Perjalanan Cinta Habibah..

Perjalanan Cinta Habibah..
Cemburu


__ADS_3

Wajah Purnomo nampak berseri-seri tak seperti biasanya. Senyumnya terus menghiasi wajahnya yang tampan. Sementara Habibah menjadi wanita yang mendadak jadi pemalu bak gadis remaja yang sedang jatuh cinta. Pipinya yang putih dan tembem itu jadi sering terlihat merona.


" Kamu sakit?" tanya ibunya yang melihat wajah Habibah memerah saat memasuki dapur.


" Nggak kok ma, cuma lagi gak enak badan aja. Mungkin karena kecapean aja. Kita buat sarapan apa hari ini?" Habibah me coba mengalihkan perhatian ibunya.


" Kita masak nasi uduk aja, udah lama gak makan nasi uduk.. Kamu masak sayur lodehnya ya, biar mama yang masak nasinya." jawab ibunya sambil meneruskan pekerjaan nya. Sementara Habibah memotong beberapa buah labu Siam dan beberapa bahan untuk sayur lodeh yang akan dia masak.


" Kapan suamimu berangkat ke Sumatera lagi?" tanya ibunya disela-sela pekerjaannya.


" Insyaallah besok ma.." Habibah menjawabnya dengan singkat.


" Jadi,. lama lagi dong dia baru kembali ke Kalimantan?" tanya ibunya lagi.


" Iya.. Tapi kata mas Pur, dia mau Ngajukan mutasi kerja balik ke Kalimantan. Mudah-mudahan disetujui, doakan aja ya ma.."


" Memang bisa ya begitu?"


" Insya Allah bisa ma.. Mangkanya kita bantu doa semoga Allah memberikan kelancaran pada mas Pur untuk bisa kembali kerja disini lagi."


" Insya Allah, mama akan doakan.."


Sarapan telah siap dan sudah ditata dimeja makan, Habibahpun segera memanggil Purnomo yang masih berada dikamarnya. Dan ternyata Purnomo sedang menelpon dengan seseorang yang entah siapa. Habibah hanya berdiri diambang pintu kamarnya menunggu suaminya selesai dengan urusannya.. Setelah menunggu beberapa saat, akhirnya Purnomo selesai dengan telponnya. Habibahpun menghampirinya.

__ADS_1


" Ayo mas kita sarapan, udah siap tuh.. Saya mau lihat anak-anak dulu, mas duluan aja kesana." kata Habibah seraya berbalik hendak meninggalkan kamar, namun belum juga sempurna tubuhnya berbalik, tangan Purnomo sudah meraih tangannya yang otomatis menghentikan gerakan tubuh Habibah.


" Mau kemana?" tanya Purnomo sambil menarik tangan Habibah pelan agar mendekat padanya.


" Mau lihat anak-anak dulu mas, takutnya mereka belum siap. Selesai sarapan kan kita mau kerumah mama. Udah lama kita gak kesana, pasti mama rindu sama cucunya kan?" jawab Habibah sambil menatap wajah suaminya yang malah senyum-senyum sendiri.


" Memangnya aku sudah bolehkan kamu keluar, kan aku belum bilang apa-apa sayang." jawab Purnomo seraya memainkan jari-jari tangan Habibah yang berada didalam genggamannya.


" Udah dong mas, ini sudah siang. Gak enak sama mama dan ayah mungkin mereka sudah menunggu kita dimeja makan untuk sarapan bersama." Habibah berusaha bicara dengan nada yang serendah mungkin, agar suaranya tak terdengar sampai keluar kamar.


" Mau keluar, harus ada bayar upeti dulu dong. Biar aku senang dan semangat.." bisik Purnomo menggoda Habibah.


" Mas... Kenapa harus pakai bayar-bayaran segala sih..? Memang harus bayar berapa? Ayo dong mas cepetan ih...!" Habibah mulai gemas dengan tingkah suaminya pagi ini.


" Pejamkan dulu matamu, nanti aku kasih tau.." Purnomo menutup mata istrinya dengan salah satu tangannya.. Habibah hanya bisa diam mengikuti perkataan suaminya.


" Papa .! Uma..!" suara Nur Laily mengejutkan Habibah dan Purnomo, bahkan Habibah dengan spontan mendorong tubuh suaminya agar menjauh darinya. Terlihat wajah Habibah yang sudah memerah bagai kepiting rebus.


Sementara Purnomo sendiri malah dengan santainya meninggalkan kamar bahkan saat melewati Habibah tangannya masih sempat mencolek pinggang istrinya. Habibah hanya bisa mendelikan matanya namun tak bisa berbuat apa-apa dihadapan anak-anaknya yang masih menatapnya penuh tanda tanya.


" Kenapa sekarang papa suka cium bibir Uma? Padahal aku juga sudah lama gak dicium sama papa dibibir. " Nur Laily bertanya dengan nada cemburu. Habibah yang mendengar pertanyaan semacam itu tentu bingung harus menjawab apa.


" Uma cium bibir Zain juga kan Uma.?" dengan polosnya Zain membuat pernyataan.

__ADS_1


" Iya, kan Uma sayang. Kalau papa sudah lama gak cium putri Uma yang cantik dan Sholehah ini, biar Uma yang kasih ciuman sayang itu. Apa boleh?" tanya Habibah berusaha menghibur hati gadis kecilnya yang terlihat sedang kecewa dan cemburu.


Satu persatu mendapat ciuman dan pelukan dari Habibah. Namun saat Habibah akan mencium bibir Nur Laily, ternyata gadis kecil itu tampak malu. Dia menutup mulutnya dan lari meninggalkan Habibah dan Zain Habibah yang melihat gadis kecilnya tersipu malu hanya bisa tertawa kecil. Dan merekapun akhirnya sarapan bersama.


Pagi itu mereka mengunjungi kediaman orang tua Purnomo. Dan keceriaan kembali menghiasi wajah gadis kecil mereka saat berjalan santai menuju rumah eyangnya.


" Assalamu'alaykum.... Eyang...! " serunya seraya menghambur kedalam rumah yang memang kondisi pintunya terbuka.. Ibu Sofia yang baru saja selesai shalat Dhuha merasa terkejut sekaligus senang dengan kedatangan cucu tersayangnya. Ibu Sofia menyambut kedatangan anak dan menantu serta cucunya dengan wajah yang sangat ceria. Senyum lebar menghiasi wajahnya seraya memeluk serta mencium satu persatu dari mereka.


" Waaahhh... Cerah sekali wajahmu itu nak, sepertinya kau sedang bahagia ya?" goda ibu Sofia pada Purnomo yang memang terlihat lebih sumringah dari biasanya.


" Tentu saja aku bahagia lah ma, mau aku gak bahagia bagaimana kalau punya istri yang "hebat" seperti dia ini?" jawab Purnomo seraya melirik istrinya yang diam-diam mencubit gemas pinggang Purnomo dibalik jilbab besarnya. Purnomo yang menerima cubitan dari Habibah hanya bisa meringis, tapi tetap saja tak bisa menghapus senyum dari wajahnya.


" Eyang... Papa sekarang sudah gak sayang sama aku, sekarang papa jarang sama aku lagi. Sekarang tiap hari cuma sayang-sayangin Uma aja. Yang sayang kita cuma Uma aja, papa sudah gak sayang lagi.." adu Nur Laily pada eyangnya dan tentu aduan darinya membuat ibu Sofia mendelikan matanya pada anak dan menantunya. Seolah bertanya apa yang sedang terjadi?


" Ehmm.... Itu lho ma, pagi ini dia mergokin aku pas lagi nyium...." mata Purnomo melirik istrinya sebagai kode bahwa dirinyalah yang sedang dibicarakan. Dan ibu Sofia faham maksud dari anaknya.


" Mangkanya lain kali tuh hati-hati, ingat kalau kalian itu sudah punya anak dan mulai mengerti. Jangan sampai terulang lagi hal begini, kan gak enak. Mau dijelasin juga mereka gak akan mengerti karena mereka belum waktunya untuk tau dan mengerti kan?" nasehat ibu Sofia pada Purnomo dan Habibah.


" Iya ma, aku tau... Cuma bagaimana, aku tuh gak tahan aja untuk gak nyentuh dia kalau lihat wajah istriku yang secantik ini didekatku." Purnomo mengakui apa yang dia rasakan.


" Jadi maksud papa, kalau Uma itu lebih cantik dari pada aku gitu? Mangkanya papa sekarang gak mau temanin aku lagi?" protes Nur Laily sambil manyun tanda kalau dia sedang ngambek.


" Lain kali Nur, kalau dirumah Jangan kamu lepas cadarmu itu kecuali kalau tidur saja. Biar aman, kalau begitu terus kasihan anak-anak kan..?" ibu Sofia balik menggoda Purnomo demi menyenangkan hati cucunya yang terlihat semakin cemburu.

__ADS_1


" Kayaknya itu ide bagus ma, nanti biar saya coba deh.." Habibah menimpali dengan dibarengi tawa renyah darinya dan juga ibu Sofia.


" Wah.. wah.. wah..! Apaan nih..? Mana boleh begitu, apa mama mau nyiksa anak mama ini?" Purnomo mengajukan keberatannya. Istri dan ibunya hanya membalasnya dengan tawa yang membuat suasana dirumah itu menjadi lebih hangat. Karena kebetulan hari itu ibu Sofia sendirian dirumah.


__ADS_2