
" Mulai besok, aku akan menambah asisten rumah tangga kita yang khusus mengurus semua kebutuhan mu. Aku gak mau sampai terjadi lagi kasus seperti sekarang. Kalau kamu gak terlalu sibuk dan kecapean, kamu gak akan mengalami seperti sekarang. Terjadi flek dan keram diperut itu bahaya buat kehamilan mu sayang.
Aku tau kamu sudah terbiasa dengan banyaknya rutinitas dihari-hari sebelumnya. Dan aku gak larang itu, tapi sekarang kondisi kamu gak sama lagi seperti dulu. Ada anak kita disini, yang harus kamu jaga dan perhatikan.
Aku gak ingin kamu lelah, soal yang lainnya serahkan semuanya sama aku. Aku akan uruskan semuanya untuk mu.
Aku gak mau kamu terus merasakan lelah dalam hidupmu. Mungkin dulu kamu terbiasa dengan keadaan yang begitu. Tapi sekarang kamu itu istriku, ibu dari anakku. Kau gak boleh seperti itu lagi.
Kalau aku tetap biarkan kamu merasakan lelah yang sama seperti dulu, berarti aku gagal membuatmu bahagia.
Sayang, aku menikahimu bukan untuk bersusah-susah bersamaku. Tapi aku ingin kamu bahagia bersamaku. Jadi, bolehkan kalau aku minta kamu hanya fokus merawat dan menjaga dirimu juga anak-anak untuk ku?" Zelly menggenggam lembut kedua tangan istrinya yang diam terpaku mendengarkan semua ucapan Zelly padanya.
Bagaimana bisa dia mengatakan semua itu padaku?
Begitu baiknya dirimu mas, entah kebaikan apa yang pernah aku lakukan di masa lalu sampai Allah mengirimkan lelaki sebaik dirimu dalam hidupku.
Hatimu begitu lapang..
Hingga tak ada celah bagiku untuk mengeluhkan apapun darimu. Orang yang berkali-kali aku tolak dan sakiti, justru bisa membuatku merasa disayang dan dimanja.
Aku selalu merasakan kenyamanan setiap kali berada disisinya, selalu merasakan kehangatan disetiap sentuhannya.
Selalu merasa aman dalam dekapannya.
Terima kasih ya Allah...
Aku akan berusaha menjaga anugerah darimu ini dengan sebaik-baiknya.
Tanpa disadari air mata haru jatuh membasahi kedua pipinya yang masih terlihat chubby di usianya yang sekarang.
" Kamu kenapa sayang? Kenapa kamu nangis? Apa ada kata-kata ku yang salah dan menyakiti hatimu? Atau kamu keberatan dengan permintaanku? Kalau kamu gak setuju, aku minta maaf.
Kamu boleh lakukan apapun yang kamu mau, asalkan kamu jangan menangis lagi. Oke?" ucap Zelly sambil mengusap lembut pipi istrinya. ada kepanikan di sorot matanya saat melihat air mata istrinya menetes.
" Terima kasih, mas. Terima kasih mas sudah memilih Bibah untuk jadi istri mas. Terima kasih sudah sayangi dan menjaga kami dengan sepenuh hati. Terima kasih sudah memberikan semua yang kami butuhkan baik lahir ataupun bathin.
Maafkan Bibah, mas. Kalau Bibah selalu membuat mas khawatir. Maafkan Bibah juga yang belum bisa membahagiakan mas seperti mas bahagiakan kami..."
" Ssttt.... Jangan bicara begitu sayang. Kamu tau, sejak dulu aku selalu bahagia walau hanya melihatmu dari kejauhan. Jadi, apa mungkin aku gak akan bahagia kalau sekarang bahkan aku bisa memelukmu dan menciummu seperti ini?" Zelly meraih tubuh mungil istrinya kedalam pelukannya dan menciumi wajahnya berkali-kali sampai istrinya merasa geli dibuatnya.
" Masih belum yakin kalau sebenarnya aku lebih merasakan kebahagiaan itu di bandingkan kamu? Melihatmu tersenyum manis seperti ini saja aku sudah luar biasa bahagianya. Apalagi kalau aku bisa dapat lebih dari itu, bahagiaku tak bisa di ungkapkan dengan apapun juga." ucap Zelly sambil mengedipkan sebelah matanya pada Habibah.
" Apaan sih mas. Gak lucu tau... Tapi mas, kenapa mas bisa seperti ini pada Bibah dan Zain? Bagaimana bisa mas merasakan perasaan seperti itu?"
" Sayangku.... Aku juga gak tau kenapa aku bisa seperti itu sama kamu. Rasa sayangku, cintaku, rinduku khawatir ku dan bahagiaku gak pernah berkurang padamu. Bahkan bisa di bilang semakin hari semakin bertambah semua rasa itu untuk mu.
Mungkin karena sejak awal hatiku sudah kuserahkan padamu tanpa sadar. Sihir cintamu terlalu kuat mengikat hatiku, jadi apalah daya, aku tak bisa hidup tanpamu..."
__ADS_1
" Iiiihh....! Saya serius mas, orang nanya serius mas malah ngegombal..." protes Habibah dengan wajah yang memerah karena malu.
" Aku gak lagi ngegombal sayang, tapi ini sungguhan.. Intinya karena aku benar-benar tulus dalam mencintaimu. Disaat aku sungguh-sungguh tak mengharapkan balasan sedikitpun darimu, Allah malah memberikan mu padaku seutuhnya. Bukankah itu jadi sebuah karunia terindah dari Allah?" Zelly mengatakan semua itu dengan setulus hatinya. Wanita manapun pasti akan meleleh hatinya jika diperlakukan sebagaimana Zelly memperlakukan Habibah.
Keesokkan harinya, apa yang dikatakan oleh Zelly pun benar-benar di lakukan. Telah datang seorang wanita dewasa yang lumayan cantik mengaku dari sebuah yayasan penyalur tenaga kerja bernama Susan.
" Mbok... Mbok Ratih... tolong kesini sebentar..." seru Habibah pada asisten rumah tangga nya yang sedang berada di dapur.
" Iya Bu... Ada apa ya Bu.." sahut mbok Ratih sambil mendekat pada Habibah.
" Ini kenalkan, namanya Susan. Mulai hari ini Mba Susan akan kerja disini. Nanti tolong mbok tunjuk kan di mana kamarnya ya Dan kasih tau apa aja yang harus di kerjakan di setiap harinya." lanjut Habibah memberi instruksi pada mbok Ratih.
" Baik Bu. Ayo mba, saya antar ke kamar mba. Permisi Bu." ucap mbok Ratih sopan.
" Iya, silahkan mbok. Terima kasih ya mbok.."
Baru saja Habibah hendak meninggalkan pintu utama, terdengar suara salam yang cukup nyaring.
" Assalamu'alaykum..."
" Wa'alaykumussalam warrahmatullah wabarokaatuh.. Mba Rika? Ada apa mba, tumben pagi-pagi begini sudah datang kemari?" tanya Habibah sedikit heran.
" Iya Bu, maaf pagi-pagi saya sudah kesini. Saya cuma mau nengok ibu aja sebelum ke restoran. Bagaimana keadaan ibu? Sudah baikan?" tanya Rika terlihat khawatir.
" Alhamdulillah.. Udah baikan, cuma saya harus istirahat dirumah gak boleh terlalu sibuk seperti kemarin-kemarin. Jadi mulai hari ini yang akan mengurus restauran suami saya. Nanti tolong di bantu ya mba Rika. Oh iya, ayo silahkan masuk. Sampai lupa saya.. Maaf ya mba?" ucap Habibah seraya mempersilahkan Rika untuk masuk.
" Sayang... Ayo kita sarapan." ajak Zelly sambil memeluk Habibah dari belakang.
" Astaghfirullah mas, bisa gak sih kalau mau ngomong itu jangan pake tiba-tiba begini. Kaget tau.."
" Lagian kamu lagi liatin apa sih diluar sana.. Aku panggil-panggil kamu sampe gak nyahutin. Ada cowok ganteng lewatkah? Apa yang disini kurang ganteng?"
" Apaan sih mas, mana ada cowok ganteng lewat. Tadi tuh ada mba Rika mampir kesini sambil berangkat kerja, nanya kabar saya gimana.
Dan oh ya, itu mas. Asisten rumah tangga yang baru udah datang namanya mba Susan. Sekarang lagi dibelakang. Apa mas mau ketemu dia?"
" Gak usah, kamu aja yang urus kalau soal mereka. Aku kesini bukan mau lihat asisten rumah tangga yang baru. Tapi mau ajak kamu sarapan, ayo sayang. Nanti kasihan kah kalau dedeknya kelaparan." ucap Zelly sambil mengelus lembut perut Habibah yang membuncit.
" Ya udah, ayo." jawab Habibah menyambut ajakan suaminya.
" Sayang , kamu pakai parfum apa?" tanya Zelly tiba-tiba.
" Parfum? Saya gak pakai parfum mas?" jawab Habibah yang refleks menciumi pakaian yang ia kenakan
" Terus kamu pakai apa kok wanginya enak gitu?" kata Zelly sambil menarik kursi untuk Habibah
" Gak ada lho mas, saya tadi habis mandi pakai minyak telon aja. Soalnya tadi rasanya lebih dingin dari biasanya, mangkanya pakai minyak telon biar agak hangatan. " jawab Habibah sambil duduk di kursi yang sediakan suaminya.
__ADS_1
" Masa sih minyak telon? Kok baunya enak ya..? Aku boleh minta gak? Biar nanti bisa aku bawa ke kantor." lanjut Zelly sambil menyendok kan nasi dan lauknya ke piring Habibah.
" Mas mau pakai minyak telon juga mas? Mas serius? Ini bukan parfum lho mas, ini minyak telon?." tanya ha ubah tak yakin dengan yang di ucapkan suaminya.
" Emangnya kenapa kalau itu minyak telon? Yang penting aku suka, gak masalah kan sayang.?" Zelly masih bersikeras meminta minyak telon yang di pakai Habibah.
" Ya sudah, nanti mas bisa bawa satu. Sekarang kita makan dulu ya mas." Habibah akhirnya mengalah dengan ke inginan suaminya yang aneh itu.
" Uma... Abah... Aku juga mau makan..." tiba-tiba terdengar suara khas Zain yang menggemaskan.
" Masya Allah anak Uma yang Sholeh, yang ganteng, yang pintar.. Sudah cakep rupanya, ayo sini sama Uma.."
" Jangan.. Biar sama aku aja. Biar Zain aku yang suapin, kamu makan aja dengan tenang dan habiskan ya. Ayo sini sayang, sama Abah. Biar Abah yang suapin, Uma kan udah repot sama Adek bayinya. Jadi mulai sekarang kalau kamu mau apa-apa sama Abah aja ya. Kalau seandainya Abah gak ada, kamu bisa minta tolong mbok Ratih atau siapa tadi itu namanya sayang..?"
" Mba Susan.."
" Ah iya, Tante Susan.. Uma nya gak boleh capek-capek Kalau uma nya kecapean nanti Adek bayinya sakit. Kamu gak makan kalau sampai Adek bayinya sakit?" celoteh Zelly sambil menyuapi Zain yang memperhatikan setiap kata yang di ucapkan oleh Zelly.
" Iya Abah." jawab Zain singkat.
Ting Tong...
Ting tong...
" Mbok .. boleh tolong bukakan pintu sebentar? Kayaknya ada tamu.." seru Zelly pada mbok Ratih.
" Iya pak.." sahut mbok Ratih sambil bergegas membuka pintu.
" Siapa mbok yang datang pagi-pagi begini?" Tanya Habibah.
" Itu Bu, ada anak perempuan mbok gak kenal. Tapi nyari ibu sama bapak." jawab mbok Minah.
" Perempuan? Siapa ya mas? Biar saya lihat dulu ya mas?" ucap Habibah sambil mengenakan kembali cadarnya.
" Assalamu'alaykum..."
" Kamu..."
***
**Kira-kira siapa ya yang datang🤔🤔
Jangan lupa like, komen dan vote nya ya readers..
Biar author nya makin semangat untuk update nya.
Terima kasih 🥰🙏**
__ADS_1