Perjalanan Cinta Habibah..

Perjalanan Cinta Habibah..
kembali pulang


__ADS_3

Sesampainya di rumah, Habibah bergegas shalat Maghrib dan menyiapkan makan malam untuk keluarganya. Setelah menatanya dimeja makan, Habibahpun memanggil ayah ibunya serta adik-adiknya untuk makan bersama. Dalam keluarga Habibah sudah terbiasa jika makan tak diperbolehkan berbicara. Namun malam itu baru pertama kalinya terjadi, ditengah-tengah keheningan tina- ayahnya membuka suara.


" Nanti setelah makan, kamu jangan tidur dulu. Ayah dan ibumu mau bicara denganmu." perkataannya sudah barang tentu ditujukan pada Habibah walaupun ayahnya tak menyebutkan nama.


" Iya ayah.." jawab Habibah singkat.


Setelah semua selesai makan, Habibah membantu ibunya membereskan meja makan lalu mencuci piring yang telah digunakan makan tadi. Begitu semua sudah selesai dan rapi, diapun menghampiri ayahnya yang sedang duduk di teras rumahnya sambil menikmati secangkir kopi. Habibah duduk disamping ayahnya., sementara ibunya duduk disisi lain dari ayahnya.


" Jadi apa rencana kedepannya, apa yang akan kamu lakukan setelah menjadi janda seperti ini? Apakah kamu akan kembali kesana atau akan menetap disini?" pak Rukmana bertanya tanpa ada muqodimah terlebih dahulu.


To the points guys.. gak asyik banget khan..😪😪😪


" Bibah akan kembali kesana yah, sebab Bibah ada yang dikerjakan juga disana. Bibah sudah merintis usaha disana dan sekarang sudah lumayan. Jangan terlalu mengkhawatirkan Bibah dan Zain, kami akan baik-baik saja. Karena disana kami tak sendiri yah, banyak yang menyayangi kami dan menjaga kami. Kami punya saudara-saudara yang bersedia membantu kami kapan saja kami membutuhkannya. Mungkin status Bibah membuat ayah merasa khawatir dan gak nyaman. Tapi percayalah, kami bisa jaga diri kami baik-baik. Meski awalnya tak mudah bagi Bibah, tapi sekarang Bibah sudah terbiasa. Saya Habibah anak ayah, Bibah tak pernah minta apapun yang akan memberatkan ayah. Habibah hanya perlu kepercayaan ayah dan doa restu ayah, ayah pun tau itu. Jika suatu saat nanti Bibah benar-benar sudah tak mampu, Bibah pasti akan pulang kerumah ini lagi. Tapi bukan sekarang, bibah masih optimis dengan kemampuan yang diberikan Allah pada Bibah. Besok kami harus sudah kembali, jadi ayah dan ibu harus jaga kesehatan baik-baik. Jika nanti Bibah ada waktu Bibah pasti akan jenguk kesini lagi." Habibah menggenggam tangan ayahnya dengan kedua tangannya, dia ingin meyakinkan ayahnya agar jangan terlalu mengkhawatirkan dirinya dan Zain.

__ADS_1


" Tapi kenapa kamu buru-buru sekali sih..? Kenapa gak tunggu beberapa hari lagi?" protes ibunya setelah mendengar bahwa Habibah akan kembali esok hari.


" Kasihan orang-orang yang sudah Bibah tolak pesanannya. Dan bibah juga sudah capek disini gak ada kegiatan apa-apa. Rasanya badan Bibah sudah terlalu lama istirahat jadi pegel semua..hehehe.."


" Ya sudah, kalau memang itu yang jadi keputusanmu. Ayah dan ibumu hanya bisa mendukungmu dan merestui apapun yang menurutmu itu yang terbaik. Tapi nanti kalau ada apa-apa kabari kami, jangan menghilang lagi seperti selama ini."


" iya yah.. Bibah janji dan akan selalu ingat pesan ayah ini.. Ya sudah kita masuk Yah, Bu... sudah malam, Bibah juga mau istirahat awal biar besok gak terlalu lelah diperjalanan." Ucap Habibah sambil beranjak dari tempat duduknya untuk pergi tidur. Zain yang sedang bermain dengan Arkam anak dari Laily yang sudah berusia tiga tahun dihampirinya dan mengajaknya tidur. Zain hanya menurut apa kata ibunya.


Jam sudah menunjukkan pukul 00.30, tapi ternyata mata Habibah masih tak mau terpejam juga. Dia masih teringat surat-surat Purnomo yang dia baca tadi sore. Dia tak ingin mengingatnya, tapi tetap saja teringat dan tak mampu untuk menepisnya dari lamunannya. Apakah semua yang aku alami ini adalah karma? Aku menikah dengan orang yang tak bisa menerima diriku sama sekali. Dia menyakitiku tanpa ada kesalahan dariku. Ah... maafkan aku mas, aku benar-benar tak pernah menyangka jika perasaanmu sedalam itu padaku. Bahkan akulah yang membuatmu terluka berkali-kali. Aku hanya merasa tak pantas mendapatkan cinta darimu, cintamu yang terlalu tinggi untuk kuraih. Aku takut tenggelam kedalam harapan yang gelap. Aku terlalu takut untuk melalui kegelapan itu walau mungkin kau menungguku dengan cahaya cintamu diujung kegelapan itu. Aku hanya bisa mendoakanmu semoga kamu menemukan kebahagiaanmu dimanapun kamu berada. Segera lupakan aku mas, dan temukan bahagimu...


Akhirnya Habibahpun terlelap juga dalam berbagai macam harapan berkelebatan dalam lamunannya. Harapan tentang hidupnya dan juga tentang hidupnya Purnomo.


Keesokan harinya setelah shalat subuh, Habibah segera mengemas apa yang akan dibawanya kembali ke rumahnya. Setelah selesai, diapun segera membantu ibunya yang sedang memasak di dapur untuk sarapan bersama.

__ADS_1


" Kamu jadi pulang hari ini?" tanya ibunya ditengah-tengah kesibukannya memasak.


" Iya ma.. kasihan orang-orang yang mau pesan slalu dicancel. Kalau saya terlalu lama disini nanti gak ada pemasukan jugakan buat kami? Itu sebabnya kami harus cepat kembali. Nanti mama jaga kesehatan, nanti insya Allah saya pasti akan sering-sering telpon mama dan ayah. Jadi jangan khawatirkan kami lagi ya?" Habibah mencoba memberi pengertian pada ibunya.


Setelah semua tersedia dimeja makan, Habibah sekeluarga sarapan bersama. Dan seperti biasa, selama dimeja makan tak ada seorangpun yang berbicara. Yang terdengar hanya suara dentingan sendok yang beradu dengan piring. Begitu selesai sarapan, Habibah dan ibunya membersihkan meja makan dan mencuci piring kotor yang telah digunakan. Setelah semuanya selesai, Habibahpun bersiap-siap untuk berangkat kembali kerumah kontrakannya, karena travel yang diakan membawanya pulang akan segera datang. Begitu travel yang ditunggu datang, Habibahpun segera berpamitan pada ayah dan ibunya serta adik juga keponakan-keponakannya. Ibunya tak kuasa menahan kesedihan karena harus berpisah lagi dengan Habibah juga cucunya Zain. Namun dia juga tak bisa mencegah kepergian anaknya, karena itu adalah keputusannya dalam hidupnya.


" Hati-hati ya nak, Jagan lupa kabari kami jika apa-apa. Jangan dihadapi sendirian lagi. Kami akan selalu ada untukmu, jadi jangan sembunyikan apapun jika kamu perlu bantuan cepatlah kabari kami." pesan ayahnya saat Habibah memeluknya. Sedangkan ibunya sudah tak bisa berkata-kata, hanya air matanya saja yang tumpah tak tertahan.


" Sudah dong ma, Jangan nangis lagi. Bibah kan sudah janji bakal sering-sering telpon mama nanti. Jadi mama jangan lepas kepergian Bibah dengan nangis begini,. tapi diakan agar Bibah bisa sukses di sana, Hem...?" ucap Habibah sambil mengisap air mata ibunya.


Dengan berat hati, Habibahpun meninggalkan kampung halamannya itu, tapi dia merasa itu yang terbaik yang harus dia lakukan. Dia berharap dengan kepergiannya kali ini bisa membawa perubahan untuk dirinya juga buat orang-orang yang dia sayangi kedepannya. Sepanjang perjalanan Habibah terus terngiang-ngiang dengan semua ucapan-ucapan yang pernah diucapkan oleh Purnomo. Dia benar-benar tak bisa mengerti mengapa Purnomo bisa mengorbankan dirinya juga masa depannya hanya untuk mengikuti semua perkataannya? Sesuatu yang tak seharusnya dilakukan oleh Purnomo, tapi itulah yang dilakukannya. Cinta macam apa yang seperti itu? Apakah itu yang disebut cinta buta?


Habibah sibuk dengan lamunannya sendiri, sementara Zain pun asyik dengan mimpi indahnya yang tertidur dalam hangatnya pangkuan ibunya. Perjalanan yang cukup melelahkan itu tak begitu terasa karena ada tangan ibunya yang selalu bisa membuatnya merasa nyaman dimanapun dan kapanpun juga. Itulah kekuatan cinta seorang ibu.

__ADS_1


***


kasih ibu itu luar biasa, ya gak siech🥰🥰


__ADS_2