
Setelah malam itu, tak ada yang berubah dari sikap Habibah justru semakin dingin dan cuek. Baik di sekolah atau dirumah dia bersikap seperti itu. Alvian pun semakin merasakan perubahan sikap gadis itu. Karena semakin sulitnya di ajak bicara. Walaupun tak mengganggu pekerjaannya tapi sejak malam itu dia semakin betah berada di dalam kamarnya jika pekerjaannya telah selesai. Bahkan Purnomo yang terpaksa menerima Ririn untuk jadi kekasihnya itu pun semakin tersiksa melihat gadis yang dia cintainya semakin dingin. Dia merasa gadis itu kembali seperti semula sebelum dia bisa menjadi temannya dan bisa dekat dengannya.
Seperti biasanya, setiap pagi Habibah berangkat ke sekolah di bonceng oleh Alvian menggunakan motornya. Tapi pagi itu sesampainya di depan pintu gerbang sekolah Habibah, Alvian menghentikan langkah gadis itu agar mau menunggunya sebentar.
"Ada apa mas?" tanya gadis itu heran, karena tak biasanya Alvian seperti itu.
" Nanti pulang sekolah aku jemput. Ingat jangan pulang dulu sebelum aku jemput dan jangan kemana-mana." pintanya dengan wajah yang serius.
" Baiklah.." balas Habibah seraya pergi menjauh dari tempat Alvian berdiri.
Sesampainya di halaman sekolah ada Ricky yang selalu dengan ceria dan sikap manjanya menyambut kedatangan gadis itu.
"Hai Nur, kamu sudah ada rencana belum untuk tahun baru nanti.?" ucap Ricky sambil merangkul pundak gadis itu tanpa segan-segan.
Yang di tanya bukan menjawab malah menghentikan langkah kakinya dan melirik tajam pada Ricky sebagai isyarat agar dia melepas rangkulan di pundaknya.
__ADS_1
"Oh sorry, kebiasaan buruk susah hilangnya." kata Ricky sambil tertawa seolah tak ada yang salah dengan sikapnya itu. Memang hanya Ricky yang berani bersikap seperti itu meski gadis itu berulang kali mengingatkan agar dia tak melakukan hal itu padanya.
" Gak pernah buat acara begituan" jawab Habibah singkat dan melanjutkan langkah kakinya menuju kelasnya. Ricky mengikutinya dan ikut duduk di sebelah kursi Habibah.
" Karena kamu gak pernah, bagaimana kalau tahun baru nanti kita buat acara? Aku nanti ajak teman-teman yang lain juga biar tambah seru, gimana? Mau ya nur , please...!!" kedua tangannya merangkul lengan gadis itu seraya menyandarkan kepalanya dan matanya di kedip-kedipkan ke arah wajah Habibah. Gadis itu sangat risih dengan tingkah Ricky yang menurutnya sangat keterlaluan, tapi anehnya dia tak bisa benar-benar marah padanya.
" Ayolah.. ayolah...." diayun-ayunkannya lengan gadis itu yang sedang dirangkulnya sejak duduk tadi, membuat anak-anak yang berada disana menoleh karena suara ribut dari Ricky yang terus menerus membujuk Habibah agar bersedia mengikuti keinginan nya.
" Baiklah.. Tapi harus seizin dari majikan saya dulu.. kalau di izinkan saya ikut aja kalau gak di izinkan jangan paksa saya lagi, oke?" akhirnya gadis itu menyerah pada ke inginan Ricky.
Seperti janjinya, Alvian sudah menunggu di depan pintu gerbang sekolah saat Habibah keluar dari sekolahnya. Habibah pun menghampirinya begitu melihat keberadaan Alvian yang memang tak jauh dari pintu gerbang sekolah. Ricky menghentikan langkahnya begitu melihat Alvian menjemput Habibah. Cowok itu sebenarnya siapa sih? Setiap pagi di antar dan sekarang malah pulangpun di jemput.. tanyanya dalam hati. Ada cemburu di hatinya, sebab gadis itu tak pernah sekalipun mau dia antar pulang.
" Ayo naik.." pinta Alvian begitu Habibah sudah dekat. Habibah pun menuruti permintaan Alvian.
" Kamu kenapa sih kalau aku boncengin gak pernah mau pegang aku?" tanya Alvian sedikit kesal sebab Habibah tak pernah menyentuhnya bola di bonceng. Gadis itu lebih memilih memegang besi yang berada di bagian belakang jok motornya itu.
__ADS_1
" Gak apa-apa mas, mas kan bukan kakak kandung saya, mana boleh pegang sembarangan." jawab Habibah polos. Alvian sangat gemas dengan jawaban yang diberikan oleh Habibah itu. Tapi dia tak bisa memaksa , karena apa yang di katakan gadis itu tak salah.
Sesampainya di rumah, Alvian membawa Habibah ke samping taman yang menghadap ke arah sungai dan duduk di kursi panjang yang ada disana.
" Ada apa mas Alvian ajak saya kesini? Saya mau masuk mas,. saya belum shalat Dzuhur lho mas." ucap Habibah dengan nada protes.
" Ada yang mau aku bicarakan sama kamu dan aku harap kamu mau menjawabnya dengan jujur sejujur jujurnya." sahut Alvian sambil mensejajarkan tubuhnya agar berhadapan dengan Habibah.
" Emang ada apa ya mas?" tanyanya dengan perasaan mulai tak enak.
" Kamu masih ingat dengan suratku dulu ? Apakah kamu sudah membacanya? Aku ingin tau apa tanggapan mu tentang isi suratku itu." ucap Alvian tanpa melewatkan satu incipun wajah gadis di hadapannya itu dari pandangannya. Dia benar-benar ingin tau apa reaksi gadis itu dan dia ingin benar-benar merasakan sensasi dari wajah misterius gadis dihadapannya itu. Hatinya berdebar-debar, dia sangat gugup menyadari gadis cantik dihadapannya itu hanya menunjukkan sedikit rasa terkejut saat dia mengingatkan soal suratnya dulu . Setelah itu wajahnya kembali tanpa ekspresi yang jelas. Kembali dingin dan tak terbaca.
" Ma'af mas, saya memang menerima surat mas Alvian tapi saya belum pernah membukanya. Jadi saya gak tau seperti apa isinya bahkan saya lupa dengan surat itu. Karena mas Alvian sudah mengingatkan saya soal surat itu, nanti saya cari dan saya akan baca isinya. Kalau saya sudah tau isinya nanti saya kasih tau mas Alvian tentang tanggapan saya soal surat mas itu. Sekarang saya mau masuk dulu ya mas, mau shalat dulu." Gadis itu lalu berdiri dan pergi tanpa memperhatikan bagaimana wajah Alvian yang sangat terkejut dan merasa tak percaya dengan apa yang sudah dia dengarnya tadi. Dia belum membaca suratku yang sudah satu tahun lebih itu, dia bahkan belum pernah membukanya? Ya ampun, bodohnya kau Alvian...! Sedikitpun kau tak berarti untuk nya.. Kalau kau sedikit saja ada artinya tentu dia sudah lama membaca Suratmu dan memberi jawabannya. Bahkan kau tak pernah tau, selama ini apakah dia merasa nyaman atau tidak berada dekat dengan mu. Kau yang selama ini memaksakan diri untuk bisa dekat dengannya, tapi kau tak pernah bertanya pada dirimu sendiri apakah dia menyukainya atau tidak. Alvian seakan tersadar akan sesuatu yang selama ini tak pernah dia fikirkan sama sekali. Dia bahkan tak pernah berfikir bahwa dia akan sangat kecewa mendengar kebenarannya bahwa gadis itu belum membuka dan membaca surat yang sudah setahun lebih dia berikan padanya. Selama ini dia terlalu percaya diri bahwa suatu saat dia bisa menyentuh hati gadis itu. Tapi jangankan menyentuh hatinya, bahkan gadis itu tak pernah menerima keberadaannya dalam hatinya. Habibah... kamu itu gadis macam apa sihh...
***
__ADS_1
maaf aku selow yah🙏🙏