Perjalanan Cinta Habibah..

Perjalanan Cinta Habibah..
akhirnya tau


__ADS_3

Pagi itu, seperti hari-hari biasanya Habibah melakukan kegiatan masak-memasak di dapur kesayangannya. Tapi ada hal aneh yang dirasakannya, dia tak menyukai masakan yang dia masak. Hasil masakannya tak sesuai dengan yang ada dalam bayangannya. Dia merasa sangat kecewa dengan masakannya kali ini.


" Ma, bisa tolong bantu Bibah cicipi masakan Bibah? Kok rasanya aneh gini, gak tau apa yang salah sama masakan ini." pintanya pada ibunya yang baru masuk kedalam dapur untuk membuatkan kopi untuk pak Rukmana.


"Salah gimana sih, kok bisa salah?" tanya ibu Sumarni heran.


" Gak tau juga, cuma rasanya aneh aja gak seperti biasanya. Ada bau yang gak enak dicium dan rasanya itu gimana ya, susah dijelaskan lah." terang Habibah.


" Biasa aja kok, gak ada bau apa-apa. Sama seperti biasanya cuma kurang garam sedikit, sedikit aja." kata ibunya.


" Masa sih ma? Kayaknya ada masalah sama lidah dan hidung Bibah nih..!" ucap Habibah sambil memijit pelipisnya karena tiba-tiba terasa pusing.


" Sudahlah. Gak usah difikirkan soal itu, yang penting masakanmu tetap enak seperti biasanya." hibur ibunya lagi.


" Iya ma. Oh ya ma, nanti tolong suruh Dona yang siapkan dimeja ya. Soalnya Bibah ngerasa pusing banget ini, gak tau kenapa." pinta Habibah pada ibunya.


" Ya sudah, kamu istirahat aja. Biar nanti itu mama yang beresin." jawab ibunya. Tapi kegelisahan mulai menyelinap dalam hati ibunya. Dia takut kalau Habibah mulai menunjukkan gejala yang umum di alami oleh wanita hamil. Sementara Habibah sendiri belum tahu dengan kondisinya itu.


Sesampainya di dalam kamar, tiba-tiba rasa mual yang sangat dirasakan oleh Habibah. Tanpa banyak ba bi bu lagi, Habibah secepatnya lari ke kamar mandi untuk memuntahkan isi perutnya. Entah dari mana datangnya rasa mual yang tak tertahankan itu datang.


Mungkin masuk angin, nanti minta tolong Dona kerokin deh..


Gumam Habibah dalam hati.


Ibu dan ayahnya Habibah yang mengetahui Habibah baru saja muntah-muntah itu menjadi bertambah cemas. Mereka tak bisa membayangkan bagaimana reaksi putrinya itu jika tahu saat ini dirinya sedang mengandung.


" Don, bisa tolong kerokin gak? Kayaknya masuk angin nih." ucap Habibah saat berada di ambang pintu kamar Dona sambil mengurut pelan tengkuknya.


" Bisa Mau dimana, di sini atau di kamar kakak?" tanya Dona.


" Di kamar kakak aja deh.. biar langsung rebahan. Mungkin kalau sudah di bawa istirahat nanti baikan." jawab Habibah sambil melangkahkan kakinya kekamarnya. Dan Dona mengikutinya dari belakang.


Setelah dikerokin, Habibah sempat tertidur cukup lama. Sampai ibunya membangunkannya untuk makan. Karena memang Habibah belum makan apapun sejak pagi, tapi sudah mengosongkan perutnya dengan muntah beberapa kali.


Dengan berat hati Habibah mengikuti ibunya menuju meja makan, bahkan sesampainya di meja makan rasa mualnya tiba-tiba datang lagi dengan hebatnya begitu hidungnya mencium bau masakan yang terhidang di meja. Habibah benar-benar tak bisa menahan rasa mualnya lagi, Habibah segera berlari kebelakang untuk muntah lagi. Walaupun sudah gak ada yang bisa dikeluarkan lagi dari perutnya.


Kenapa hari ini aku merasa mual-mual terus ya?

__ADS_1


Eh, tunggu dulu..!


Kapan terakhir kali aku haidh ya? Aku bahkan sampai lupa dengan hal itu?


Jangan-jangan aku bukan masuk angin, tapi aku hamil.


Perlahan dia menyentuh perutnya, dia tersenyum tipis sambil mata yang berkaca-kaca.


Kalau benar aku hamil, aku harus senang atau sedih?


Mas Pur..


Kalau benar aku hamil anakmu, sekarang aku harus senang atau menangis?


Mungkin dia bisa jadi penggantimu untuk membuatku bahagia.


Tapi dia harus kehilanganmu sebelum dia tumbuh dalam rahimku.


Dia jadi piatu sebelum kita tau dia sudah ada di rahimku.


Dia kehilangan sosok mu jauh sebelum detak jantungnya bisa aku rasakan.


" Kamu kenapa sayang?" tanyanya pada Habibah.


" Ma, sepertinya Bibah hamil ma. Kalau masuk angin harusnya Bibah sudah baikan sekarang. Tadi Bibah cium bau masakan mama langsung mual banget. Dan ini mirip seperti waktu Bibah hamil Zain dulu." terang Habibah.


" Ayolah, kita keluar dulu dari sini. Batu kita bicarakan." ajak ibunya sambil membantu Habibah untuk bangun dari duduknya.


Habibah menuruti perkataan ibunya, dia mengikuti ibunya menuju ruang tamu dan duduk disana. Ibunya ikut duduk di samping Habibah yang wajahnya kini terlihat pucat. Digenggamnya tangan Habibah sambil menarik nafas dalam-dalam lalu menghembuskannya dengan berat.


" Maaf kan kami Bibah, sebenarnya kami sulit untuk menyampaikan hal ini sama kamu. Tapi kami juga tau, cepat atau lambat kamu juga pasti tau. Sebenarnya waktu kita sampai rumah tempo hari,. waktu kamu pingsan dan di bawa ke klinik. Kami tau kalau kamu sedang berbadan dua. Waktu dokter bilang kamu hamil, kami juga bingung dengan yang kami rasakan. Antara senang sekaligus sedih, apalagi kami tau kondisi kamu belum memungkinkan untuk mendengar hal yang seperti itu. Maka kami sepakat untuk mengatakannya di waktu yang tepat. Dan mungkin hari ini adalah waktu yang tepat untuk kamu tau. Sekarang usia kandunganku sudah masuk 4 bulan. Dan itu berarti, setelah kamu berhubungan dengan suamimu Allah langsung menghidupkan janin dalam rahimmu. Jadi kamu harus jaga dengan baik, ingat itu amanah dari Allah yang harus kamu jaga dengan sebaik-baiknya." ucap ibunya panjang lebar.


" Bibah tau ma, cuma... Kenapa Allah kasih ujian yang begini ke Bibah? Anak ini ada pun sebelum mas Pur tau kalau kami akan punya anak. Dan anak ini akan lahir tanpa adanya mas Pur di sisinya. Dia bahkan sudah jadi piatu waktu dia baru berkembang dalam rahim Bibah." keluh Habibah.


" Sabar nak, Allah kasih ujian ini tentu ada alasannya. Dan Allah kasih ujian seperti ini karena Allah tau kamu bisa menjalaninya dengan baik dan Allah tau kamu mampu melewatinya. Gak ada yang Allah jadikan di didunia ini yang tanpa alasan dan tujuan. Semua nya sudah ada alasan dan tujuannya sendiri dan itu tentu yang terbaik buat hambanya." nasehat ibunya lagi.


" Iya, ma... Bibah tau itu,. cuma rasanya ini..." Habibah tak menyelesaikan kalimatnya. Karena dia sendiri tak tau apa yang dirasakannya sekarang.

__ADS_1


"Assalamu'alaykum nenek...! Kakek..! Uma...! Bibi...!" Seru dua orang anak sambil berlari memasuki rumah. Habibah dan ibunya spontan berdiri dan menoleh kearah suara itu datang.


"Wa'alaykumussalam warrahmatullah wabarokaatuh..." jawabnya bersamaan.


" Sayang...! Kenapa lari-lari begitu? Pelan-pelan dong sayang.." Seru Habibah dengan suara yang agak nyaring.


" Nenek, apa Uma sakit?" tanya Nur Laily.


" Gak kok sayang, Uma kalian baik-baik aja." jawab neneknya.


" Tapi muka Uma pucat banget nek" ucap nur Laily tak percaya.


" Uma kalian itu bukannya sakit, tapi Uma kalian itu lagi nunggu kedatangan Adek baru kalian." jawabnya lagi.


" Adek baru? Maksudnya Uma hamil lagi?" tanya Nur Laily lagi.


Neneknya hanya mengangguk sambil tersenyum pada Nur Laily dan Zain yang masih bengong.


" Uma... Beneran Uma hamil lagi? Beneran kita mau punya Adek baru?" tanya Nur Laily memastikan ucapan neneknya.


Habibah hanya tersenyum dan mengangguk lemah sambil mengelus kepala kedua anaknya itu. Karena rasa haru yang ada dalam hatinya melihat anak-anaknya begitu antusias saat tau mereka akan punya adik baru. Habibah hanya bisa memeluk mereka dengan air mata yang tak bisa dia bendung lagi.


Perasaannya saat ini tak bisa di gambarkan sama sekali, karena antara bingung, senang, sedih dan terharu membaur jadi satu dalam hatinya. Apalagi setelah melihat kedua anaknya yang ternyata senang saat tau dia hamil yang itu berarti mereka akan punya adik baru. Demi melihat senyum mereka hati Habibah menjadi terasa pedih karenanya.


Mas Pur..


Aku akan berusaha menjaga apa yang kau tinggalkan dalam rahimku saat ini.


Aku akan menjaga amanah yang Allah titipkan dalam rahimku ini dengan sebaik mungkin.


Aku akan sayangi mereka dengan sepenuh hatiku.


Seandainya saat ini mas ada bersamaku, seandainya saat ini kau tau kalau keinginan mu sudah dikabulkan oleh Allah. Tentu kamu akan senang kan mas?


Dan aku gak akan merasakan semua perasaan ini sekarang😢😢


***

__ADS_1


Akhirnya author bisa up lagi ya,. walaupun agak telat. Maklum hasil dari nyuri-nyuri waktu daring🥰🥰


Terima kasih yang sudah setia menunggu up-nya..


__ADS_2