pertemuan Malam itu, Habibah tak pernah bertemu lagi dengan Zelly. Semua komunikasinya hanya lewat ponsel yang dengan sekedarnya saja. Sampai hari kepulangan mereka kembali ke kampung, Zelly tak menemui Habibah ataupun Nur Laily. Tapi bukan berarti Zelly tak memperhatikannya, karena pada kenyataannya Zelly masih menyempatkan diri untuk melihat kepergian rombongan sekolah yang membawa Habibah di dalamnya.
Baru saja bus yang membawa rombongan bergerak, sebuah pesan singkat diterima di ponsel Habibah.
" Hati-hati dijalan.. Sampaikan salamku untuk edua orang tuamu. Dan tunggulah aku satu pekan lagi, aku akan datang menemui kedua orang tuamu. Jika perlu aku akan menemui mertuamu untuk meminta izinnya agar aku bisa menikahinu. Sampai jumpa satu pekan lagi, aku akan merindukanmu selaluπ₯°."
Begitulah bunyi pesan singkat yang diterima Habibah dari Zelly. Habibah tak mengerti apa yang dirasakannya saat dia membaca pesan singkat dari Zelly itu. Semuanya seperti mimpi baginya, karena semua datang secara tiba-tiba. Bahkan dia belum tau bagaimana cara menyampaikannya kepada kedua orang tuanya nanti.
Sepanjang jalan itu Habibah hanya diam membisu, Nur Laily bisa melihat kegelisahan ibunya itu dengan jelas.
" Uma... Apa Uma marah sama Nur?" tanyanya khawatir.
__ADS_1
" Gak sayang, Uma gak marah kok. Uma cuma merasa lelah saja." jawab Habibah sambil meraih tangan kecil putrinya itu dan menggenggamnya dengan lembut.
" Uma... Apakah boleh kalau aku minta Om kemarin itu jadi Abahnya aku dan adik Zain?" tanyanya lagi.
" Apa kamu menyukainya kalau dia jadi Abahmu?" tanya Habibah lagi.
" Ya. Aku rasa dia orang yang baik. Dia sayang sama Uma, pasti dia juga nanti sayang sama kami. Dia juga sudah janji itu sama Nur." lanjut Nur Laily.
" Nanti aku tanya sama nenek dan kakek, apakah boleh kalau aku dan adik punya Abah baru? Aku juga nanti tanya ke eyang Uti dan eyang Kakung. Aku yakin mereka pasti bolehkan, Apalagi kayak Om yang ganteng juga baik, pasti boleh banget." ujarnya dengan antusias.
Habibah hanya bisa tersenyum mendengar celotehan polos dari putrinya itu. Ada sedikit harapan yang tumbuh dalam hatinya begitu mendengar perkataan yang penuh antusias begitu.
*Ya Allah...
Berikan aku petunjukmu untuk aku mengambil keputusan yang aku tau ini tidaklah mudah untuk ku.
Tapi aku tak akan mengingkari jika ini adalah keputusan yang kau putuskan untukku. Karena aku tau, jika ini adalah kehendakmu maka itulah yang terbaik untuk ku. Aku hanya bisa memohon padamu, agar kau bukakan pintu hatiku untuk bisa menerima dia dalam hidupku.
Walaupun bukan demi diriku, paling tidak demi anak-anak ku.
πππ
Drtt.. Drtt*.. Drtt....
Handphone Habibah bergetar di tas tangannya yang mungil. Dengan mata yang masih setengah terpejam Habibah meraih benda pipih itu dan meletakkan nya di tepi telinganya, yang sebelumnya dia menggeser tombol warna hijau dengan tanpa melihat layar.
" Assalamu'alaykum warrahmatullah wabarokaatuh.." ucapnya dengan suara yang parau.
" Wa'alaykumussalam warrahmatullah wabarokaatuh..
Sudah sampai mana sekarang?" suara di ujung telpon mengejutkannya.
__ADS_1
" Pak Zelly...!?" seketika matanya terbuka lebar saat mengenali pemilik suara si penelpon.
" Nur... Tak bisakah kamu panggil aku hanya dengan satu panggilan saja. Cukup panggil aku Mas saja.." suara itu terdengar lembut tapi cukup terasa jika dia sedang kesal.