
Seminggu sudah Habibah berhenti dari pekerjaannya, Zelly masih tak bisa berhenti memikirkan gadis itu. Dia selalu berusaha meyakinkan dirinya bahwa dia tak menyukai Habibah. Tapi anehnya, semakin dia berkata bahwa dia tak menyukai gadis itu, semakin dia merindukan semua yang ada pada Habibah. Dia merindukan senyumnya, marahnya, diamnya, tertawa nya, bahkan dia sangat merindukan perdebatan mereka. Sejak Habibah berhenti bekerja, Zelly merasa ada yang kurang dalam menjalani kesehariannya. Tak ada yang seperti Habibah dihadapannya. Bahkan selama dia memimpin kantor divisi tak pernah ada yang berani bersikap seperti Habibah bersikap padanya. Tak pernah ada yang berani berdebat dengannya. Tak ada yang berani mengoreksi tentang sikap dan ucapannya. Dan itu semua yang membuat dia sangat kehilangan gadis itu. Hari-harinya tiba-tiba menjadi kosong dan sunyi.
Sementara itu, hari itu adalah hari kedatangan keluarga dari calon suami Habibah untuk membicarakan tentang persiapan pernikahan anak-anak mereka. Namun belum lagi keluarga Qodir yang di tunggu tiba, Laily datang membawa kabar bahwa keluarga pacarnya akan datang untuk melamarnya esok hari. Semua yang ada di sana terkejut dengan kabar tersebut. Karena waktunya hampir bersamaan dengan kedatangan keluarga Qodir. Mungkin hanya Habibah yang justru merasa senang kabar itu, kabar itu serasa seperti angin segar yang berhembus lembut dalam hatinya. Entah kenapa dia merasa bahwa kabar itu membawa hal baik untuknya.
Benar saja, keesokan harinya seperti yang dikatakan oleh Laily keluarga Erick pacar Laily datang untuk melamar Laily. Saat proses lamaran itu baru setengah jalan, keluarga Qodir pun tiba di kediaman keluarga Habibah. Keluarga Qodir nampak terkejut dengan suasana yang ada saat itu. Mereka sedikit canggung, karena mereka datang di waktu yang tidak tepat menurut mereka. Hanya saja mereka merasa sudah memberi kabar sebelumnya tentang kedatangan mereka. Namun mereka juga menyadari kesalahan mereka, karena sudah telat satu hari dari hari yang di janjikan mereka. Sebab ada suatu hal yang membuat mereka menunda satu hari keberangkatan mereka ke kediaman keluarga Habibah itu. Namun mereka tak menyangka jika hari itu ada proses lamaran yang terjadi dirumah itu.
Dalam proses lamaran itu, keluarga Erick ingin pernikahan antara Laily dan Erick di langsungkan dalam waktu dua Minggu setelah lamaran. Yang itu berarti satu Minggu setelah waktu pernikahan Habibah dengan Qodir di selenggarakan. Namun keluarga dari pihak Habibah merasa keberatan dengan rencana itu, sebab menurut adat keluarga pak Rukmana dua orang gadis satu kandung tak diperbolehkan menikah dalam waktu satu tahun yang sama. Dan setelah di musyawarahkan dengan keluarga Qodir, akhirnya pernikahan antara Qodir dan Habibah lah yang yang ditunda hingga satu tahun kemudian. Betapa gembiranya Habibah mendengar akhir dari musyawarah itu. Ternyata inilah sebab kenapa hati terasa senang saat Laily datang dengan kabar lamaran itu kemarin. Syukurlah...gumam Habibah dalam hari seraya mengelus dadanya karena merasa lega.
Sedangkan keluarga Qodir hanya bisa menerima keputusan itu dengan lapang dada, perjalanan jauh mereka hanya berakhir dengan penundaan dari rencana pernikahan yang semula sudah ditetapkan. Tapi mereka tak bisa berbuat apa-apa, sebab dari keluarga Erick juga punya alasan kuat mengapa mereka meminta agar pernikahan Erick dan Laily di percepat sebab keluarga Erick harus cepat kembali ke pulau Jawa karena ada hal yang mendesak dan tak dapat ditunda lagi. Walau ada kekecewaan dalam hati mereka, namun mereka tetap harus menerima itu. Dan merekapun tinggal disana hingga pernikahan Erick dan Laily berakhir. yang berarti mereka berada di kediaman keluarga Habibah selama enam hari lamanya demi menyaksikan pernikahan adik Habibah itu.
Setelah pernikahan Laily, keluarga Qodir kembali ke kediaman mereka yang berada di salah satu kota di perbatasan Kalimantan. Sementara Laily satu Minggu setelah menikah mengikuti suaminya untuk menetap di salah satu kota yang tak jauh dari kediaman keluarga Habibah. Hanya perlu waktu empat jam mereka sudah bisa sampai di kediaman Erick. Dan Habibah sendiri memilih untuk kembali bekerja, hanya saja kali ini dia bekerja sebagai baby sitter di sebuah keluarga dikota. Majikan barunya itu bernama Anton dan Annisa, dan anak yang di asuhnya bernama Bisma. Bayi itu baru berumur dua bulan. Namun Habibah telah merubah penampilan nya dengan menggunakan cadar. Dia semakin menutup diri dari khalayak. Dia lebih banyak berdiam diri di rumah dan tak keluar dari rumah jika dia merasa tak penting. Dan keputusan itu dia ambil demi menjaga dirinya sendiri. Agar tak ada lagi orang yang salah faham padanya ataupun menaruh harapan padanya seperti yang sudah-sudah.
Suatu saat, setelah Habibah baru saja menidurkan bayi Bisma, handphone nya berdering. Terlihat sebuah nomor tak dikenal di layar handphonenya. Entah siapa yang menelponnya itu.
__ADS_1
" Assalamu'alaykum..." sapanya pelan saat menerima panggilan itu.
" Wa'alaykumussalam warrahmatullah.." jawab suara di ujung telpon itu.
" Siapa ya?" tanya habibah, namun dia merasa sangat familiar dengan suara itu.
" Ini aku, Zelly.. Apa kamu sudah menghapus nomorku..!?" sahut Zelly dengan sedikit berteriak. Dia tak menyangka jika gadis itu sudah menghapus nomor kontaknya dari handphonenya.
" Oh, pak Zelly.. ma'af pak.. saya sudah gak simpan Nomor handphone bapak. " sahut Habibah jujur.
" Kenapa?" tanya Zelly merasa tak terima dengan kejujuran Habibah itu.
" Rugikah kalau kamu simpan nomor handphone ku? Aku aja masih simpan nomor handphone kamu, kenapa kamu gak bisa simpan Nomor handphone ku?" tanya Zelly dengan nada kesal.
" Ya... karena saya fikir saya sudah gak ada urusan lagi sama bapak, jadi untuk apa saya masih harus simpan nomor handphone bapak.? ucap Habibah heran dengan kekesalan Zelly yang menurutnya tak beralasan.
" Bisa gak kamu gak usah panggil aku bapak-bapak lagi... aku bukan atasanmu lagi dan aku juga bukan bapakmu.. aku sekarang hanya orang lain. Apa kamu mengerti..!?" Zelly merasa semakin kesal dengan panggilan Habibah padanya masih tak berubah sama sekali.
__ADS_1
" Ehmm... Oke,. Om Zelly.. apa itu bagus?" tanya Habibah polos.
" Aku bukan Om kamu.. Aku masih single, dan aku gak nikah dengan bibimu.. jadi jangan panggil aku Om.. Panggil aku Mas..!" jawab Zelly geram karena di panggil Om oleh Habibah.
" Mas..? Tapi kan umur kita jauh lho pak? sepuluh tahun.. jadi lebih cocok di panggil Om kan...?" jawab Habibah lagi.
" Memangnya tampangku macam Om-om.. !? Walaupun beda umur kita sepuluh tahun tapi aku kan belum nikah Nur.. Pokoknya panggil aku Mas... Titik..!" tegas Zelly seperti sebuah perintah yang tak bisa di tawar lagi.
" Kamu sekarang dimana? Apa kamu sudah menikah? kenapa kamu gak undang aku?" tanya Zelly lagi.
" Sekarang saya kerja di kota, dan pernikahan saya ditunda sampai tahun depan." jawab Habibah singkat.
" Ditunda..!? Kenapa? Bagaimana bisa ditunda? Bukankah kamu bilang waktu itu kamu akan menikah dua Minggu lagi? Dan ini sudah satu bulan lebih lho Nur.." tanya Zelly tak percaya.
" Ya .. karena adik saya nikah duluan. Itu sebabnya pernikahan saya ditunda." jawab Habibah malas.
Pembicaraan mereka terus berlanjut hingga hampir tengah malam. Sampai Habibah sudah tak tahan lagi menahan kantuknya. Dan Zelly dengan berat hati menutup panggilannya. Tapi entah kenapa terselip perasaan senang dalam hatinya saat mengetahui jika pernikahan Habibah ditunda. Tapi dia sendiri tak tahu apa yang harus dia lakukan, karena pada kenyataannya kini mereka semakin berjauhan.
__ADS_1
***
yah gitu diamah😪😪